Ketika menyimpan rantang makanan yang telah aku bawa bersama Umi Aisyah, selembar kertas di atas meja Husain menarik perhatianku. Dengan rasa penasaran, kuambil kertas itu lalu membukanya. Mengira bahwa itu adalah kertas yang berisi tulisan Husain, tetapi saat kubuka... itu sedikit membuat ada yang menjanggal di dalam sini, di hati ini. Apa ini, ya rabb? Surat cinta? Kepalaku seketika berdenyut, belum selesai waktu menstruasi ditambah melihat kertas ini cukup membuatku sedikit risih. Loh, Umi?" Husain berdiri di ambang pintu, ia menatapku, tetapi dengan cepat kualihkan pandangan, menghindari tatapannya. "Umi, saya mau keluar sebentar," ijinku pada Umi Aisyah. Umi hanya mengangguk, lalu aku bergegas melangkah keluar dari ruangan Husain. "Kamu kesini kenapa?" Ia menahanku dengan mem

