“Apa?!” Gino berteriak sembari menggebrak meja.
Hani menggeram ketika semua mata tertuju kepada mereka. Ia menutup wajahnya karena malu sekaligus kesal.
“Jangan berisik, Gino. Kamu menarik perhatian orang-orang. Bagaimana kalau mereka mengenalku?” bisik Hani geram.
Gino menatap Hani dengan mata tajam. “Setelah kamu membuat aku dan Davita bercerai, sekarang kamu seenaknya bilang ingin menikah dengan pria lain? Apa kamu gila, kamu kira aku apa, hah?” desisnya.
Hani berdecak. “Kamu juga selama ini selalu menganggap aku hanya pelampiasan, ‘kan? Jadi harusnya kamu tidak akan peduli jika aku menikah dengan pria lain. Kamu kira aku tidak tahu, kalau kamu masih berusaha mendekati Davita? Cih, kamu kira aku bodoh? Aku tahu kamu sekarang sering mengunjungi toko bunga tempat wanita kurang ajar itu bekerja. Iya ‘kan?”
Gino terdiam sejenak, tetapi egonya sebagai pria seakan diinjak ketika mendengar Hani akan menikah dengan pria lain. “Apa pun itu, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria lain, Hani. Andai aku tidak bercerai dengan Davita, tidak malah jika kamu pun menikah dengan pria lain. Tapi karena ulahmu, aku sekarang sudah bercerai dengan Davita. Saat aku resmi bercerai, kau malah ingin menikah dengan pria lain. Aku tidak akan biarkan itu, Hani!”
Tangan Hani terkepal, ia balik menatap Gino dengan mata tajam. “Kenapa sekarang kata-katamu seakan menuduhku salah? Kamu mengatakan kalau kamu dan Davita cerai karena aku? Apa kamu sedang melucu, Gino Antoni? Kenapa hanya aku? Kalian bercerai karena kau ketahuan selingkuh, bukan hanya karena aku, tapi karena kita,” geramnya menahan suara.
“Itu juga karena kau bodoh. Harusnya sedari awal kita ketahuan, kita bisa saja berkilah dengan mencari alasan lain. Tapi kau dengan bodohnya malah mengaku bahkan membongkar semuanya. Bisa saja kita beralasan mabuk atau dibius oleh orang. Makanya ini semua karenamu, aku bercerai karenamu,” tuduh Gino tetap saja menyalahkan Hani.
Hani menarik napas dalam, ia mencoba tetap sabar karena tak ingin membuat keributan. Bagaimanapun hingga saat ini, Hani masih ingat dirinya seorang model cukup terkenal. Bisa saja di antara penghuni kafe itu, mengenal Hani melalui majalah ataupun media sosial. Hani tak ingin mengambil resiko akan karirnya, sehingga ia memilih menahan diri meski dadanya sudah naik-turun ingin mengumpati serta memaki Gino.
“Sudah ‘lah, Gino. Aku mengajakmu ketemuan bukan untuk berdebat seperti ini. Aku hanya ingin memberitahumu secara langsung. Aku akan menikah bulan depan, jadi tidak usah berkomentar apa pun lagi.” Hani berdiri dari duduknya, lalu meraih tas di atas kursi.
Gino ikut berdiri, ia menggeram menatap Hani pergi begitu saja. “Apa pun itu, aku tidak akan membiarkan kau menikah! Kalau pun menikah, kau tidak akan pernah aku biarkan tenang, Hani!” teriaknya.
Hani mengumpat pelan. “Pria gila ini benar-benar. Ck, aku harus segera pergi dari sini. Membuat malu saja, berteriak tidak jelas di depan umum seperti ini.” Hani menutupi wajahnya, lalu mempercepat langkah. “Cih, sekarang dia berteriak karena tidak boleh aku menikah? Kemarin masih saja menganggap aku cadangan dan pelarian. Tahu rasa sekarang ‘kan? Cih.”
***
Davita tertawa sinis melihat video kiriman bawahannya. Ia menarik napas pelan, lalu meletakkan ponsel di atas meja. Perlahan wanita itu meraih cangkir di meja, lalu menyesap teh melati dalam cangkir tersebut.
“Senang sekali melihat kalian ribut seperti ini. Haah, padahal baru beberapa bulan setelah kejadian itu, kalian sekarang sudah mulai renggang. Yah, Hani pasti akan lebih memilih Angga Naradipta dari pada si b*****h Gino yang hanya seorang pegawai kantor biasa, cih.” Davita kembali meletakkan cangkir berisi teh tersebut ke atas meja.
“Davita.”
Davita sedikit terkejut, ia menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Kening wanita itu berkerut samar menatap pria tampan yang baru saja menyapanya.
“Kak—Maizal?” tanya Davita sedikit ragu.
Pria itu tersenyum lalu mengangguk. “Ternyata kamu benar Davita. Astaga, kamu makin cantik saja.”
Davita akhirnya ikut tersenyum. “Kakak bisa saja, silahkan duduk, Kak.”
“Terima kasih.” Pria bernama Maizal itu duduk di seberang meja. “Senang bertemu denganmu lagi, setelah beberapa tahun tidak pernah bertatap muka. Terakhir aku melihatmu, waktu pesta kelulusan sekolah. Aku tebak, sepertinya kamu masih menjadi primadona para pria.”
Davita tertawa kecil menanggapi godaan Maizal. Pria di seberang meja itu bernama Maizal—mantan kakak kelasnya di SMA sekaligus sahabat Angga Naradipta.
“Jangan menggodaku begitu, Kak. Kakak pun masih tampan, dan aku juga yakin kalau sampai sekarang banyak wanita mengantri ingin jadi kekasihmu. Apa ... kamu masih saja playboy?” balas Davita balik bercanda.
Maizal tertawa lepas sembari menepuk pahanya sendiri. “Astaga, ternyata kamu masih ingat karakterku yang itu, ya? Aku jadi malu, ha-ha.”
Davita tertawa. “Jadi sekarang sudah tidak playboy memangnya?”
“Masih, sih. Ha-ha-ha!” Maizal kembali tertawa lepas, terlihat begitu puas setelah mengakui dirinya playboy.
Davita menggeleng sembari ikut tertawa kecil.
“Sudah lama tidak bertemu, kamu masih asik saja, Dav. Sayang sekali kamu selalu menolakku dari dulu,” goda Maizal lagi.
Davita kembali tertawa kecil. “Ingat umur, Kak. Sudah matang begini masih ingin main-main apa?” ejeknya.
Maizal terkekeh. “Yah, aku sekarang me—”
“Maizal.”
Percakapan sepasang insan itu disela oleh suara berat seseorang. Mereka berdua menoleh hampir serentak ke arah sumber suara.
Davita terdiam sejenak, lalu ia tersenyum di dalam hati. “Akhirnya targetku muncul juga. Tidak salah aku menggunakan Kak Maizal untuk bisa bertatap muka secara langsung dengannya. Maafkan aku, Kak Maizal, tapi aku harus berhasil menarik perhatian pria tampan ini demi balas dendamku,” batinnya.
“Ah, kau sudah sampai? Ayo duduk.” Maizal melirik kursi kosong, mempersilakan Angga.
Angga tak bersuara, ia melirik Davita yang tersenyum sembari menunduk sopan kepadanya.
“Hallo, Tuan Muda Naradipta,” sapa Davita lembut dan sopan.
Angga tak menanggapi sapaan Davita, ia kembali menatap Maizal dengan ekspresi datarnya. “Aku sibuk, cepat.”
“Makanya ayo duduk,” ajak Maizal.
“Jangan main-main, Maizal,” desis Angga.
Maizal berdecak. “Main-main apa, sih? Kita ke sini untuk membicarakan bisnis, makanya duduk sekarang.”
Angga diam, lalu kembali menatap Davita yang masih tersenyum kepadanya.
Maizal berdecih. “Kau kira perempuan di depanku ini hanya sekadar wanita yang sedang aku goda? Ck, dia ini klien yang akan kita temui sekarang—Davita Zahra, owner D’Fiore yang tiga hari lalu tanda tangan kontrak dengan Naradipta Group,” ungkapnya malas.
Davita tersenyum, lalu berdiri sembari mengulurkan telapak tangan kanannya kepada Angga. “Maaf karena saya tidak langsung memperkenalkan diri, Tuan Muda. Saya Davita Zahra, senang bertemu dengan Anda.”
Angga menatap uluran tangan Davita sejenak, sebelum mereka berjabat tangan. “Angga Naradipta.”