Ocha mungkin sudah berhenti menangis ketika sampai di rumah sakit. Tapi gadis itu masih setia dengan keterdiamannya, sementara Daniel, pemuda itu agak bingung harus melakukan apa. Ia sama sekali tak memiliki pengalaman menghibur seseorang yang tengah bersedih. Ocha bukan dirinya yang apabila merasa sedih akan melampiaskan kesedihannya dengan marah-marah dan merusak segala yang ada di dekatnya, atau bahkan membahayakan dirinya sendiri. "Lo apain Ocha?" Ketika keduanya sampai di depan ruang rawat Mama Ocha, Daniel dan Ocha disambut oleh pertanyaan datar Sagara. Si kapten basket itu tampak bersedekap d**a, matanya menatap tajam ke arah Daniel. "Lo apain Ocha sampai mata dia sembab gitu? Lo nyakitin Ocha?!" tanyanya lagi dengan suara yang lebih tajam, Sagara sudah mencengkeram kerah kaos yan

