BAB 8

1509 Kata
Pertemanan Ocha dan Daniel semakin erat. Bahkan ketika jam istirahat, saat Ocha tak memiliki teman karena Saga yang memilih Marsya pun, Daniel dengan seragamnya yang hanya itu-itu saja lengkap dengan aroma khas parfum dan rokok akan datang ke kelas Ocha, menemani Ocha berbincang atau menemani Ocha yang tengah menyantap bekal makan siangnya, terkadang cewek itu memang membawa bekal ke sekolah. Ocha bukannya tidak mau bersosialisasi dengan teman lainnya atau tidak berusaha untuk mencari teman, tapi Ocha selalu diabaikan, Ocha merasa lelah berusaha. Entah karena apa, semua seakan menjauhinya. Padahal Ocha yakin seratus persen dirinya manusia normal yang sehat lahir batin dan jelas saja tidak memiliki indikasi untuk dibenci. Untung saja, beberapa minggu belakangan ini, Ocha tak lagi merasa kesepian. Ya, karena Daniel selalu menemaninya. Topik mengapa seragam Daniel tak pernah berubah serta aroma tubuh Daniel yang terus dilingkupi aroma rokok selalu menjadi pembahasan utama dari perbincangan mereka. Tapi tidak dengan kali ini. Barangkali Ocha sudah terlalu lelah bertanya, dan jawaban yang selalu ia dapatkan juga selalu membingungkan. Tak jarang ia pusing sendiri dengan jawaban yang Daniel berikan. Daniel tampak duduk diam, sementara Ocha sudah mulai mengeluarkan bekal makan siangnya. Daniel tersenyum tipis karena wajah Ocha sudah jarang menunjukkan kemuramannya. Tidak sia-sia ia menjadi teman cewek itu. "Daniel nggak mau nih ikut makan sama Ocha? Ocha bawanya sengaja banyak loh. Khusus buat Daniel. Terus, Ocha sendiri yang nyiapin sandwich ini." Ocha bersuara. Mengucapkan kalimat yang hampir sama yang setiap hari ia keluarkan untuk menawari Daniel agar ikut bergabung makan siang bersamanya. "Enggak Cha. Gue masih kenyang. Perut gue rasanya nggak muat," jawab Daniel membuat Ocha bosan mendengarnya. Daniel selalu menjawab dengan kata yang sama untuk menolak tawaran baiknya. Mungkin kalau yang sudah berlalu hanya Ocha tanggapi dengan wajah cemberut, tapi tidak dengan kali ini. Wajah Ocha tidak hanya menyiratkan raut kesal, melainkan pita suara gadis itu yang tampaknya siap untuk mengeluarkan suara. "Gini ya Daniel. Daniel ke kelas Ochanya pas jam istirahat bunyi, otomatis Daniel belum sempat makan, kecuali kalau Daniel bolos. Tapi kayaknya nggak mungkin kalau Daniel bolos terus, karena setiap hari Daniel ke kelas Ocha. Terus, Daniel harus tahu, kalau Daniel makannya tadi pagi, otomatis makanan Daniel udah ada di lambung, berarti asam klorida yang ada di lambung Daniel udah menyelesaikan tugasnya yaitu menghancurkan makanan menjadi lebih halus, dan itu nggak memperlukan waktu yang terlalu lama, kayaknya sekitar dua jam, dan ini udah lebih dari dua jam sejak pagi tadi, malahan mungkin aja makanan Daniel udah ada di usus halus, siap untuk diambil sari-sari makanannya. Otomatis perut Daniel udah kosong kan?" Daniel memandang Ocha dengan takjub. Ketika Ocha berkata demikian, Ocha terlihat berbeda dengan biasanya. Tidak ada Ocha yang polos. Ocha terlihat ... pintar dan memesona. "Ih, Daniel diajak ngomong malah melongo gitu. Ocha nggak tahu deh, Daniel ini kenapa." Ocha mengerucutkan bibirnya. Ia memandang Daniel dengan kesal. "Lo kok jadi awsome ya Cha?" Ocha mengerutkan keningnya. "Ocha? Awsome? Sejak kapan? Ocha makin bingung sama Daniel. Daniel kalau ngomong suka ngelantur ih, untung Ocha sabar ya." Ocha terkekeh sendiri di akhir kalimat. Cewek itu lantas menyodorkan tupperware bekalnya ke hadapan Daniel. "Kali ini Ocha nggak mau tahu. Daniel harus ikut makan," kata Ocha. "Eh, Cha." Ocha menolehkan kepalanya ketika mendengar suara yang memanggil namanya. "Iya Kak Arven, ada apa?" Terlalu asik berbincang dengan Daniel, membuat Ocha lupa jika kali ini ia tidak hanya berdua dengan Daniel di dalam kelas, melainkan juga bersama Arven yang tumben-tumbennya tidak pergi ke kantin bersama teman-teman yang lain. Arven ini anaknya sedikit bregajulan. Membolos dan tidak mengerjakan tugas sudah menjadi hobinya. Tubuh cowok bertubuh jangkung ini juga selalu berbau rokok. Tapi, dibanding teman sekelas yang lain, kecuali Saga, sikap Arven cukup baik padanya. Melihat Arven yang tidak bersuara, Ocha kembali berkata, "Kak Arven lapar, terus Kak Arven nggak bawa bekal dan malas ke kantin? Kak Arven boleh kok minta bekalnya Ocha, Ocha bawa banyak." Ocha tersenyum menatap cowok yang tampak memandangnya bingung itu. "Lo lagi latihan drama ya, Cha?" Bukannya menjawab pertanyaan atau menerima pemberian Ocha, Arven malah mempertanyakan hal yang jauh dari topik yang mereka bicarakan. "Kan Ocha nggak ikut ekstra teater Kak. Kenapa latihan drama coba?" "Tapi lo ngomong sendiri Cha. Gue pikir lo lagi latihan drama." Kening Ocha berkerut dalam. Ini bukan kali pertama ia dianggap berbicara sendiri. Bahkan, baru beberapa minggu yang lalu Mamanya sendiri berbicara seperti itu. Tapi kenyataannya ia kan berbicara dengan Daniel. "Enggak kok, Ocha nggak ngomong sendiri. Ocha ngomong sama Dan..." Ocha menolehkan kepalanya, bermaksud menunjuk Daniel yang sejak tadi duduk di kursi Saga. "... Niel. Loh, Daniel ke mana?!" Ocha nyaris berteriak. Membuat Arven berjingkit kaget di tempatnya. "Daniel kok nggak ada? Ocha nggak bohong, tadi Ocha ngomong sama Daniel loh." Ocha jadi kesal dengan Daniel, sahabatnya itu tiba-tiba menghilang di saat dirinya dituduh yang tidak-tidak. "Tapi dari yang gue lihat, dari tadi lo ngomong sendiri." "Enggak. Kak Arven bohong ah. Nih, Ocha panggil ya, Danielnya." Ocha menarik napasnya. "Daniel! Daniel sembunyi di mana? Daniel ih suka jahil sama Ocha. Daniel!! Daniel yang nama belakangnya Fazrian! kok Daniel ngilang tiba-tiba sih?!" Ocha berteriak nyaring, membuat suaranya sedikit menggema di ruang kelas itu. Arven terkejut mendengar nama siapa yang Ocha panggil, "Sebentar Cha. Lo tadi manggil siapa? Daniel? Daniel Fazrian?" Ocha mengghentikan kehisterisannya, ia mengangguk mendengar pertanyaan Arven, matanya menatap berkaca-kaca pada cowok jangkung itu. "Astaga! Daniel kan..." *** "Astaga! Daniel kan..." "Daniel kenapa Kak Arven?" Potong Ocha tak sabaran. Dahinya berkerut dalam, menggambarkan bagaimana bingungnya ia. Ocha tidak mengerti sekaligus penasaran dengan ucapan teman sekelasnya itu. Entah mengapa Ocha mendadak khawatir, ditambah lagi Daniel tiba-tiba pergi tanpa berpamitan terlebih dulu padanya. Bahkan, ia tidak sadar kapan cowok itu pergi. Apa mungkin karena dia terlalu fokus berbicara dengan Arven? Ya, mungkin saja. Arven terlihat menghela napasnya, "Yang lo panggil tadi benar Daniel kan? Daniel Fazrian anak IPS kan?" Ocha mengangguk, kerutan di dahinya masih tergambar jelas. "Iya, Daniel yang itu, yang Ocha maksud. Kenapa emang Kak?" Arven menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, ia mendadak bingung harus berbicara apa. Masalahnya, Arven juga bingung mengapa Ocha bisa mengenal dan membahas sosok seperti Daniel. Ia yakin betul jika Ocha ini tipikal orang yang sulit bersosialisasi. Terlebih lagi, ini Daniel, loh. Rajanya bad boy SMA tempat mereka mengenyam pendidikan jenjang menengah atas. Cowok berandalan yang hobinya membolos dan tawuran. Cowok berandal yang pergaulannya saja sudah seperti partikel N2 di udara yang bergerak bebas, mengisi 78% ruang udara di bumi ini. Ocha dan Daniel itu ibaratnya seperti minyak dan air yang tidak pernah bisa bersatu, sekalipun diletakkan dalam satu wadah yang sama. Kepribadian mereka jauh berbeda, malahan bertolak belakang. Sangat tidak mungkin jika dua manusia keturunan Adam dan Hawa itu bersatu di bawah tali persahabatan, apa lagi cinta. Itu sangat tidak mungkin. Bukan hanya itu saja, tapi sekarang ... Daniel, cowok itu... "Daniel baru mengalami kecelakaan bulan lalu, dia dirawat di rumah sakit, dia koma, sangat nggak mungkin kalau lo ... ya lo ngerti kan maksud gue?" Tidak! Ocha sama sekali tidak mengerti dengan yang cowok jangkung itu ucapkan. Ocha tidak mengerti kenapa Arven menyebut Daniel baru mengalami kecelakaan. Sementara Daniel baru saja berbincang dengannya. Ocha tidak mengerti mengapa Arven berkata kalau Daniel sedang di rawat di rumah sakit, padahal cowok itu baru saja duduk di sampingnya. Dan Ocha sangat tidak mengerti kenapa Arven menyebut Daniel tengah koma, padahal ia tadi melihat dengan jelas Daniel yang tertawa, bercanda, dan menghiburnya. Sebegitu tidak sukanya kah Arven padanya, sehingga cowok itu tega membohongi dirinya? Apa Arven tidak suka jika ia memiliki teman baru? Ocha merasa tidak adil. "Kak Arven boleh benci Ocha, tapi kakak jangan do'ain Daniel yang enggak-enggak dong. Kasian kalau Daniel kecelakaan terus koma, sama kayak yang kakak bilang." Ocha berkata ketus, jauh berbeda dari kebiasaannya yang bertutur kata halus. "Nggak gitu juga Cha, gue sama sekali nggak benci lo. Gue juga nggak bohong. Daniel beneran koma. Bulan lalu dia, gue juga sih, ikutan balap liar, waktu itu sepulang sekolah kami langsung ke tempat janjian, waktu itu juga baru hujan deres, jalan otomatis licin, nggak memungkinkan untuk dijadiin tempat balapan. Sebenernya waktu itu kita-kita pengen batalin balapannya, tapi Daniel nggak setuju. Akhirnya balapan itu tetap ada. Di putaran terakhir, tepat di tikungan, ban motor Daniel kegelincir. Motornya nabrak pembatas jalan, sementara Daniel sendiri terpental jauh, kepalanya ngebentur trotoar. Gue lihat kejadian itu dengan mata kepala gue sendir. Gue nggak bohong. Dokter memvonis Daniel gagar otak, beruntung kita cepat bawa dia ke rumah sakit, kalau enggak nyawa Daniel benar-benar nggak akan tertolong," kata Arven bernada serius. Ocha memberanikan diri menatap mata Arven, mencari kebohongan di sana. Namun, ia sama sekali tidak menemukannya. Arven sepertinya berkata jujur. Binar di wajah Ocha mendadak muram. Dua sudut bibirnya melengkung ke bawah. Cewek itu menundukkan kepalanya. Melihat Ocha yang masih terdiam dengan wajah polosnya yang tampak cengo, membuat Arven―untuk ke sekian kalinya―menghela napas dengan kasar. "Kalau lo masih nggak percaya, gue bisa antarain lo sepulang sekolah nanti ke rumah sakit tempat Daniel di rawat." Ocha masih setia dengan kebisuannya. Namun kali ini cewek itu memberanikan diri menatap wajah sangar Arven. "Terus yang selama ini sama Ocha siapa, Kak?" TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN