18. Memilih bertahan

2123 Kata
"Tolong akhiri ini semua. Lepasin aku." Kani menatap lurus ke arah Kailin. "Kamu bilang kamu nggak ingin menyakiti siapapun, 'kan? Maka lepasin aku dan silakan nikahi wanita yang kamu cintai itu, Mas. Dengan begitu aku nggak akan sakit hati dan kamu juga bisa hidup bahagia dengan wanita yang kamu cintai itu." Kani sama sekali tak mengedipkan matanya. Semua rasa sakit yang ia rasakan saat ini menjadi alasan kuat sampai ia bisa mengambil keputusan sebesar itu. Kani sendiri tak tahu apakah ia benar-benar rela bercerai dari Kailin. Namun, satu yang pasti ... saat ini ia merasakan sakit hati yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata hanya dengan membayangkan suaminya bersama dan membagi cinta dengan wanita lain. "Tolong jangan sakiti aku lebih jauh lagi, lebih dalam lagi ... karena aku nggak mampu menanggung semua itu, Mas. Aku nggak mau kamu madu!" Kailin masih membeku dengan semua kegelisahaannya. Di satu sisi ia memang begitu ingin menikahi Vero. Selain karena ia masih mencintai mantan kekasihnya itu, ia sudah berjanji pada wanita itu dan bahkan pada orang tuanya untuk menikahinya. Namun, ada satu tempat di hatinya yang tak akan pernah terganti, tempat yang sejak 3 tahun lalu dihuni oleh Kani. "Aku nggak akan menceraikanmu, Kani." Disaksikan oleh orang tuanya dan ayah mertuanya, Kailin dengan tegas mengatakan kalau ia tak ingin berpisah dari sang istri. Kani terkekeh lirih. "Jangan egois, Mas. Aku nggak akan pernah ridho kalau kamu menikahi wanita lain. Jadi kalau kamu memang masih ingin menikahi wanita itu, ceraikan aku." Para orang tua hanya bisa diam, menunggu keputusan Kailin yang sebenarnya seperti menunggu bom yang akan meledak. "A-KU NGGAK AKAN CERAIIN KAMU!" Kailin menegaskan kembali kalau ia tak ingin bercerai dari sang istri. Kani kembali terkekeh, tetapi bibirnya terlalu kaku untuk membalas ucapan sang suami yang ia anggap tak masuk akal itu. "Tolong ceraikan Kani, Kai. Bapak akan maafin kamu kalau kamu mau menceraikan anak Bapak sekarang. Hati Bapak hancur melihat anak yang Bapak sayang sejak ia baru lahir, harus menangis seperti ini." Ayah Kani akhirnya ikut bersuara. Suasana kembali menegang bercampur rasa haru, Kani yang sudah berhenti menangis, kini kembali meneteskan air matanya ketika sang ayah mengungkapkan kekecewaannya. Ibunda Kailin hanya bisa menangis. Ia tak tahu harus bagaimana, tetapi wanita itu tak ingin kehilangan anak menantu yang begitu baik hati seperti Kani. "Akulah pria pertama yang mencintai wanita yang kamu buat menangis sekarang. Akulah pria pertama yang menciumnya dan berulang kali mengatakan kalau aku begitu mencintainya. Dan akulah pria pertama yang akan selalu datang untuk melindungi dia dan berusaha sekeras mungkin agar ia tak terluka. Bahkan sampai dia jadi istri kamu, aku akan tetap melindunginya." Ayah Kani mulai menitikkan air matanya. Semua ucapannya membuat ibunda Kailin menangis semakin kencang. Sementara Kani sendiri langsung mendatangi ayahnya dan memeluk pria itu dengan erat. Masih dengan posisi yang dipeluk anaknya, pria itu kembali memohon pada Kailin. "Tolong ceraikan Kani, akan membawanya pulang. Aku masih sanggup membuatnya bahagia." Kailin menggeleng pelan, air matanya juga mulai memenuhi kelopak matanya. Ayah Kani melepas pelukan sang anak dan lalu menggandeng tangannya, ia menarik sang anak agar mengikutinya pergi dari rumah itu. Melihat hal itu, Kailin buru-buru berlari demi bisa mencekal lengan istrinya agar tak pergi meninggalkannya. "Jangan pergi, Kani. Aku nggak akan pernah menceraikanmu." Kailin memasang wajah mengiba. Kani menggeleng tegas. "Tolong hentikan semua ini, Mas. Kamu harusnya tahu gimana sakitnya aku sekarang." Ayah Kani memegang tangan Kailin agar pria itu melepas pegangannya pada lengan anaknya. "Lepaskan anakku, Kai." Kailin masih menggenggam erat lengan sang istri, bahkan Kani sampai merasa kesakitan. "Pak, aku belum menjatuhkan talak untuk Kani. Dia masih istri aku dan Bapak nggak punya hak buat ajak Kani pergi. Dia masih istri sahku, Pak. Berdosa hukumnya jika aku sebagai suaminya tak ridho dia pergi meninggalkan rumah ini tapi dia tetep pergi. Sekalipun orang yang mengajaknya pergi adalah Bapak, ... Kani adalah makmumku setelah aku mengucap ijab kabul untuknya." "Biarkanlah aku yang menanggung dosa itu, Kai. Aku dengan ikhlas hati akan melakukan apapun demi kebahagiaan anakku. Bahkan menanggung dosa itu, aku siap asalkan anakku bahagia." Ucapan ayah Kani semakin membuat wanita itu tersentuh. Ia tak kuasa melihat pengorbanan ayahnya hanya untuk kebahagiaan dirinya. Ayah Kailin sudah tak bisa sabar lagi menghadapi sikap anaknya. Pria tua itu mendekat dan memegang tangan Kailin lalu berusaha melepas tangan anaknya dari lengan wanita yang bertubuh kurus itu. "Lepasin, Kai. Biarkan Kani pergi." "Nggak akan, Pak! Kailin nggak akan menceraikan Kani, dia istri Kai, Pak!" Kailin masih keukeuh memegang lengan sang istri. "Dasar anak kurang ajar!" Ayah Kailin menampar pipi anaknya dengan sangat keras. Ia sudah termakan emosi karena malu menghadapi besannya yang merupakan tetangga dan teman dekatnya selama ini. Walaupun keputusan Kailin menikah lagi memang diperbolehkan agama, tetapi ia tetap merasa malu karena sikap anaknya itu. Kani dan semua orang di ruangan itu terkejut melihat kemarahan ayah Kailin. Namun, Kailin masih saja memegang lengan istrinya dengan kuat. "Pukul aku, Pak. Tapi aku tetap nggak akan menceraikan Kani!" Kailin masih saja memasang tatapan tajam pada sang ayah, sekalipun pipinya sudah memar merah karena pukulan ayahnya yang memang sangat keras. Ibu Kailin ikut mendekat. "Kalau begitu berjanjilah pada Kani kalau kamu nggak akan menemui wanita itu apalagi menikahinya." Wanita itu berusaha menyatukan kembali anaknya dengan sang menantu. Ayah Kani menggeleng keras. Kani sendiri masih bingung dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Berpisah dengan Kailin tentu saja akan mengorbankan masa depan Kaira karena anak kecil itu akan memiliki waktu yang singkat untuk bisa bersama ayah kandungnya. Tetapi jika ia tetap bertahan, ia takut Kailin tetap akan memintanya untuk menerima pernikahan pria itu dengan mantan kekasihnya itu. Ketika Kani masih merasa bimbang, ibunda Kailin terus memojokkan anaknya. "Bagaimana? Apa kamu mau berjanji kalau kamu akan mengakhiri hubunganmu dengan wanita itu?" Kailin menatap ibunya sesaat dan lalu menatap sang istri dengan napas yang menggebu. "Apa dengan aku berjanji kamu nggak akan pergi?" tanya pria itu. Kani masih merasa bimbang. Ia membisu dan berulang kali menelan ludahnya karena gugup. Melihat Kani diam, Kailin tahu kalau istrinya masih memiliki harapan untuk bisa memperbaiki masalah rumah tangga mereka. Pria itu benar-benar tak ingin kehilangan sang istri, ia dengan tegas menyanggupi tantangan ibunya tanpa memikirkan apakah ia benar-benar akan melepas Vero atau tidak. "Baiklah, aku janji kalau aku nggak akan menikah lagi. Jadi ... jangan pernah berpikir untuk bisa bercerai dari aku." Kedua orang tua Kailin senang mendengar keputusan Kailin, kali ini mereka tengah menunggu keputusan Kani dan ayahnya. "Kani .... Tolong pertimbangkan lagi. Ada Kaira yang membutuhkan kedua orang tuanya. Ibu juga nggak ingin kehilangan anak mantu sebaik kamu, Ibu udah anggap kamu sebagai anak Ibu sendiri." Dengan suaranya yang terdengar serak dan gemetar, Kani merasa tersentuh. Kani kemudian menatap ayahnya dengan tatapan nanar, ia sendiri bingung harus bertahan atau memilih berpisah. Ayah Kani yang melihat usaha Kailin mempertahankan rumah tangga mereka, akhirnya luluh karena ia juga memikirkan masa depan cucunya. Pria tua itu perlahan melepas tangan anaknya. "Bapak cuma mau yang terbaik buat kamu. Bapak cuma mau kamu bahagia. Ini semua kamu yang menjalani, bukan Bapak atau mertuamu. Coba kamu tanyakan sama hatimu, apa yang membuatmu bahagia?" Mendengar ucapan ayahnya, Kani memejamkan matanya dan membayangkan Kaira yang tersenyum senang ketika melihat ayahnya. Sebagai seorang istri, ia tentu ingin berpisah setelah pengkhianatan yang dilakukan sang suami. Namun, sebagai seorang ibu, ia tak boleh egois karena ia juga harus memikirkan perasaan anaknya. Apalagi sang suami sudah mau berjanji untuk tidak menikah lagi. Wanita itu perlahan memegang tangan sang suami dan berusaha melepas tangan suaminya dari lengannya. Alih-alih menurut, Kailin malah memperkuat genggaman tangannya sambil menggeleng keras. "Aku nggak akan nyeraiin kamu, Kani. Nggak akan!" Kailin mengira Kani berusaha melepas tangannya karena ingin pergi meninggalkannya. Kani mengembuskan napas panjang. "Aku nggak akan pergi," ucapnya lirih. Kailin senang bukan main. "Aku akan bertahan dan memberi kamu kesempatan. Asal kamu janji dengan sungguh-sungguh kalau kamu nggak akan menikahi wanita lain." Kani akhirnya memberikan kesempatan untuk sang suami. "Aku memaafkan kamu karena setiap orang pernah berbuat kesalahan dan berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya. Dan aku juga memilih bertahan untuk kebahagiaan Kaira, aku ingin dia mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya. Jadi, kalau Mas merusak kepercayaan yang aku kasih, nggak akan ada lagi kesempatan berikutnya, sekalipun itu demi Kaira. Karena aku yakin Kaira juga nggak akan bahagia memiliki ayah yang nggak bisa menepati janjinya." Ucapan Kani membuat Kailin berpikir keras, menyadari bahwa wanita di hadapannya itu memang wanita yang tangguh. Bahkan saat ini Kani menatapnya dengan tatapan tajam, tak berkedip sama sekali. Pria itu mengingat kembali bagaimana sang istri bersandiwara menyembunyikan semuanya walau ia sebenarnya sedang sakit hati. "Baiklah, maafin aku. Aku berjanji kalau aku nggak akan menikahinya." "Baiklah, ingat janjimu ini, janji yang disaksikan orang tua kita. Aku harap kamu nggak ingkar janji." Semua orang akhirnya bernapas lega setelah Kani dan Kailin memutuskan untuk kembali bersama. Rumah tangga mereka yang baik-baik saja selama ini memang sangat disayangkan untuk diakhiri. Ibunda Kailin akhirnya tersenyum senang dan ingin memeluk sang menantu. Namun, sayangnya Kailin masih saja memegang lengan sang istri karena ia begitu takut kehilangan wanita itu. "Mas, lepasin," ucap Kani lirih. "Nggak akan!" Kailin masih saja enggan melepas tangannya dari lengan sang istri. "Aku nggak pergi. Lagian ini sakit," ucap Kani lagi. "Lebih sakit aku saat kamu bilang akan pergi ninggalin aku!" Kailin tanpa malu mengakui bahwa ia benar-benar takut ditinggal sang istri. Kani mengerutkan keningnya. "Kamu mau bahas siapa yang lebih sakit di sini? Kamu mau berdebat lagi?!" Kani merasa kesal. Kailin mengulum bibirnya. "Maafin aku." Kani mengembuskan napas panjang. "Ya udah, ini lepasin." "Nggak akan!" Ibunda Kailin malah tertawa melihat anaknya yang terlihat begitu mencintai istrinya. Ya, ia tertawa dengan ingus yang masih memenuhi hidungnya. "Ya sudah, kami akan keluar. Kalian bicara dulu berdua. Biar Ibu yang jaga Kaira, kamu temenin suami kamu dulu sampai dia mau melepas tangannya itu," ucap wanita itu sambil menahan tawa. "Ayo, Pak, biarkan mereka berdua, mereka juga butuh bicara empat mata." Ayah Kailin lalu menatap sang anak dengan lekat. "Bapak nggak akan maafin kamu kalau kamu bersikap kasar lagi sama istri kamu. Camkan itu!" Pria itu tak ingin malu untuk yang kedua kalinya di depan sang besan. Ayah Kani memejamkan matanya sesaat dan lalu tersenyum pada anaknya. "Selesaikan masalah kalian baik-baik. Apapun keputusanmu, Bapak akan mendukungmu." Pria itu masih merasa bersalah karena sebelumnya ia berpikir Kani yang memulai keributan dengan sang suami. Namun, setelah mengetahui semuanya, ia hanya bisa memendam rasa pilu di dadanya karena apapun yang terjadi pada rumah tangga anaknya, ia tak bisa ikut campur terlalu dalam. Kani mengangguk. "Maafkan sikap kasar saya, Pak. Dan terima kasih buat kesempatan yang Bapak beri." Dengan berani Kailin menatap ayah mertuanya, ayah Kani mengangguk lemah dan lalu pergi meninggalkan anaknya bersama sang suami. Setelah semua orang tua keluar dari kamar itu, Kani lalu menatap sang suami dengan tatapan sinis. "Mau sampe kapan Mas begini? Tangan aku bener-bener sakit." Kailin lalu melepas lengan sang istri, perlahan. Hingga akhirnya Kani bisa bernapas lega dan mengelus lengannya itu. Kailin lalu menggendong sang istri dan membawanya ke atas ranjang. "Mas, aku bisa jalan sendiri." Kani begitu terkejut dengan apa yang suaminya lakukan. Kailin akhirnya merebahkan tubuh istrinya di ranjang. "Kamu mau apa, Mas?" tanya Kani dengan gugup. "Apapun yang kamu pikirkan, itulah yang akan aku lakukan." Kailin mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Kani memejamkan matanya, berpikir kalau sang suami akan memintanya untuk melayani pria itu di ranjang. Namun, Kailin malah tersenyum melihat istrinya yang terlihat menggemaskan dan pria itu memilih mengecup kening wanita itu. Kailin lalu merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluk wanita itu dari belakang. Kani terkejut. "Mas?" panggil wanita itu. "Diamlah, aku cuma mau meluk kamu. Aku sakit dan aku lelah, aku ingin tidur seperti ini, sama kamu," ucap Kailin dengan suara setengah berisik. Sejak kedatangannya di rumah orang tuanya itu, ia memang belum istirahat dan malah harus dihadapkan dengan masalah serius yang menyangkut masa depan rumah tangganya. Pria itu lalu memejamkan matanya, berusaha keras mengabaikan janjinya pada Vero dan menikmati momen di mana ia bisa memeluk istrinya setelah keributan besar itu. Kani akhirnya diam, membiarkan sang suami memeluknya. Wanita itu tahu sang suami memang masih sakit karena kecelakaan kemarin. Ia kemudian mengucap syukur berulang kali. "Semoga saja pilihanku ini nggak akan aku sesali suatu saat nanti," ucapnya dalam hati. Bersambung... Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. PhiKey
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN