Husain melampirkan jas putih dokternya di gantungan yang berada di dalam ruangannya. Ia langsung menjatuhkan pantatnya ke kursi sambil menyandarkan kepalanya ke belakang. Kepalanya berdenyut. Semalaman ia terjaga, tak terbiasa tidur melantai seperti itu, tetapi bisa apa jika itu keinginan istrinya? Ah, maksudnya Zara. Zara hanya memiliki gelar menjadi istrinya, tapi belum menjadi pelengkap tulang rusuk bagi Husain. Mereka berdua sama-sama anak pertama, tapi Zara di sini sangat terlihat kekanakan dibandingkan Husain. Pria berjenggot tipis ini hanya bisa memenjamkan matanya sebentar saat ketukan pintu kembali membuatnya terbangun. "Ah, Dokter lagi tidur. Saya mau kasih hasil laporan, Dok." Terlihat seorang pemuda yang berdiri di ambang pintu. Husain memijit kepalanya sebentar, kemudian me

