Chapter 3 : All Night Long

1797 Kata
Malam ini merupakan malam perayaan kepulangannya- seperti yang sudah dibicarakan dengan Maureen minggu lalu. Awalnya Emily hanya berniat mengundang Mauren beserta keluarganya untuk makan malam. Namun entah kenapa Natalie yang tetlalu antusias mendengar kata perayaan atau pesta langsung mengundang sekitar seratus orang terhitung keluarga, teman, dan beberapa kolega kenalan. Tidak banyak hal yang bisa Emily lakukan untuk menentang hal itu. Lagi pula acara malam ini juga bisa membuatnya kembali beradaptasi dengan lingkungannya yang lama. Beberpa saat setelah selesai merapikan diri. Emily keluar dari kamarnya, turun menuju taman belakang dan masuk kedalam rumah kaca yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Orang-orang dari bagian EO yang mempersiapkan acara berlalu lalang bersama beberapa pelayan keluarganya yang menyiapkan hidangan di meja buffet. Lalu ada juga Natalie yang tampak sibuk membantu meletakkan lilin diatas meja untuk dekorasi dan beberapa dedaunan. "Apa ada yang bisa kubantu?", Emily mencoba menawarkan diri saat ia sudah berdiri di belakang Natalie. Natalie menoleh. Ia tersenyum lebar. "Emily... putriku sudah siap ternyata.", katanya sembari merapikan rambut Emily. Emily memutar matanya. "Mom, kau tidak menjawab pertanyaanku.", Natalie meringis. "Maafkan, aku terlalu terpesona.", ia menepuk bahu Emily. "Untuk pertanyaan itu. Tidak perlu. Mom juga sudah selesai. Tadi hanya merapikan posisi-posisi lilin ini.", "Ah begitu...", Emily bergumam. "Dimana Nate?", sejak siang tadi ia tidak begitu melihat adiknya. Bahkan sampai detik ini laki-laki itu juga tidak terlihat. Padahal disaat seperti ini biasanya Nathaniel merupakan orang yang rusuh dan mengganggu Lily. "Nate menjemput temannya.", "Teman?", Natalie mengangguk kecil. "Kau ingat Annellise?", Emily mengernyit. Ia mencoba mengingat gadis yang dimaksud ibunya itu. "Annellise? Annellise Ford?", "Iya.", "Nate berpacaran dengan Annellise?", Emily terkejut. Natalie menggeleng. Ia melangkah menuju teras yang menghubungkan koridor taman belakang dengan mansion. "Belum.", Emily mencebikkan bibirnya. "Aku yakin Nate pasti terlalu penakut mengungkapkan perasaannya.", ia mencoba membayangkan bagaimana Nathaniel berhadapan dengan gadis. "Jangan salah...", Natalie melirik Emily. "Adikmu itu sudah berkali-kali menyatakan perasaannya namun di tolak oleh Annellise. Gadis itu hanya menganggap Nate sahabat.", "Ouch!", Emily meringis. Rasanya ikut nyeri mendengar pernyataan ibunya. Tapi aneh juga jika mendengar Nathaniel Heywood di tolak. Kalau kata Maureen "Secara kau keluarga Heywood. Tidak akan ada manusia di bumi ini menolak kalian.", Berbicara mengenai Maureen. Tampaknya wanita itu sudah datang. Terdengar dari teriakan hebohnya yang menenuhi seluruh ruang ketika Emily dan Natalie baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu yang menghubung dengan lobi. Maureen tengah menyodorkan mantel yang baru dilepasnya kepada seorang pelayan sebelum berlari kecil dan memeluk Natalie. "Aunt Nat! Long time no see. Miss you so much!", semenjak Emily pergi. Maureen begitu jarang bertemu Natalie yang sudah dianggapnya sebagai ibu kedua. Mungkin beberapa kali di sebuah pesta atau restauran. Natalie membalas pelukan itu dan terkekeh pelan. "Me too. It's nice to see you again.", mereka saling melepaskan diri. "Dimana orang tuamu?", Natalie mencoba mencari sepasang suami istri dibalik punggung Maureen. Emily pun ikut mencari. "Sepertinya masih di depan.", Maureen mengangkat bahunya. "Kalau begitu masuklah dulu. Aunty akan mengecek di depan.", Natalie menepuk-nepuk bahu Maureen sebelum berlalu. Ketika wanita paruh baya itu sudah keluar. Maureen menoleh dan menatap Emily dengan binar bahagia. "Aku punya hadiah untukmu.", Emily mengerutkan keningnya. "Hadiah?", Dengan cepat Maureem mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas nya. Kotak tersebut berwarna hitam dof dengan logo berwarna emas yang sangat elegan. Emily tahu apa isinya. Ia langsung tersenyum lebar ketika kotak telah dibuka oleh Maureen. "Bagaimana?", Emily mengambil kotak itu. Ia langsung memakainya. "Apa masih perlu kujawab?", sejujurnya ia sudah menginginkan jam itu sejak beberapa bulan lalu. Tapi ia belum sempat membeli karena sibuk mengurus segala keperluannya untuk kembali ke London. "Terima kasih.", "Sama-sama.", "Ayo kita masuk.", Emily menarik Maureen. Mereka berjalan menuju taman belakang. "Pilihkan aku tempat duduk yang strategis.", Emily paham apa maksud Maureen. Ia terkekeh pelan. "Andai saja aku tahu siapa saja tamu yang akan hadir. Akan kukabulkan permintaanmu. Sayangnya aku tidak tahu.", Maureen melirik Emily. "Kau ternyata masih belum berubah. Kau tetap cuek dan tidak mau tahu.", gerutunya. Dalam hati Emily menyangkal perkataan Maureen. ... Natalie mengangkat gelasnya di udara sembari mendentingkan sendok. Seketika semua tamu yang hadir pada malam itu menoleh dan memperhatikan. "Selamat malam semuanya.", sapa Natalie dengan senyuman lebar di bibirnya. Ia meletakkan gelas di tangannya diatas meja. "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah hadir di makan malam sambutan untuk putriku tersayang- Emily.", Emily menunduk sesaat sambil menahan senyumnya ketika Natalie menyentuh bahunya hingga semua orang menatap kearahnya. Lalu bertepuk tangan. Terutama Maureen dan Nathaniel yang begitu heboh hingga Emily melirik keduanya dengan tatapan tajam. "Sekaligus aku ingin mengucapkan kepada beberapa orang- yang mungkin tidak bisa kusebutkan namanya karena telah membantu keluargaku beberapa tahun belakangan ini. Aku harap kebaikan apapun yang kalian berikan akan dibalas dengan yang setimpal.", Natalie menahan napasnya sejenak. Ia sedikit membungkuk. "Apa ada yang mau kau sampaikan?", tawarnya pada Emily. Emily mengangguk kecil. Ia bangkit berdiri bersamaan dengan Natalie yang baru saja duduk. "Aku tidak akan berterima kasih lagi karena ibuku sudah mewakili semuanya.", Sontak beberapa orang terkekeh mendengar perkataan Emily. "Senang rasanya kembali pulang dan berkumpul bersama.", Emily menatap Natalie, Nathaniel, Lily, dan Maureen bergantian. "Itu saja yang ingin kusampaikan karena aku tidak begitu pandai berbicara. Selamat menikmati acara.", Tepuk tangan menutup sambutan singkat Emily. Ia duduk sambil memberikan senyuman simpul. Detik berikutnya, pemain musik langsung memainkan nada lagu berjudul 'Love by Lana Del Rey'. Beberapa pasangan termasuk Nathaniel langsung bangkit berdiri menuju lantai dansa. Emily yang melihatnya menggelengkan kepala pelan. "Acara ini lama-lama menjadi acara pertunangan adikku.", gumamnya. Maureen terkekeh. Ia menyenggol lengan Emily. "Aku akan mengajak pria itu berdansa. Bagaimana menirutmu?", Emily mengikuti arah pandang Maureen. Jarak delapan bangku di sebrang kanan terdapat seorang pria yang sedang menikmati hidangan dan mengobrol bersama tamu lain. Dari senyuman pria itu, bisa dipastikan kenapa Maureen sangat tertarik. "Silahkan saja. Aku akan menunggu disini.", "Kau yakin tidak mau ikut? Mungkin kau bisa berdansa bersama Jamie De La Toure.", Maureen sedikit menggoda Emily. Pandangannya kini mengarah pada pria yang sedang berdiri di gazebo sambil memainkan ponsel. Emily memutar matanya. "Jangan pedulikan aku. Sudah sana pergilah!", usirnya. Maureen mengecup pipi Emily singkat sebelum meletakkan napkin di pangkuannya diatas meja, bangkit berdiri, lalu menghampiri pria yang sejak tadi menarik perhatiannya. Emily dari tempat duduknya hanya bisa memperhatikan sahabatnya yang mulai mengajak pria itu berkenalan sebelum akhirnya mereka berdua menuju lantai dansa. Jika Emily bisa bertahan tanpa kekasih berbanding terbalik dengan Maureen. Wanita itu benar-benar bisa mendeskripsikan hidupnya dengan 'tidak bisa hidup tanpa pria'. Jika ia baru saja putus dengan kekasihnya, maka lusa dia akan mendapatkan yang baru. Gila bukan? Tapi sepertinya 'gila' tidak cukup menggambarkan seorang Maureen Grissham. Memikirkan hal itu membuat Emily menahan senyumnya. Ia hendak kembali menikmati hidangannya namun secara tidak sengaja, ia menangkap sosok Natalie tengah berjalan bersama seorang pria menuju ke luar rumah kaca. Dengan cepat Emily menoleh ke kiri- dirinya tidak menyadari jika ibunya yang duduk di sisinya sudah berlalu. Emily mencoba melihat sosok pria yang kini merangkul ibunya itu. Tidak begitu terlihat jelas karena jarak dan pencahayaan sehingga membuat Emily penasaran. ... Natalie menarik pria itu keluar dari rumah kaca. Menjauhi kerumunan orang terutama putrinya agar bisa berbincang empat mata. Ia mengedarkan pandangan was-was setelah mereka menginjakkan kaki di ruang santai. "Ada apa?", Natalie menatap pria itu. "Adrian, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.", keluhnya. Pria bernama Adrian itu mengerutkan keningnya melihat Natalie yang begitu gelisah dan takut. Ia mengusapkan tangannya di pipi Natalie. "Ada apa?", "Aku belum memberitahu Emily.", Adrian menghela napas. "Astaga Nat. Aku pikir ada masalah apa sampai kau begitu panik sejak tadi.", Natalie meringis. Ia merasa bersalah pada Emily dan juga Adrian. "Maafkan aku.", "Tidak perlu minta maaf.", Adrian tersenyum simpul. Ia menyelipkan anak rambut Natalie kebelakang telinga sebelum memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Aku mengerti posisimu. Aku pasti juga melakukan hal yang sama.", "Jadi?", Adrian berdehem. "Hmm tidak perlu buru-buru. Carilah waktu yang pas untuk memberitahunya.", "Bagaimana kalau dia tidak setuju?", Natalie menundukkan kepalanya. "Hei lihat aku.", Adrian menepuk bahu Natalie. Membuat gerakan mengusap dengan ibu jarinya sepanjang tangan hingga berakhir menggenggam tangan Natalie. Natalie menatap Adrian. "Kita akan melewatinya bersama. Dan aku akan berusaha untuk membuatnya berubah pikiran.", Natalie mengangguk kecil. Dalam hati ia berharap apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya terkabul. "Bagaimana dengan anakmu?", Adrian mengangkat sudut bibirnya. "Aku yakin dia setuju.", jawabnya. "Kau tahu Seline sudah lama meninggal.", Natalie mengerjap. "Kau juga belum memberitahunya?", ia mengira sebaliknya. "Belum. Aku menunggu Emily untuk berjaga-jaga. Jika kedua anakmu setuju dan andaikata anakku menolak. Aku yakin dia mau tidak mau juga setuju.", "Aku akan berusaha memberitahu Emily secepatnya.", "Tell me what?", Natalie dan Adrian begitu terkejut ketika mendengar suara Emily. Mereka saling menjauhkan diri dan berusaha menutupi kegugupan masing-masing. "Emily, sayang.", Natalie menghampiri putrinya. "Apa yang kau lakukan disini?", Emily menatap Natalie dengan alis sebelah terangkat. "Aku mau mengisi daya ponselku. ", tangannya mengangkat sebuah ponsel sebatas d**a untuk menunjukkan pada Natalie. "Bagaimana dengan kalian? Apa yang kalian lakukan disini?", ia membalik pertanyaan. Adrian seketika menahan napasnya. Ia mengusap tengkuknya lalu berdehem. Ia hendak membuka suara namun Natalie menyela terlebih dahulu. "Perkenalkan, Adrian.", Dengan cepat Adrian mengulurkan tangannya kepada Emily. Emily membalas uluran itu. "Emily.", "Senang bertemu denganmu.", Adrian tersenyum simpul. Natalie mengaitkan lengannya pada lengan Emily. Sedikit menarik wanita itu mundur. "Dia yang selama ini membantu mom untuk menangani bisnis.", dirinya tidak berbohong. Natalie memang bertemu Adrian ketika pria itu hendak membeli beberapa saham perusahaannya. "Ah begitu...", Emily memaksakan seulas senyuman kepada keduanya. "Lalu bagaimana dengan pertanyaanku tadi?", "Pertanyaan apa?", Natalie berpura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud putrinya. Sedangkan Adrian. Pria itu akhirnya menghela napas. Ia memejamkan matanya sesaat, menunduk, lalu mendongkat dan menatap Emily. "Tentang itu...", Natalie langsung memberikan tatapan melotot pada Adrian. Memberi kode bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk memberitahu mengenai hubungan mereka. Namun sepertinya Adrian memiliki pendapat lain. "Aku dan ibumu menjalin hubungan sejak dua tahun lalu.", Emily terkejut. Ia terdiam dan menatap Natalie dengan perasaan campur aduk. "Aku mencintainya. Sangat.", Adrian mengucapkannya dengan mantap. Natalie yang juga terdiam- disatu sisi merasa senang mendengar pernyataan cinta Adrian. Tapi disatu sisi ia begitu khawatir menunggu tanggapan putrinya. "Katakan sesuatu.", Natalie melepaskan kaitan lengannya. "Jadi inilah alasan kenapa mom bersikap aneh belakangan ini?", Natalie mengangguk. Emily mengerjap. "That's lot for me.", ia tidak mengira dan tidak bisa menghadapi hal seperti ini. Jika Nathaniel memiliki kekasih Emily merasa baik-baik saja dan tidak masalah. Tapi jika Natalie? "So-sorry... i have to go.", "Emily-", Natalie mencoba menahan putrinya namun Adrian lebih cepat menarik wanita itu. "Biarkan saja. Dia pasti butuh waktu sendiri.", "Tapi-", Natalie menggeleng pelan. "Emily!", Emily tidak menghiraukan panggilan itu. Ia melangkah cepat keluar dari ruang tamu, menaiki anak tangga, dan kembali kedalam kamarnya. Ketika pintu tertutup. Emily menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata. Ia menangis, merosot ke lantai, dan melipat kakinya. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN