Tangan Cambria bergetar pelan ketika menikmati teh hangat pembuka pagi. Ia berusaha tenang menguasai diri namun tersirat ketakutan di matanya yang teduh. Setelah kembali ke kamar ia bergegas menuju ke toilet lalu membasuh wajahnya dengan guyuran air. Tatapannya kosong, terpaku penuh kelesuan nan pucat, hingga dayang Raim yang mengekor di belakang mengamatinya dengan cemas. "Anda tidak apa-apa?" "Apa sudah ada kabar?" Pelayannya terdiam sesaat, "Harusnya sebentar lagi. Dokter itu semalam mengatakan reaksi obatnya butuh beberapa jam. Apa Anda yakin untuk melakukan ini? " Jemarinya saling cengkeram, mencoba menenangkan getaran keraguan yang menghantuinya. "Menghilangkan nyawa lain hanya masalah kecil bagiku. Bagaimanapun aku harus mempertahankan posisiku" Suara teriakan menggema denga

