Pertemuan Tak Sengaja di Balik Tas Bom
“Bagus! Taruh saja di sana,” ujar Renzo kepada Geraldo, anak buahnya yang bersiap mengaktifkan bom di dalam tas hitam mengkilap itu.
“Siap, Bos! Akan kuselesaikan dengan rapi.” Geraldo segera turun dari mobil, meninggalkan Renzo, lalu mengamati keadaan sekitar dengan saksama.
Ia meletakkan tas itu di sudut gedung yang menjadi sasaran, seolah‑olah tas itu terjatuh tanpa sengaja.
Sementara itu, Bilqis berjalan dengan hati berat. Sejak pagi ia sudah ditolak di berbagai perusahaan, dan rasa putus asa mulai menguasainya. Dari kejauhan, ia melihat Geraldo yang seolah menjatuhkan tas hitam itu.
“Pak! Maaf, Pak! Bapak menjatuhkan tasnya!” seru Bilqis. Namun Geraldo tidak mendengar—ia sedang mendengarkan musik lewat alat kecil di telinganya.
“Pak! Tunggu sebentar!” Bilqis bergegas mengambil tas itu, lalu berlari mengejar pria tersebut.
“Paaak! Tunggu…” teriaknya lagi, namun Geraldo tetap tidak mendengar.
“Kenapa gadis itu mengejarnya? Rasanya aku kenal tas yang ada di tangannya,” batin Renzo sambil memperhatikan dari dalam mobil.
Apa? Tas berisi bom itu?!
Renzo terkejut bukan main. Ia segera turun—tas berbahaya itu kini justru bergerak mendekati arah mereka.
Geraldo, yang merasa aman dan tak ada yang mencurigainya, akhirnya menoleh ke belakang.
Kenapa gadis itu memanggil‑manggilku? Mengejarku? Dan tas itu… Tidak mungkin! Kenapa dia membawanya? Dia makin mendekat…
Geraldo terbelalak melihat Bilqis yang berusaha menerobos keramaian untuk mendekatinya.
“Lari! Ada bom!” teriak Geraldo spontan.
Mendengar kata “bom”, Bilqis justru berlari makin cepat ke arahnya—ia takut terjadi bahaya di dekat pria itu.
“Pak! Ini tas Bapak, jangan lari! Aku hanya mau mengembalikannya!” seru Bilqis napas terengah.
“Sialan!” gerutu Renzo. Rencana hampir gagal, dan kini nyawa mereka terancam karena kesalahpahaman ini.
“Bayu! Turun, berikan motormu!” Renzo menunjuk pengawal pribadinya yang bersiap dengan motor besar di belakang.
“Baik, Bos!” Bayu segera turun dan menyerahkan kunci motor.
Renzo langsung mengarahkan kendaraan itu menuju Geraldo.
“Berapa lama lagi bom itu meledak?” bentak Renzo saat berpapasan.
“Sepuluh menit lagi, Bos!” jawab Geraldo dengan napas memburu.
Renzo menerobos keramaian dan kekacauan di jalan, lalu mendekati Bilqis yang masih memeluk tas itu erat‑erat.
“Cepat naik!” perintah Renzo singkat.
“Kenapa aku harus naik ke motormu?” tolak Bilqis waspada.
Di kejauhan, suara sirene polisi mulai terdengar mendekat.
“Hei, naik sekarang! Atau kau mau meledak bersama tas itu?” tegas Renzo, makin gelisah.
“Apa? Jadi kau mau menolongku? Dan… bomnya ada di sini?” Bilqis masih bertanya dengan polos.
“Terlalu banyak bicara!” Tanpa banyak tanya, Renzo mengangkat tubuh Bilqis ke atas motor, lalu melaju menjauh dari tempat kejadian. Bilqis tetap memeluk tas hitam itu—bersama berkas lamaran kerja dan ijazah SMA yang dibawanya dari desa.
“Paaak! Pelan sedikit saja! Aku belum mau mati muda! Belum menikah, belum punya pacar, masih banyak tanggung jawab… Aku tidak mau mati karena motor ini!” teriak Bilqis ketakutan di belakang punggung Renzo.
Renzo mengabaikan semua keluhannya. Tak satu pun jawaban yang keluar, meski Bilqis akhirnya memeluk pinggangnya erat karena lelah berteriak.
Aneh… Kenapa rasanya begitu nyaman saat dia memelukku? batin Renzo. Tanpa sadar, ia sedikit menurunkan kecepatan motor, menikmati hangat sentuhan itu sesaat.
Tiit… Tiittt… Tiiiit…
Suara hitungan mundur bom yang tersambung di alat di pinggangnya memecah lamunan.
“Sial! Kenapa wanita ini bisa melalaikanku!” desis hati Renzo. Bahaya makin dekat.
Renzo menghentikan motor di tepi jalan, tepat di depan jurang yang dalam.
“Berikan tasnya!” pinta Renzo sambil berusaha mengambilnya.
“Apa?! Ini bukan milikmu! Tadi itu milik Bapak yang lain! Kau mau mencurinya? Tidak akan kuberikan!” tantang Bilqis.
“Dasar gadis bodoh, di dalamnya ada bom! Kau mau mati sia‑sia? Cepat berikan!” Renzo merampas tas itu dan melemparkannya jauh‑jauh ke dasar jurang.
Duaaaar!
Ledakan keras mengguncang saat tas itu menghantam dasar jurang.
“Ayaaaah!” Bilqis langsung memeluk Renzo erat—suara ledakan itu membangkitkan trauma lama. Ia teringat hari ayahnya meninggal di stasiun kereta, saat baru tiba di kota untuk menemui kakeknya. Alamat tak sempat ditanya, dan ayah tewas meledak tepat di depan matanya, saat Bilqis dan dua adiknya sedang antre es krim. Sejak itu ia berjuang keras di kota demi adik‑adiknya.
“Ayaah… Ayaah…” isaknya pelan, masih memeluk Renzo.
Kenapa aku merasa nyaman dipeluknya? Gila, kenapa tiba‑tiba jadi lemah? Banyak wanita mendekat, malam pun sering kulewati bersama mereka… tapi dengan dia rasanya beda, batin Renzo bingung.
“Hei! Jangan manfaatkan situasi sulit, dasar lelaki b******k!” Bilqis mendorongnya kuat. Renzo kehilangan keseimbangan, nyaris jatuh ke jurang.
“Awaaaas!” Bilqis sigap menarik jaketnya.
Drasssh!
Keduanya terguling di jalan miring. Pandangan bertemu, detak jantung saling bersahutan—sejenak suasana jadi hening dan aneh.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Renzo.
“Beraninya kau menamparku!”
Renzo menekan leher Bilqis dengan pandangan tajam seolah ingin melenyapkannya.
Bugh!!
Lutut Bilqis tepat mengenai titik sensitif Renzo. Ia melepaskan cengkeraman seketika.
Bilqis bangkit berdiri.
“Hei lelaki b******k! Aku bukan w************n yang sembarangan disentuh! Itu pelajaran pertamaku! Jangan muncul lagi di hadapanku, atau masa depanmu tamat!” ancamnya tak gentar—sang raja gelap pun lumpuh sesaat.
Ia mengumpulkan berkas lamaran yang berserakan, lalu berjalan cepat meninggalkan Renzo yang masih memegang s**********n menahan nyeri.
“Pak! Boleh saya numpang ke kota?” tanyanya pada sopir truk sayur yang berhenti.
“Naiklah,” jawab sopir singkat.
Bilqis melompat naik dengan semangat.
“Hei! Tunggu saja balasanku!” teriak Renzo tertahan sakit.
Weeek! Bilqis menjulurkan lidah mengejek sebelum truk menjauh.
“Bos, wanita itu bagaimana? Mati bersama bom itu?” tanya Geraldo saat Renzo tiba di markas rahasia mereka.
“Tidak. Dia selamat,” jawab Renzo ketus.
“Lalu kenapa kau tidak membawanya?” desak Geraldo.
Druaks!
Renzo menabrak kursi tempat Geraldo duduk hingga pria itu terjungkal dan menghantam dinding.
“Beraninya kau memberi perintah padaku!” Laras pistol menempel tepat di kening Geraldo.
“Ma‑maaf, Bos… tapi Bos King memerintahkan kami menyerahkan wanita itu ke hadapannya,” jawab Geraldo sambil mengusap keringat dingin di pelipis.
“Untuk apa Bos King menginginkannya? Wanita sial itu… aku takkan memaafkannya jika bertemu lagi,” geram Renzo lalu menyelipkan kembali senjatanya.
“Aku tak tahu detailnya, Bos. Perintahnya cuma satu: jika wanita itu selamat, seret dia ke hadapan Bos King,” sahut Rocky sambil mengelap keringat di dahi dengan lengan kemeja hitamnya.
“Sial! Geraldo, kau ingat wajahnya?” tanya Renzo tajam.
“Hanya samar, Bos… aku tak sempat melihatnya jelas,” jawab Geraldo ragu‑ragu.
“Bagus. Kalau begitu biar aku yang mencarinya!” Renzo meninggalkan markas dengan wajah masih mendidih.
Keesokan harinya…
“Di mana wanita itu? Aku harus segera menemukannya,” gumam Renzo sambil menyusuri jalan kota di bawah terik matahari.
“Maaf, Nona, belum ada lowongan di perusahaan kami,” ujar petugas keamanan menghalangi Bilqis sebelum ia sempat masuk ke gedung perusahaan makanan.
“Tunggu—apakah dia sedang mencari kerja?” tanya Felix yang baru keluar dari gedung dan hendak masuk ke mobilnya.
“Benar, Pak. Saya mau kerja apa saja, yang penting halal,” jawab Bilqis bergegas menghampiri pria berpakaian rapi itu.
“Baiklah, kalau begitu kamu diterima di bagian promosi lapangan. Tugasmu memegang sampel produk di depan pasar,” ucap Felix tenang.
“Siap, Pak! Saya mau!” jawab Bilqis penuh semangat.
“Bisa mulai sekarang? Punya kendaraan?” tanya Felix lagi.
“Maaf, Pak… saya tak punya apa‑apa selain tekad dan tenaga,” jawab Bilqis sambil menunduk.
“Jangan sedih. Pak Sugeng, pinjamkan dia motor perusahaan. Tapi sebelumnya, antarkan dia bertemu Nona di dalam—dia yang akan jelaskan tugas dan lokasinya,” perintah Felix sambil melirik jam tangan.
“Pak Felix, apa Bapak tak khawatir dia membawa kabur motor perusahaan? Apa Bapak sudah kenal dia?” tanya Pak Sugeng ragu.
“Saya Bilqis, Pak… saya pendatang dari desa,” sela Bilqis pelan.
“Pak Sugeng, aku sudah kenal namanya: Bilqis,” potong Felix sambil tersenyum tipis.
“Baiklah, kalau kehendak Pak Felix. Ayo, Mbak Bilqis,” kata Pak Sugeng memberi jalan masuk.
“Terima kasih, Pak Felix,” ucap Bilqis sambil tersenyum cerah, lalu mengikuti Pak Sugeng menuju ruang Nona.
“Permisi, Bu Nona. Atas perintah Pak Felix, saya antarkan Mbak ini untuk tugas promosi pemasaran,” lapor Pak Sugeng di depan meja kerja Nona.
“Hubungan apa kau dengan Pak Felix? Hebat sekali bisa dapat rekomendasi langsung dari pemilik!” tanya Nona dengan nada ketus dan tatapan menyelidik.
“Maaf, Bu Nona. Pak Felix menyuruh saya ke sini untuk tugas, bukan diinterogasi,” jawab Bilqis tegas, tak suka nada sombong wanita itu.
“Anak baru, sudah berani menantang,” desis Nona sinis sambil mendorong sekardus penuh sampel ke meja.
“Ini! Di dalam ada sampel semua produk perusahaan. Bawa ke tempat ramai, tawarkan untuk dicicipi. Bersikap ramah dan rapi. Kalau ada yang tanya tempat beli, jawab: ada di semua mal dan minimarket. Ini rompi seragam—pakai selalu!” Nona meletakkan rompi di atas kardus.