Dua Puluh

1093 Kata
Raja tidak pernah menyangka. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kedua adiknya berperilaku. Inginnya mengatai kelakuan itu biadab karena memang benar adanya. Manusia mana yang melakukan hubungan i***s padahal mereka berstatus satu darah, satu ibu, satu ayah bahkan satu persusuan. Belum lagi tentang rahim mereka berasal. Satu. Hana. Siji. One. Wahid. Yang ada dalam benak Raja saat ini hanyalah … apa seperti ini keluarga bahagia yang dibentuk oleh papinya? Yang sangat didukung oleh maminya? Kedua orangtuanya menciptakan anak-anaknya dengan kehidupan yang tidak dimiliki anak-anak lainnya. Tapi juga b****k karena keintiman yang orangtuanya bentuk. Jika sudah begini siapa yang bisa Raja salahkan? Sejatinya, Radit dan Senja hanya berusaha memberikan keamanan bagi anak-anaknya. Memberikan kebebasan pada pilihan masing-masing. Yang sayang di salah gunakan. Pun dengan Raja yang tak sempurna sama sekali. Sudah rusak sejak remaja. Yang selalu Raja harapkan agar kedua adik-adiknya memiliki kehidupan normal. Namun bukan normal selayaknya kehidupan keluarga lainnya, Raja di buat shock drastis dengan kegiatan mereka. Saling mengerang, mendesah, mencecap sana-sini, bahkan meneriakkan nama satu sama lain. Demi Tuhan! Ini gila. “Kamu kenapa?” Vokal Leora menarik Raja dari kegiatan uring-uringannya. “Rambut kamu … Astaga.” Nah … belum apa-apa istrinya sudah ribut maksimal. Cuma perkara rambut doang. “Cuma kamu bilang?!” Leora dengan segala sikap kesensitifitasnya. Perempuan hamil memang tiada duanya. Raja ngebatin doang pun Leora bisa tahu. Angjim surangjim memang. “Ya maaf.” Malas Raja menjawab. “Ya aku tuh perhatian sama kamu. Maunya anak kamu juga. Mau anakmu lahir terus ngencesan gitu.” Satu lagi. Perempuan hamil selalu punya senjata untuk melawan orang sekitarnya. Leora membawa-bawa jabang bayi dalam perutnya untuk mengancam Raja dan itu sangat berhasil. Daebak sekali memang. “Amit-amit!” Raja rapikan kembali rambutnya dan di ambil alih oleh Leora. “Duhhh kamu wangi banget sayang. Kalau kaya gini aku jadi malas ngantor, deh.” “Macam-macam aku omelin kamu.” Terpaksa Raja hentikan kegiatan mengendus Leora yang tepat berada di depan wajahnya. “Kerja yang benar. Ingat! Punya bini, ada anak bentar lagi. Kalau nggak kamu yang kerja keras, siapa lagi?!” Oke. Oke saja pokoknya. Raja kuat tidak kuat jika Leora sudah mengomel. Dan mengabaikan bukan gayanya sekali. Gini-gini juga Raja sangat patuh. Terutama pada nasihat maminya dulu. Jadi, sudah paling benar kalau omelan Leora sama halnya mendengarkan maminya berceloteh. “Kamu ke kafe?” Sudah selesai rambutnya di make over oleh Leora—yang Raja tahu itu alasan belaka. Rambutnya tidak rusak maksimal. Hanya kusut. “Kalau iya kita bareng. Nanti pulangnya bisa aku jemput.” “Aku mager banget. Sumpah. Rasanya pengen rebahan dan gegulingan.” WAW! Raja terkejut. Istrinya bisa bersikap estetik juga dengan mager. Ini kemajuan selama mereka menikah. “Ya sudah. Kamu rebahan saja. Kalau butuh apa-apa hubungi aku, ya. Jangan pergi sendiri.” “Aku ini hamil. Bukan yang kek nenek-nenek pikun lupa jalan.” Buset. Langsung ngegas. Maksud Raja bagus. Cuma memberi peringatan. Leora nggak menye-menye kaya cewek diluar sana yang di kasih perhatian langsung nempel total atau baper. Enggak! Untung yang jadi suaminya itu sejenis Laraja Putra Anggoro. Coba cowok lain? Bisa terjun dari patung pancoran mungkin. “Aku berangkat, deh kalau gitu. Dahhh sayang. Dahhh anak Papi.” Raja cium kedua pipi Leora dan mengecup bibirnya sebentar. Lekas bergegas hengkang dari sana. Dengan sejuta keruwetan di otaknya. Dengan segala cara untuk memisahkan kedua adiknya. Tapi seolah memang tidak mendapat dukungan dari semesta, jalannya buntu. Lama Raja berpikir di balik kemudi mobilnya. Kedua matanya terpejam. Segala aktivitas yang dilakukan Ratu dan Langit masih membekas melekat di otaknya. Tidak mau menyingkir atau berkurang kadarnya. Ratu … entah sejak kapan memiliki sisi obsesi kepada adiknya sendiri. Dan Langit … yang Raja kira sangat penurut kepada Ratu sebagai bentuk kekaguman adik ke kakaknya. Faktanya, mereka melakukan yang tak semestinya. Pertanyaannya, sejak kapan? Apakah baru-baru ini? Atau sudah sejak dulu? Tidak ada yang bisa Raja lakukan tanpa bertanya secara langsung kepada si empunya. Dan yang Raja butuhkan adalah kumpulan bukti-bukti untuk bisa memulai obrolan dengan keduanya. Tanpa bukti akan ada sanggahan dari masing-masing pihak. *** “Abang serius?” Adalah Ratu yang datang-datang langsung misuh. Mengerucutkan bibirnya sembari membawa selembar kertas. Raja tahu apa isinya. “Aku pikir itu sudah Abang rubah, loh.” Karena Raja pun galau ketika memutuskan semua ini. Tahu bahwa menjauhkan bukan jalan yang tepat. Sedang membiarkan bersama akan semakin membuat keadaan keruh. “Kualifikasi kamu lebih masuk ke sana. Lagian Tu …” Jeda Raja menelisik gurat gusar di raut wajah Ratu. “Kalau nggak di ambil kesempatan buat naik jabatan bakal hilang.” “Aku nggak butuh itu!” Kesal, tentu saja. Ini pertama kalinya Ratu berteriak di depan Raja yang bernotabene sebagai anak tertua. “Aku mau di sini!” “Papi setuju. Semuanya sudah ter-acc.” Raja helakan napasnya yang sesak. Ada desakan dari kedua matanya yang ingin tumpah. Namun di tahannya mati-matian. “Demi Papi.” Demi masa depan kalian. Demi kewarasan kalian. Tolong. “Nggak adil banget sumpah!” Begitu pintu ruangannya tertutup dengan sadis, Raja mengendurkan urat-uratnya yang menegang. Raja butuh Leora di saat-saat seperti ini. Butuh kehadiran istrinya untuk memberinya dukungan lewat pelukan. Kini Raja sangat sadar pada makna kehadiran Leora dalam hidupnya. Perempuan masa kecilnya itu sangat bisa memberinya pengaruh. Sudah masuk ke dalam relung jiwanya untuk menjadi candu yang tak bisa Raja lepaskan. “Abang juga mindahin aku?” Berganti suara Langit yang memecah kesunyian di ruangannya. Selain deru AC dan suara klanson di bawah sana. “Kok tumben? Dadakan banget. Klien aku di sini gimana?” Lebih tenang dan tidak meledak-ledak seperti Ratu. Emosinya juga terkendali yang langsung Raja gelengkan kepalanya. “Kalau Kakanda Raja—” Radit Anggoro maksudnya. “Sudah berkehendak, bawahan bisa apa.” Begitu jawaban Raja yang membuat Langit tidak puas sama sekali. Namun hendak memprotes juga percuma. Karena Raja pun sama sulitnya untuk di tentang. Lelaki itu jika sudah mengeluarkan titahnya takkan ada yang menyangkal. Jadi, sebelum semuanya tertulis rapi dalam bentuk Surat Perintah untuk kepindahannya, Langit tahu sudah sejauh mana Raja menyiapkan. “Aku wajib banget di Sumba?” Langit memastikan sekali lagi. Was-was mana tahu Abangnya khilaf. “Itu cabang baru Angit.” Pupus sudah doa Langit dalam hati selama perjalanan menuju ke mari. Karena doa sangat tidak mempan jika berhadapan dengan abangnya. “Kita anak mami sama papi. Cuma kita yang mereka punya buat tumpuan. Kamu sudah gede. Kuliah oke, karier juga oke. Sekarang ini tingkatkan. Abang juga nggak mungkin sepenuhnya di dunia bisnis. Ada saatnya Abang berhenti. Kamu dan Ratu yang ambil alih setelahnya. Jangan lupa, kenalin Arra ke Abang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN