BAB 7

1224 Kata
Ocha menatap kosong jalanan di depannya. Matanya tampak tidak fokus. Ia tengah menunggu kehadiran Ibunya yang tadi sudah berjanji akan menjemputnya. Sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu, namun sang Mama tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Perlahan rasa kecewa itu mulai memasuki relung hatinya. Ia takut jika Mamanya tak menepati janji. Ia sudah cukup kenyang dengan janji-janji palsu orang lain. Apakah ia juga harus merasakan janji palsu mamanya? Semoga saja tidak. "Kok ngelamun lagi Neng? Tadi pagi, pas istirahat udah melamun loh." Bau parfum dan aroma rokok yang khas itu sangat Ocha hafali. Ia menolehkan kepalanya, tersenyum ketika melihat Daniel yang bersandar di pinggiran besi penyangga halte. "Lagi hobi," balas Ocha singkat. Terdengar malas. Daniel mengangguk dan mengambil duduk di samping Ocha. "Sekarang galau gara-gara apa? Si do'i apa do'a yang nggak kekabul juga?" Tanyanya bernada gurau, namun sama sekali tak berhasil membuat seulas senyum terbit membingkai wajah cantik Ocha. "Mama belum jemput Ocha. Padahal Mama udah janji bakal jemput Ocha." Daniel tampak berpikir. "Udah coba telepon?" Ocha menggeleng. "Baterai hape Ocha habis. Daniel ada pulsa?" Tanya Ocha langsung. "Ya elah Cha, hape aja kagak punya, masa ada pulsa sih?" Ocha membulatkan matanya mendengar Daniel tidak memiliki handphone. Ia meneliti tubuh Daniel dari atas sampai bawah. Padahal, dari yang terlihat, sudah jelas menunjukkan kalau Daniel ini anak orang kaya. Tapi yang membuat Ocha bingung itu banyak. Pertama, Daniel kenapa naik bus? Kedua, kenapa Daniel tidak punya hp? Ketiga, kenapa aroma tubuh Daniel selalu sama? Maksudnya, setiap mereka bertemu, tubuh Daniel selalu mengeluarkan bau yang khas. Rokok dan parfum. "Daniel kalau ngerokok, ngerokok di mana? Kok bisa nggak ketahuan guru?" Tanya Ocha yang sudah beralih topik. Daniel tertawa, "Ocha, Ocha, kenapa Lo mikir guenya ngerokok? Padahal dari kapan hari gue nggak ngerokok lagi loh. Yakali makhluk macam gue ngerokok," jawab Daniel, membuat dahi Ocha berkerut dalam. "Tapi bau Daniel rokok mulu loh, tiap dekat sama Ocha. Sensor yang ada di hidung Ocha nggak mungkin bermasalah, hidung Ocha nggak lagi ingusan." Ocha menggaruk kepalanya bingung, matanya menatap polos ke arah Daniel. Daniel sendiri tampak terdiam. Ia melihat tubuhnya sendiri, "Jadi selama ini bau tubuh gue kayak gitu, ya?" Ia bergumam. Nyaris tak terdengar, bahkan Ocha pun tidak bisa mendengar suaranya. "Daniel udah ya, Mama udah jemput Ocha!" Ocha nyaris berteriak ketika mengucapkannya. Kini, mata sendunya sudah kembali berbinar, kekecewaan Ocha seakan sirna melihat mobil Mamanya yang melambat dan mulai menepi ke pinggi jalan. Mata cewek itu pun teralih menatap Daniel yang masih setia dengan keterdiamannya. Ocha melambaikan tangan di depan wajah cowok itu, berusaha membuat Daniel tersadar dari lamunannya. "Eh, malah giliran Daniel yang melamun," ucap Ocha disertai kekehan ketika Daniel sudah tersadar dari lamunannya. Ada yang berbeda dari wajah Daniel, meski saat ini Daniel tengah tersenyum, tapi Ocha tahu kalau cowok itu tidak dalam kondisi yang baik. "Ya udah sana, kasian nyokap Lo kalau nunggu Lo ngomong sama gue. Entar dikiranya Lo gila lagi," kata Daniel seraya mendorong lirih tubuh Ocha untuk segera pergi dari halte itu. "Eh, Daniel ngomong apa sih? Gini ya Daniel, Ocha tahu Daniel itu suka ngerokok, terus bregajulan banget, harusnya pakai seragam identitas, eh Daniel malah pakai seragam putih abu-abu. Mama Ocha itu baik kok Daniel, nggak bakal nganggap Ocha gila gara-gara ngomong sama Daniel. Daniel mau Ocha kenalin sama Mama?" Daniel terdiam mendengar ucapan Ocha. Senyum geli terpatri indah di wajah tampannya, cewek di depannya ini benar-benar polos. "Nggak usah Cha. Gue mau ketemu nyokap Lo, dalam kondisi yang lebih baik. Lagian gue males jalan. Lemes banget badan gue. Udah gih, sana," ucap cowok itu masih dengan senyum di bibirnya. "Ih, Daniel aneh, orang tinggal jalan ke mobil kok, deket gitu. Ya udah, sampai ketemu Daniel. Makasih udah nunggu dan ngehibur Ocha." Ocha langsung menjalankan kakinya menuju mobil sang Mama. Daniel menyenderkan kepalanya ke besi penyangga halte. Ia mempernyaman duduknya di kursi halte tersebut. Matanya tertuju pada Ocha yang sudah masuk ke dalam mobil. "Mungkin Tuhan masih berbaik hati sama gue, dengan ngirim Lo supaya bisa bantu gue, Cha." *** "Maaf Sayang, Mama telat jemputnya. Kamu pasti lama nunggunya," ucap Mama Ocha dengan pandangan yang jelas-jelas menunjukkan rasa bersalah. "Nggak pa-pa kok Ma, yang penting Mama kan jemput Ocha." Ocha meraih tangan Mamanya, dan mencium punggung tangan wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu. "Makasih ya Sayang, udah ngertiin Mama." Ocha tersenyum menganggukkan kepalanya. Perubahan Mamanya yang menjadi lebih baik membuat Ocha senang. Tidak sia-sia setiap hari ia memanjatkan do'a pada Tuhan, akhirnya Ocha kembali mendapat perhatian dari Mamanya lagi. Penantiannya selama ini sedikit demi sedikit terbayarkan. Benar, Tuhan akan mengabulkan setiap permintaan hamba-Nya, ketika kita mau berusaha lebih keras, tidak karena sekali gagal langsung menyerah. Kalau sekarang Mamanya berubah, mungkin selanjutnya Papanya juga bakal berubah. Ia akan mendapat kasih sayang yang penuh dari kedua orang tuanya. Ia akan mendapat hal yang selama ini ia harapkan. Kali ini Ocha benar-benar berharap semua berjalan lancar. Dipandanginya paras ayu sang Mama yang kali ini tidak lagi menggunakan make up tebal seperti biasanya. Ocha mengerutkan keningnya melihat wajah sang Mama yang tampak sendu dan terlihat sembab di sekitar area mata. Ocha masih bisa melihat bekas air mata di sudut netra Mamanya. "Mama ... Mama habis nangis? Mama kenapa?" Tanya Ocha khawatir. Seakan tersadar, Mama Ocha langsung meraba sekitar area matanya. Dalam hati bersyukur karena di sana ia tidak menemukan lelehan air mata. Bukan saat yang tepat untuknya menangis. Terlebih lagi di hadapan putrinya sendiri yang baru dilihat saja sudah menunjukkan kerapuhannya. Ia tidak mau membuat Ocha bersedih untuk kesekian kalinya. Mama Ocha menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lembut. "Mama nggak pa-pa Sayang. Mungkin Mama ngerasa capek aja, sampai nggak sadar kalau Mama nangis." Ocha ingin percaya apa yang Mamanya itu ucapkan. Tapi ia tidak yakin, hati kecilnya tidak mengatakan demikian. Mamanya tidak benar-benar dalam keadaan yang baik. Ada yang tidak beres dengan Mamanya. Atau mungkin. Mamanya tengah merindukan Papanya. Mungkin saja, Papanya itu sudah lama tidak pulang ke rumah, beliau terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Lebih mengagung-agungkan uang dan kekayaan dibanding keluarga yang sejak dulu selalu menjadi penyemangatnya. "Mama kangen Papa?" Tanya Ocha polos. Mama Ocha tersenyum, terlihat seperti senyum yang dipaksakan. "Iya ... kangen banget." Ocha menajamkan pendengarannya, entah mengapa dari suara serak yang keluar dari mulut Mamanya itu Ocha merasakan ada sebuah kesedihan besar di sana. Tapi Ocha tidak mau berspekulasi. Bisa saja ia salah. Mamanya mungkin sedang sakit tenggorokan atau apalah, sehingga pita suaranya sedikit bermasalah. "Kalau urusan Papa udah selesai, Papa pasti pulang kok Ma," ucap Ocha. "Iya, kamu benar Sayang." Wanita yang berusia hampir kepala empat itu mengelus puncak kepala putrinya. "Eh iya, kamu tadi kok ngomong sendiri?" Tanya sang Mama mengalihkan topik. Ocha menggeleng bingung. "Enggak Ma, Ocha nggak ngomong sendiri." Ocha memberi sangkalan. Mama Ocha terdiam. Ia menatap ke halte tempat putrinya menunggu dirinya tadi. Ia yakin, matanya tidak salah. Ia tidak melihat siapa pun di sana. Meski Salma sendiri tidak mendengar suara putrinya saat berbicara, tapi dari gerak-gerik putrinya, Salma tahu Ocha sedang berbicara dengan seseorang. "Mama suka lucu deh. Pasti Mama ngomong gini, biar Ocha nggak ikutan sedih karena Papa nggak balik-balik kan Ma?" Salma hanya mampu tersenyum. Barangkali, putrinya terlihat berbincang sendiri karena tengah berlatih drama. Siapa tahu, sebentar lagi sekolah putrinya akan mengadakan pensi, dan Ochanya memilih mengikuti drama untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Barangkali pula, sambil menunggu kedatangannya, putrinya itu memilih berlatih. Daripada hanya diam tanpa melakukan apa pun, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN