Emily menelusuri halaman belakang mansion dan langsung menuju rumah kaca. Rumah itu cukup besar. Tidak hanya digunakan untuk Natalie bercocok tanam pada saat musim semi namun didalamnya juga diletakkan sebuah meja dan kursi sebagai tempat untuk acara minum teh atau acara perayan thanksgiving. Perlahan Emily membuka pintu dan masuk.
"Hei, mom.", Ia tersenyum pada Natalie yang sibuk mengecek bunga-bunga kesayangannya. Bisa Emily lihat ada lavender- aroma favorit ibunya, verbana, mawar, dan apapun itu- tampak ada beberapa yang layu karena musim dingin. Sisanya ia tidak begitu mengerti. Ia hanya tahu menahu tanaman yang dapat dimasak seperti basil, daun mint, dan lainnya.
Natalie menyerahkan botol kecil ditangannya kepada Lily yang sejak tadi menemani wanita paruh baya itu. Ia menoleh. "Kau mau kemana? Rapi sekali...", putrinya itu mengenakan sweater berkerah tinggi berwarna putih dengan jaket quilted senada, celana jeans biru muda keabuan dan boots hitam.
Emily mengambil kelopak bunga kering yang tersangkut di rambut Natalie. "Seperti kataku kemarin. Aku akan memasak untuk kalian. Jadi aku akan membeli bahan-bahan masakan.",
"Kenapa tidak menyuruh Sarah saja?",
"Terasa lebih menyenangkan jika aku membeli dan memilih bahanku sendiri.", jawab Emily sambil tersenyum. "Lagipula aku juga ingin berkeliling sebentar.",
Natalie menghela napas pendek. Ia mengangguk, "Baiklah. Hati-hati dijalan.",
Emily memeluk Natalie sembari mengusap punggung wanita itu. "Sampai jumpa.", ia melepaskan pelukannya.
Natalie hanya bisa menatap punggung putrinya yang semakin menjauh. Sejujurnya ia masih merasa takut membiarkan putrinya keluar. Ia takut bila kejadian itu terjadi lagi. Namun melihat Emily sudah mampu mengatasi satu traumanya- yaitu menumpangi mobil. Maka Natalie mengijinkan.
"Apa kau sudah memberitahu Emily?",
Natalie sedikit menoleh. Mendengar pertanyaan Lily membuatnya pening seketika. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap wanita tua itu. Beruntung selama ini Lily ada disisinya. Jadi Natalie dapat berbagi keluh kesahnya dengan orang yang paham semua akar permasalahan keluarga Heywood dan memberikan saran atau penilaian yang objektif. Lagipula, Lily juga sudah seperti ibu kandungnya sendiri. "Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahunya.",
"Aku sarankan secepatnya. Kalau terlalu lama menunggu... aku takut jika kau bisa kehilangannya lagi."
...
Emily turun dari dalam mobil ketika Jhonson- salah satu supir keluarganya membukakan pintu untuknya. Pria berumur sekitar awal empat puluh tahunan itu menunduk sesaat sembari seblah tangan bersedekap di depan perutnya. "Saya akan mencari tempat parkir, nona. Kalau butuh sesuatu bisa hubungi saya.",
"Baiklah, terima kasih.", Emily berlalu sembari membenarkan tali tas tantengnya yang tersampir di bahu. Ia melangkah masuk kedalam supermarket.
Lagu Gavin James diputar. Emily yang mendorong trolinya mulai bersenandung pelan mengikuti irama lagu. Sesekali ia melihat kearah kertas yang diletakkannya diatas tas diatas baby seat untuk mengecek barang-barang apa saja yang dibutuhkannya. Hampir sekitar satu jam sebelum akhirnya selesai. Kini ia berjalan menuju kasir. Namun ketika ia hendak memasuki jalur antrean, tiba-tiba troli lain menabrak miliknya.
"Astaga, maafkan aku!",
Emily mendongak. Ia sangat mengenali suara itu. "Maureen?", panggilnya. Ia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas karena masih menundukkan kepalanya.
Wanita yang dipanggil oleh Emily ikut mendongak. Ekspresinya tidak jauh berbeda, ia terkejut. "Oh my... Emily. Long time no see.", ia menarik dan mensejajarkan trolinya.
Emily mengangguk kecil. Tersenyum simpul karena jujur saja ia merasa canggung. "Iya, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?",
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kapan kau kembali? Kenapa tidak memberitahuku.", Maureen menyentuh bahu Emily.
Emiy meringis. "Bukannya tidak ingin memberitahumu. Hanya saja kepulanganku memang tidak direncanakan. Semuanya begitu tiba-tiba.",
"Tetap saja!". Maureen merasa tidak terima. Bagaimana bisa sahabat terdekatnya tidak memberitahukan berita bahagia ini? Emily Heywood tiba-tiba menghilang setelah kejadian lima tahun lalu dan sekarang kembali juga secara tiba-tiba.
"Bagaimana kalau setelah ini kita minum kopi bersama? Kau mau?",
...
Suara lonceng kecil yang khas berbunyi ketika Emily dan Maureen masuk kedalam kafe di sebrang London Eye. Kafe yang selalu mereka kunjungi setelah pulang sekolah atau kapanpun saat mengerjakan tugas. Cukup banyak kenangan antara keduanya di tempat ini. Bahkan pemilik dan barista yang bekerja di sana mengingat mereka karena merupakan pelanggan tetap.
"Akhirnya kalian berdua kembali.", rupanya mereka masih mengingat.
Emily menundukkan kepalanya sesaat memberi salam kepada pemilik kafe ini. "Hai Mr Sheperd...".
Pria berambut putih itu tersenyum lebar sembari meletakkan gelas yang baru saja di polesnya ketika Emily dan Maureen sudah berdiri di depan kasir. "Kau kemana saja nak? Aku sampai mengira jika kalian bertengkar dan musuhan karena Maureen selalu kemari sendirian beberapa tahun terakhir.",
"Aku melanjutkan studiku di Amerika.",
"Ah begitu...",
Maureen mengangguk. "Bahkan hampir saja aku pikir dia juga akan menjadi orang Amerika.", timpalnya setengah menyindir.
Emily menggeleng pelan dan tersenyum geli.
"Baiklah aku lega dan senang. Apapun yang kalian pesan hari ini aku berikan gratis. Anggap saja untuk menyambut kepulanganmu dan kembalinya pertemanan kalian.", Ia tersenyum kepada Maureen lalu Emily.
"Tidak perlu Mr. Sheperd. Aku jadi tidak enak padamu.", Emily tersenyum sungkan.
Begitupula dengan Maureen. "Emily benar.".
Pria itu mengibaskan tangannya di depan d**a. Ia langsung memasukkan pesanan yang selalu dihapalnya dan memberikan nota kecil yang keluar dari printer kepada baristanya. "Kalian duduk saja.".
"Apa anda yakin?", tanya Maureen.
"Bagaimana jika kami membayar sebagian? Kami benar-benar merasa tidak enak.",
"Sudah tidak perlu. Lagipula sebentar lagi natal. Jadi ini kado natal untum kalian.",
Emily yang tadinya sudah membuka tas hendak mengeluarkan dompet mengurungkan niat. Ia mengangguk sebagai tanda terima kasih dan tersenyum samar sebelum duduk bersama Maureen di meja yang ada di tepi jendela.
"Jadi apa yang kau lakukan saat ini?", tanya Maureen sembari membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
Emily mengangkat bahunya. "Aku baru kembali kemarin. Jadi aku masih belum tahu apa yang akan kulakukan.", jawabnya.
"Apa kau masih ingin menjadi koki?",
"Aku baru saja lulus sekolah masak. Jadi jawabannya iya.", Emily mengulas senyum tipis. "Bagaimana denganmu? Apa kau juga masih ingin menjadi dokter?",
"Ibuku tidak pernah setuju aku menjadi dokter kalau kau lupa...",
Emily mendengus geli. Ia ingat jelas bagaimana marahnya ibu Maureen saat mengetahui jika ia ingin menjadi dokter. Ibunya adalah seorang fashion designer ternama di Milan. Tentu ia ingin jika putri dan anak satu-satunya lebih mengikuti jejaknya dibandingkan sang ayah yang bekerja di industri perhotelan.
"Jadi?"
"Aku mengkombinasikan keduanya.",
"Maksudnya?", Emily mengerutkan keningnya.
Maureen tersenyum bangga. "Aku mengambil jurusan kimia dan membuat parfume line.", lalu ia mengeluarkan sebotol parfum dari dalam tasnya. Botol itu terlihat minimalis kotak namun tidak meninggalkan kesan elegan dari tutupnya yang berwarna rose gold dengan model kelopak mawar.
"Ini parfummu?", Emily nyaris tak percaya. Ia mengambil botol itu dan membaca merek yang tertera. "Di Amerika sangat laris terjual.",
"Percuma laris terjual kalau kau tidak membelinya.", cibir Maureen.
Emily melirik gadis itu. "Siapa bilang?", ia mengeluarkan parfum yang dibawanya. Merek yang sama namun kemasan berbeda karena belum sempat membeli edisi yang terbaru. "Aku bahkan membeli satu seri untuk kubagikan pada ibuku, Lily, dan Nate.",
Maureen tersenyum senang. "Benarkah?",
"Hmm benar. Kalau kau tidak percaya kau bisa ke rumahku.", Emily menjawab bersamaan dengan seorang barista yang mengantarkan pesanan mereka.
"Terima kasih.", Maureen tersenyum ramah. Ia menarik cangkir late miliknya sedikit lebih dekat. "Baiklah, setelah aku pulang dari Paris minggu depan. Aku akan langsung mampir kerumahmu.",
"Kau mau ke Paris?",
Maureen mengangguk, menyesap kopinya. "Besok aku berangkat.",
"Fashion show ibumu?",
"Benar sekali.", jawab Maureen dengan nada malas. "Kalau saja ibuku tidak memaksa. Besok pasti kita bisa berpesta.",
Emily mengangkat sudut bibirnya. "Apa tadi aku menyebutkan pesta?",
"Tidak. Tapi dimana ada aku, disitu ada pesta. Lagipula, anggap saja pesta sambutan kepulangan "it girl' kita.",
"Really? It girl?", Emily memutar matanya. Ia tidak mengerti kenapa Maureen selalu mengatakan itu. Bahkan beberapa kali majalah atau tabloid kota London juga menyebutkan hal yang sama.
"Kau masih bertanya apa alasannya?",
Emily mengangguk kecil. Ia meneguk greentea lattenya.
Perlahan Maureen meletakkan cangkir di tangannya kembali di atas meja. Ia mengambil tisu dan mengusap ujung bibirnya. "Kau Emily Heywood. Putri dari Eaton dan Natalie Heywood as known as top ten british upper-class society. Selain itu kau sudah seperti Kylie Jenner- in british version with no scandal, no controversy.", jelasnya.
Emily mendengus. "Kau ada-ada saja.",
"Jangan berusaha merendah untuk meninggi Em. Seluruh penduduk di London tahu itu. Akui saja!",
Emily menatap Maureen bingung. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Apalagi saat kau dan st-", Maureen langsung bungkam saat menyadari sesuatu. Ia dengan cepat meralat. "Saat kau dan aku mulai bersahabat. Banyak orang yang iri pada kita.",
Emily mendengus geli sembari menyuapkan kembali pienya. Lalu ia menggeleng pelan.
Tampaknya ia tidak begitu mendengar sehingga Maureen menghela napas lega. Baginya, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas apapun di masa lalu.
...
Emily mengeluarkan satu persatu belanjaannya dari kantungan kertas dibantu Lily ketika Nathaniel masuk ke dalam dapur.
"Ada yang bisa kubantu?",
Emily mendongak. Ia mengangkat sudut bibirnya sembari menyodorkan seikat wortel kepada laki-laki itu. "Bantu aku mencuci sayuran.",
Nathaniel dengan antusias mengintari kitchen island, meraih wortel itu, dan mencucinya. Sedangkan Lily mendapat bagian untuk mencuci seafood.
"Kau mau masak apa?", tanya Nathaniel.
Emily yang mulai mengupas bawang berdehem. "Seafood ravioli with spinach and mushroom in garlic creamy sauce.",
Nathaniel meringis mendengarnya. "Bisakah kau menggunakan bahasa yang lebih manusiawi, Em?", ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan kakaknya itu.
"Ravioli itu semacam pasta tapi ada isinya.",
"Hah?", Nathaniel masih tidak mengerti meskipun mendengar penjelasan Lily.
Emily terkekeh pelan. "Percuma saja dijelaskan. Lebih baik kau lihat saja sendiri.",
Nathaniel mengangguk kecil. "Baiklah...", ia meletakkan semua sayuran yang dibutuhkan kedalam mangkuk kaca besar. "Apa lagi yang bisa kubantu?",
"Apa kau bisa mengupas udang?", Emily melirik adiknya.
Nathaniel menggeleng. "Tidak. Tapi ajari aku.", ia tersenyum lebar.
Emily meletakkan pisau dan bawang di tangannya. Ia mencuci tangan sebelum menghampiri Nathaniel yang baru saja menerima udang dari Lily.
"Lihat dan pelajari.", kata Emily. Ia mengambil telenan dan pisau yang lebih kecil. Lalu mengambil udang berukuran sedang itu. "Kau kupas dulu kulitnya. Terserah mau sisihkan ekornya atau tidak. Itu hanya hiasan.", tangannya yang cekatan mulai melepas bagian kepala dan juga kulitnya. Kali ini Emily menyisahkan bagian ekor agar Nathaniel lebih paham.
"Setelah itu kau iris bagian punggungnya secara vertikal agar udangnya jadi lebih besar.", Emily menjelaskan sembari memperagakan cara memotongnya. "Paham?",
Nathaniel berdecak lidah. "Kalau hanya seperti itu, aku bisa.", ia mengambil alih pisau di tangan Emily sebelum memulai mengupas dan memotong sisanya.
Emily melirik Nathaniel. "Jangan salah...", sebenarnya tidak masalah jika salah memotong. Lagi pula udang itu juga dihidangkan untuk keluarga sendiri.
Setelah itu Emily kembali menyiapkan bahan-bahan seperti bayam, tepung, telur, dan lain sebagainya. Beberapa saat kemudian, Nathaniel membuka suara.
"Lily, dimana mom? Sejak tadi aku tidak melihatnyam",
Emily tidak terlalu mendengarkan. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ibumu ada di ruang kerja.",
"Dia bekerja?", Nathaniel terlalu terkejut sehingga pertanyaan itu lolos begitu saja.
Lily langsung memberikan tatapan melotot pada Nathaniel.
Emily tadinya tidak menyadari. Namun ketika Nathaniel dan Lily saling menyenggol lengan, ia mendongak. "Ada apa?",
"Ehm? Tidak ada apa-apa.", Nathaniel memaksakan seulas senyum.
Kening Emily berkerut samar. "Kau tadi bilang, 'dia bekerja'.",
"Maksud Nate itu... ibumu terlalu banyak bekerja selama ini. Seharusnya ia istirahat dan ikut memasak bersama kita.", Lily menoleh pada Nathaniel. "Benarkan?",
Nathaniel mengangguk kaku. "Ya itu maksudku.", ia berdehem pelan berusaha menetralkan suaranya.
"Ah tentang itu.", Emily mendesah pelan, lalu mengangkat sudut bibirnya. "Kalian tidak perlu khawatir. Aku akan membantunya.",
"Tidak perlu. Kau fokuskan diri saja pada toko kue dan roti yang ingin kau bangun. Aku saja yang membantu mom. Lagipula sudah tanggung jawabku sebagai anak laki-laki untuk menjaga kau dan mom setelah dad tiada.",
...