13. Terbukti mendua

1720 Kata
Kaira sudah tertidur, sementara Kani masih terjaga karena ia masih memikirkan suaminya. Seperti mendapat firasat buruk, sejak tadi perasaannya tak tenang. Benar saja, ponselnya bergetar tanda ada telepon masuk. Wanita itu menjauh dari sang anak dan menjawab panggilan telepon itu, sebuah panggilan yang ternyata dari nomor Bambang. "Assalamualaikum," ucap Kani setengah berbisik. "Waalaikumsalam," sahut pria di seberang sana. "Mas Kai?" tanya Kani setelah mendengar suara yang sudah akrab di telinganya. "Iya, ini aku," ucap Kailin lirih. "Kenapa pake nomornya Bambang? HP Mas ke mana?" tanya Kani begitu penasaran. "Aku kecelakaan, tadi di jalan, nggak jauh dari toko." Kailin mengaku mengenai kecelakaannya. Tapi ia tak mengaku di mana dan kenapa ia bisa kecelakaan. Kani terkejut, degup jantungnya semakin cepat tak terkendali. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mas nggak kenapa-napa? Mas di mana?" tanya Kani yang begitu khawatir pada suaminya. Firasatnya sejak tadi sore memang buruk, ia tak tahu kalau firasat buruknya terbukti benar. "Aku nggak apa-apa. Cuma lecet-lecet aja, tapi malam ini aku harus dirawat dulu. Aku pake nomornya Bambang karena HP-ku rusak." "Mas di rumah sakit mana? Biar aku ke sana sekarang." Kailin mengembuskan napas panjang. "Nggak perlu, aku bener-bener nggak apa-apa. Kaira mana?" Kailin mencoba mengalihkan pembicaraan. Kani menoleh pada sang anak yang sudah terlelap tidur. "Kaira udah tidur, Mas. Mas di mana?" Kani masih khawatir pada suaminya dan ingin segera menemui pria itu. "Kamu jadi tidur di rumah Ibu?" tanya Kailin lagi. "Iya, Mas." "Ya udah, kamu jangan beri tahu mereka dulu. Aku nggak mau mereka khawatir, aku bener-bener nggak apa-apa." "Tapi, Mas-" "Aku serius, Kani. Kamu temenin Kaira aja, besok pagi aku pasti pulang." Kailin benar-benar tak ingin Kani mengunjunginya, apalagi ini sudah malam. "Ya udah, Mas." Kani menduga kalau Kailin sedang bersama wanita lain, wanita itu kembali sakit hati. "Ya udah, kamu tidur sana. Aku juga mau tidur." "Iya, Mas." "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Kailin memutus panggilan teleponnya, Kani memejamkan matanya sambil mengucap istighfar berulang kali. Ia menoleh pada sang anak, lalu memutuskan untuk mencari Kailin. "Nggak banyak rumah sakit di kota ini, aku akan cari kamu di manapun kamu berada sekarang, Mas!" Kani keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu kamar orang tuanya. "Bu, Pak." Tak lama kemudian sang ibu lalu membuka pintu kamar. "Ada apa, Kan?" "Mas Kai kecelakaan, Bu." "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sekarang gimana keadaannya?" Ibunda Kani itu memekik keras, ayah Kani ikut keluar kamar. "Ada apa?" tanya pria tua itu. "Kai kecelakaan, Pak," sahut istrinya. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." "Kata Mas Kai, dia nggak apa-apa, cuma lecet-lecet aja. Tapi Kani mau nyusul, Bu, Pak. Tolong jagain Kaira, ya." Ibu dan ayah Kani mengangguk cepat. "Iya, kamu hati-hati, ya, Kan. Jangan panik," ucap ibunda Kani. "Mau Bapak temenin?" "Nggak, Pak. Biar Kani sendiri aja, soalnya Mas Kai udah pesen buat nggak bilang-bilang. Jadi, jangan bilang dulu sama orangtuanya Mas Kai. Insha Allah besok pagi dia pulang." Orang tua Kani mengangguk. "Ya sudah, sana, hati-hati." Kani akhirnya pergi menggunakan mobil orangtuanya. Ia tak mengaku pada orangtuanya bahwa ia belum mengetahui di mana suaminya dirawat saat ini, ia takut orangtuanya tak mengizinkannya keluar malam-malam seorang diri. Namun, demi memuaskan rasa penasarannya, ia ingin tahu di mana dan dengan siapa suaminya saat ini. . Setelah menelepon Kani, Kailin lalu menghubungi Vero. Walaupun di ponsel Bambang tak ada kontak wanita itu, ia dapat dengan mudah menghubunginya karena ia sudah hapal nomor ponsel janda cantik itu. Vero masih menunggu kabar dari Kailin, masih dengan kebaya dan make-up yang sudah berantakan. "Halo," ucap Vero penasaran. Ia curiga nomor tak dikenal yang meneleponnya saat ini adalah Kailin. "Assalamualaikum, Ve." Kailin menyapa dengan suara lirih. "KAILIN?! KAMU DI MANA?" Vero berteriak dan lalu menangis kencang. "Kenapa kamu nggak dateng, Kai. Kenapa?!" Isak tangis Vero semakin kencang. "Maafin aku, Ve. Aku kecelakaan." Mendengar pengakuan Kailin, Vero langsung melemas seketika. "Kamu bener-bener kecelakaan? Aku pikir kamu batalin pernikahan kita karena sengaja, haaa." Vero masih menangis. "Nggak, Ve. Aku bener-bener kecelakaan, untung saja nggak parah." "Kamu di mana?" "Aku di rumah sakit, Ve. Aku menginap malam ini." "Rumah sakit, mana?!" Kailin berpikir dua kali untuk memberi tahu Vero di mana ia sekarang berada. "Bilang, Kai! Kamu di mana? Aku akan ke sana sekarang!" Mendengar Vero yang masih saja menangis, membuat Kailin tak berdaya. Pria itu lalu memutuskan untuk memberitahunya. "Aku di Rumah Sakit Harapan, di ruangan Mawar nomor 2." Vero langsung menutup teleponnya dan segera berlari ke kamar orangtuanya. "Pak!" teriak Vero sambil membuka pintu kamar orangtuanya. "Ssssttt, Disa sudah tidur. Kenapa teriak-teriak." Santoso keluar dari kamar, disusul Susi yang penasaran dengan apa yang akan Vero katakan. "Kai bener-bener kecelakaan, Pak, Bu." Santoso terkejut. Sampai beberapa saat yang lalu ia masih marah pada pria yang akan mempersunting anaknya itu. Namun, setelah mendengar musibah yang menimpa Kailin, Santoso merasa menyesal. "Kamu serius?" tanya Santoso. "Itu bukan akal-akalannya saja, kan?!" tanya Santoso lagi. "Nggak, Pak. Ayo kita ke rumah sakit sekarang, kita buktiin apa Kai bohong atau enggak." Vero mengajak Santoso untuk mengunjungi Kailin. "Ibu di rumah aja, temenin Disa. Biar Bapak yang temenin Vero." Santoso melarang istrinya ikut. "Hati-hati," ucap Susi pelan. Vero dan Santoso akhirnya pergi ke rumah sakit di mana Kailin dirawat. Sementara Kani baru saja masuk ke rumah sakit yang terdekat dari rumah orangtuanya. Ia segera bertanya apakah suaminya dirawat di sana, sayangnya tidak. Kani tak putus asa, ia bersikeras mencari rumah sakit di mana Kailin dirawat. "Aku tahu aku berdosa karena pergi tanpa izin suami. Tapi ... aku lakuin semua ini demi buktiin semua kecurigaan aku. Ampuni hamba, Ya Allah." Kani berbicara sendiri di dalam mobil. Vero dan Santoso akhirnya sampai di rumah sakit. Keduanya lalu menuju ke ruangan Kailin setelah bertanya pada perawat di mana ruangan yang Kailin sebutkan tadi berada. Sesampainya di ruangan Kailin, pria itu masih terlentang lemah di atas ranjang pasien. Sambil menatap langit-langit ruangan itu, ia memikirkan tentang Kani dan Vero secara bergantian. Vero membuka pintu dengan kasar, membuat Bambang yang tidur di ranjang sebelah sampai terkejut. "Kai?! Kamu nggak apa-apa?!" teriak Vero yang masuk begitu saja dan kini langsung berdiri di samping ranjang pria yang ia cintai. Kailin bangun dan duduk dengan tegak, ia mencoba menolak tangan Vero yang akan menyentuh lukanya. "Ve, kita belum menikah," ucapnya lirih. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Vero yang tak peduli dengan penolakan Kailin. Kailin mengangguk. "Iya, aku nggak apa-apa, tapi malam ini tetep harus dirawat kata dokter." "Ehm!" Santoso berdeham sambil melirik Bambang yang kini pura-pura tidur. Bambang sendiri mengintip Vero yang datang dengan baju kebaya. Ia memilih pura-pura tidur karena tak ingin menjadi pengganggu dalam urusan pribadi bosnya. "Pak," sapa Kailin pada Santoso. "Kamu nggak sengaja, kan, menabrakkan diri kamu buat menghindar dari pernikahan yang udah aku siapin?!" Santoso masih saja marah karena Kailin tak datang di acara yang sudah ia siapkan, di hadapan keluarga besar dan tetangga terdekat, membuatnya malu tak terkira. Pria tua itu hanya berusaha bersikap tegas pada Kailin. Walaupun sebenarnya ia merasa kasihan pada pria itu setelah melihat kondisinya. "Bapak!" Vero merasa malu karena ayahnya. Kailin tersenyum. "Maafin saya, Pak. Saya sudah siapkan semuanya, mahar dan lain-lain, lihat saja, saya juga pake pakaian rapi. Saya nggak tahu kalau akan begini, dan saya juga nggak mau kena musibah, Pak." Kailin masih bisa bersikap tenang di depan Santoso. Santoso melihat sendiri kondisi Kailin yang memang tampak memar dan lecet-lecet di mana-mana. Pria itu mengembuskan napas panjang. Kani tiba di Rumah Sakit Harapan, tempat Kailin dirawat. "Kalau Mas Kai juga nggak ada di sini, aku akan cari di setiap rumah sakit yang ada di kota ini. Bahkan di klinik-klinik kecil sekalipun." Kani percaya kalau Kailin benar-benar dirawat di rumah sakit, tetapi ia memiliki firasat buruk akan hal itu. Kani bertanya apakah Kailin dirawat di rumah sakit itu pada perawat yang berjaga. "Oh, Pak Kailin yang kecelakaan tunggal di Jalan Pahlawan?" tanya perawat itu. Kani mengangguk saja walaupun tak tahu di mana Kailin kecelakaan. Perawat itu memberi tahu ruangan Kailin, Kani akhirnya lega karena akhirnya ia menemukan suaminya berada. Namun, perasaan leganya tak berlangsung lama. Wanita itu kembali merasa khawatir dan gugup karena ia takut akan apa yang akan ia lihat nanti. Benar saja, Kani melihat Vero yang masih mengenakan kebaya, tengah berdiri di samping ranjang Kailin. Kani memundurkan dirinya, ia memasang telinganya baik-baik demi menguping pembicaraan orang-orang di dalam. Namun, ia takut tak bisa mendengarnya dengan jelas karena saat ini degup jantungnya begitu kencang. "Lalu kapan kamu akan menikahi Vero?" tanya Santoso lagi, suaranya begitu lantang sehingga Kani bisa mendengarnya dari luar ruangan. Pintu ruangan itu memang setengah terbuka. Kani tertawa pahit, ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Tepat sekali ia datang di saat Santoso meminta kepastian pada ayah Kaira itu. "Aku sudah malu di depan keluarga dan tetangga. Pernikahan kalian hanya pernikahan siri, acaranya sangat sederhana! TAPI ... kamu malah nggak dateng dan semakin mempermalukan aku dan Vero di depan semuanya!" Santoso menatap Kailin lekat, begitu pula suami Kani itu. "Pak, Kai kan udah bilang, ini kecelakaan. Lagian siapa yang mau kecelakaan, sih? Nggak ada!" Vero masih saja membela Kailin. "Saya bener-bener minta maaf. Saya akan menikahi Vero segera setelah saya pulih nanti. Saya akan menepati janji saya menikahi Vero." Kailin tak gentar, ia sama sekali tak takut pada kemarahan Santoso. Kani terduduk lemas. "Jadi bener kalo kamu punya wanita lain? Kamu pergi malem ini karena mau menikahi wanita itu? Kamu bohongin aku demi bisa menikahi wanita itu, Mas?" tanya Kani di dalam hati. "Janji yang kamu maksud itu janji menikahi wanita lain? Kenapa kamu tega begini sama aku, Mas? Apa kurangku selama ini? Apa aku pernah berbuat salah sama kamu? Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini?!" Kani menangis tertahan, wanita itu beranjak dan berlari menjauh karena tak ingin suaminya tahu kalau ia datang dan mengetahui semuanya. Kani berhenti di lorong yang sepi. Karena sudah malam, rumah sakit memang sudah sepi, untung saja rumah sakit itu tak membatasi jam besuk sehingga ia bisa masuk melihat kondisi suaminya. "Kalo aku nggak nekat cari kamu, aku nggak akan pernah tahu kalo kamu punya wanita lain." Kani menunduk, ia menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Ya Allah, angkat rasa sakit ini. Hamba akan ikhlas menerimanya, menerima takdir yang amat pahit ini." Kani memukul dadanya berkali-kali. Wanita itu tahu kalau suaminya memang berhak menikah lagi, tetapi ia tak menyangka kalau Kailin yang selama ini ia kenal baik, ternyata sama saja dengan kebanyakan pria di luar sana yang tak puas hanya dengan satu wanita saja. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN