Lelaki tua itu tersenyum getir. Ia tertunduk hingga helaian rambut menjuntai di antara keningnya bersama suara isakan sayup-sayup. Sedetik kemudian ia mendongak menatap Hazal yang mengamatinya penuh keprihatinan, "Ada beberapa luka di tubuhnya dan salah mngenai organ dalam, jadi dokter sempat kesulitan menangani perdarahannya yang cukup banyak. Saya bersyukur ada di sana untuk mendonorkan darah saya, tapi dokter mengatakan kalau dia masih harus dirawat intensif menunggu keadaanya membaik, selain itu keadaannya juga bertambah buruk karena infeksi lambung yang dia derita sebelumnya. Saya tidak tahu apakah dia akan baik-baik saja setelah ini" Hazal berpaling sekilas, "Aku harus melaksanakan protokol istana jadi tidak bisa menemanimu. Maafkan aku! Tapi sekarang aku bisa ... " Ares bergumam d

