8. Berganti Peran

1028 Kata
“Apa?!” Hani berdiri sembari berteriak karena terlalu terkejut mendengar kalimat kedua orang tuanya. “M-mama bilang apa barusan? Angga Naradipta?” Risna mengangguk sembari tersenyum. “Iya, orang yang sedari dulu selalu kamu ceritakan sama Mama.” “Ceritakan?” tanya Faris—ayah Hani. “Iya, Pa. Hani sering sekali bercerita kalau dia itu suka sekali sama Angga Naradipta. Bahkan Hani pernah berkata ingin mendapatkan pria seperti Angga Naradipta sebagai suami. Makanya Mama terkejut dan senang saat Papa beritahu kalau Hani akan dijodohkan dengan Angga Naradipta. Karena secara tidak langsung, itu sudah menyahut impian putri kita. Iya ‘kan, Sayang? Kamu senang dengan perjodohan ini ‘kan?” ungkap Risna sembari Hani. Hani tersadar, ia langsung mengangguk semangat. “Sangat senang, Ma! Aku bahkan mengira ini mimpi, loh. Demi apa, aku dijodohkan dengan Angga Naradipta, aku sangat senang, Pa! Aku tidak menyangka jika keluarga kita dekat dengan keluarga Naradipta, sampai ada sesi perjodohan ini.” Faris tersenyum lega mendengar itu. “Syukur ‘lah jika memang kamu senang, Papa ikut senang dan lega. Awalnya, jika kamu tidak setuju dengan perjodohan ini, Papa akan mencoba berbicara kepada keluarga Naradipta untuk membatalkannya.” “Jangan, Pa!” tukas Hani cepat, “jangan batalkan, aku sangat setuju. Aku malah sangat senang bisa menjadi istri Angga Naradipta. Itu adalah salah satu mimpiku, Pa! Ya, ampun, demi apa aku akan dinikahkan dengan Angga Naradipta?” “Kamu yakin setuju dengan pernikahan ini?” tanya Faris memastikan. Hani mengangguk cepat. “Sangat yakin, Pa. Aku menerima perjodohan ini, dan aku siap menikah secepatnya.” Faris menghembuskan napas pelan. “Jangan terlalu senang dulu, Nak. Kamu tidak tahu bagaimana karakter Angga. Dia itu pria kejam berhati beku, Papa saja setiap kali bertemu dengannya, seakan sedang menghadapi gunung es—sangat menekan dan membuat kita menggigil.” “Tidak masalah, Pa. Aku sudah tahu tentang karakternya ini, kok. Aku tidak masalah, nanti juga dia akan lunak kepada istrinya.” Hani tersenyum penuh percaya diri. “Sumpah, aku mimpi apa semalam? Sampai dapat kabar ini, aku dijodohkan dengan Angga Naradipta? Idolaku sedari dulu, orang yang selama ini hanya bisa aku lihat dari kejauhan. Heh, aku sungguh diciptakan untuk selalu menjadi primadona, dengan menjadi istri Angga Naradipta, namaku akan semakin melambung,” batin Hani angkuh. “Hani.” Hani terkejut, ia menoleh ketika tersadar dari lamunannya. “Iya, Pa?” “Perjodohan ini ada karena mendiang Kakek kamu berteman baik dengan Tuan Besar Naradipta. Mereka berdua sudah berjanji akan menjodohkan cucu mereka jika berbeda jenis kelamin. Tuan Besar Naradipta ternyata menemani janjinya meski Kakek kamu sudah meninggal. Tapi ... Angga Naradipta tidak menyukai perjodohan ini, dia sempat menolak berkali-kali, sampai akhirnya Tuan Besar Naradipta mengancam tentang saham perusahaan. Intinya, Angga Naradipta bersedia menikahi kamu bukan karena suka atau cinta, melainkan karena dia ingin mendapatkan peralihan saham kakeknya.” Hani mengangguk pelan, pertanda paham apa yang terjadi. “Ternyata mendiang Kakek teman baik Tuan Besar Naradipta. Berarti harusnya keluarga kita itu juga bersahabat, dong, ya? Tapi kenapa selama ini kita seakan tidak kenal, dan hanya sebatas bisnis saja dengan keluarga Naradipta?” “Meski Kakek kamu berteman baik dengan Tuan Besar Naradipta, tetap saja kita punya batasan. Apalagi semenjak Kakek kamu meninggal, kita tidak bisa sok dekat dengan keluarga ternama seperti Naradipta,” terang Faris. “Sudah ‘lah, sekarang kami mau memastikan sama kamu. Kamu yakin masih ingin menikah dengan Angga Naradipta? Dia tidak menyukai kamu, dan menikah hanya karena menginginkan saham. Mama takut, kalau kamu menikah dengannya, nanti berujung sakit hati dan kecewa. Apalagi kamu sangat berharap kepadanya,” tutur Risna diangguki Faris. Hani tersenyum, lalu ia menggeleng pelan. “Aku tidak masalah, Ma, Pa. Kalian tidak usah khawatir, aku yakin setelah menikah pasti akan bahagia dengannya. Aku yakin bisa meluluhkan Angga. Kalau kami setiap hari bertemu, pasti ujung-ujungnya nanti dia akan menyukai dan mencintaiku. Percaya ‘lah padaku, aku menerima perjodohan ini. Aku senang sekali jika bisa menjadi istrinya, Ma, Pa.” Kedua orang tua Hani hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Hani sendiri kini tengah tersenyum pongah. “Kalau aku resmi jadi istri Angga Naradipta, secara tidak langsung aku jadi Nyonya Muda Naradipta. Astaga, itu sungguh mengagumkan. Levelku semakin jauh di atas Davita, cih. Saat nanti aku sudah resmi menikahi Angga, aku akan menyombongkan diri, lihat saja.” Hani membatin angkuh. *** “Dijodohkan dengan Angga Naradipta?” “Betul, Nyonya. Ini semua data dari info yang berhasil saya dapatkan. Silakan Anda cek secara langsung.” Bawahan Davita menyerahkan sebuah map kepada Davita. Davita membaca semua informasi tersebut. Beberapa detik diam dengan wajah tenangnya, perlahan sebelah sudut bibir Davita terangkat membentuk senyum miring. “Tak disangka kau akan dijodohkan dengan Angga Naradipta. Aku ingat betul, dulu kau sangat sering bercerita tentang pria itu, mengatakan begitu mengagumi Angga Naradipta dan ingin mencari pria sepertinya. Entah bisa aku bilang kau beruntung atau tidak.” Davita memiringkan kepala membaca isi map di tangannya. Davita menarik napas dalam, lalu tersenyum tenang. “Sepertinya sekarang aku sudah tahu, apa yang harus aku perbuat untuk membalaskan dendam ini kepadamu Hani,” gumam Davita penuh rencana. “Angga Naradipta, ya? Heem ... mungkin ini akan mudah, tapi aku yakin pasti bisa. Aku akan lakukan apa pun demi bisa membuat kau merasakan sakit itu, Hani. Sakit diselingkuhi, sakit tak dianggap, sakit dikhianati—intinya semua rasa sakit yang aku rasakan akibat permainanmu selama ini harus aku kembalikan kepadamu.” Davita menarik napas dalam, lalu menutup map tadi. Ia kembali menatap bawahannya di seberang meja. “Cari semua informasi tentang Angga Naradipta. Saya tunggu sampai besok, informasinya harus lengkap! Jika memang harus membobol beberapa akun dan membayar lebih tinggi untuk mendapatkan informasi Angga Naradipta, tak masalah. Intinya saya ingin informasinya sudah tersaji besok secara lengkap!” “Baik, Nyonya. Saya akan berusaha!” Davita menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia memainkan pena di jari-jemarinya. Senyum penuh dendam itu kembali terbit di wajah Davita. “Baiklah, Hani ... sepertinya sebentar lagi kita akan berganti peran. Emm, berganti posisi, supaya kamu merasakan bagaimana rasanya berada di posisiku. Supaya kamu merasakan bagaimana sakitnya menjalani peran sebagai korban perselingkuhan. Jika dulu kau merebut Gino dariku, maka sekarang giliranku merebut Angga darimu.” Davita tertawa penuh dendam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN