BAB 23

780 Kata

Ocha berlari sambil memegangi pipinya yang terasa panas setelah ditampar Bagas―Papanya. Ocha membiarkan begitu saja bibirnya yang masih berdarah. Air mata gadis itu masih menetes, sulit untuk Ocha menghentikan tangisnya. Sakit di pipinya tidak lebih terasa daripada sakit di hatinya. Hatinya seakan ikut menangis. Orang yang selama ini ia anggap sebagai pahlawannya, laki-laki yang ia harapkan bakal ada di baris terdepan untuk melindunginya malah melukai dirinya sendiri. Membuat angan Ocha yang semula setinggi langit seakan dijatuhkan hingga ke dasar jurang. Kepercayaan yang begitu besar pada sang Papa sudah hilang tidak berbekas, berganti rasa benci yang terasa menyesakkan jiwa. Ocha benci Papanya yang seolah tidak memiliki rasa bersalah, Ocha membenci Papanya yang lebih memilih wanita l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN