Vero pulang ke rumah orang tuanya dengan perasaan sakit hati. Ia menangis di sepanjang perjalanan, ia tak mengira kalau Kailin akan mengusirnya begitu saja. Bahkan ketika ia sudah masuk ke kamar, janda cantik itu manis saja menangis.
Santoso yang mengetahui anaknya sedang menangis, segera menghampiri dan mempertanyakannya. "Dari mana kamu, Ve? Kenapa malah menangis?" tanya pria itu dengan suaranya yang lantang.
Sebagai seorang ayah, Santoso memang tidak ingin melihat anaknya sedih atau tersakiti. Ia bahkan memberi restu anaknya untuk menjadi madu bagi wanita lain hanya untuk melihat anaknya itu hidup bahagia sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun, melihat Vero yang menangis sesenggukan kali ini membuat Santoso merasa geram.
Vero tak mengaku, ia hanya menangis dan terus menangis.
"Apa kamu menangis karena Kailin? Kamu habis nemuin dia? Dia yang buat kamu begini, iya?!" Santoso menaikkan volume suaranya.
Vero tak berani menjawab dan memilih menenggalamkan wajahnya di bantal yang memang sudah basah karena air matanya itu.
Mendengar suaminya berteriak, Susi ikut masuk ke dalam kamar anaknya dan mencoba menenangkan sang suami. "Pak, jangan begitu, kita dengarkan dulu Vero."
"Apa yang mau didengarkan kalau dia cuma nangis aja dari tadi?! Kalau kamu masih menangis seperti ini. Bapak nggak akan izinin kamu buat menikah dengan pria itu!" Santoso pergi setelah mengancam anaknya.
Vero seolah tak peduli karena ia hanya ingin menangis untuk membuat perasaannya menjadi lega.
Susi menghampiri sang anak dan memeluknya erat. "Coba kamu pikirkan kembali apa, Nak. Apa menikah dengan Kailin akan membuat kamu bahagia? Ibu sama Bapak cuma mau yang terbaik buat kamu," ucap Susi lirih.
.
Satu jam berlalu, Kani masih saja tak bisa memejamkan matanya sekalipun sang suami sudah terlelap tidur. Desiran napas Kailin menyapu kepalanya bagian belakang, membuatnya merasa kalau semua itu hanyalah mimpi. Beberapa saat yang lalu, mereka bersitegang dan ia bahkan memutuskan untuk berpisah, tetapi kini ia masih bisa menikmati pelukan hangat dari pria yang sudah membolak-balikkan hatinya itu.
Kani mencoba menyingkirkan tangan sang suami yang sedari melingkar di perutnya. Dengan perlahan ia mencoba terlepas dari pelukan itu, ia ingin menemui anaknya. Mengingat kembali bagaimana Kaira menyaksikan hal yang tak seharusnya disaksikan anak perempuan itu, Kani merasa begitu bersalah. Ia ingin meminta maaf pada buah hatinya itu dan memastikan kalau anaknya baik-baik saja.
Namun, ketika Kani mencoba bangkit, Kailin terbangun dan segera memeluk kembali sang istri. "Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan suara yang terdengar serak. Pria itu merasa sekujur tubuhnya sakit, tentu saja karena luka akibat kecelakaan kemarin. Belum lagi pipinya yang masih terasa nyeri setelah ditampar sang ayah. Kini ia hanya ingin bermalas-malasan di atas tempat tidur, bersama sang istri.
"Mas ... aku mau nemuin Kaira. Aku masih khawatir sama dia." Kani berusaha menyingkirkan tangan sang suami yang kini kembali memeluknya.
Bukannya menuruti keinginan sang istri, Kailin malah semakin mempererat pelukannya. "Sebentar lagi. Aku mau seperti ini sebentar lagi," ucap pria itu lirih.
Kedua manusia itu lalu terdiam, tak ada obrolan apapun karena suasana begitu canggung. Kani tak tahu harus berbuat apa, ia sendiri merasa malu karena sebelumnya ia sudah bersikap kasar pada sang suami. Begitu pula dengan Kailin, ia tak tahu harus meminta maaf seperti apa agar sang istri mau memaafkannya.
"Udah?" tanya Kani ketika ia merasa Kailin sudah memeluknya lama.
"Belum," jawab Kailin dengan suara lirih.
Kani merasa kesal dan berusaha bangkit. Wanita itu mendorong tangan suaminya dengan kuat dan lalu duduk, matanya melirik tajam pada Kailin yang masih terbaring di sampingnya.
Kailin juga menatap sang istri dengan perasaannya yang campur aduk itu.
"Aku nggak akan pergi ke mana-mana. Aku cuma mau lihat Kaira aja, Mas." Kani menjelaskan dengan nada sinis.
"Aku juga nggak minta kamu ngelakuin apapun. Aku cuma minta kamu buat nemenin aku, lagian Kaira kan udah sama Bapak sama Ibu. Kamu cuma cari-cari alasan aja, kan, karena kamu nggak mau aku sentuh?" Kailin mengira Kani hanya mencari-cari alasan untuk meninggalkannya.
Mendengar ucapan sang suami yang salah paham padanya, Kani sampai tercenung untuk beberapa saat. Wanita itu akhirnya menjelaskan kalau ia memang mengkhawatirkan anaknya. "Aku nggak nyari-nyari alesan, aku bener-bener khawatir sama Kaira. Mas kenapa, sih, nggak mikirin Kaira sedikit aja?"
"Aku justru kasihan sama Kaira karena dia cuma kamu jadikan alasan buat ninggalin aku."
"Aku nggak ninggalin kamu, Mas. Astaghfirullahal'adzim. Mas kenapa, sih? Mikirnya sampe begitu."
Kailin terdiam. Pria itu juga tak tahu kenapa sikapnya menjadi begitu posesif pada sang istri. Selama ini ia memang tak pernah melihat sang istri bersikap kasar padanya dan selalu menurutinya. Mendapatkan permintaan perpisahan dari wanita penurut itu membuatnya sedikit tertekan sampai ia tak mau ditinggal barang sedetik saja oleh sang istri.
Kani pun kesal karena sikap kekanakan sang suami, sementara ia sama sekali tak ada niat untuk memanfaatkan anaknya seperti yang suaminya katakan.
Kani masih duduk menatap sang suami yang masih berbaring di ranjang.
"Mas begini karena rasa bersalah Mas? Karena udah nyakitin hati aku? Atau karena harga diri Mas? Karena Mas ngerasa kalah dari aku?" tanya Kani dengan suara lirih.
Kailin mengembuskan napas panjang. Ia tak tahu harus berkata apa karena ia sendiri bingung dengan perasaannya.
Melihat sang suami yang hanya diam, Kani berniat pergi begitu saja karena ia pikir ia dan suami hanya akan berdebat jika terus bersama. Namun, berbeda dengan Kailin yang sama sekali tak ingin ditinggal oleh sang istri. Pria itu menarik tangan istrinya sampai wanita yang baru saja akan berdiri itu harus ambruk di dadanya.
Kani terkejut bukan main, dalam hitungan detik kini ia sudah berada di pelukan sang suami lagi. Ya, wanita itu kini sudah menindih tubuh sang suami.
Kailin menatap sang istri secara intens, lalu ia menarik tengkuk sang istri dan berniat mencium wanita itu. Kani membulatkan matanya karena terkejut, tetapi ia hanya pasrah dengan apa yang suaminya lakukan.
Baru saja bibir Kailin menyentuh bibir istrinya, tiba-tiba saja Kaira masuk ke kamar yang memang tak dikunci itu.
"Ibu .... Ayah ...," teriak anak kecil itu dengan suaranya yang terdengar cedal. Ia segera berlari masuk ke kamar dan berhasil membuat ibu dan ayahnya terlihat canggung.
Kailin dengan terpaksa melepas tangannya dari tengkuk sang istri berbarengan dengan tangan sang istri yang mendorong dadanya kuat agar ia dilepaskan. Ibunda Kailin dan ibunda Kani berlari di belakang Kaira untuk menyusul cucu mereka. "Maaf, Kaira mau ketemu kalian," ucap ibunda Kailin.
"Ah .... Iya, Bu." Kani menjawab dengan canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kaira sendiri segera memeluk sang ayah yang masih terbaring di ranjang.
Kailin menyapa sang buah hati dan lalu menoleh pada ibunya. "Biarin Kaira di sini, Bu."
Kedua nenek Kaira itu langsung mengiyakan dan pergi meninggalkan Kailin, Kani dan Kaira di kamar itu.
"Semoga saja rumah tangga mereka baik-baik saja, ya, Jeng," ucap ibunda Kani yang sudah mendengar semua cerita dari sang suami.
"Iya, Jeng. Maafkan atas sikap anak saya."
Bersambung...