Tinggal Bersama

2880 Kata
Akhirnya Carmila bisa kembali ke apartement mungilnya setelah bernegosiasi dengan mama mertuanya. Mama Aidan mengijinkan Carmila untuk tinggal kembali di rumahnya meski dengan banyak syarat yang mau tak mau harus Carmila setujui. 1. Carmila tidak boleh lagi bekerja. Semua biaya sekolah dan kebutuhan Carmila mulai saat ini menjadi tanggung jawab Aidan sebagai suaminya. 2. Carmila tidak boleh tinggal sendiri. Tinggal bersama Aidan atau mereka tetap tinggal di rumah Marina. 3. Setiap hari sabtu Carmila dan Aidan wajib pulang ke rumah orangtua Aidan dan menginap di sana. 4. Berangkat dan pulang sekolah Carmila wajib bersama Aidan. Jika ada keperluan harus meminta ijin Aidan terlehih dulu. 5. Carmila wajib nurut dan patuh pada Aidan. Kecuali untuk hal yang dianggap kurang baik. Carmila meng-iyakan saja semua syarat dari mama mertuanya. Ia tahu bahwa mama mertua sangat tulus menyayangi dirinya dan semua syarat yang diajukan juga demi kebaikan dirinya sendiri. Hanya saja Carmila masih merasa trauma jika harus tinggal bersama dengan Aidan. Meski cowok sudah berjanji kepada mama papanya untuk tidak berbuat hal m***m terhadap dirinya, tapi tetap saja Carmila merasa was was. "Mil bantu apa Ma?" tanya Carmila pada Mama mertuanya yang saat ini tengah sibuk di dapur apartement mungilnya. Mama mertuanya itu memaksa untuk mengantar kembali ke apartemet dan menyiapkan segala sesuatu yang mungkin Carmila dan Aidan butuhkan. Beliau membawa beberapa masakan yang dapat disimpan di freezer dan tinggal menghangatkan jika ingin dimakan. "sudah hampir selesai," Marina menoleh seraya tersenyum ceria. "oya, sayang... kalau kulkasnya Mama ganti dengan yang sedikit lebih besar gimana?" "Memang yang ini kenapa, Ma?" "Ya gapapa, hanya saja banyak barang yang tidak muat jadinya." "Hehe... Mama, rumahnya kecil gini, gapapa itu saja cukup," tolak Carmila halus. "Ya sudah, yang ini Mama simpan di rak atas saja, nanti kalau isi kulkas sudah berkurang, kamu bisa kan pindahin ke sini?" "Iya Mama, Mil bantuin ya..? " "Ssstt sudah biar Mama saja, itu tuh kamu bantu Aidan merapikan pakaiannya di almari." "Ya Ma," jawab Carmila dengan berat hati. Ia pun menghampiri Aidan yang masih bergelut dengan setumpuk baju yang harus ditata dalam almari. "Say... bantuin napa, lo tau gue gak bisa urusan kek begini." Aidan memasang tampang memelas sambil mengobrak-abrik pakaiannya. "Ya makanya belajar," jawab Carmila cuek sambil asyik membaca buku. "Say... lo kan istri gue, tega bener sama suami sendiri." Carmila menghela nafas kemudian duduk di samping Aidan dan mulai melipat baju-baju yang sejak tadi hanya di umel-umel saja. "Aku yang lipat, kamu yang masukin ke almari." "Ok say, lo emang istri gue yang paling baik deh..." "Aidan! Sudah berapa kali Mama bilang jangan lo-gue sama istri sendiri!" teriak Marina dari dapur. "Sory Ma.. lupa," jawab Aidan seraya tersenyum ke arah Carmila. Carmila diam saja tak menjawab atau membalas senyum Aidan. Sebagian dari dirinya masih merasa belum bisa menerima kehadiran Aidan dalam kehidupannya, dan sebagian lagi dirinya merasa bersyukur karena bisa diterima baik oleh keluarga Aidan. Tok! Tok! Tok! Saat mereka tengah larut dalam kesibukan masing-masing terdengar ketukan di pintu. Carmila hendak bangkit dan membukakan pintu. "Mama aja yang buka," ujar Marina berjalan ke arah pintu. "Papa bawakan pizza, sekalian jemput Mama." Julian masuk sambil menenteng 2 dus pizza berukuran large. "Emang Papa mau ikut makan di sini?" Aidan bertanya dengan nada keberatan. "Gak sopan!" tegur Carmila seraya mencubit pinggang Aidan. Carmila bangkit berdiri kemudian menyalami Julian dan mencium punggung tangan Papa Aidan itu. "Maaf Pa, rumahnya kecil." Carmila menunduk malu. "Gapapa sayang, rumahnya nyaman kok." Julian tersenyum dan mengusap rambut Carmila. Mereka berempat duduk berhimpitan di lantai, menikmati pizza ditemani lemon tea buatan Marina. "Sayang, kalau Aidan nanti makannya rewel, gak usah kamu siapin makan, suruh masak sendiri saja," Marina menasehati Carmila sambil melirik putranya yang makan pizza dengan rakus itu. "Mama apaan sih, jangan ajarin istri Aidan durhaka sama suami." Aidan protes dengan mulut penuh pizza. "Siapa yang ngajarin durhaka? Kalau suami gak bisa dewasa, masak iya istri harus nurut?" balas Marina. "Sebenarnya anak Mama nih Aidan apa Mil sih?" Aidan tak terima dengan sikap Mamanya yang selalu lebih membela Carmila. Julian dan Carmila saling pandang kemudian tersenyum melihat kelakuan Marina dan Aidan. Mereka berdua memang selalu seperti itu, adu mulut tiap ada kesempatan. Selesai makan, Carmila membantu Marina merapikan peralatan dan sisa makanan. Setelah itu Marina dan Julian pamit pulang karena sudah larut. Aidan dan Carmila mengantar mereka sampai di mobil. "Awas ya kalau macam-macam sama mantu Mama!" Marina sekali lagi memperingatkan Aidan. "Iya...iya... kalau Carmila yang macem-macemin Aidan, Mama ikhlas kan?" jawab Aidan sekenanya. Plethok! Aidan mendapat jitakan di kepalanya dari Marina. *** "Lo... sory maksud gue... kamu tidur di sebelah mana?" "Maksud kamu apa?" Carmila balik tanya. "Ya, lo ehh.. kamu tidur sebelah pinggir apa dekat dinding?" "Eh? Bukannya kamu tidur di bawah ya?" tanya Carmila bingung. "What? Apa lo bilang? Sory, kamu bilang gue tidur di bawah... di lantai gitu maksudnya?" "I-iya, dimana lagi? Di sini cuma ada satu tempat tidur, itupun kecil. Klo dipake berdua gak cukup." "Are you Crazy? Lo gak ngerasa apa udara lagi dingin gini? Dan lo nyuruh gue tidur di lantai?" "Ya udah aku aja yang tidur di bawah." Carmila memilih mengalah daripada terus berdebat gak ada ujungnya. Ia mengambil bantal dan menggelar selimut di lantai untuk dijadikan alas tidur. "Gak...! Lo mau gue dibunuh sama nyokap?" "Trus mau kamu gimana?" "Kita tidur berdua di atas, gue janji gak akan ngapa-ngapain lo kok. Jangan kepedean deh." "Siapa yang kepedean, kamu yang selalu pakai cara licik," jawab Carmila sengit. Aidan diam dan menatap tajam Carmila. Seumur-umur baru kali ini ada yang berani membantah perkataannya. Biasanya dirinya tidak akan pernah memaafkan siapapun yang sudah berani membantah keputusannya, sekalipun itu adalah sahabat-sahabatnya sendiri. Tapi apa sekarang, seorang gadis yang baru saja menjadi istrinya sudah berani bersikap kurang ajar padanya. Aidan memejamkan matanya sesaat seraya mengatur napas untuk menetralkan emosinya. "Sudah malam, tidur saja di atas, aku mau keluar dulu cari angin," ujar Aidan kemudian pergi dan membanting pintu depan. "Hah! Seenaknya sendiri," omel Carmila. Biar saja pergi, siapa yang suruh ikut tinggal di sini? Tak mau memusingkan lagi soal Aidan, Carmila naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Lelah dan mengantuk yang isa rasakan membuatnya terlelap dalam waktu tak sampai 5 menit. Tidurnya kali ini nyenyak sekali. Carmila melihat pohon Apel di depannya berbuah lebat, sungguh menggiurkan. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan melihat situasi. Sepi. Ia pun memanjat pohon di dahan terendah dan memetik buah yang terlihat paling besar. Dengan susah payah Carmila berhasil memetik buah apel itu. Ia mencium aroma buah apel itu sebelum menggigitnya. Harum, membuat Carmila semakin tidak sabar ingin segera mencicipinya. Kraauukk! Carmila menggigit buah apel itu. Namun ada yang aneh, seberapa keras ia menggigit apel itu, tapi tak bisa. Kenyal. Ia mencobanya sekali lagi dengan menggigit apel itu ebih keras dan menarik gigitannya. "Wadauuuww...auw...auw!!!" Eh? Apel bisa berteriak ketika dimakan? Tapi suara teriakan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Carmila pun membuka mata dan membelalak terkejut saat menyadari bahwa yang ia kira apel ternyata adalah pergelangan tangan Aidan. Buru-buru ia melepaskan tangan Aidan dari gigitannya. "Hahh huuh...hah.. huh.." Aidan meniupi bekas gigitan Carmila sambil sesekali meringis kesakitan. "Kamu kenapa?" tanya Carmila dengan menampilkan wajah tak bersalah, padahal dalam hati dia mengumpati dirinya sendiri yang bisa-bisanya dengan ceroboh mengira bahwa tangan Aidan adalah buah apel. "Masih tanya lagi, lo gak liat ini!?" Aidan menjawab jengkel. "Maaf." "Klo sampai tangan gue infeksi, lo tanggung jawab ya?" "Kamu pikir aku rabies?" Carmila tak terima. "Salah... ngelawan, liat nih tangan gue jadi biru." Carmila tersenyum kecut melihat pergelangan tangan Aidan yang memang terlihat mulai membiru. "Iya maaf, ehh.. aku buatin sarapan yang enak buat permintaan maaf, mau?" "Lihat dulu seberapa enak sarapannya, baru gue maafin," jawab Aidan sambil ngeloyor ke dapur untuk mengambil es batu. *** "Aku turun di sini saja, please...!" Carmila memohon pada Aidan agar dirinya diturunkan di belokan jalan samping sekolahnya saja. Ia hanya tidak ingin mengundang perhatian banyak orang dengan berangkat ke sekolah bersama Aidan, cowok most wanted di sekolahnya. Carmila juga tak ingin ada yang tahu mengenai status pernikahannya dengan Aidan. "Please, aku turun sini saja..." Carmila kembali memohon, tapi tetap sama Aidan tak menjawab ataupun menuruti permintaan istrinya itu. Aidan memarkirkan mobil sportnya yang tegolong mewah di deretan parkiran VIP. Parkiran khusus para donatur sekolah. "Udah sampai, lo gak turun?" Carmila celingak celingak melihat suasana di sekitar parkiran, hanya ada beberapa siswa yang sedang berjalan melewati parkiran VIP itu menuju lobi sekolah. Ia menunggu sampai mereka berlalu dan menghilang dari pandangan sebelum kemudian buru-buru keluar dan membanting pintu mobil Aidan. Aidan tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu, apalagi saat ini gadis itu tengah berjalan sambil celingak celingak seraya menutup wajah dengan sebelah tangan. Ia masih terkekeh geli akibat ulah istrinya itu, sampai tak menyadari ada yang mengetuk kaca jendela mobilnya. "Ngapain lo, senyum-senyum gak jelas sendirian?" Ternyata Azka yang juga baru datang dan memarkir mobilnya. "Gapapa," jawab Aidan sambil tersenyum simpul. Selama perjalanan menuju kelasnya, Aidan masih senyum-senyum sendiri mengingat kelakuan Carmila yang menurutnya sangat lucu itu. "Dan, udahan senyumnya, lo gak liat murid-murid cewek pada histeris liat senyum lo itu?!" "Apa?" tanya Aidan tak menyimak sebagian ucapan Azka, pikirannya masih melayang kepada istri lucunya. Memikirkan kata istri membuat Aidan kembali mengulum senyum, membuat beberapa siswi yang melihatnya klepek-klepek. "Kenapa dia?" Bian yang baru saja bergabung, bertanya heran. "Woi, sadar... lo udah bikin cewek-cewek itu pingsan karena gak nahan sama senyum lo yang mahal itu." Bian menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Aidan. "Apaan sih Bi!" protes Aidan. "Sarap lo ya?" "Tau nih, sejak tadi di dalam mobil gue lihat dia senyum sendiri, kerasukan kali." Aidan mengabaikan ucapan kedua sahabatnya itu dan mempercepat langkahnya. Sampai di kelas Aidan langsung duduk di bangkunya dan menghempaskan tasnya di meja. Masih seperti sebelumnya, pikirannya masih tertuju kepada istrinya dan senyumnya pun masih mengembang lebar membuat kedua sahabatnya makin heran. "Pagi broo..." Tristan yang baru datang pun dibuat heran dengan tingkah Aidan. "Lo kenapa Dan?" "Kesambet dia...," jawab Azka. "Hah!? Serius lo Ka? Kesambet dimana?" Tristan menganggapi serius ucapan Azka dan menatap Aidan ngeri. Damian yang baru saja mendudukan diri di sebelah Aidan, melirik sahabatnya itu juga heran. Ia mengernyitkan dahi bingung lalu melihat ke arah ketiga sahabatnya yang lain. Mereka semua mengedikkan bahu. "Kalian kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" setelah memikirkan banyak cara untuk mengerjai istrinya, Aidan terlihat sudah mulai fokus. Ia menegakan duduknya kembali dan memasang wajah sangarnya seperti biasa. "Hehehe... sudah sadar lo." tanya Bian. "Kayaknya ada yang lagi kasmaran nih," ledek Damian. Diantara mereka berlima memang Damian yang terkenal paling playboy dan suka bergonta-ganti pacar. "Lo gomong apaan sih?" jawab Aidan cuek. "Lo lupa? Lo punya hutang cerita sama kita berempat? tuntut Damian. "Oke, gue bakal ceritaih semua tapi gak di sini guys." Akhirnya mereka bolos pelajaran pertama dan berkumpul di markas mereka, yang merupakan gudang di belakang sekolah. Di sana Aidan menceritakan semuanya sejak malam kejadian di malam pesta sampai kepindahannya ke rumah Carmila. "Wkwkwk... kena batunya lo ya?" "Gak nahan nih ceritanya?" "Lo main kasar kali sampai dianya musti dirawat gitu?" "Makanya belajar dulu sama ahlinya, jangan sembarangan." "Hahaha... gimana rasanya, enak gak?" "Pasti nagih kan? Pingin lagi kan? Tapi sudah halal sih enak, mau tiap hari juga gak masalah." "Eh beneran lo Dan? Tiap hari begituan?" "Busyet dah, kayaknya diantara kita berlima lo deh yang paling anty cewek, kenapa malah yang merid duluan?" "Curang lo Dan, enak gak ngajak-ngajak" Aidan diam saja mendapat bully-an dari keempat sahabatnya itu. Aidan sedang berbunga-bunga makanya diam saja waktu dibully, padahal biasanya mereka berempat pasti kena jitakan Aidan. "Hmm... sory nih Dan, gue mau tanya serius... please guys diem dulu, Lo nikahin gadis itu karena terpaksa atau kemauan Lo sendiri? Bukan maksud ikut campur sih, tapi namanya pernikahan kan gak bisa dibuat main-main kayak kita pacaran," Damian bertanya serius. "Hmm... awalnya gue terpaksa karena ketahuan nyokap bokap, tapi pas dijalani semua enjoy saja," jelas Aidan. "Lo cinta gak sama dia?" Bian ikut bertanya "Cinta? Gue gak tau cinta itu kayak gimana, lo semua kan tau gue gak pernah pacaran" "Semoga langgeng bro," ucap Azka yang sedari tadi terlihat lebih pendiam dibanding biasanya. "Gue lihat dia gadis baik-baik, jadi gue sih setuju aja lo nikah ma dia... moga bisa sehidup semati..." Tristan berucap tulus. "Thank's , tapi tolong kalian rahasiain soal pernikahan gue ma Carmila." "Tenang aja, lo bisa percaya kita" *** Krriiiiingg..!! Bel tanda istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan keluar kelas. Seperti biasanya Carmila dan Henara tetap di kelas dan saling bertukar bekal yang mereka bawa. Sejak pagi, Henara sudah memberondong Carmila dengan berbagai pertanyaan mengenai Aidan, apa hubungan Carmila dengan kakak kelas mereka itu, kenapa Aidan bisa ada di rumah Carmila dan bagaimana bisa Aidan yang mengantar Carmila ke rumah sakit? "Jadi sekarang kamu mulai main rahasia nih sama aku?" "Bukan gitu Ra, aku pasti bakal ceritain semua, tapi sekarang belum saatnya... please..." Carmila memohon pengertian Henara. "Ok, aku tunggu ceritanya sampai kamu siap." Mereka berdua sedang seru ngobrol dan bercanda ketika mendengar suara teriakan dan jeritan histeris terdengar dari luar kelas mereka. Carmila dan Henara mengabaikan mereka yang memang selalu terbiasa lebay jika ada sesuatu yang sebenarnya biasa saja menurut mereka. Carmila tersentak saat mendengar jeritan salah satu cewek di luar sana. "Kyaaaa... Aidan, senyum dikit dong..." "Aidaann..." Carmila gelagapan panik. Aidan? Ngapain cowok itu ke sini? "Ra, klo ada yang cari, bilang aku gak ada... please." Carmila kemudian menghilang di bawah meja. Belum sempat Henara bertanya kenapa, Aidan dan kawan-kawan sudah muncul dan berjalan angkuh memasuki kelas dan langsung mengarah ke tempat Henara yang saat ini tengah duduk sendiri. "Lo teman Carmila yang waktu itu datang ke rumahnya kan?" tanya Aidan. "Eh.. i-iya kak..," jawab Henara gugup. "Carmilanya mana?" tanya Aidan pura-pura, padahal dirinya sudah bisa melihat punggung Carmila yang tengah meringkuk di bawah meja. "Eh... itu... kantin... iya, dia ke kantin," jawab Henara yang terlihat tidak meyakinkan. Aidan tersenyum simpul. Ia mengeluarkan uang seratus ribuan 5 lembar dari kantong kemejanya. "Bi, lo antar dia ke kantin...cari Carmila, sekalian bayarin semua." "Sip bro," jawab Bian sambil mengantongi uang pemberian kemudian menyeret Henara. "Ehh? Mil... tolongin... Carmila!" Henara diseret paksa oleh Bian ke luar kelas. Mengetahui temannya dalam kesulitan, Carmila keluar dari tempat persembunyiannya. "Nara...!" Aidan terkikik geli melihat ekspresi panik Carmila. "Katanya ke kantin?" Carmila menoleh ke arah Aidan sambil memberengut. "Kamu ngapain sih ke sini? Bikin malu tau gak?" sungut Carmila. "Malu? Gue bikin lo malu?"Aidan shock. "Iya, kenapa? Aku malu sama yang lain, kalau sampai mereka berpikir aku ada hubungan sama kamu!" Carmila berkata kesal. Azka, Tristan dan Damian saling melempar pandang kemudian tertawa ditahan. Baru kali ini mereka mendengar ada cewek yang tak ingin berdekatan dengan Aidan dan menganggap Aidan memalukan. Rupanya gadis itu tak tahu, banyak cewek yang antri untuk bisa sekedar berpapasan dengan Aidan. Sedang Aidan sendiri terlihat meneliti penampilannya dari atas ke bawah, menurutnya tak ada yang memalukan. "Apanya yang bikin malu?" Aidan bertanya bingung, semakin membuat ketiga sahabatnya terkikik tak bersuara. Tontonan langka melihat Aidan mati gaya seperti sekarang ini. "Semua!" bentak Carmila. Dirinya sama sekali tak sadar bahwa saat ini mereka sudah menjadi bahan totonan. Mereka penasaran ada apa gerangan sampai-sampai Aidan mendatangi seorang Carmila? Apa Carmila sudah berani mencari masalah dengan Aidan? Mereka yang berkerumun setengah mengharap akan ada tontonan live saat Aidan menampar Carmila atau menghina gadis itu. "Emang gak boleh ya klo gue datang ke kelas lo?" Aidan bertanya masih terlihat bingung mengapa Carmila harus malu berhubungan dengannya. "Ya enggaklah..." jawab Carmila cepat, dirinya tentu saja tak mau terlihat dekat dengan Aidan. Carmila tau fans Aidan sangat banyak dan mengerikan. "Memangnya kenapa? Gue kan sua..." Aidan belum menyelesaikan ucapannya, tapi langsung Carmila membekap mulutnya dan menariknya ke luar kelas. Aidan menurut saja ditarik-tarik oleh istrinya itu. Mereka menerobos kerumuman di depan kelas yang heran dan tak percaya karena menyaksikan sang raja rimba ternyata kalah oleh seekor hamster. Carmila menyeret Aidan ke taman di belakang sekolah, mencari tempat yang sepi dan tidak ada satupun yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Azka, Tristan dan Damian tentu saja mengikuti kemana mereka berdua pergi. Setelah sampai di belakang sekolah, Carmila menurunkan tangannya yang sejak tadi membekap Aidan. "Jangan pernah datang ke kelas lagi, please..." Carmila memohon. "Gak, jelasin dulu alasannya kenapa? Atau jangan-jangan lo punya pacar ya di kelas lo?" "Enggak... bukan gitu." "Gebetan?" "Enggak... " Carmila menggeleng. "Iya trus kenapa? Klo alasan lo gak logis, gue gak akan ikutin mau lo," balas Aidan keras kepala. Carmila diam. Sebetulnya banyak asalan, tapi Carmila yakin Aidan pasti akan menyangkal dan membantahnya. "Ya udah klo lo gak bisa jawab, ntar pulang sekolah gue samperin ke kelas lo!" kata Aidan dengan nada tegas dan tak bisa dibantah. "Please, aku bisa jalan sendiri ke tempat parkir." Carmila memohon dengan tatapan memelas. "Pokoknya gue samperin ke kelas lo, tunggu gue!" Aidan meninggalkan Carmila diikuti ketiga temannya. "Dasar cowok egois, tukang paksa!" teriak Carmila sambil menghentak-hentakan kakinya di tanah. Aidan berhenti berjalan dan berbalik kembali menghampiri istrinya. "Ada yang ketinggalan," katanya seraya menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Carmila singkat. "sudah punya suami, jangan jelalatan di kelas," bisik Aidan yang sukses membua Carmila mendelik. Aidan meninggalkan Carmila sambil tertawa terbahak. Setelah agak jauh Aidan kembali menoleh ke arah sang istri yang masih terliat kaku di tempatnya seraya melihat ke arahnya dengan tatapan membunuh. Semakin terlihat lucu menurut Aidan. Ia mengangkat telapak tangannya dan menempelkan di bibirnya kemudian meniupkan sebuah ciuman ke arah Carmila yang sukses membuat pelototan istrinya itu semakin lebar dan terlihat semakin geram padanya. "Gue lihat lo jatuh cinta sama dia," komentar Damian. Aidan menghentikan tawanya kemudian menatap Damian tajam. "Jangan ngaco, gue cuma seneng aja godain dia." "Gue juga yakin seratus persen klo lo cinta sama dia..." Azka mendukung pendapat Damian. "Jangan bikin mood gue hancur!" "Woles bro,santai aja kali... klo gak cinta juga gapapa, kan cuma perkiraan kita aja." Tristan menengahi. "Hmmm... kayaknya gue tertarik sama dia, serius... gue ngerasa deg-degan waktu liat senyumnya," ucap Damian dengan pandangan menerawang ke atas. "b******k!!" Aidan berhenti berjalan dan menyerang Damian. Ia menghimpit tubuh Damian ke dinding dan mencengkeram kerah baju sahabatnya itu. "Kenapa lo marah?" Damian merasa tak bersalah. "Berani lo deketin dia, lo berhadapan sama gue!" Aidan memberi peringatan. Napasnya memburu menahan marah, "gue gak peduli lo sahabat gue, jangan pernah sekali saja lo gangguin istri gue!!" "Buaahhaahahahahaha...." Damian, Tristan dan Azka tertawa ngakak bersama membuat Aidan kebingungan. "Becanda keles..." ucap Damian "Wkwkwkk... gak cinta tapi cemburu buta..." "Ingin kubunuh pacarmu...wkwkwkk..." "Aku cemburu...hahahaha....!!!" Begitulah, Aidan menjadi bahan olok-olok sahabatnya. Benarkah dia sudah jatuh cinta pada Carmila? Cemburu? Haha! Yang benar saja? Mana mungkin seorang Aidan cemburu? Bukankah cemburu hanya untuk mereka yang merasa kurang dan tidak percaya diri? Sedangkan Aidan? Dia merasa dirinya sempurna, jadi tanpa bersaing pun dia akan selalu yang utama dan diperebutkan. Benarkah?? *** $H
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN