berat hati ia memberikan benda yang ia temukan barusan saja. Hazal merampas bunga itu buru-buru. Keningnya mengernyit membaca tulisan dalam kertas itu. "Untuk ratu yang tercantik?" ia mendesis kemudian memandang Cambria dengan enggan. "Aku tidak percaya masih ada orang bodoh yang mau mengatakan ini!" Cambria diam saja, tak mengatakan apa pun. Hazal berpaling, wajahnya jadi kusut. Keinginannya untuk berlatih memanah hari itu mendadak menghilang begitu saja, tertutupi kejengkelannya. Ia berjalan dengan cepat menuju tempat sampah paling dekat dan membuang bunga itu di sana. "Menurutmu siapa yang meletakkan bunga murahan itu di sana?" gumamnya melirik ke belakang matanya, pada orang kepercayaan yang selalu setia mengikti langkahnya. "Saya tidak tau, mungkin ada orang dalam istana yang sa

