Tubuh Cambria yang lemah terbaring dalam kegelapan malam, bersama sengitnya udara dingin yang harus ia lalui 3 hari ini penuh perjuangan dan keras kepala. Menolak bantuan yang harusnya bisa membawa keselamatan untuknya. Sesekali ia membuka mata, melihat kegelapan yang mengurungnya. Jika dalam keadaan biasa ia merasa takut, kali ini ia sudah tak bisa lagi merasakannya, karena keletihan, rasa lapar dan dahaga yang membuatnya tak berdaya bahkan hanya untuk sekedar menegakkan tubuh. Pintu di hadapannya terbuka tanpa ia sadari, membawa seberkas cahaya lilin yang memantul ke arah lantai. Sayu dan silau ia mengangkat pandangan pada pijar cahaya yang telah lama tak ia lihat, tapi apa yang berada di hadapannya kini tampak buram membingungkan. Bunyi mangkuk nyaring diletakkan tepat di depan hidu

