Empat Dua

1800 Kata
Teruntuk dirinya sendiri. Dinda selalu memberikan semangat yang tak tanggung-tanggung. Karena meski sendiri, Dinda berusaha untuk tidak merasakan sepi layaknya dalam sebuah petaka. Atau menyalahkan kenapa dirinya harus hadir di dunia yang kejam ini dengan kesendirian. Apa pun itu. Setiap hari selalu Dinda lalui dengan penuh semangat. Dinda yang riang dan ceria walau akan menangis diam-diam di malam hari. Dinda yang pendiam dan nyaman dengan kesendirian tidak mau hidup di bawah naungan rasa kasihan. “Saya nggak pernah tahu kalau kamu suka ke sini.” Vokal yang akrab di rungu Dinda menyapa dengan kalem. Senyum Dinda merekah meski sang empunya hanya datar. “Sendiri?” tanyanya tanpa basa-basi dan membawa serta baki makanannya ke meja Dinda. “Saya gabung nggak masalah, kan? Atau kamu lagi nunggu teman?” Dinda gelagapan dan menggeleng sebagai jawaban. Sudah di bilang Dinda penyuka kesendirian. Jadi pergi sendiri, makan sendiri, belanja sendiri bahkan nonton sendiri adalah tugasnya di kala weekend seperti ini. “Bapak sendiri?” Berganti Dinda yang mengajukan tanya. Tangannya menyendok makanan pesanannya dan memasukan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dengan sangat pelan bersamaan fokus mata menatap Langit. Iya Langit. Langit Anggoro. Di penghujung hari menuju sore. Di sabtu sore yang cerah dan lelahnya tubuh yang baru saja mengejar target perusahaan. Langit iseng ingin makan di tempat ini. Tidak terkenal namun rasanya mengundang lidah untuk kembali lagi dan lagi. “Hm, selain pergi bareng keluarga. Sendiri adalah kesukaan saya.” Langit seruput es teh manisnya. “Kamu? Nggak sama pacar?” Mulut Langit tidak salah. Hanya saja terlalu blak-blakan. Bagi Dinda yang introvert rasanya bengek banget. “Lebay kamu!” cerca Langit. Namun begitu, sikapnya cukup tanggap juga. Menuangkan air mineral ke dalam gelas lekas memberikan kepada Dinda. “Jangan bilang jomblo!? Atau malah cinta bertepuk sebelah tangan. Atau lebih parahnya … Kamu diam-diam suka sama suami orang.” “Ngaco!” Beruntung tidak ada adegan sembur menyembur. “Bapak kalau ngomong kenapa nggak di saring banget, sih?” Misuh Dinda. “Yee saya cuma nebak. Kalau salah ya berarti saya asal ngomong. Kamu nggak perlu baper.” Gusti. Ini siapa pula yang baper. Dinda nggak baper. Cuma kaget saja. Langit ujug-ujug bertanya seperti itu. Namun tebakan yang terakhir tidak ada salahnya. Hanya di bagian statusnya saja. Dinda memang sedang mengagumi seseorang. Namun tidak tahu apakah si dia sudah punya pasangan atau belum. Dinda hanya mengetahui secara subjeknya saja tanpa tahu secara mendalam. “Cari pacar makanya. Biar ada teman makan.” “Kalau cuma sekadar makan, ngapain harus punya pacar!” Dinda ngegas. Kesal maksimal dengan perkataan Langit. “Lagian …” Tiba-tiba Dinda canggung ingin mengatakan ini. Namun harus dilakukan untuk membalas kata-kata Langit. “Apa?” Alis Langit menukik. Penuh tanya dan menunggu dengan penasaran. “Kayak bapak punya pacar saja.” “Sembarangan!” “Nyata.” Dinda teguk langsung es tehnya. Ada jeda yang cukup panjang dari keduanya. Sampai-sampai Dinda merasakan canggung—lagi—dan menelan makanannya bulat-bulat. Di damping dengan itu semua, ada sakit yang Dinda rasakan secara brutal. Ternyata, mengagumi diam-diam, menyukai diam-diam pun berisiko untuk merasakan sakit. Dinda pikir itu jalan paling aman. Setidaknya sebelum Langit menjawab apa yang Dinda selorohkan. Dan mulai detik itu, ada penghentian yang harus Dinda sebut sebagai jalan menyerah. Ya. Dinda memang segampang itu untuk mundur. Terlebih bila itu sudah memiliki pasangan. Mungkin jawaban Langit terkesan ambigu. Jika tidak terlalu baper alias bawa perasaan, bisa saja Dinda melanjutkan candaannya. Sayangnya memang Dinda tipe manusia yang mudah menyerah dan ‘biarlah’. “Nggak semua hubungan bisa kamu publish di depan umum.” Dinda tidak pernah berpikir yang demikian jika suatu hari nanti menjalin sebuah hubungan. “Ada kalanya kamu diam, kamu termenung, dan kamu memikirkan bagaimana caranya berjuang dengan cara yang elegan.” Senyum tipis Dinda—yang terlihat cantik di mata Langit—menghentikan kalimatnya yang hendak di lanjutkan. Sumpah, ini baru pertama kalinya Langit melihat Dinda tersenyum setipis—setelah berbulan-bulan bersama—itu tapi cantiknya luar biasa dahsyat. Ratu saja kalah. Bukan bermaksud membandingkan, tapi itu nyata adanya. “Saya kira—“ “Santai saja. Kamu nggak perlu seformal itu.” Potong Langit cepat. Tidak tahu mengapa. Langit merasa bahwa Dinda bisa menjadi lawannya dalam bertukar pikiran. “Bapak yang—“ “Langit. Aku ngerasa nggak enak kalau kamu manggil kayak gitu di jam luar kerja.” “Setuju.” Dinda iyakan agar perdebatan di antara keduanya lekas usai. “Sa—aku lanjut yang tadi. Jadi, kalau menurut aku, di publish atau tidak sebuah hubungan, itu tergantung masing-masing pasangan. Mereka yang menjalani, kadang, punya beberapa kriteria yang di namakan dengan kenyamanan. Pasangan A nyaman dengan mempublish apa pun kegiatan mereka tanpa takut di hujat dengan kata-kata ‘nanti kalau nggak jadi nyesal’. Lain halnya dengan pasangan B yang menutupi hubungannya.” Dinda menjeda. Melihat ekspresi Langit yang Nampak serius untuk mendengar kelanjutan Dinda. Seperti sedang diam-diam di nilai dan Dinda tersenyum tipis sekali lagi. Membuat Langit mengerjapkan matanya kaget. “Tapi juga nggak mungkin semuanya harus berakhir dengan baik-baik saja. Bukan saat mereka memutuskan untuk mengakhiri. Tapi proses di dalamnya. Kayak yang suka menyembunyikan, belum tentu salah satu pihak mau mengerti dan memahami bahwa si cewek atau si cowok takut kehilangan. Alasan menyembunyikan pun beragam. Barangkali ada nama lain di kontak Hp-nya.” Langit terkekeh. “Itu beneran!” Dinda nyolot namun juga tertawa lepas. Tanpa sadar dan keduanya sudah menertawai hal-hal yang sebenarnya lumrah. “Pasangan zaman sekarang kayak gitu. Pacaran sama si C, nikahnya sama si J. Membangongkan!” “Manusia jarang yang mau sadar. Lebih tepatnya nggak mau sadar. Kalau apa pun yang ada di dunia ini sistemnya cuma sementara. Titipan lah kata kasarnya.” Respons Langit serius sekali—menurut Dinda. “Tapi, Pak, eh—Langit,” ralatnya cepat-cepat. “Nggak semuanya harus berakhir dengan apa yang sekarang ini terjadi di masyarakat. Karena kalau mau menilai dari satu sisi saja—contohnya si D yang menyembunyikan pasangan dan status hubungannya karena satu dan lain hal—kita perlu tahu alasan satu dan lain hal ini.” “Mungkin—bisa jadi, ini kata-kata sederhana tapi kalau kita mau memikirkan, ada benarnya juga. Cowok atau laki-laki yang ‘belum sukses’.” Sampai Dinda tandai dengan khusus lewat gerakan jarinya di atas meja. “Dan apalagi masih berproses (itu kan berat) jadi butuh mental yang kuat dari si pendamping. Siapa? Adalah cewek atau perempuan yang mentalnya sama-sama kuat dan tabah.” “Kenapa harus gitu? Apakah harus? Jawabannya tidak harus. Tapi alangkah baiknya memang yang seperti itu. Karena kalau di dampingi sama cewek yang terus-terusan ngeluh, atau bahkan nggak pernah ngerasain yang namanya sulitnya kehidupan, yang ada malah nambah beban. Yang seharusnya mengurangi malah nambah-nambahin PR.” Langit manggut-manggut paham. Ah pantas saja kalau sekarang ini banyak perempuan yang berlomba-lomba untuk duduk di bangku perguruan. Selain untuk melatih kemandirian, mental pun menjadi acuan yang paling di butuhkan. “Cowok yang lagi merintis usaha, perlu di damping dan di support dengan handal. Bukan cuma bisanya ngeluh dan berpangku tangan doang.” “Aku paham sekarang.” Malam minggu ini. Menjadi yang paling berbeda jika Langit boleh berkata. Ada tukar pikiran baru dari orang terdekatnya yang tidak pernah Langit sangka-sangka. Kalau Dinda bisa sedekat ini untuk di ajak mengobrol. Dan di dalam lubuk hati Langit yang paling dalam. Ada siraman hangat yang mengalir. “Kalau kamu sendiri gimana?” Aman. Tidak terjadi drama seperti di awal. Dinda mencomot kue keringnya dan mengunyahnya perlahan. “Biasa saja.” “Kenapa?” Tidak langsung Dinda tanggapi. Matanya berpendar menatap sekeliling yang kian ramai. Huru-hara malam minggu selalu yang paling di tunggu. Dari anak muda, remaja, pasangan bahkan gerombolan keluarga. Semuanya keluar berbondong-bondong menyerbu malamnya kebebasan setelah penat dengan kesibukan. “Cukup biasa saja.” Langit tertawa. “Aku orang moody-an. Tapi bukan berarti bebas melampiaskan marah. Kalau marah, aku banyak diamnya. Nggak marah juga diam. Makanya orang banyak yang salah paham.” Dinda membuka sedikit cerita tentang dirinya. Itu masih dalam tataran yang universal dan topik ringan. “Seperti?” Dinda terdiam sejenak. Dan mengatakan, “Pertama, aku hidup kayak orang yang seolah-olah paling bahagia di dunia ini. Kedua, aku sering menjauhi orang-orang buat nyembuhin emosi. Itu cara aku hidup dan mood yang aku punya.” Langit sedikit bingung, terus terang. Belum pernah dirinya temukan orang yang seperti Dinda. Pendiam, tapi membuat siapa saja penasaran. Unik, tapi terlalu senang dengan kesendirian. Dan aneh, tapi membuat siapa pun ingin merengkuhnya. Termasuk Langit. “Biar apa? Maksudnya, kenapa kamu nggak nyoba keluar dari zona nyaman daripada kayak gini terus.” “Itu standar nyaman buatku.” Tidak bisa lagi Raja berkata-kata. Kalau sudah berada di titip ternyaman, sesulit apa pun akan orang itu lalui. Ya, transformasi orang-orang dalam melakukan segala hal memanglah berbeda. Tidak bisa di pukul rata dan di samakan. “Bapak sendiri gimana?” “Langit!” koreksi Langit penuh perintah. Dinda nyengir tanpa dosa. “Yang bagian mana?” “Soal hubungan mungkin.” “Biasa saja.” “Nggak mungkin biasa saja.” “Kenapa nggak mungkin.” “Cowok suka nuntut.” “Nggak semuanya gitu. Heh! Jangan bilang kamu ada trauma soal itu.” Dinda menggeleng cepat. “Pasti ada. Makanya kamu jomblo, kan?” Ini sih namanya ejekan. Dinda mendengus. “Aku sadar umur. Aku juga sadar kualitas. Semisal mau matok kriteria harus begini dan begitu, kayaknya aku bakalan sendiri seumur hidup.” Langit tertawa puas. Sampai lehernya terdongak ke atas. “Kecuali soal setia.” “Ada apa dengan setia?” “Nggak ada apa-apa, sih. Cuma suka heran saja sama pasangan yang suka sekali berkoar tentang pasangannya yang setia hanya karena fotonya dijadikan wallpaper atau saat di kenalkan ke teman-temannya. Atau namanya yang di tulis ‘Sayang’ di kontaknya. Dan di perlakukan dengan baper.” Sudah Langit katakan jika perempuan di hadapannya ini unik. “Jadi, kamu punya arti setia tersendiri?” Dinda mengangguk. “Apa?” “Setia adalah … simpel, Pak. Isi chat, menjaga pandangan matamu, menjaga sikap, mempertahankan komitmen sehingga pasangan percaya. Dan itu semua dilakukan saat nggak bareng si dia.” Sampai lelah obrolan keduanya terus berlanjut. Dan memesan minuman serta camilan lainnya. Tidak ada batasan waktu apa lagi soal status atasan dan bawahan. Semuanya tampak nyaman dan natural. Terima kasih untuk telah bersabar mengahadapi kerumitanku. Terima kasih untuk telah bersedia memeluk ketidaksempurnaanku. Terima kasih untuk telah berbagi cerita, tawa, tangis, keluh dan kasih bersamaku. Terima kasih untuk banyak hal yang tidak terlihat, tidak terucap, yang selalu kamu berikan untukku. Aku menyayangimu, pun kamu tahu—perasaanku lebih dari sekadar itu. Semoga setelah hari ini, setiap ragu yang ada di hatiku dan hatimu perlahan mati satu per satu. Mengaku kalah dari waktu. Rangkaian kalimat ini mendadak muncul dalam benak Dinda. Tapi kalau ditanya kepada siapa akan ditujukan, mungkin akan lebih cocok jika ini untuk hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN