Terdengar bunyi pukulan dan erangan berulang kali dari sebuah lorong sempit yang gelap, sunyi, pengap dan berdebu. Suara rintihan itu makin jelas, lalu terhenti ketika pintu terbuka membawa seberkas cahaya dari sebuah lentera yang ditenteng Alan. Lampu pijar kemerahan di ruangan tua dan usang itu tampak tak cukup baik, namun masih cukup mampu membuatnya mengenali dua lelaki di ruangan yang sama. "Yang mulia, Anda harus segera kembali ke rumah sakit" Hazal menengok dengan napas tersengal dan tinju yang merah. "Ah, padahal aku belum selesai memberi pelajaran pada pengkinat ini!" ia menarik rambut Algi yang sedang terkapar di lantai dengan wajah berlumuran darah, nyaris tak bisa dikenali. Tangan dan kakinya terikat tak berdaya, napasnya pendek, nyaris seperti orang sekarat. "Kau tahu, aku

