Kani membungkus semua makanan yang sudah terlanjur ia masak dan berniat membawanya ke rumah orangtuanya. Kaira masih bersedih melihat ibunya yang murung sejak tangisan hebat wanita itu berhenti. Kaira masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi, Kani merasa bersalah karena harus menangis di depan anaknya yang tidak tahu apa-apa itu.
"Nanti kita mampir di toko buah, ya, Sayang? Kaira mau beli anggur? Atau mau beli kiwi?" tanya Kani dengan senyum andalannya.
Kaira menggeleng, bibirnya tertutup rapat dengan mata yang masih berkaca-kaca. Ia tak tahu apa yang sudah membuat ibunya menangis, tetapi ia tahu ibunya sedang bersedih.
Kani merasa pilu menatap anak perempuannya yang hanya diam sejak kejadian tadi. Wanita itu menghampiri sang anak, ia menggendongnya dan mendudukkan anaknya itu di bangku. "Kenapa Kaira nggak mau? Kaira marah sama Ibu?" tanya Kani dengan lemah lembut, tak lupa ia tersenyum manis di depan anaknya.
Kaira menggeleng. "Ira takut," ucap Kaira lirih.
Mata Kani berkaca-kaca, tetapi bibirnya tersenyum lebar. Sungguh pahit yang sedang ia rasakan saat ini, ia tak ingin melibatkan anak kecil itu dalam masalahnya.
"Takut apa, Sayang?"
"Ira takut Ibu nangis lagi."
Kani menoleh, ia mengalihkan pandangannya karena air matanya melesak begitu saja, jatuh membasahi pipinya. Ia menyeka air matanya dan lalu kembali menatap anaknya dengan senyuman. "Kenapa takut? Ibu nangis karena ibu sakit. Lihat, tangan Ibu belum sembuh."
"Jangan nangis, lagi." Kaira menitikkan air matanya. Selama ini ia memang tak pernah melihat ibunya menangis. Melihat Kani menangis hebat tadi, membuat Kaira takut dan ikut menangis.
"Iya, Sayang. Ibu janji akan hati-hati kalo jalan nanti, biar nggak jatuh, biar nggak sakit, dan biar nggak nangis." Kani tersenyum sambil menyeka air mata anaknya, keduanya lalu berpelukan.
.
.
Ketika Kani sedang bersedih karena Kailin, berbeda halnya dengan Vero. Wanita itu tengah tersenyum penuh suka cita. Ia duduk di depan cermin besar yang dikelilingi banyak lampu, menatap betapa cantiknya ia malam ini. Walaupun ia pandai merias wajahnya sendiri, ia ingin ada orang lain yang merias wajahnya, berharap penampilannya malam ini beda dari biasanya.
"Cantik banget, Mbak. Bajunya juga bisa pas banget walau pesen jadi. Kayak gini nih yang namanya janda rasa perawan, hi hi hi," ucap wanita yang merupakan MUA terkenal di kota itu.
"Ah, Mbak bisa aja." Vero tersenyum malu sekaligus bangga.
"Bener, Mbak. Udah cantik, badannya juga masih kenceng, yang gadis aja banyak yang badannya udah melar." Wanita itu kembali memuji Vero, membuat janda itu merasa besar kepala.
Beberapa saat kemudian, Susi masuk ke kamar Vero. "Udah siap belum? Udah mau jam 7 ini, jangan lama-lama."
"Udah siap, kok, Bu. Tinggal nunggu pangerannya dateng." Wanita yang menjadi perias wajah Vero itu mengedipkan matanya sambil mengangkat tangannya dan membuat huruf O menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Susi tersenyum senang. "Kamu cantik, Ve," puji Susi pada anaknya.
"Cantiknya Vero kan Ibu yang kasih." Vero menyahut dengan bercanda.
Susi mendekati anaknya dan memeluknya erat. "Ibu cuma mau yang terbaik buat kamu. Siang malem Ibu berdoa untuk kebahagiaan kamu sama Disa. Semoga kamu nggak gagal lagi nantinya, berbahagialah, Sayang." Susi menangis lirih.
"Ibu kok malah nangis, sih." Vero melepas pelukan ibunya.
"Nanti make-up Vero rusak, kasihan Mbaknya harus benerin lagi," lanjut Vero.
Susi tersenyum malu. "Maaf, nggak tahu kenapa Ibu malah nangis begini."
Vero memeluk ibunya. "Ibu tenang aja, Vero pasti bahagia."
.
Kani tiba di rumah orangtuanya, lagi.
"Suami kamu pergi ke kampungnya Bambang? Kenapa nggak dari tadi perginya? Kalau dari tadi kan nggak harus menginap." Ibunda Kani merasa kesal karena menantunya yang tega meninggalkan istri dan anaknya di rumah. Sekalipun karena urusan pekerjaan, wanita yang merupakan nenek Kaira itu masih saja merasa kesal.
"Mungkin tadi masih sibuk, kamu tahu sendiri Kai itu orangnya sibuk, tokonya rame terus." Ayah Kani membela menantunya.
"Iya, tapi kalo perginya sampe menginap seperti ini, emangnya nggak kasihan sama anak dan istrinya?"
Ibu dan ayah Kani malah saling berdebat karena menantunya, Kani memilih masuk ke kamarnya karena tak ingin mendengarnya.
Kani memang pendiam, selama ini ia memilih menyendiri di kamar dari pada harus ikut membaur bersama teman-temannya. Oleh sebab itu, ia tak memiliki teman dekat. Wanita itu masuk ke kamarnya, kamar yang ia gunakan sejak ia kecil dan masih ia tempati ketika ia dan Kaira berkunjung ke rumah itu.
Kaira sedang melihat dongeng anak di ponsel Kani, di atas ranjang sejak kedatangannya tadi. Kani duduk di samping Kaira, lalu membelai rambut anaknya itu. "Udah, ya, lihat HP-nya. Nggak boleh lama-lama, nanti matanya sakit." Dengan suara lirih, Kani memberi tahu sang anak untuk tidak terlalu lama menatap ponsel.
Dengan malas Kaira menyerahkan ponsel ibunya. "Besok lagi, ya, Bu?" pinta gadis kecil itu, Kani mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang, kita belajar menghitung, yuk." Kani akhirnya menghabiskan malam bersama buah hatinya tersebut.
.
Di tempat lain, Kailin tengah bersiap. Ia mengenakan kemeja putih yang dilapisi dengan jas berwarna hitam. Pria itu mempersiapkan segalanya di rumah Bambang.
Bambang memang belum menikah dan memilih mengontrak rumah kecil yang tak jauh dari toko-tempatnya bekerja.
"Sudah siap, Pak?" tanya Bambang ketika melihat Kailin keluar dari kamarnya.
"Sudah, kita berangkat sekarang, ya?"
Bambang mengangguk. Dua pria itu akhirnya menuju ke kediaman orangtua Vero.
Di sepanjang perjalanan, Bambang lebih memilih diam karena ia memang tak tahu harus berbicara apa. Sementara Kailin sibuk menyetir, keduanya saling membisu di dalam mobil.
Kailin tak membuka mulutnya karena masih memikirkan Kani, ucapan wanita itu masih terngiang di benaknya. Pria itu tak fokus menyetir karena merasa bersalah pada istrinya. "Nggak seharusnya aku diam begini. Aku harusnya ngomong sama Kani, gimanapun dia berhak tahu," batin Kailin.
Tiba-tiba saja seekor kucing menyebrang jalan, tepat di depan mobil Kailin yang masih melaju dengan kecepatan sedang, dan membuat Kailin terkejut. Karena pria itu tak fokus menyetir, ia kaget dan membanting setir ke kanan.
Kecelakaan terjadi. Mobil Kailin menabrak pohon besar, ia dan Bambang berteriak bersamaan beriringan dengan benturan keras yang terjadi antara mobilnya dan pohon besar.
Suara hebat akibat benturan keras mobil Kailin yang menabrak pohon itu membuat orang-orang yang berada di sekitar lokasi mendekat. Untung saja Kailin dan Bambang tidak mengalami luka parah. Dengan dibantu warga sekitar, kedua korban kecelakaan tunggal itu dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Kailin masih sadar, begitu pula dengan Bambang.
"Kamu nggak apa-apa, Bang?" tanya Kailin ketika keduanya sudah berada di ruang rawat di rumah sakit.
Bambang mengalami luka-luka yang cukup banyak di seluruh tubuhnya, tetapi hanya luka ringan. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma luka ringan, nggak ada yang patah juga kata dokter. Bapak gimana?" tanya Bambang juga khawatir pada bosnya.
"Aku nggak apa-apa. Maaf, ya, gara-gara aku kamu harus terluka seperti ini." Kailin berbicara lirih sambil menunduk lesu. Ia sama sekali tak peduli pada luka-luka di tubuhnya, semua rasa sakit itu kalah dengan rasa bersalahnya pada sang istri. Ya, pria itu masih saja memikirkan Kani-istrinya. Setelah kecelakaan, pria itu bahkan tak segera memberi kabar pada Vero dan keluarganya.
Di tempat lain, ada Vero yang sedang menangis sambil berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponsel Kailin. Karena kecelakaan, ponsel Kailin jatuh dan rusak. Itu sebabnya pria itu tak bisa memberi kabar pada calon istri keduanya.
"Kalau tahu begini, Bapak nggak akan izinin kamu menikah sama dia!" Santoso murka.
Ayah Vero itu marah karena harus menanggung malu di hadapan saudara dan tetangga yang sudah hadir di rumahnya. Sejak semalam ia dan istrinya sudah menyiapkan acara pernikahan Vero dan Kailin dengan sebaik mungkin. Walaupun hanya sederhana, ia ingin pernikahan anaknya itu terlihat selayaknya pernikahan umumnya. Namun, sampai jam 8 lewat, Kailin tak kunjung datang.
"Nggak mungkin Kai kabur, Vero tahu dia pria yang bertanggungjawab. Bapak jangan marah-marah, dong. Vero malah curiga kalo Kai kecelakaan di jalan." Vero membalas kemarahan ayahnya dengan suara gemetar. Ia memang sedang ketakutan, ia mencintai Kailin sehingga tak ingin terjadi hal buruk pada pria yang ia cintai itu.
"Kalau benar dia kecelakaan, Bapak akan maafin dia. TAPI, ... kalau dia nggak dateng karena alasan lain, Bapak nggak akan maafin dia dan nggak akan merestui hubungan kalian lagi!" Santoso marah pada Vero di depan keluarga besarnya itu.
Santoso lalu masuk ke kamarnya karena malu. Sementara Vero menangis terisak karena pernikahan yang sudah ia siapkan dengan matang, nyatanya gagal. Yang lebih penting, alasan Kai tidak datang malam ini adalah hal yang paling Vero takutkan. "Gimana kalo Kai kecelakaan, Bu? Vero nggak mau terjadi apa-apa sama Kai, Vero cinta sama Kai, Bu." Vero menangis di pelukan Susi.
Ibunda Vero itu memeluk anaknya dengan tulus. "Jangan menangis, coba kita tunggu kabar dari dia. Kalau besok pagi masih tidak ada kabar, kita cari sama-sama. Bahkan ke rumahnya, Ibu akan temenin kamu, Ve."
Vero menangis semakin kencang, ia memeluk ibunya erat.
Bersambung...