Enam

1092 Kata
Dalam hidup ini, yang paling Ratu benci adalah rapat. Mengikuti rapat dalam bentuk apapun jelas daftar yang harus Ratu coret. Di samping membosankan, penghitungan cepat pada bursa perusahaan bukan keahlian yang dirinya miliki. Otaknya lemah tidak seperti milik Raja—kembarannya—yang sangat jenius dan tindakannya cekatan. Sehingga bukan suatu hal mengherankan jika saudara beda lima menitnya itu di elu-elukan banyak perempuan. Tapi pagi ini akan Ratu kecualikan. Mendadak moodnya meningkat dengan sangat baik. Rapat membosankan yang Raja pimpin menjadi suatu hal yang dirinya tunggu-tunggu. Bagaimana tidak jika Langit ada di sana. Di sampingnya pula. Tolong di catat. Ratu akan gila sebentar lagi. Fokus mata dan rungunya ada di Raja yang tengah menerangkan berapa jumlah peningkatan sampai bulan ini untuk investasi yang tertanam. Dan pengumuman saham-saham perusahaan mana saja yang akan di incar usai ini. Kita lirik ke bawah, di mana tangan Ratu berada. Sangat tidak berakhlak membuat adik bungsunya menahan napas mati-matian—desahan lebih tepatnya. Pintarnya lagi, jajaran tempat duduk keduanya lengang. Di jamin, CCTV ruangan takkan menangkap aktivitas Ratu yang meremas gundukan di pangkal paha Langit. “Sampai sini rapat saya akhiri.” Buru-buru Ratu menarik tangannya. Bergegas berdiri dan menyelonong keluar tanpa peduli wajah memelas Langit. Merah padam di ikuti keringat yang berkerumun di dahinya. “Kamu kenapa? Sakit?” “Hah?” Langit gelagapan kepergok abangnya. Menelan ludahnya susah, kepalanya kaku untuk bergerak. Tadi itu, Raja nggak melihat matanya yang mengikuti ke mana perginya Ratu, kan? “Enggak,” jawabnya usai menetralkan degup jantung yang menggila. “Aku balik ke ruangan bang.” “Mami sama papi sudah pulang?” Yang Langit angguki. Kedua kakinya sudah akan melangkah. “Kamu berdua doang sama Ratu?” “Iya abang.” Agaknya Langit kesal dengan sikap Raja yang dalam mood baik. Tidak biasanya abangnya itu mau mengajaknya ngobrol. “Sudah ah. Adek mau ngasih laporan ke kak Ratu.” Ultimatum Langit berhasil. Buktinya Raja diam, tidak berusaha mencegah lagi. Pangkal pahanya butuh pertanggungjawaban. Itu nyeri sekali. Ratu kurang ajar! “Bantuin.” Rengekan Langit di jawabi kekehan oleh Ratu. Masuk-masuk Langit hampir menerjangnya. “Wow-wow. Sabar sayang. Aku pasti kasih kepuasan yang lebih dari ini.” Hentakan kaki Langit menggerus humor Ratu di jam sibuknya kantor. Laporannya terpaksa ia tunda dan membawa Langit ke ruang pribadinya. Mengunci dan membuka celana Langit kilat. Berjongkok dengan mulut s*****l yang siap menghisap, Ratu julurkan lidahnya untuk permulaan dalam menggoda. Desahan yang Langit keluarkan memicu semangat bagi Ratu melakukannya. Tangan kirinya meremas payudaranya dari luar menambah sensasi yang luar biasa. Dan begitulah keduanya menyalurkan. Tidak satu atau dua kali untuk terus mendamba. Ini pasti gila. Tapi aka nada rahasia lain yang perlu di telusuri. Nanti. Setelah semuanya telah terkumpul. *** Kadar kebencian Ratu berkali-kali lipat. Melihat wajah perempuan itu di rumahnya, sungguh menaikkan pangkat amarahnya. Sore-sore di senja orange yang hendak beradu, Arra kembali berkutat dengan dapur. “Kak Ratu sudah pulang?” Jelas-jelas sudah melihat tubuhnya di depan matanya. Masih sok basa-basi. “Kan aku sudah bilang jangan masak apapun selama di rumah ini.” Ratu meminum airnya langsung dari botolnya. Tanpa peduli pada senyum yang Arra tampilkan. “Aku cuma pengen kak Ratu sama Langit cobain menu baru aku di restoran.” Percaya diri sekali untuk Ratu dan Langit mau mencicipi. Jawaban Arra jelas membuat perempuan berumur 30-an itu gemas sekaligus geram. Dalam hatinya bersumpah akan mengakusisi Langit untuk dirinya sendiri. “Lo nggak punya kesibukan lain atau memang gabutnya sudah maksimal?” Masih terus Ratu lontarkan kata-kata pedasnya. “Pergi gih. Gue malas lihat lo.” Arra diam saja. Sudah terlalu biasa bagi dirinya mendapati kesinisan Ratu. Wajar. Sebagai seorang kakak, Ratu punya peran penting untuk melindungi adiknya. Sedang Arra yang datang, berstatus orang baru, hendak merebut adiknya. Siapapun akan marah. “Aku beneran cinta sama Langit.” Cari mati. Ratu balas dengan dengusan. “Tahu apa lo soal cinta?” Seperti yang sudah Arra duga, Ratu menjadi kakak yang over protektif. Dan entah kenapa Arra suka pun iri dengan hal itu. Mengetahui fakta bahwa dirinya hanya anak tunggal, rasa sepi lebih mendominan. “Tulus dan berkorban.” Bayi saja tahu. Arra takkan bisa bilang begitu jika tahu masa kecil Raja yang sudah kenal cinta-cintaan. Saudara kembarnya itu memang luar biasa bucinnya. Belajarnya sedari dini. “Basi!” Tungkai Ratu hengkang dari sana. Menuju kamarnya tanpa peduli tatapan sakit yang Arra lemparkan. Hingga sudut bibirnya terangkat, Arra tahu, rencana lainnya harus terus berjalan. *** “Kenapa?” Radit bangunkan istrinya yang tengah mengalami hal buruk dalam mimpinya. Terlihat dari dahinya yang berkerut-kerut dan keringat keluar dari pori-porinya. “Sayang?” panggilnya lembut. Radit goyangkan kedua bahu Senja perlahan. “Hei. Buka matanya. Senja.” Langsung pelukan yang Radit berikan. Menepuki punggung sang istri tanpa peduli rasa sakit akibat cengkeraman di tengkuknya. Kuku-kuku panjang Senja luar biasa tajam. Tapi enggan merusak suasana, Radit biarkan. “Kamu mimpi? Nggak apa-apa. Mau minum?” Tidak ada jawaban hanya tangis yang terdengar. Radit ambil gelas berisi air di nakas sampingnya. Setelah meminumkan pada Senja dan wanita yang masih cantik di pertengahan umurnya itu menatap penuh minat di manik Radit. “Ada apa?” Tangan Radit mengelus pipi Senja yang di balas nyaman oleh si empu. Kelopak matanya terpejam sempurna dengan napas yang teratur berembus. “Kita salah nggak?” tanyanya. Tentu Radit keheranan. “Pernah membentuk keluarga yang sempurna tanpa tahu kondisi anak-anak.” Pertanyaan Senja sungguh aneh. Tiba-tiba melempar tanya yang jelas-jelas jawabannya tidak setelah bermimpi buruk. “Mas mungkin berpikir enggak tapi Senja rasa ini salah. Mimpi yang barusan…” “Itu bunga tidur sayang.” Ya. Itu benar. Mimpi hanyalah bunga tidur. Yang masih meleset jauh dari perkiraan. Tapi mimpi juga memberi tanda—petunjuk—akan sebuah kejadian. “Kita nggak tahu benar enggaknya.” Sejak dulu pasangan pasutri Radit dan Senja selalu punya argumen masing-masing jika soal keluarga. Menjurus ke arah sana dengan Senja yang bermasa lalu buruk dan nekat—hamil di luar nikah, kabur dari keluarga—meski damai setelahnya. Tetap saja, ada kebobrokan di masa remajanya. “Gimana kalau mereka…” “Kamu mikir apa?” Lagi-lagi terpotong. Radit hela napasnya. “Kita punya CCTV yang bisa di pantau. Mau lihat?” Kepala Senja terangguk. Radit raih ponselnya. Memasuki sebuah aplikasi yang sudah tersambung dengan kondisi rumahnya di Bandung. Sejauh apapun jaraknya, jaringan mengakses yang mulai canggih bisa dilakukan. “Mereka tidur di kamar masing-masing sayang. Apa, sih yang kamu pikirkan tentang mereka?” Radit letakkan kembali ponselnya. “Langit nggak akan berbuat senekat itu untuk menyentuh Arra. Kamu lupa bungsumu itu kaya apa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN