Chapter 14 : Fire Almost Burn Him

1730 Kata
Emily dan Aram tanpa sengaja keluar secara bersamaan dari dalam kamar masing-masing. Mereka berdua sama-sama terlihat rapi. "Kau mau kemana?", tanya Aram sambil mengangkat sebelah alisnya. "Bertemu dengan Steven.", "Steven mantan kekasihmu itu?", tanya Aram lagi. Emily mengangguk kecil. "Iya.", "Baiklah...kalau begitu akan kuantar.", katanya sambil lalu. Emily mengerjap. Ia tidak mengira jika Aram memperbolehkannya pergi. Apalagi sampai mengantarnya. Dengan cepat ia menggeleng sambil membenarkan letak tas tentengnya sebelum berlari kecil mengikuti Aram di koridor, menuruni tangga, lalu menuju dapur. "Kau mau kopi?", "Tidak. Aku tidak bisa minum kopi.", "Tunggu aku sebentar.", "Tidak perlu terburu-buru.", Emily memperhatikan sambil duduk di kursi tinggi kitchen island di sebrang Aram berdiri untuk membuat kopinya. Ia meletakkan tasnya diatas meja dan mengirim pesan pada Steven jika ia akan datang sedikit terlambat. "Untuk acara nanti malam. Kau sudah mengundang teman-temanmu?", Emily mengangguk meski Aram tidak dapat melihatnya. "Sudah. Maureen dan Steven.", Aram menoleh kebelakang beberapa saat sebelum kembali memperhatikan mesin pembuat kopi yang mulai mengisi cangkirnya. "Hanya mereka berdua?", "Iya.", jawab Emily cepat. Ia yakin jika Aram kebingungan kenapa ia mengundang hanya dua orang saja. Sedangkan Nathaniel semalam menyebutkan sekitar sepuluh temannya untuk diundang. "Bagaimana denganmu? Berapa teman yang kau undang?", Aram mengambil cangkirnya dan membalikkan tubuh. Ia berdiri dengan setengah bersandar pada meja laci kitchen set dibelakangnya. "Aku tidak mengundang siapapun.", Emily mengernyit. "Jangan kau pikir aku tidak memiliki teman.", timpal Aram. "Apa aku mengatkannya?", "Raut wajahmu yang mengatakannya.", jawab Aram. Ia menyesap sedikit kopinya. Emily meringis. "Aku tidak bermaksud.", "Tidak masalah. Semua orang pasti berpikir seperti itu karena aku terlalu sibuk bekerja.", balasnya. "Lagipula aku sengaja tidak mengundang siapapun.", "Kenapa?", "Salah satu temanku sudah mengadakan acara. Aku tidak ingin mensabotasenya.", Emily terkekeh pelan. "Apakah tidak ada kata lain selain 'sabotase'?", "Aku rasa kata itu yang paling cocok. Aku tidak pernah menghadiri acara-acara yang diadakan setiap natal dan tahun baru. Entah itu temanku atau bahkan undangan dari keluarga kerajaan. Dan sekarang? Aku mengadakan acara sendiri. Lagipula alasan lainnya karena Harper Sutton. Kau ingat?", "Oh ya Harper. Aku sampai lupa.", "Kalau dia mendengarnya. Bisa kupastikan di akan datang kemari. Dan kalau dia datang kemari. Bisa-bisa setengah penduduk London datang.", Aram kemudian  mulai menyesap kopinya. Emily hanya diam dan berpikir sesuatu. Sejak kemarin Aram mengatakan ia tidak menyukai seorang Harper. Ia jadi penasaran apa alasannya. Akhirnya Emily memutuskan bertanya. "Boleh aku bertanya?", Aram mengangguk. "Kenapa kau menolak Harper?", Aram menuangkan sisa kopinya kedalam bak pencuci. Kemudian ia memasukkan cangkir kotor itu kedalam mesin pencuci piring yang ada di bawah sebelum menjawab. "Dia bukan tipeku.", jawabnya cepat tanpa ragu. "Aku yakin jika Nate mendengar jawabanmu itu. Dia akan histeris.", Emily memang belum mengetahui dan mencari tahu siapa Harper Sutton. Tapi jika mendengar profesinya sudah bisa dipastikan jika wanita itu sangat rupawan. Aram mendengus geli. "Jangankan Nate. Ayahku bahkan sempat memusuhiku beberapa hari.", "Benarkah?", tanya Emily. Ia tidak percaya. "Hmm benar.", jawab Aram sambil mengambil tisu didekat Emily. Kemudian ia mengusap bibirnya sebelum membuang tisu itu kedalam tempat sampah otomatis di sisi kulkas. "Sekarang lupakan saja. Ayo kita berangkat.", Emily bangkit berdiri. Ia memasukkan ponselnya kedalam tas dan menyampirkannya sebatas lengan. Ia berjalan bersama Aram menuju pintu keluar yang terhubung langsung dengan lift gedung griya tawang. "Ngomong-ngomong... kau sendiri mau kemana?", Emily bertanya ketika mereka sudah berada di dalam lift yang bergerak turun. "Pulang ke mansion. Aku ingin mengambil beberapa dokumen.", jawab Aram santai sambil melihat kearah layar yang menunjukkan posisi lift. Berbicara mengenai mansion keluarga Langford. Aram membawa Emily dan Nathaniel untuk tinggal di griya tawang milik pria itu di One Hyde Park dibandingkan mansion yang ada di The Bishop Avenue karena jaraknya lebih dekat. Jadi apabila sewaktu-waktu Emily dan Nathaniel butuh mengambil barang- mereka tidak akan kesulitan. Emily mendesah pelan. "Tidak. Kau ikut denganku.", Aram menoleh menatap Emily. Ia menunggu penjelasan dari wanita itu. "Kau berhasil meninggalkan pekerjaanmu pada hari natal. Dan sebaiknya kau juga bisa meninggalkam pekerjaanmu untuk malam tahun baru.", "Aku hanya mengambilnya.", Aram masih mencoba mengelak. Emily tidak menjawab dan mengangkat sebelah alisnya. Ia memberikan tatapan serius. Itu artinya ia tidak menerima penolakan. Aram mendesah pelan. "Aku akan menyuruh sekretarisku untuk mengambilnya. Kau puas?", Perlahan senyuman dibibir Emily mengembang. "Cukup puas.", ... "Aku berubah pikiran.", Emily hendak membuka pintu mobil ketika Aram mengatakannya. Ia kembali duduk bersandar dan menoleh menatapnya. "Berubah pikiran apa?", "Sudah cukup sekali saja aku menjadi obat nyamuk saat makan siang bersama ibumu dan ayahku. Tidak hari ini juga.", Emily memutar matanya. "Pertama, aku dan Steven hanya berteman.", "Untuk saat ini.", sergah Aram. "Dan seterusnya.", timpal Emily. "Kedua, aku tahu ini hanya akal-akalanmu saja. Jadi jangan harap aku percaya.", Aram mendesah panjang. "Apa aku pernah mengingkari perkataanku?", "Belum.", "Oh tuhan...", Aram tidak percaya jika Emily bisa menyebalkan. "Tuhan tidak bisa membantumu karena ia berpihak padaku. Jadi sekarang...", Emily menekan tombil pengunci sabuk pengaman Aram kemudian melepaskannya. "Ayo turun.", "Aku akan menunggu di mobil.", "Aram!", seru Emily. Ia mencebikkan bibir. "Sudah kukatakan aku tidak ingin menjadi obat nyamuk.", "Kami berdua kemari hanya berbelanja untuk acara nanti malam.", Pada akhirnya Aram pasrah. Ia mengambil ponsel dan dompetnya sebelum turun dari mobil yang terparkir di sebrang supermarket. Sedangkan Emily tersenyum puas. "Jalanlah terlebih dahulu. Aku akan menghubungi Nate. Ada orang yang akan datang mendekor untuk acara nanti malam.", Emily mengangguk kecil. Ia jalan terlebih dahulu masuk kedalam supermarket. Kebetulan Steven sudah menunggu di lobi. Pria itu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. "Hai.", "Hai.", Emily balas mengapa ketika ia sudah berdiri di hadapan Steven. "Maaf membuatmu menunggu. Aku harus menggeret Aram.", "Aram?", Emily baru menyadari jika Steven dan Aram tidak saling kenal. Saat makan malam Natal beberapa hari lalu- keduanya belum sempat bertemu dan berkenalan. Emily sendiri juga belum mengatakan apapun pada Steven mengenai ibunya dan juga Adrian Langford yang menjalin hubungan. "Aram Langford. Dia datang saat makan malam natal kemarin. Kau mungkin sempat melihatnya.", "Oh kau mengajaknya kemari?",  Bisa terlihat jelas di wajah Steven ada siratan kekecewaan. Emily tahu jika pria itu tadinya bersemangat karena Steven mengira mereka akan belanja untuk acara nanti malam berdua saja. "Iya aku mengajaknya. Kita tunggu sebentar. Dia sedang menghubungi Nate.", ia mengangkat sudut bibirnya. Steven terdiam membuat atmosfer disekitarnya mendadak terasa aneh. Sesekali ia melirik Emily yang tampak tidak sabaran menunggu pria bernama Aram. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apakah Aram juga mendekati Emily? Steven menggelengkan kepalanya pelan. Ia harus tetap optimis dan tidak boleh menyerah. Pada akhirnya ia memutuskan untuk membuka suara agar suasana canggung ini hilang. "Ngomong-ngomong...", "Ya?", "Sejak kapan ibumu memperbolehkanmu tinggal di penthouse?", tanya Steven. Seingatnya. Natalie dan mendiang Eaton bukanlah orang tua yang begitu saja membiarkan putra dan putrinya hidup jauh dari jangkauan mereka. Kecuali masalah Emily yang kabur dengan bantuannya lima tahun lalu. Dan entah kenapa Emily bisa mengadakan acara di griya tawang One Hyde Park. "Penthouse? Aku tidak ti- oh aku paham.", Emily mendesah pelan. Lalu terkekeh geli. "Penthouse itu milik Aram.", Aram lagi? Steven mendadak merasa kesal. Ia hanya mengulas senyum tipis yang terpaksa. "Oh itu dia", Steven menoleh kearah pintu masuk otomatis. Ia melihat kearah pria yang saat ini sedang berjalan kearah mereka. Benar apa kata Emily. Steven pernah melihat pria itu saat malam natal. Pria itu duduk di sisi Nathaniel. "Aku sudah katakan pada Emily agar aku tetap di mobil. Tapi dia memaksaku.", kata Aram ketika pria itu sudah berdiri di sisi keduanya. Aram memasukkan tangannya kedalam saku mantel hangatnya yang berbahan suede tebal.  Steven mengangkat sudut bibirnya. "Iya tidak masalah.", dustanya. Aram kini mengulurkan tangannya. "Aram Langford.", Steven membalas uluran tangan Aram. "Steven Arckeley.", Tanpa banyak bicara lagi. Aram menarik tangannya dan berjalan mendahulu Emily dan Steven. Ia mengambil troli sebelum masuk. Emily yang melihatnya memutar mata. Kemudian tersenyum sungkan pada Steven. "Maafkan sikapnya. Dia memang orang yang tidak suka berbasa-basi.",  Steven berdehem pelan sambil melirik Aram yang semakin menjauh sebelum akhirnya ia dan Emily masuk. ... "Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?", tanya pria tua bertubuh tambun dan berkumis yang berdiri di balik etalase pendingin yang menyajikan daging-daging segar ketika Emily dan Steven berhenti. Emily memperhatikan daging-daging sapi itu sebelum menjawab,  "Aku mau Australian Striploin.", "Berapa banyak miss?", "Sebentar...", Emily menoleh menatap Steven yang sedang melipat kedua tangannya dan bertumpu diatas pegangan pendorong troli. "Apakah sepuluh cukup?", tanyanya setengah berbisik. "Memang berapa banyak tamu yang kau undang?", "Hanya kau, aku, Maureen, Nathaniel, Annellise, dan Aram.". "Enam ke sepuluh. Siapa yang memakan sisanya? Jangan lupa dengan makanan lainnya. Sayang sekali jika harus terbuang.", "Tapi tidak perlu khawatir. Aku bisa menggunakan sisanya untuk sarapan besok.", balas Emily. Kebetulan mereka berada di supermarket, kenapa tidak sekalian mengisi kulkas? Semalam Emily sempat mencari-cari bahan makanan untuk memasak makan malam. Tapi ia tidak menemukan apapun dan akhirnya memutuskan memesan delivery. Bukan salah Aram juga karena memang griya tawang miliknya itu jarang di tempati.  "Kalau begitu tidak masalah.", Emily mengangguk. Ia kembali menoleh pada pria tua tadi. "Sepuluh.", "Akan kusiapkan segera.", Emily tersenyum dan mengangguk lagi sebelum pria itu berlalu masuk kedalam ruangan pendingin di belakangnya. Namun saat ia hendak membuka obrolan dengan Steven. Matanya tidak sengaja menangkap sosok Aram  yang baru saja keluar dari lorong yang tidak jauh dari sebrang mereka. Pria itu kini berdiri di hadapan kulkas-kulkas dan tampak kebingungan melihat sesuatu. "Steven... tunggu disini sebentar ya?", Steven menegakkan tubuhnya. Ia mengangguk. "Baiklah.", jawabnya. Kemudian ia memperhatikan Emily yang berlari kecil menuju Aram sambil menghela napas. Sepertinya sudah tidak terhitung berapa banyak ia menghela sejak masuk kedalam supermarket. Sedangkan Aram. Ia yang menyadari ada seseorang yang mendatanginya kini menoleh. "Apa sudah selesai?", "Belum. Aku masih menunggu daging.", "Dan kenapa kau kemari?", tanyanya tanpa menatap Emily. Ia memperhatikan keju-keju didalam kulkas.  "Apa tidak boleh?", "Boleh saja. Tapi tampaknya mantan kekasihmu itu memiliki pendapat yang berbeda.", kini Aram sedikit menolehkan kepalanya untuk melihat Steven sekilas dan Emily mengikutinya. Dilihatnya Steven tampak membuang pandangan kearah lain. "Aku yakin ia tidak menyukaiku.", tambah Aram. Emily terkekeh pelan. "Itu karena dia tidak tahu kau adalah kakakku.", "Kau tidak membertiahunya?". "Belum.", "Aku sarankan secepatnya, sebelum ia menguburku hidup-hidup.", kata Aram. Ia membuka kulkas dan mengambil dua bongkah keju mozarella. Kemudian menyodorkannya kepada Emily sebelum menutup kulkas. "Aku akan menunggu di bagian minuman alkohol yang ada di dekat kasir.", Emily mengangguk kecil. Ia menerima keju-keju itu dan memeluknya. "Ingat! Jangan beli terlalu banyak!", serunya ketika Aram berlalu. Secara bersamaan Steven berjalan menghampirinya sambil menarik bagian depan troli. "Dagingnya sudah ku ambil. Apa ada lagi yang ingin dibeli?". Emily menoleh menatap Steven. Ia tersenyum simpul dan meletakkan keju dipelukannya kedalam troli. "Kau masih suka es krim cokelat?". ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN