Pernikahan

2656 Kata
"Ehmm... lo mau minum?" Aidan bertanya canggung kepada Carmila. "Ga usah," jawab Carmila singkat. Aidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung memikirkan cara untuk mencairkan suasana kaku antara dirinya dan Carmila, yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya. Ia tahu saat ini Carmila masih sangat marah, tapi bagaimanapun juga, dirinya sudah berusaha bertanggung jawab. Lewat campur tangan kedua orangtuanya, akhirnya hari itu juga dirinya dan Carmila dinikahkan. Aidan tau Carmila tidak siap dan tidak bisa menolak pernikahan ini. Tiba-tiba saja kedua orangtua Aidan masuk ke kamar perawatan Carmila bersama penghulu, wali hakim dan beberapa saksi. Mas kawin dan segala t***k bengek sudah dipersiapkan oleh Marina. Kalau sudah seperti ini bagaimana Carmila bisa nolak atau lari? Mama Aidan memang kadang suka keterlaluan kalau sudah ada maunya, tapi Aidan tahu bahwa niat mamanya itu baik. Ia sendiri juga heran, kapan Mamanya mempersiapkan semua ini. Sekembalinya dari ruang tante Marisa, ia langsung digeret oleh keempat kawannya masuk ke kamar perawatan Carmila dan disuruh mengganti seragamnya dengan baju yang sudah mereka siapkan. "Lo kenapa sih dari tadi diem aja?" Aidan merasa jengkel dengan kebisuan Carmila. Masih tidak ada tanggapan dari Carmila. "Lo marah sama gue? Ngomong dong!" Aidan menaikkan nada suaranya. "Lo sekarang sudah jadi istri gue. Mau gue apa-apain juga itu hak gue. Sudah sah, sudah halal. Gue paksa pun gak dosa..." Aidan berkata sambil menunjuk pada Carmila. "Ka-kamu, mau a-apa?" Carmila ketakutan. "Mau ngapain? Serah gue. Klo lo mau kita main diem-dieman, fine... gue pake cara lo." Aidan berdiri dari duduknya. Senyum licik tersungging di wajahnya. Ia berjalan mendekati Carmila, membuat gadis itu mengkerut di tempat tidurnya. Sampai di samping tempat tidur Carmila, Aidan tertawa mengejek seraya menundukkan wajahnya di hadapan wajah gadis itu. "Ja-jangan mendekat..." Carmila mendorong d**a Aidan. Tubuhnya bergetar ketakutan membayangkan apa saja yang akan Aidan lakukan padanya. Air matanya pun mengalir deras. "Sayaaang... Mama bawa....." Marina nyelonong masuk ke dalam kamar saat Aidan sudah hampir mencium kening Carmila. "Mama ngapain sih? Ngerusak suasana aja!" Aidan buru-buru menegakkan badannya. "Suasana apa? Mama cuma mau nengokin mantu Mama." Marina berkata cuek sambil berjalan menghampiri menantu kesayangannya. "Astaga...! Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit?" Marina mengusap kepala Carmila dengan penuh sayang. "Ta-tante..." "Husst... gak boleh panggil Tante. Mulai sekarang panggilnya Mama... ngerti?" "Ngerti Ma..." Carmila mengusap air matanya. "Kamu diapain sama Aidan? Bilang sama Mama..." Marina melirik Aidan. Carmila menggelengkan kepalanya pelan. Marina menoleh ke arah sang putra dengan pandangan menyelidik, "kamu apain mantu Mama?" "Belum juga diapa-apain, tadinya cuman mau cium dikit, keburu Mama masuk. Gagal deh." Aidan menjawab cuek. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. "Adaww... apa-apaan sih Ma? Sakit tau!" Aidan berteriak kesakitan saat Marina menjewer telinganya. "Kamu dengar kan omongan Tante Marisa tadi? Carmila gak boleh dibuat stress." "Iyaaa..! duh telinga Aidan bisa copot klo dijewer kayak gini... adaww... Mama! lagian Carmilanya belum diapa-apain juga." "Awas ya, klo kamu berani macem-macem!" ancam Marina. "Macem-macem juga udah halal," gerutu Aidan sambil membaca buku panduan berhubungan suami istri yang diberikan Marisa tadi. Ia kembali teringat percakapannya dengan Tante Marisa tadi. "Aidan...tante sudah mendengar apa yang terjadi antara kamu dan Gadis itu." "Hmm... tante mau ceramah seperti Mama dan Papa juga?" tanya Aidan kurang ajar. "Tentu saja, karena kamu perlu diceramahin!" balas Marisa sewot. "Udah deh Tan, Aidan dah kenyang nih dimarahin." "Tante tidak akan memarahimu, hanya saja ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui, kamu tau kenapa Carmila bisa sampai mengalami pendarahan seperti sekarang?" "Yaelah Tan, mana Aidan tau. Siapa sih dokternya di sini?" "Dengarkan Tante, jangan pernah melakukan sesuatu yang kamu sendiri belum mengetahui ilmunya, termasuk s*x education." "Aidan gak ngerti deh Tan, kenapa omongan Tante jadi kayak gini sih?" "Apa yang kamu perbuat terhadap gadis itu sangat tidak bertanggung jawab Aidan. Kamu sudah memaksa dia berhubungan dalam kondisi dia tidak sadarkan diri. Itu bisa memicu terjadinya pendarahan. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi, Aidan! Jadilah laki-laki sejati!" Marina mengambil sebuah buku dari laci mejanya, "baca dan pelajari dengan baik. Tante pikir mengingat kamu sudah pernah melakukannya dengan cara yang salah, tidak ada salahnya tante berikan ilmu yang benar." *** Hari ini Aidan berangkat sekolah dari rumah sakit. Semalam tidur di rumah sakit menemani Carmila. Sebetulnya ia berniat bolos saja, tapi istrinya itu kekeh memintanya untuk masuk sekolah dengan alasan sudah kelas 3 dan sebentar lagi ujian kelulusan. Alhasil saat ini Aidan sudah rapi memakai seragam sekolah sekolah. Tidak bisa dibilang rapi juga, karena Aidan tidak mau repot-repot memakai dasi sebagai atribut sekolahnya, juga dua kancing kemeja teratas tidak dikancingkan, alasannya gerah. "Lo yakin, gak perlu gue mandiin dulu?" tanya Aidan jail. Ia sukses mendapat pelototan mata dari Carmila. "Kenapa?" "Kamu pikir aku cewek apaan," jawab Carmila jengkel. "Yaelah, gue ni suami lo... biasain kenapa? Tulis tuh di jidat lo!" "Terserah, yang jelas aku gak pernah merasa punya suami, kenal aja enggak!" Carmila jutek. "Serah lo deh, gue berangkat sekolah dulu ya istriku..." pamit Aidan seraya mengusap lembut puncak kepala gadis itu dan menecupnya singkat. Carmila diam terpaku mendapat perlakuan tak terduga dari Aidan. Sejak kemarin memang perhatian-perhatian kecil dari suaminya ini sempat membuatnya terharu. Ini untuk pertama kalinya dia memiliki seseorang selain Henara. Sejak kepergian kedua orangtuanya, ia memang menutup diri dan tak pernah dekat dengan siapapun. Selama ini dirinya berusaha terlalu keras untuk bisa bertahan hidup. Dirinya selalu menepis jauh-jauh perasaan ingin disayangi dan diberi perhatian yang terkadang muncul di dalam dirinya. Namun saat itu, pertahanannya runtuh. Hatinya yang semula beku, perlahan menghangat karena sikap Aidan. *** Setelah beberapa hari dirawat dirumah sakit, akhirnya Carmila diizinkan pulang. Carmila merasa senang sekali. Dia sudah merasa bosan dengan keadaan rumah sakit dan merindukan apartement mungilnya. "Sayang... pulang ke rumah Mama ya? Kamu kan belum sembuh betul." Untuk kesekian kalinya Marina berusaha merayu Carmila agar mau diajak pulang bersamanya. Tapi Carmila selalu beralasan rindu dengan rumahnya. "Eh... lo tau gak klo dah nikah tu kudu ikut apa kata suami?! Klo gue bilang lo musti ikut ke rumah nyokap, ya lo musti nurut!" Aidan berkata cuek hingga mendapat pelototan dari Marina. "Apa Ma? Aidan bener kan?" Marina menghampiri Aidan dan menjewer telinga anaknya itu. "Mama jangan bikin harga diri Aidan jatuh dimata istri Aidan dong," gerutu Aidan. "Hmm... klo gini aja gimana, selama Carmila masih sakit, Carmila tinggal di rumah Mama biar ada yang ngerawat, nanti kalau sudah sehat, baru deh balik ke apartement, ya?" Marina memelas. Sejak dulu memang dirinya ingin sekali memiliki anak perempuan, tapi tak pernah kesampaian. Ia pun sudah langsung jatuh cinta begitu pertama kali lihat Carmila. Gadis yang cantik juga cerdas, cocok sekali dengan Aidan. Carmila tak sampai hati menolak keinginan mama Aidan, jadi meski berat hati terpaksa mengangguk, "Carmila nurut apa kata mama saja." "Nah gitu dong, baru anak Mama." Marina memeluk Carmila. Carmila memejamkan mata meresapi pelukan mama Aidan. Sudah lama sekali ia tak merasakan pelukan seorang ibu. Bahkan ia sudah lupa bagaimana rasanya. Tapi saat ini, dipeluk seperti ini oleh Mama Aidan, membuatnya kembali teringat akan sosok Mamanya. Ia pun menangis. "Lho.. kok malah nangis?" Marina kebingungan. "Mila kangen Mama, Papa..." Carmila terisak. "Sudah, cup..cup.., sekarang kan Mil sudah punya Mama, Papa dan juga Aidan." Marina menghibur Carmila. Ia paham, kehidupan Carmila pastinya tidak mudah sepeninggal kedua orangtuanya. Aidan diam saja mengamati kedua wanita yang saling berpelukan itu. dirinya mulai mengerti bahwa dibalik sikap jutek Carmila, tersimpan seribu luka di dalam hatinya. Ternyata gadis itu tak setegar seperti yang terlihat. Dirinya menjadi semakin merasa bersalah karena telah menambah luka dan penderitaan gadis itu, tapi ia berjanji dalam hati bahwa dirinya akan menjaga dan melindungi istrinya itu dengan kesungguhan hati. *** "Carmila... mau tidur sama Mama?" tanya Marina saat mereka semua berkumpul makan malam. "Honey... jangan membuat menantu baru kita tidak nyaman," Julian menasehati. "Tau nih Mama, Aidan suaminya... yang harusnya ngomong gitu kan Aidan." Plethok!! Aidan lagi-lagi mendapat jitakan dari Marina di kepalanya. "Kamu tuh masih bau kencur. Belum boleh mikir tidur bareng!" Marina mengomeli Aidan. "Bau kencur gimana? Lha napa kemarin Mama nikahin Aidan? Carmila kan sudah sah jadi istri Aidan. Jadi, serah Aidan dong mau ngapain aja... tidur bareng, mandi bareng." "Aidaaan.... stop... Mama gak suka ya kamu ngelawan klo dikasih tau," Marina mulai jengkel. "Aidan bener kan, Pa?" Aidan masih belum mau menyerah danmeminta dukungan sang Papa. "Sudah... sudah... makan dulu." Julian menengahi. Setelah melalui perdebatan sengit antara Marina dan juga Aidan. Akhirnya Julian memutuskan bahwa Carmila akan tidur di kamar kosong di sebelah kamar Aidan. Marina dan Aidan cemberut tak terima dengan keputusan Julian. Tapi karena Julian sudah memutuskan, jadi mau tak mau mereka harus mematuhinya. Marina mengantar Carmila ke kamarnya dan mengucapkan selamat malam sambil mencium kepala Carmila dengan penuh sayang. Ya. Marina sudah menganggap Carmila seperti anaknya sendiri. "Selamat tidur ya sayang, kalau butuh apa-apa, panggil Mama ya?" "Ya, Ma, terima kasih." Sepeninggal Mama Aidan, Carmila hanya duduk diam di pinggir ranjang seraya mengamati kamar yang ia tempati. Terlalu luas dan dingin. Ia merindukan apartementnya, meski tak luas tapi nyaman. "Aaarrrrggghhh...." Carmila berteriak kencang karena lampu di kamarnya mati. Dirinya takut gelap, karena gelap selalu mengingatkan Carmila akan kejadian yang menimpa kedua orangtuanya dulu. Tok! Tok! Tok! "Ada apa?" Carmila mendengar suara Aidan dari luar. Carmila ingin menjawab tapi suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Bayangan kelam itu kembali menghantui pikirannya. Carmila memeluk lututnya sambil menangis memanggil Mama Papanya. "Sstt... ada apa? Tenang..." Aidan tiba-tiba sudah berada di sebelah Carmila dan memeluknya. Suasana kamar menjadi sedikit lebih terang setelah Aidan menyalakan emergency lamp. "Aku takuut..." Carmila terus terisak. "Lo takut gelap?" tanya Aidan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Carmila. "Gue udah cek ke bawah, teknisi bilang ada korsleting, jadi mereka sedang membetulkannya..." Aidan menjelaskan. "Tidaakkk... mereka tidak boleh melakukannya... jangan... jangan lagi.." Carmila menjadi histeris setelah mendengar penjelasan Aidan. "Tak apa, mereka sudah ahlinya." "Tidaaakkk... jangaaann..." Carmila meracau sambil menutup kedua telinganya dengan tangan. Kilasan kejadian itu terus berputar di kepalanya, teriakan Mamanya yang panik, teriakan Papanya yang kesakitan, semua merasuki pikirannya. Tubuh yang menyala dan kemudian tak bergerak lagi setelahnya. "Tenanglah... ada apa?" Aidan kebingungan. Carmila menggelengkan kepalanya berulang kali, tubuhnya gemetar dan keringat dingin membanjiri wajah dan telapak tangannya. Saat itu apa yang dilakukannya? Hanya bersembunyi di bawah meja tanpa bisa menolong mereka. "Jangaaann... hentikan merekaaa... mereka bisa mati.." Carmila berkata dengan suara yang melengking takut. "Ada apa sebenarnya... " Aidan sendiri mulai ketakutan melaihat tingkah aneh Carmila. Carmila bangkit dari ranjang dan mulai berjalan tak tentu arah mengitari kamar, seperti orang panik sambil meracau tak jelas. Ditengah kebingungan Aidan dan kepanikan Carmila, lampu menyala. Carmila berhenti berjalan dan mematung di tempatnya, dia tolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan bingung bercampur takut sebelum akhirnya matanya terpejam dan tubuhnya meluruh ke lantai. *** "Sejak kapan Mama dan Papa tau?" Aidan terhenyak mengetahui satu lagi fakta menenai Carmila. Beberapa tahun lalu orangtua Carmila meninggal secara bersamaan. Penjelasan Mama dan Papanya membuat Aidan mengerti mengapa saat mati lampu tadi Carmila bertingkah Aneh. Rupanya Carmila memiliki trauma mendalam ketika mati lampu, saat dimana dia harus kehilangan kedua orangtuanya. Ayahnya sedang berusaha membetulkan jaringan listrik di rumahnya, saat terjadi korsleting listrik. Mama Carmila mendengar teriakan sang suami dan segera berlari menghampiri. Ternyata sang suami tersengat arus listrik yang sedang dibetulkannya. Mama Carmila tanpa perlindungan, menarik tangan Papa Carmila dan ikut tersengat. Mereka berdua meninggal seketika di hadapan Carmila. "Kami sudah menyelidiki asal usul Carmila begitu mengetahui bahwa dialah gadis yang kamu tiduri malam itu." Julian menjelaskan. "Mengapa Papa tidak memberi tahu Aidan masalah sepenting ini?" "Kami pikir kamu tidak perlu tahu," jawab Marina. "Apapun yang menyangkut istri Aidan, Aidan harus tau! Apa Mama dan Papa pikir Aidan menikahi Carmila hanya karena terpaksa? Aidan gak sepengecut itu!" "Maafkan kami Aidan, yang penting sekarang kamu sudah tau yang sebenarnya..." "Aidan bahkan sudah memikirkan masa depan kami, bagaimana Aidan setelah lulus SMA harus mulai bisa bekerja dan kuliah untuk bisa menafkahi Carmila dengan jerih payah Aidan sendiri," kata Aidan lirih. "Papa tau, kamu pasti akan bertanggung jawab sepenuh hati... kami bangga memiliki putra seperti kamu," ujar Julian, dirinya sendiri sesungguhnya tak menyangka bahwa Aidan yang biasanya urakan dan susah diatur ternyata bisa berpikir dewasa. "Aidan ke kamar dulu, mulai sekarang biarkan Carmila ti dur dikamar Aidan. Aidan janji tak akan berbuat apapun, Aidan hanya ingin memastikan Carmila baik-baik saja." Aidan berlalu meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terpaku tak percaya dengan sikap anaknya yang telah menunjukan kedewasaan diri dan bergegas kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin meninggalkan Carmila terlalu lama. Khawatir istrinya itu kembali histeris dan ketakutan. Setelah pingsan tadi, Aidan bersikeras memindahkan Carmila ke kamarnya. Aidan mengamati wajah istrinya yang telah tertidur lelap. Saat tidur, Carmila terlihat begitu tenang dan rileks, seperti tak pernah ada beban hidup yang menderanya. "Aku janji bakal bikin kamu bahagia, tunggu dan percayalah padaku," bisik Aidan. Ya, Aidan bertekad untuk mengganti semua masa depan yang telah dia rampas dari Carmila dan menggantinya dengan sejuta kebahagiaan. *** "Aidan... bangun!" Marina menarik tangan dan kaki Aidan yang menindih tubuh Carmila dan menjadikannya sebagai guling. "Apaan sih?" gerutu Aidan tanpa membuka mata. Ia mempererat pelukannya pada guling yang terasa nyaman dan pas sekali. Dirinya tak menyadari bahwa yang dikiranya guling itu ternyata adalah Carmila. "Aidaan! Carmila bisa penyet kalau kamu tindih begitu!" omel Marina yang sama sekali tak dihiraukan Aidan. Carmila sendiri juga tak menyadari bahwa saat ini dirinya tengah dijadikan guling. Dia sendiri malah semakin menenggelamkan wajahnya di ketiak Aidan. Sudah lama dirinya tak pernah tidur senyaman ini. Marina mengambil air dalam gelas di atas nakas lalu menyiram wajah Aidan. "Banguun!!" Bukan hanya Aidan yang terkejut dan bangun. Carmila pun ikut membuka mata. Untuk sesaat dirinya bingung, sedang berada dimana. Namun, ketika akhirnya pandangan dan pikirannya mulai fokus, ia hanya bisa mendesah malu menyadari saat ini dirinya tidur dalam dekapan Aidan. Bahkan merasa nyaman sekali dengan ketiak Aidan. "Tuh kan, Carmila jadi ikutan bangun... sayang... kamu tidur lagi saja, nanti biar sarapannya Mama antar ke sini" Marina berubah lembut jika berbicara dengan Carmila. Carmila terkejut mendengar suara Mama Aidan. Ia menarik diri dari dekapan Aidan kemudian duduk di tepi ranjang. "Gapapa Ma, Mil sudah bangun kok." Carmila langsung berlari ke kamar mandi di kamar Aidan. Malu setenga mati. Carmila sendiri juga bingung bagaimana bisa dirinya berada di kamar Aidan dan tidur seranjang dengan Aidan. Dasar Aidan, kenapa selalu menempatkannya pada kesulitan yang memalukan. Carmila buru-buru menyelesaikan mandinya. Karena di sana cuma tersedia peralatan mandi milik Aidan, terpaksa ia memakainya. Untungnya ada persediaan sikat gigi baru, jadi Carmila tak perlu memakai sikat gigi Aidan juga. "Astaga...!" Carmila menepuk jidatnya karena baru mengingat sesuatu. Dirinya tak membawa baju ganti. Ia juga tidak menemukan kimono mandi di sana. Sementara baju yang tadi dipakainya sudah terlanjur basah dan masuk ke keranjang cucian kotor. Bagaimana ini? "Masih lama gak? Buruan, udah gak tahan nih..." Itu suara Aidan, bagaimana ini? Carmila membuka pintu kamar mandi sedikit saja dan mengintip ke luar. Aidan sudah nunggu di depan kamar mandi sambil berjalan mondar mandir di sana. Dirinya terkejut saat Aidan menghentikan langkah dan menatap ke arah celah pintu yang terbuka. Carmila gelagapan saat ketahuan mengintip dan buru-buru menutup pintu kamar mandi. Tapi gerakan Aidan lebih cepat, dia menahan pintu agar tidak tertutup. "Buruan keluar, dah kebelet nih." "Eh.. anu.. itu... aku.. lupa bawa baju ganti," jawab Carmila malu, "bisa tolong ambilin?" "Haish... ngerepotin aja, tunggu bentar." Tak sampai 5 menit Aidan kembali mengetuk pintu kamar mandi dan menyerahkan baju ganti untuk Carmila. "Pakai itu dulu, klo gak mau telanjang aja sini." "Eh? Iya makasih." Carmila kembali masuk ke kamar mandi dan melihat pakaian yang dibawa Aidan. Kaos polos warna putih milik Aidan, celana pendek Aidan dan benda terakhir itu sukses membuat Carmila shock. Ya ampuunn, boxer milik Aidan? "Buruaaannnnn....!" Aidan sudah kembali menggedor kamar mandi. Sebetulnya Aidan bisa memakai toilet di luar kamar. Tapi memang ia sengaja ingin menggoda Carmila. Ia juga sengaja mengambilkan istrinya itu baju miliknya. "Hahahahah...." Aidan tertawa puas membayangkan ekspresi Carmila. Pasti gadis itu akan terlihat lucu memakai bajunya. Tak memiliki pilihan lain, akhirnya Carmila memakai saja semua pakaian milik Aidan meski kebesaran semua. Ia menatap dirinya di cermin. Aneh rasanya memakai kaos oblong tanpa memakai bra. Tapi mau minta tolong diambilin bra juga malu. Carmila merutuki kebodohannya sendiri, kenapa bisa baju yang tadi dipakainya langsung dimasukkan begitu saja ke dalam keranjang cucian kotor. Carmila membuka pintu kamar mandi karena Aidan terus saja menggedor dan memintanya untuk segera keluar. Ia keluar seraya menundukkan wajahnya, malu. "Sudah." Aidan diam terpana saat melihat Carmila. Tidak seperti bayangannya, bahwa istrinya itu akan nampak lucu dan konyol memakai baju kebesaran, tapi justru sebaliknya, dia terlihat sexy dan cantik sekali. Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Tiba-tiba saja jantung Aidan tak bisa lagi bekerja secara normal. Dirinya teringat kejadian malam pertamanya bersama Carmila. Pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan dengan mudah. Ia ingat bagaimana rasanya dan ingin merasakan sensasi itu lagi. Tatapan Aidan hanya terfokus pada gadis di hadapannya ini. Aidan berjalan maju, mendekat perlahan membuat Carmila terbelalak. Carmila berjalan mundur menjauhi Aidan sampai punggungnya menyentuh dinding. Aidan menurunkan wajahnya,dekat dan semakin dekat dengan wajah Carmila. "Aku mau minta hakku sebagai suami..." bisik Aidan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN