“Mataku tertuju padamu. Hatiku untukmu. Jiwaku untukmu. Cintaku untukmu.”
Yang Raja bacakan sebuah tulisan artikel ungkapan cinta untuk Leora dalam pangkuannya. Satu tangannya mengelusi kepala perempuan hamil itu sesuai keinginannya. Jujur saja, itu bukan dari dalam lubuk hatinya namun terasa pas didengar dan ditujukan untuk Leora.
“Aku seperti di rumah di manapun kamu berada. Kamu adalah tempat amanku. Aku sangat terobsesi dengan dirimu. Impian terbesarku hanyalah menua bersamamu. Dan aku tidak menyangka kamu milikku selamanya.”
Raja tutup ponselnya. Menyerapi susunan kalimat yang baru saja dirinya ungkapkan. Sekali pun sekadar contekan lewat media sosial, kata-kata itu menggambarkan jelas bagaimana perasaannya saat ini tertuju. Yang hanya fokus untuk menjaga dan menggapai Leora. Yang berdengung sumpah bahwa hanya Leora dan jabang bayinya yang akan Raja jaga hingga embusan napas terakhirnya. Yang telah Raja janjikan rasa aman dan nyaman untuk ke depannya.
“Jangan berhenti!”
Sejak tadi sikap Leora sangat menggemaskan. Dari kepulangan Raja yang membawa serta berkas menumpuk berupa file untuk di periksa hingga detik ini. Manjanya akut tapi Raja suka. Misuh-misuhnya Leora terlihat sangat menggemaskan yang terus-terusan Raja gigiti pipi tembamnya.
“Kamu nggak mau minum?”
“Apaan?!”
Oke. Mode galaknya keluar.
“Tunggu bentar sayang.” Raja pindahkan kepala Leora di gantikan dengan bantal sofa. Dan kakinya beranjak menuju arah dapur. Mengambil gelas, menakar s**u bubuk khusus hamil dengan suhu air yang pas. Tidak panas dan tidak terlalu dingin. “Ini sayang,” ucapnya mengulurkan gelas dalam tangannya untuk Leora.
“Nggak mau!” Di tolak mentah-mentah. “Nggak enak. Hambar.”
Beruntung mami Senja sudah memberi macam-macam wejangan bahwa perempuan hamil memiliki segudang keunikan yang tak terbantah. Sedetik begini. Sedetik begitu dan detik berikutnya seperti orang lain. Untungnya … Raja sabar.
“Tapi ini perlu sayang. Penting buat mereka.” Rayu Raja pelan-pelan. Sebagai awalan, Raja letakkan gelas ke meja agar tajamnya bau tidak menusuk hidung Leora dan menghancurkan mood sang istri. Langkah kedua, setelah memberi penjelasan dan Leora hanya diam tak berkutik, barulah Raja jalankan.
Meminum sedikit susunya, memberi kode lewat jari dan mata untuk Leora membuka mulut. Barulah … transfer s**u dengan cara unik terjadi. Sampai habis dan Leora diam saja. Malah terlihat menikmati.
Baik. Leora menikmati, Raja yang tersiksa maksimal. Hasrat untuk menyentuh Leora di manapun tempatnya seketika melayang. Terbang di otaknya yang kumal dan berhenti di pelataran nirwana. Ah gila. Jika sudah menyangkut hal demikian—suami istri—Raja tidak bisa selow.
Ngomong-ngomong juga, ini saran dari papi Radit yang diam-diam di kirim lewat ruang chat sore tadi. Sebelumnya Raja mengeluhkan soal Leora yang menolak s**u. Dan bersama maminya tidak mendapat jawaban, maka Radit Anggoro datang tanpa di pinta.
Katanya:
“Coba cara ini bang.”
Awalnya Raja ragu. Namun mencoba bukan perkara yang salah untuk menuai hasil. Dan sekarang, telah Raja buktikan berikut akhirannya: memuaskan.
“Memangnya harus begitu, ya?”
Yorobun. Otak Raja sudah traveling ke berbagai tempat untuk di jamah, Leora justru baru tersadar.
“Itu nyusahin banget, kan?”
Sejujurnya, ya. Namun kepala Raja menggeleng. Senyum di bibirnya tertarik tujuh senti ke kanan dan tujuh senti ke kiri alias tidak sinkron. Fucek banget memang kalau punya pikiran tidak labil tuh.
“Selama jadi kebutuhan mereka, aku nggak keberatan sayang.”
Gitu saja terus sampai endasnya mau pecah. Sok-sok’an kuat tapi aslinya kesiksa. Sok-sok’an menawarkan diri tapi aslinya nahan saja nggak bisa. Duhhh napsu … syalanddd—D-nya dobel tiga—sekali.
Meski begitu, Raja menyadari satu hal. Yang membuat dirinya tahu, sekalipun dirinya dan Leora adalah pasangan suami istri, tidak akan bisa Raja ketahui apa isi hati istrinya tanpa ada yang bicara. Dan sejauh ini dalam pandangan Raja, Leora bukan tipe perempuan yang mudah mengatakan apa yang di rasakannya atau apa yang hendak di katakannya. Leora cenderung tertutup dan memendam sendiri selama itu bisa di atasi.
Alih-alih terkesan egois, faktanya, Leora memang kesulitan dalam bersosialisasi khususnya dalam masalah mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Anggaplah ini pekerjaan rumah untuk Raja. Karena sejatinya, menembus dinding pertahanan keturunan Yudantha bukan hal mudah.
Yudantha sendiri merupakan keluarga kondang yang bernama sama seperti milik keluarganya. Papi Leora—Sagitarius Yudantha—sahabat papinya—Radit Anggoro. Yang di masa lalu hingga sekarang ini memiliki koneksi kuat dalam perusahaan. Hubungan persahabatan yang sudah bagus di teruskan oleh anak-anaknya lewat perjodohan. Bukan. Lebih tepatnya permintaan Raja.
Ingat permintaan Raja yang meminta Ora di waktu bayi dulu?
Demi Tuhan Raja ingin tertawa kala mengingat itu.
“Kamu kenapa? Ada yang lucu?”
Gawat! Raja gelagapan dan tersenyum sebagai tanggapan.
“Cuma lagi bayangin kalau bayi-bayi kita sudah lahir.”
“Kenapa sama mereka?”
“Lucu pastinya. Ya, kan?”
“Entah.”
Baru saja Leora hancurkan ekspektasi seorang Raja yang melambung tinggi. Memang sungguh tiada berakhlak.
***
Tahu tidak hal lain yang lebih membahagiakan dari mencintai?
Menunggu.
Adalah yang pernah Raja lakukan dulu sebelum kembali bertemu dengan Leora. Yang Raja pikir Numa menjadi pelabuhan terakhirnya—nyatanya Tuhan lebih menginginkan perempuan itu untuk berada di sisinya—dan menggantinya dengan Leora.
Di antara banyak hal yang Raja nantikan, menunggu seseorang mengajarkannya tentang kesabaran. Mengukur sejauh mana dirinya sanggup bertahan dalam mencintai seseorang. Memang, hal-hal sulit tak pernah lepas. Yang amat menyakitkan sehingga Raja mau tak mau harus memeluk satu per satu dari tiap impiannya tanpa kutukan yang keluar dari bibirnya.
Ini bukan lagi perkara jauh dekatnya atau rindu yang butuh temu dan peluk. Pada akhirnya Raja mengerti, kenapa Tuhan memintanya untuk menunggu. Itu semata-mata karena ingin melihat Raja tak salah menjatuhkan pilihan. Dengan menunggu Raja belajar hati-hati terutama menyoal masalah hati. Entah datang atau tidak, Raja percaya bahwa semesta memiliki mata—di mana ia sanggup melihat dan merekam niat-niat baik manusia.
Dan hasil dari itu semua, satu yang pasti, dalam bagian relung hatinya tertuju ke arah Leora, ada serbuk kepercayaan yang mulai tumbuh. Raja senang, tentu saja. Leora mulai terbiasa akan kehadiran dirinya yang meski sangat sensitif tiap kali berdekatan, namun apapun perlakuan Raja, tidak ada penolakan di dalamnya.
Bahagia? Tentu.
Sejak trauma yang mendera hidupnya, kepercayaan yang Raja taruh pada beberapa orang terdekatnya mulai terkikis. Sampai ketika bertemu dengan Numa, barulah perasaan itu kembali muncul. Dan membahas masa lalu di pagi hari saat matahari belum menyembul, bukan gaya Raja.
Fokusnya hanya pada kelopak mata Leora yang tertutup. Dengkuran halus yang keluar menarik senyum Raja. Kali ini Raja akui bahwa semuanya terasa benar. Lain kali akan kita bahas perihal dendam apa yang tersemat untuk Leora.
Sekarang, biarkan keduanya bersama. Menyatu dalam cinta.