(Bukan) Dia Yang Kucintai

1611 Kata
"Kita batalin aja pernikahannya, Pak." "Enggak, Zara akan tetap menikah hari ini." Ibu dan aku tentu terkejut akan perkataan Ayah. "Bukan dengan Farhan." Hatiku hancur. Mengapa hal seperti ini terjadi padaku ya Allah? Seperti ada yang meremas hati ini dengan hebat hingga air mataku turun dengan deras. "Ibu...." "Iya, Sayang. Ibu paham," ujar Ibu kemudian kembali memelukku. "Bapak akan menikahkan kamu dengan anak teman Bapak. Hari ini juga. Bapak malu dengan tamu jika saja mengetahui kalau calon suamimu ternyata sudah berumah tangga." Bapak keluar dan menutup pintu dengan kencang. Aku benar-benar dilema. "Bu... aku mau nikah sama Mas Farhan. Aku mau nikah dengan pria yang kucintai, Bu." Ibu hanya bisa ikut menangis bersamaku dalam pelukan. "Ibu apa yang harus aku lakuin?" Zara memeluk Ibunya dengan air mata yang tak henti turun dari pelupuk matanya. "Udah, kamu ikuti kemauannya Bapak, ya? Supaya masalah ini tidak beredar luas, kamu tau Bapak kamu, kan?"" Detik itu badanku luruh dalam pelukan Ibu. Kenyataan hari ini sungguh menamparku. "Zara! Zara! Sayang!" Netral ini kembali terbuka, ah rasanya ingin kupejamkan lebih lama dan berharap hari ini adalah mimpi buruk. "Duduk dulu, Nak." Pendengaranku menangkap suara ramai dari luar kamar. Sontak bola mataku tertuju pada jam dinding di kamar. Sudah jam sembilan pagi. Aku pingsan berapa lama? Ah, lalu mengapa di luar ramai? Pertanyaan demi pertanyaan terlintas begitu saja. "Kamu akan tetap menikah, Bapak mohon sama kamu." Bapak berlutut di hadapanku. "Bapak tahu ini berat." Bapak meneteskan air mata begitu pun denganku. "Bapak gak mau kamu jadi bahan pembicaraan orang lain, Nak. Bapak gak mau." Kupalingkan wajah dan menatap Ibu yang juga ikut menangis. Ya Allah ... cobaan apa ini? "Bapak dan Ibu sepakat untuk tetap melanjutkan pernikahanmu tanpa Farhan." "Pak...." "Ibu dan Bapak sudah memutuskan untuk menikahkan kamu dengan anak teman lama kami." Aku tak berkutip. Menurut. Itu saja yang bisa kulakukan. "Tapi, aku tidak akan bisa mencinta lekaki lain, Pak. Mas Farhan---" "STOP ZARA! JANGAN SEBUT NAMA PRIA YANG SUDAH MENGHANCURKAN KEPERCAYAAN BAPAK, IBU DAN KAMU SENDIRI!" Hatiku tertohok. Aku masih mencintainya. Sangat teramat mencintainya. "Terserah, Bapak. Aku cuma mau bilang, aku gak menjamin rumah tangga kami akan berjalan dengan baik." "Dia seorang yang paham agama, Bapak yakin dia bisa membuatmu bahagia." Bapak keluar dari kamar. Tersisa Ibu dan aku. "Ibu, kenapa seperti ini? Kenapa aku menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kucintai?" Ibu kembali memeluk dengan hangat. "Udah, kamu jangan menangisi cowo b******k seperti itu lagi." Ibu mengusap air mata yang sudah seperti air terjun ini. "Ibu mau kamu siap-siap, Ibu bakal panggil periasnya ke kamar. Udah, kamu jangan nangis lagi, Sayang." Hari yang kunantikan menjadi mimpi buruk dalam sekejap mata. Bahkan di saat seperti ini, diri ini ingin Mas Farhan kembali padaku. Derit pintu berbunyi membuatku dengan cepat menghapus bekas air mata. "Jangan terlalu sedih, Mbak. Kan Mbak mau nikah harus senyum dong." Seandainya Mbak Perias itu tahu kejadian ini, apa dia akan menyatakan hal yang sama? Beberapa menit kemudian riasanku telah selesai. "Calon Mbak pasti terpesona melihat calon istrinya secantik ini. Ngomong-ngomong calonnya Mbak ganteng banget sesuai dengan Mbak yang cantik." Perkataan Perias itu mengingatkanku akan calon pengganti yang dimaksud Bapak dan Ibu. Sebaik apa pun Dia, mungkin hati ini sudah terlanjur menyayangi sosok Mas Farhan. "Eh, itu dia calonnya Mbak, saya tinggal dulu kalau begitu." Terkejut. Dia adalah anak dari teman lama Bapak dan Ibu yang datang tiga hari yang lalu. "Sebelumnya perkenalkan saya Husain. Saya bersedia menjadi pengganti mempelai lelaki untukmu." Lelaki itu berdiri dengan setelan jasnya. Kutundukkan wajah karena suasana canggung menyelimuti seketika. "Mengapa kau bersedia menikah denganku?" ujarku dengan nada dingin. Menikah tanpa melibatkan cinta diantara keduanya terasa sulit untuk kuterima. Kulihat dari pantulan cermin rias sosok Husain tersenyum, lantas jawabannya kemudian membuatku terbungkam. "Karena saya harus mengikuti perkataan kedua orang tua saya. Lagi pula ini adalah hal yang dinantikan oleh kedua orang tua kita." Tidak masuk akal. Jawaban dari Husain terdengar tidak salah, tidak juga sepenuhnya benar menurutku. Bukan, lebih tepatnya aku saja yang tidak akan pernah menerima alasan apa pun untuk kami menikah. Tidak akan pernah. "Saya paham perasaan anda, semoga kita bisa membina rumah tangga dengan baik." "Saya tidak mencintai anda." Cih. Ingin rasanya berkata jika cinta dan rumah tangga yang kudambakan hanya untuk Mas Farhan. Tok! Tok! Tok! "Siapa?" "Ini Ibu." Ibu membuka kamar dan tersenyum pada Husain yang juga membalas senyumnya. "Nak, kamu siap-siap buat akad ya, Ibu mau bicara sama Zara dulu." Husain keluar dan menutup pintu. Ibu mendekat. Aku kembali ragu dengan keputusan yang Bapak buat. Ini bukan kehendak yang kupinta, Ya Allah. "Ibu hanya bisa berdoa, semoga kamu dan Husain bahagia selalu, semoga ini jalan terbaik yang ditunjukkan oleh Allah untukmu, Nak." Bahagia? Jalan terbaik? Bersama dengan dia yang baru kutemui? Sungguh mustahil. Hati ini masih berharap pada Mas Farhan. Menikah dengannya yang bahkan tidak aku kenali disebut jalan terbaik? "Saya terima nikah dan kawinnya Azzara Yazura binti Habib dengan Mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" "SAH!" "ALHAMDULILLAH!" Air mata itu kembali menetes kala mendengar suara Husain dengan lantang sudah resmi menjadi suamiku dan aku sebagai istrinya. Ibu mengelus punggungku yang bergetar menahan isakan. Ibu menggandeng tanganku, akad sudah selesai. Aku resmi menjadi Istri dari Husain. Semua pasang mata menatap diri ini yang keluar bersama Ibu dari kamar. Husain menatapku sambil tersenyum. Hati ini kembali teriris. Harusnya Mas Farhan yang ada di sana bukan Husain. Aku pun duduk di samping Husain. Ia mengulurkan tangannya dan dengan terpaksa kuraih tangan yang sudah resmi berstatus sebagai suamiku. Tak lama, penglihatanku memburam lalu semua menjadi gelap. Cahaya menusuk masuk ke dalam netra membuatnya kembali terbuka. Sepasang mataku terfokus pada sosok Husain yang membaca Al-Quran di dekat ranjang. Tak lama ia menyudahi bacaannya. Kuakui suaranya merdu kala membaca kalam-kalam Allah. "Apa ada yang sakit?" Dengan sigap tangan ini menepis tangannya yang berniat menyentuh kepalaku. "Kita menikah karena terpaksa. Saya mohon jangan paksa saya untuk menjadi istri yang adanya harapkan." Husain mengangguk dan memberikan segelas air putih. "Saya gak kasih masuk racun, kok." Ia tersenyum. Hal itu tak dapat membuat diriku mencintai dan juga membencinya. Di satu sisi, aku tidak mencintainya, tapi di sisi lain dia sudah membuat keluargaku tak dipermalukan. "Baik, saya letakkan di sini." Ia kembali menyimpan gelas yang berisi air putih itu di dekat meja yang tak jauh dari ranjang tempatku berbaring. "Saya tidak ingin kita tidur seranjang." Husain menatap lama saat ia baru saja ingin merebahkan badannya di ranjang yang sama. "Di bawah, di lemari sana ada selimut, anda bisa pake itu." Husain lagi-lagi menurut. Namun, hati ini tak sedikit pun goyah untuk bersikap yang sopan terhadap suami sendiri. Ah, dia bukan suami, tapi hanya pasangan pengganti. "Zara, apa saya boleh meminta sesuatu darimu?" Alisku bertautan. Apa yang ingin ia tanyakan? "Saya harap kamu hanya seperti ini di hadapan saya, supaya kedua orang tua kita tidak khawatir. Saya dengan tulus meminta itu saja darimu." Aku mengangguk paham. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, aku yang masih betah di kamar sambil merenungkan semua kejadian hari ini. Terkadang air bening itu turun lagi dari pelupuk mata. Ketukan dari pintu mengalihkan pandangan ini yang sedari tadi tertuju pada foto Mas Farhan dan diriku di ponsel. Bahkan fotonya masih menjadi wallpaper di ponselku. "Iya, tunggu." Saat membuka pintu ternyata dia adalah Uminya Husain. Wanita dengan penampilan bercadar hitam itu seakan tersenyum padaku dengan matanya yang mengecil. "Umi boleh masuk?" "Iya, Umi." Sebisa mungkin aku ramah hanya kepada orang tua Husain. Tentu karena tak ingin mengecewakan kedua orang tua kami. "Umi mau bilang sesuatu, Zara." Aku dan Umi Aisyah duduk di pinggir ranjang. Ia pun menggenggam tanganku sembari memberi tatapan yang sangat hangat. "Umi tidak meminta kamu untuk cepat-cepat menerima Husain. Umi paham perasaan kamu, Zara. Umi mengerti, jadi Umi mau kamu dan Husain tinggal di sini dulu agar kamu bisa perlahan menerima Husain dan kalian bisa hidup bahagia seperti suami istri pada umumnya." "Iya, Umi. InsyaAllah saya usahakan." Umi Aisyah kembali tersenyum. Hati ini lagi-lagi bertanya apakah bisa aku dan Husain bahagia? Sementara hati ini masih menetap pada satu nama, Mas Farhan. "Baiklah, Umi tinggal kalau gitu." Lagi-lagi senyuman palsu kuberi. Tersenyum, tetapi hati remuk tak terkira. Benar, hari ini aku menyandang status menjadi Istri, tetapi bukan dia suami yang kuinginkan. Mas Farhan ... mengapa kamu berbohong seburuk ini? Lantas mata ini kembali tertutup. Lelah dengan diri yang terus berpura-pura baik-baik saja. Tak lama, aku kembali terlelap. Prangg! Suara piring terjatuh membuatku terbangun. Ada apa di luar? "BAPAK! SUDAH! BAPAK!" "TIDAK BISA, BU! BAPAK TIDAK TEGA DENGAN ZARA!" Dari balik pintu, Bapak terlihat menghamburkan beberapa peralatan di atas meja di ruang tamu, sementara Ibu berusaha menahan Bapak. Ada apa? "Bapak, ini udah berlalu. Zara udah menikah dengan Husain, sudahlah, Pak." "Bapak tidak tenang, Bu. Bapak harus minta pertanggungjawaban Pria b******k itu! Bapak tau Zara pasti terluka berat! Bapak juga tidak ingin memaksa Zara menikah dengan Husain, tapi semua karena Pria b******k itu! Bapak harus menemukan dia, Bu!" Bapak kemudian memegang dadanya. Nampaknya asma Bapak kambuh, tetapi aku tidak sanggup keluar dari kamar. Untungnya ada Ibu yang sigap memberikan obat untuk Bapak. Sesak. Aku pun merasakan hal yang sama, Pak. Namun, untuk menerima Husain diri ini terutama hati yang sudah dipatahkan ini entah kapan bisa sembuh. "Kita akan berbicara dengan Husain untuk memahami perasaan Zara." Ibu, seharusnya tidak menikahkan anakmu ini dengan orang sebaik dia. Aku belum bisa mengikhlaskan semua ini begitu saja. Bahkan untuk semua hal yang terjadi, harapanku masih tertuju pada Mas Farhan. Lantas aku berpikir apakah kedua orang tua Husain sudah pulang? Husain pun tak terlihat batang hidungnya. Ah,mungkin Husain mengantar kedua orang tuanya pulang, prasangkaku. Pintu kembali kututup. Bersandar di balik pintu dan tak tahu akan bagaimana kutemukan bahagia dalam hidup kala bahagia yang kuinginkan itu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN