“Selamat” sahut Alan dengan gembira sekaligus mengejek. “Kau sudah baikan sekarang? “ tegur Hazal ketika melihat Cambria termenung menatap jendela. Sudut matanya memicing, menatap lelaki berparas tampan dengan sikap angkuh itu. Namun tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang indah. Melihat sikap gadis itu, Hazal tau jelas jika Cambria benci pada dia dan keputusannyq. Ia duduk di sisi gadis itu sembari menggenggam tangannya yang masih tertancap selang infus. “Aku tau kau membenciku karena apa yang aku lakukan, tapi ini untuk kebaikan bersama. Camelia sebentar lagi akan keluar dari rumah sakit dan kau mungkin akan sering bertemu dengannya. Tidak perlu terlalu peduli ppada kehadirannya. Setelah keadaanmu membaik, keluarlah berjalan-jalan diseputar taman. Algi akan menemanimu”

