Bibir Cambria mengerut, ucapan itu mengganggunya, “Kau bahkan masih baru tapi bersikap seolah kau tahu segalanya” sebuah seringai tampil di bibir tipis gadis itu. Ia menjorokkan wajahnya angkuh dan picik. “Saya tahu segalanya, apa yang Anda sembunyikan. Apa Anda ingat pertemuan di dalam mobil di pinggir jurang. Apa Anda ingat jembatan Green?” jemari kurus Cambria bergetar. Kelopak matanya melebar, bersinar dengan kecemasan mendalam. Ia mengepalkan tangan mencoba menyembunyikan rasa takut sebisa mungkin sambil tersenyum tipis. Beberapa detik napasnya seolah terhenti, sambil mempersiapkan kata-kata untuk menghilangkan tuduhan buruk pada dirinya, “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan sekarang ini. Jika ucapanmu tidak terbukti, maka kau bisa dianggap melakukan sebuah tuduhan tidak berdasar

