Jeolous

2473 Kata
Kriiing! Bel pertanda berakhirnya jam pelajaran sudah berbunyi. Aidan langsung mnyampirkan tasnya ke pundak dan berjalan cepat ke luar kelas, bahkan sealipun gurunya belum mengakhiri pelajarannya. Ia berlari menyusuri lorong sepanjang kelas 3 sebelum kemudian berbelok melewati Aula, melewati jalan pintas di samping lapangan basket untuk sampai lebih cepat di kelas Carmila. Aidan berhenti di depan kelas Carmila dengan nafas terengah, dilihatnya kelas Carmila belum bubar, rupanya sang guru masih memberikan tugas kepada mereka. Sambil menunggu, ia berdiri bersandar pada dinding di samping pintu masuk kelas Carmila, bersumpah dalam hati akan memecat guru yang saat ini sedang mengajar di kelas istrinya itu jika dalam waktu lima menit sang guru tidak juga mengkhiri pelajarannya. Nasib baik berpihak pada sang guru, karena tak sampai lima menit kemudian, sang guru itu sudah ke luar dari dalam kelas. Haish mengapa lama sekali?! Aidan mulai habis kesabaran, pasalnya sudah hampir lima belas menit menunggu, tapi istrinya itu belum juga kelihatan. Ia mengintip ke dalam melalui jendela. Dahinya mengkerut dengan ekspresi tak suka melihat Carmila tengah duduk bersama seorang cowok yang Aidan tak tau siapa namanya. Awas saja jika sampai berani macam-macam! Aidan memutuskan untuk menangkap basah perselingkuhan istrinya itu, jika memag selingkuh. Ia berjalan pelan memasuki kelas Carmila, membuat beberapa murid yang masih berada di dalam menahan nafas melihatnya. Aidan cuek saja tak menghiraukan tatapan kagum dan kaget mereka. Ia menatap lurus ke arah istrinya yang masih belum juga menyadari kehadirannya. "Ehheem..." Aidan berhedam tepat di telinga Carmila, membuat gadis itu terlonjak kaget. Carmila menoleh, ekspresi horor menghiasi wajahnya saat melihat Aidan sudah berdiri di sampingnya. "Maaf, cari siapa?" ia berpura-pura tidak mengenal Aidan, karena saat ini beberapa siswa yang masih tinggal di kelas sedang memperhatikan mereka. Aidan menaikan alis mendengar pertanyaan Carmila. "apa perlu gue umumin kalau gue sedang mencari ist..." Sebelum Aidan berkata 'istri' Carmila segera bangkit berdiri dari duduknya dan membekap mulut Aidan. Sekali lagi ia menyeret Aidan ke luar kelas. Di pintu kelas, ia berhenti dan menoleh arah seseorang yang tadi sedang duduk di bangku sebelahnya. "Zaki.. tunggu bentar ya, biar aku selesaikan dulu urusanku sama dia." Carmila berteriak yang di balas anggukan kepala oleh cowok yang dipanggil 'Zaki' "Jadi, namanya Zaki?" Carmila menyeret Aidan sampai taman belakang sekolah. "Kamu ngapain sih ke kelas aku lagi? Kan sudah aku bilang tadi, jangan pernah nyamperin aku lagi di kelas!" semprot Carmila jengkel. "Siapa Zaki?" Aidan malah balik bertanya, "gebetan lo?" "Bukan, aku cuma gak mau mereka curiga... gimana kalau mereka tau status kita?" Carmila menjerit histeris. "Ya gak masalah dong mereka tau, jawab aja gue cowok lo... beres kan?" "What? Cowok? Mau ditaruh dimana mukaku?" "Emang ada yang salah ya sama gue?" Aidan meneliti dirinya sendiri, perasaan udah ganteng, macho juga gagah, apalagi yang kurang? "Aduuh... please deh, jangan bikin malu aku lagi...?!" Carmila memohon pada Aidan. "Gue gak ngerti, bagian mana dari diri gue yang bikin lo malu?" "Udah, dibahas nanti aja di rumah... sekarang mending kamu pulang duluan aja, aku ada tugas kelompok sama Zaki dan harus dikumpulin besok," jelas Carmila. "Apa!? Lo mau berduaan sama si Zaki itu?" "Iya, Zaki menawarkan untuk mengerjakan tugas di rumahnya saja, kamu tau sendiri aku gak mungkin ajak dia ke rumah kan? Kecuali kamu mau pergi dulu sampai aku dan Zaki selesai dengan tugas kami." Carmila menjelaskan panjang kali lebar. "No! Gue gak akan ijinin." "Cuma ngerjain tugas, terakhir besok dikumpulin... please deh!" Bentak Carmila. "Gak, kita pulang sekarang...!" "Ga mau, ini tugas akhir semester ini dan besok terkahir dikumpulin." Aidan menghela napas keras kemudian mengacak rambutnya hingga terlihat makin berantakan, tapi makin tampan. "Ok, gue ijinin lo ngerjain tugas di sini, di sekolah...gue tungguin sampai lo selesai atau... tidak ada tugas sama sekali!" Aidan berkata tegas dan enggan untuk dibantah. "Kalau aku ga mau gimana?" tantang Carmila. Aidan tersenyum setan. "Gue bisa pastiin, besok gak ada satu orang pun di sekolah ini yang gak tau klo lo itu istri gue." Aidan beranjak meninggalkan Carmila yang masih cengo dengan perkataan Aidan barusan. Beberapa langkah Aidan berjalan, dirinya berhenti dan kembali menoleh ke arah sang istri. "Di kantin, oke?" ujarnya sebelum berlalu pergi. Aidan menghubungi keempat sahabatnya dan meminta mereka ke kantin sekolah di lantai 3 sekarang juga. *** Bruuumm! Bruuuummm....! Aidan melajukan mobil sport-nya dengan kecepatan tinggi. Dirinya tengah dilanda kekesalan tingkat akut. Dengan penuh emosi ia menyeret Carmila pulang, setelah gadis itu menyelesaikan tugas akhir sekolahnya bersama Zaki di kantin sekolah tadi. Entah kenapa, insting Aidan mengatakan bahwa Zaki tertarik pada istrinya. Sepanjang pengamatan Aidan di kantin tadi, beberapa kali Zaki mencoba melakukan kontak fisik dengan istrinya. "Sialan! Lo itu sudah punya suami!!" bentak Aidan sambil memukul stir kemudi. "Aku tau," jawab Carmila singkat, malas memulai perdebatan lagi dengan Aidan. Carmila tau percuma saja berdebat dengan cowok keras kepala macam Aidan. "Jangan pernah dekat dengan cowok tadi atau cowok manapun juga! Atau gue habisi mereka semua." Carmila memutar bola matanya jengah. Kenapa sih Aidan ini kekanakan sekali? Dirinya dan Zaki kan cuma ngerjain tugas sekolah, salahnya dimana? "Lo dengerin gue gak sih?!" tanya Aidan kesal kemudian menambah kecepatan mobilnya dan melajukannya ke arah puncak. Carmila baru menyadari bahwa arah yang saat ini mereka lalui bukanlah jalan puang. "Stop! Sepertinya kita salah jalan...Ya Tuhan! Kamu mau membunuh kita berdua, kurangi kecepatannya..." Carmila menjerit ngeri ketika melihat di spidometer. Aidan tak mengindahkan perkataan Carmila, dirinya bertambah kesal karena Carmila mengabaikan ucapannya. Awas saja sampai lo berani macem-macem ma gue. "Aidaaannn.... please... aku takut!" Wot? Carmila memanggilnya Aidan? Emosi Aidan yang sejak tadi menguasai hati dan pikirannya tiba-tiba menguap. Perlahan ia mengurangi kecepatannya, dan sekarang mobilnya malah melaju seperti siput. Seulas senyum tersungging di wajahnya. Hatinya meledak gembira. Akhirnya setelah beberapa waktu, Carmila mau memanggil namanya, biasanya cuma 'kamu' aja. Well, dimana sih hebatnya? Gak ada! Hanya saja Aidan selama ini merasa bahwa Carmila belum bisa menerima dan memaafkan dirinya, karena sekalipun Carmila tak pernah mau menyebut atau mamanggil namanya. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya Aidan mendengar dentingan merdu suara Carmila memanggil dirinya. "Ehmm... lo ehh... kamu lapar gak?" Aidan gugup, tiba-tiba saja dadanya bermain drum. "Gak!" "Ya udah gapapa, turun yuk," ajak Aidan. Eh? Tumben Aidan gak nyolot? Carmila heran. Ia pun mengikuti ke luar dari dalam mobil. Carmila mengedarkan pandangnya ke sekeliling, suasana asri dan banyak pohon besar di sekitar mereka. "Wouw...!" ujarnya takjub. "Lo.. eh maksud gue eeheem, maksudku kamu tunggu sini bentar ya.." Aidan kemudian meninggalkan Carmila sendiri. Carmila mengedikkan bahu menatap kepergian Aidan. Ia melihat sekitar untuk mencari tempat duduk dan tak jauh dari sana, dirinya melihat sebongkah batu besar di bawah pohon pinus. Carmila pun duduk di sana sambil menunggu Aidan. "Sendirian aja nih?" Segerombolan cowok menghampiri Carmila, sepertinya mereka sepantaran dengannya karena mereka juga memakai celana abu-abu juga meski memakai kaos bebas. Carmila hanya tersenyum singkat tanpa menjawab pertanyaan mereka. Aidan mana sih? Lama banget? Carmila yang mulai takut karena gerombolan cowok itu tak jua pergi dan kini malah mengerubungi dirinya. "Sombong banget sih?" "Kenalan boleh dong?" "Kita temenin mau gak?" Berbagai celometan mereka sesungguhnya membuat Carmila merasa risih, tapi ia tak berani menjawab atau melawan, jadi dirinya hanya memilih diam saja, tak menanggapi mereka. Di kejauhan, Carmila melihat Aidan berjalan bersama seorang laki-laki yang terlihat sedikit lebih tua di atasnya. Untuk pertama kalinya ia merasa lega melihat sosok Aidan. Ia pun bangkit dari duduknya untuk menghampiri Aidan. Namun salah satu dari cowok-cowok itu mencekal pergelangan tangan kirinya. "Eittss.... mau kemana? Gak sopan namanya, udah ditemenin main nyelonong pergi aja." "Lepas!" Carmila berusaha melepas cekalan di tangannya, tapi cowok itu malah tersenyum kurang ajar seraya mencolek pipinya. Plaakk!! Merasa direndahkan, Carmila pun menampar cowok itu sekuat tenaga sampai telapak tangannya terasa panas. Ya, keberaniannya muncul karena ia mengetahui Aidan berada tak jauh darinya. "Berengsek," ujar cowok itu sambil meludah kemudian mengusap pipinya yang baru saja ditampar oleh Carmila. "Musti diberi pelajaran nih cewek," salah seorang temannya menyahut, kemudian memegangi pergelangan tangan kanan Carmila. Saat ini Carmila tak bisa berkutik, kedua tangannya dipegang dengan kuat. Ia memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang kemudian berteriak sekuat tenaga memanggil Adan. "Aidaaaaaannnn.....!" Aidan juga laki-laki yang sedang bersamanya terkejut mendengar suara teriakan Carmila. "Berengsek!" umpat Aidan karena melihat istrinya diganggu. Ia berlari cepat menghampiri tempat Carmila. "Lepasin!" ujar Aidan pada gerombolan cowok yang sudah berani menganggu istrinya itu. "Lo siapa? Bapaknya?" "Hahahahaha...." mereka semua menertawakan Aidan. Aidan mengepalkan kedia tangannya seraya mejamkan mata sambil mengatur napasnya yang memburu akibat menahan marah. Ia berusaha mengontrol dirinya agar tak terlalu terbawa emosi, bisa gagal semua rencananya untuk Carmila jika saat ini dirinya harus berkelahi. Bukan takut menghadapi mereka, 7 orang sama seali tidak sebanding dengan seorang Aidan yang memang menguasai berbagai cabang ilmu bela diri. "Kalian mau apa?" tanya Aidan mencoba bernegosiasi secara baik. "Wkwkwk... lagak lo sok banget... cuih," jawab salah satu dari mereka. "Gue berusaha bicara baik-baik dan gak mau cari ribut, lepasin cewek gue dan gue akan beri apapun yang kalian mau," Aidan menawarkan seraya mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan isinya. "Wouw, jadi cewek manis ini cewek lo?" "Klo kita maunya cewek lo gimana?" "Emang lo mau ngelawan kita bertujuh? Yang bener aja? Hahaha..." "Please, gue sedang gak ingin cari ribut. Kalian bisa dompet gue, asal lepasin dia." "Klo kita gak mau gimana?" "Kita maunya cewek lo." "Sepertinya rasanya mantap." "Gedhe juga kayaknya..." Celometan mereka yang semakin kurang ajar dan melecehkan Carmila membuat kesabaran Aidan yang semula ditahannya, meledak... Wuuush!! Bagh! Bugh! Kraak! Dengan gerakan cepat dan tak terduga Aidan sudah membuat 3 orang diantara mereka terkapar tak berdaya. Pandangan matanya tajam menusuk, wajahnya mengeras dengan penuh kemarahan. Beraninya mereka menyentuh dan menganggu miliknya. "Sekali lagi gue bilang lepasin cewek gue dan kalian gue biarin pergi dengan tenang." "Lawan kita berempat sekaligus, klo lo bisa menang lawan kita, kita bakal lepasin cewek lo tapi klo lo kena pukul sekali aja... lo serahin cewek lo ke kita." Dua orang yang sejak tadi mencekal pergelangan tangan Carmila, melepaskan Carmila dan berdiri menghadapi Aidan bersama dua orang temannya yang lain. Sedang tiga orang yang sudah dibereskan Aidan tadi, saat ini tergeletak tak bergerak, entah mati atau pingsan. "Masuk mobil!" perintah Aidan pada Carmila, tapi gadis itu tak bisa merespon ucapan Aidan. Dia malah jatuh terduduk dengan badan gemetar ketakutan dan air mata yang membanjiri wajahnya. "Lo, siap-siap serahin cewek lo ma kita!" "Jangan harap! Dan gue kasih tau, gue gak akan tanggung biaya perawatan kalian atau pun ganti rugi dan sejenisnya!" Aidan tersenyum setan. "Sialan, banyak bacot lo...!" Mereka berempat secara serempak menyerang Aidan dari berbagai arah. Serangan kelas ter yang membuat Aidan justru ingin tertawa terbahak melihatnya. Ia justru sangat menikmati setiap kesakitan yang dirasakan lawannya akibat pukulan ataupun tendangannya. Aidan memukul dan menghajar lawannya tanpa ampun, bahkan mereka yang sudah menyerah kalah pun tetap dipaksanya berdiri dan menerima semua pukulan darinya. Beberapa dari mereka bahkan sudah berlumur darah, pingsan dan juga mengerang kesakitan sambil memegang ulu hati mereka. Kraak! Carmila mendengar suara retakan tulang dari lawan terakhir Aidan, sebelum akhirnya tumbang dan tak pernah bangkit lagi. Aidan memperhatikan mereka, mencari siapa yang bisa dihajarnya. Semua sudah tekapar tak sadarkan diri, hanya satu... ya dia masih bisa mengerang kesakitan dan sadar. Aidan menarik kerah baju lawannya yang masih sadar agar bangkit berdiri. Carmila gemetar ketakutan menyaksikan perkelahian di depannya. Aidan? Benarkah itu Aidan? Tapi mengapa Aidan seperti itu? Seperti bukan Aidan, lebih mirip 'iblis' berwujud manusia. "Am..ampun..." cowok itu berkata lirih. "No..." jawab Aidan dingin. "Kasihani gue, gue yatim piatu dan adik gue sendirian di rumah nungguin gue," cowok itu mengiba. "Gue udah kasih kesempatan damai," kata Aidan yang masih berusaha menegakkan tubuh babak belur di hadapannya itu. "Gue salah... ampun!" ucap cowok itu sebelum terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Carmila tak mengerti, mengapa Aidan menjadi sosok yang tak dikenalnya. Apa ini wujud asli seorang Aidan? Tapi selama ini Aidan selalu baik padanya, meski mereka sering perang mulut dan bertengkar tapi Aidan tak pernah memukulnya. Bahkan ketika dirinya ngomel dan marah, Aidan hanya menanggapinya dengan senyum-senyum seperti orang sinting. Carmila melihat Aidan berniat menghabisi cowok yang tengah memohon ampun dan belas kasihan darinya. Tidak! dirinya tak bisa membiarkan itu terjadi. Ia memang marah dan kesal pada mereka, tapi bukan seperti ini caranya. Carmila mengumpulkan segala keberaniannya untuk bangkit berdiri dan berjalan mendekati Aidan yang tengah diselimuti kegelapan emosi. Ia mendekati Aidan dari belakang, hingga cowok itu tak menyadari kehadirannya. Carmila memeluk pinggang Aidan dari belakang."Sudah... cukup..." ucapnya lirih seraya menyandarkan wajahnya di punggung Aidan. Tubuh Aidan yang semula tegang dan kaku perlahan mulai melemas dan rileks. Ia pun melepaskan cengkeramannya pada kerah kaos lawannya yang sudah tak berdaya itu. Kedua tangannya meraih kedua tangan Carmila yang meligkat di pinggangnya dan menariknya agar lebih merapat padanya. Senyum Aidan mengembang sempurna merasakan berjuta kupu-kupu beterbangan di dalam dirinya. Bahagia. Ya, dirinya merasa begitu bahagia. Belum pernah dirinya merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Aidan bersumpah dalam hati, dirinya tak akan pernah melepaskan pelukan ini ataupun menyerahkannya untuk orang lain. Selamanya pelukan hangat Carmila hanyalah untuknya. *** Deg deg deg deg deg Aidan memegang dadanya yang belum juga mau bekerja dengan normal. Sejak pelukan hangat dari sang istri beberapa waktu, jantungnya terus saja berjumpalitan tak karuan. Belum lagi senyum manis Carmila yang terus menghiasi pandangannya, membuat debaran di dadanya semakin hebat dan napasnya sesak. "Makasih..." sekali lagi Carmila tersenyum manis ke arah Aidan. "Eh..?" Aidan bingung harus menjawab bagaimana jadi hanya gumaman tak jelas yang keluar dari tenggorokannya seperti dengkuran kucing. Plak!! Ada apa denganmu Aidan? Aidan mengutuk dirinya sendiri yang menjadi seperti keledai bodoh. "Hmm... makasih karena sudah mengajaku ke sini." Saat ini mereka tengah berada di kawasan wisata Rumah Pohon yang terletak di puncak. Aidan menyewa sebuah rumah pohon untuk mereka berdua. Sengaja dirinya membawa Carmila ke tempat ini berdua saja, karena sejak kejadian malam pesta itu, dirinya belum meminta maaf secara langsung pada Carmila. Semua kebaikan Carmila yang katanya memaafkan dirinya dan juga bersedia menikah dengannya adalah semata karena Mama Aidan yang telah mengatur semua sehingga Carmila tak bisa menolak. "Sebenarnya ada yang mau gue... eh maksudnya aku sampein ke kamu," Aidan memulai pembicaraan. "Apa?" Carmila menatap Aidan heran. "Tunggu sebentar..." Aidan mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang dan berkata "sekarang" kemudian langsung memutus sambungan telepon. Carmila mengernyitkan dahi bingung dengan sikap Aidan. Sebenarnya cowok sinting ini mau ngomong apa sih? Gak biasanya Aidan bertele-tele kayak gini. Dia biasanya lebih suka adu mulut dan berdebat dengannya. Aidan menatap Carmila gugup. Ia membalik tubuh Carmila yang semula berdiri berhadapan dengannya kemudian memeluk gadis itu dari belakang. "Lihat di sana..." Aidan menunjuk pemandangan di atas pundak gunung. Carmila mengikuti arah yang ditunjuk Aidan, di sana nampak titik titik kecil yang sepertinya berjatuhan dari langit. Semakin dekat Carmila menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang terjun menggunakan paralayang. Bukan paralayang biasa. Karena begitu posisi paralayang itu hampir sejajar dengan posisi tempatnya berdiri saat ini, barulah dirinya bisa melihat bahwa rombongan paralayang itu membawa sesuat. Maaf Maaf Maaf Maukah Kamu Menjadi Pendamping Hidupku? Tiga paralayang mebawa spanduk bertuliskan kata 'maaf' dan satu lagi membawa tulisan 'Jadilah pendampingku selamanya'. Tidak ada kata 'aku mencintaimu' atau 'I Love You' atau sejenisnya. Karena memang Aidan sendiri belum memahami perasaan apa yang ia miliki terhadap Carmila. Yang ia tahu hanya perasaan bahwa dirinya ingin selalu melihat senyum bahagia Carmila. "Aidaan..." Carmila menganga tak percaya. "Aku akan menebus semua kesalahanku padamu, jadi maukah kau untuk terus bersamaku?" bisik Aidan lirih dan tulus di telinga Carmila. Carmila mengangguk, lidahnya kelu hanya untuk sekedar berkata 'Ya'. "Trims..." Aidan tersenyum lebar seraya mengeratkan pelukannya karena angin berhembus semakin kencang dan dingin mulai menusuk kulit. "Apa kita akan bermalam di sini?" tanya Carmila "Hmm... terserah maumu, aku masih punya beberapa pertunjukan lagi sebagai permintaan maafku," jawab Aidan. "Aku sudah memaafkanmu, tidak perlu melakukan apapun lagi." Carmila tersipu malu. Aidan menggeleng pelan, "aku merasa perbuatanku padamu sungguh keji dan tak termaafkan, biarkan aku melakukan banyak hal untuk meredakan rasa bersalahku sekalipun itu membtuhkan waktu seumur hidupku." "Aku sudah memaafkan semuanya." "Terima kasih." *** Part selanjutnya di-private. Silahkan follow terlebih dahulu jika ingin membaca kelanjutan cerita. Terima kasih ^_^ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN