Kakanda

2717 Kata
"Banguuun... dasar pemalas!" Carmila membangunkan Aidan yang masih betah bergelut di dalam selimut. "Kuhitung sampai tiga, masih belum bangun juga, aku tinggal berangkat sekolah dulu," ancam Carmila. "Satu...dua...tiga...oke, aku berangkat dulu," ucap Carmila sambil berlalu meninggalkan Aidan. Semalam memang mereka sampai rumah sudah sangat larut. Sebenarnya Aidan memaksa agar mereka menginap saja di rumah pohon, tapi Carmila menolaknya. Mereka sampai rumah sekitar dini hari dan begitu sampai Aidan langsung tepar tanpa mau bersusah payah mengganti baju, bahkan tanpa melepas sepatu. Alhasil sambil menggerutu Carmila yang akhirnya melepaskan sepatu Aidan. *** Seharian di sekolah tanpa gangguan dari Aidan, Carmila merasa aman dan damai, pasalnya ia tak perlu ketar ketir jika tiba-tiba saja cowok itu muncul di kelasnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu, tapi Carmila masih menyelesaikan sedikit catatan di bukunya ditemani Henara. "Mil, jalan yuk... anterin beli buku," ajak Henara. "Hmm... ok." Carmila langsung meng-iyakan saja ajakan sahabatnya itu. Mumpung Aidan lagi bolos, pikirnya. "Tumben banget langsung, ok?" "Kamu ni gimana sih Ra, ntar klo aku bilang gak mau, kamu protes? Bilang ok, juga protes?" "Hehehe... gak sih, seneng aja... dah lama kan kita gak jalan bareng." Henara merangkul Carmila. Setelah merapikan buku dan tas mereka, Carmila dan Henara berjalan beriringan menuju ke tempat parkir dimana Henara memarkir mobilnya. Sampai di lobi sekolah, Carmila menghentikan langkahnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Aidan bersama ke-empat sahabatnya. Cowok itu terlihat percaya diri meski hanya memakai t-shirt dan celana pendek saja. Beberapa guru yang melihatnya pun diam saja, tak ada yang berani menegurnya. "Mati aku! Ngapain dia di sini?" Carmila berkata lirih. "Eh... Ra, aku ke toilet dulu gapapa ya? Kamu ambil mobil dulu, ntar tungguin di depan lobi." "Yakin gak mau ditemenin ke toilet?" tanya Henara. "Gak usah, biar cepet." "Ok, tunggu di depan lobi." Sepeninggal Henara, Carmila sama sekali tak pergi ke toilet, dirinya bersembunyi di balik salah satu pilar raksasa yang terdapat di lobi sekolah. Ia tak mau sampai ketahuan Aidan. Tak berapa lama, dirinya melihat mobil Henara sudah berhenti di depan lobi. Buru-buru dirinya keluar dari persembunyiannya dan berlari kecil ke arah mobil Henara. Dugh! Karena tak melihat ke depan, Carmila menubruk sesuatu. Refleks, ia pun mengangkat kepalanya. Matanya membelalak tatkala melihat siapa yang saat ini sudah berdiri di hadapannya dan menghadang jalannya. "Mau kemana? Buruan pulang!" "Tunggu... sebentar, ish.. berhenti...!" Carmila berusaha menarik tangannya yang diseret oleh Aidan. Mereka berdua sukses menjadi tontonan beberapa siswa yang lewat. Tapi sepertinya Aidan tak peduli dan tetap memaksa istrinya itu untuk pulang. "Henara... tolongin... Nara...!!" Carmila berteriak. Henara tergopoh-gopoh keluar dari mobilnya dan menarik tangan Carmia yang terulur padanya meminta tolong. Alhasil saat ini Aidan dan Henara saling tarik menarik, berebut Carmila. Aidan geram, kalau saja Henara bukan sahabat Carmila, habis dia! "Lo, lepasin tangan istri gue!"  Henara menghentikan tarikannya. Matanya mengedip beberapa kali, bingung. Ia menoleh, menatap Carmila yang terlihat ingin menangis. Aidan menyadari kalau dirinya baru saja keceplosan menyebut Carmila istrinya, "sudahlah, sebaiknya temen lo itu tau yang sebenarnya." "Mil... apa yang barusan dia omongin itu gak bener kan?" Carmila diam sesaat. Ia menghirup napas panjang kemudian maju dan memukuli Aidan dengan kepalan tangan mungilnya. "Dasar cowok brengsek... ! Senengnya bikin malu orang...!" Carmila mengumpat. "Ish... apaan sih, sakit.. auw... udah dong," Aidan menghindari serangan Carmila. "Kalau mau bolos ya bolos saja, ngapain datang ke sekolah? Hah!!... bikin malu!" Carmila sekarang mencubiti perut Aidan. "Iya... ampun...ampun... lo sih tadi pagi gak bangunin gue...auw sakit..." "Kamu tidurnya kayak kebo, susah dibangunin...!" Carmila berteriak. Henara melongo mendengar percakapan antara Aidan dan Carmila. What? Mereka tidur bersama? Sementara di sudut lain, keempat sahabat Aidan tergelak melihat kepala suku mereka dibuat tak berdaya melawan serangan seorang Carmila. "Udah dong... sakit...jangan dicubitin terus...!" Aidan menangkap kedua tangan Carmila kemudian menariknya ke dalam pelukannya. "Sudah, gue minta maaf... lain kali gak akan bolos lagi, janji." Carmila memberontak berusaha membebaskan diri dari pelukan Aidan. Ia malu jika sampai dilihat banyak orang, tapi dasar Aidan muka tembok, cowok sinting itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Ingat woy... di sekolah..." teriak salah satu sahabat Aidan. Aidan menoleh ke arah mereka sambil nyengir kuda "Sory, bini gue lagi ngambek." Henara masih terpaku di tempat, antara percaya dan tidak dengan apa yang disaksikan dan didengarnya. Carmila istri Aidan? Sejak kapan? Kenapa Carmila tidak pernah bercerita padanya? Dan apa-apaan yang baru saja ia lihat, seorang Aidan diam saja tak membalas serangan Carmila. Aidan melepas pelukannya dan membelai kepala istrinya itu dengan penuh sayang. "Kita pulang yuk, lapar... lo tadi gak ninggalin masakan apapun di rumah." Carmila menggeleng, "gak mau, aku sudah janji mau antar Henara beli buku." "Dan lo sama sekali gak kepikiran untuk ijin dulu sama gue? Mentang-mentang gue lagi bolos? Jadi gini tingkah laku lo di belakang gue?" bentak Aidan. Carmila berjengit lalu menggelengkan kepala dengan cepat,"enggak, bukan gitu... " Carmila kesulitan mau mencari alasan. "Ehm... sory kak, tadi aku yang maksa Carmila untuk antar beli buku." Henara maju takut-takut. "Oke, bakal gue maafin tapi dengan satu syarat..." ujar Aidan dengan senyum sinting tersungging di wajahnya. "Apa?" "Mulai sekarang panggil gue 'Kakanda' atau gue terpaksa kasih tau ke seluruh sekolah bahwa gue adalah sua...." "Oke... Kakanda... ok..." Carmila menjawab buru-buru karena saat itu beberapa siswa lewat di dekat mereka. Carmila khawatir Aidan akan keceplosan menyebut kata suami istri lagi. Senyum merekah di bibir Aidan mendengar jawaban Carmila, sebetulnya Aidan hanya iseng saja untuk mengerjai istrinya itu, tapi ta disangka dia mau menurutinya. "Jadi boleh antar Henara cari buku?" tanya Carmila takut-takut. "Ijin dulu yang baik sama Kakandanya ini," jawab Aidan berusaha menahan tawa. "Eh... Kakanda..." Carmila merasa geli di seluruh tubuhnya menyebut panggilan itu. "Iya...Adinda... ada yang bisa Kakanda bantu?" "Anu... itu... mau antar Henara cari buku boleh?" Carmila memelas. "Kurang sip, tapi gapapalah... oke, gue anterin ke toko buku," jawab Aidan. "Tapi kan... Henara bawa mobil, kasian kalau sendiri." Aidan menoleh ke arah keempat sahabatnya, "Bi, lo setirin mobil cewek ini, gue bawa bini gue.... kalian bertiga ikuti di belakang." Dan begitulah kalau sudah kepala suku yang memberi perintah tak ada yang berani menolak. *** "Eh, ntar tungguin di dalam mobil aja ya, gak usah ikut masuk," pinta Carmila, "Kenapa memang?" Aidan mengerutkan dahi. "Kamu pake celana pendek gitu, emang gak malu?" "Yaelah, lo kenapa sih dikit-dikit malu ma gue... fine, nanti gue beli baju di sana... puas lo!" Sesampai di mall mereka semua berkumpul di depan sebuah butik di dekat pintu masuk. Aidan membeli baju di sana. Henara menahan nafas saat melihat penampilan Aidan saat keluar dari butik. Kemeja lengan panjang yang tidak dikancingkan dengan dalaman kaos dan juga celana panjang. Cakep banget. "Ini sudah baju terbaik di sini, kalau lo masih malu jalan sama gue... liat aja nanti, lo bakal gue bikin malu sekalian," ancam Aidan. "Lepasin itu antingnya, bikin malu aja cowok pake anting." Carmila ngedumel. "Yaelah Adinda... lihat nih, cuma magnet doang... ampun deh," Aidan ngomel tapi tak urung dilepaskan juga kedua tindik maghnet di kedua telinganya. "Gak gaul banget sih," gerutu Aidan. "Sudah... sudah... kapan beli bukunya kalau kalian berdua terus ribut macam kucing sama anjing?" Damian menengahi. "Sory..sory... ya udah, ayok langsung ke toko buku." Aidan menggandeng tangan Carmila mengabaikan protes dari istri anehnya itu. "Aidaan... gimana aku lihat bukunya, kalau tangan aku dipegangin terus kayak gini?" "Apa? Aidan? Ulangi lagi Dinda..." Carmila memejamkan mata dan mengatur napasnya, kemudian menatap Aidan dan berbicara sambil mengeratkan gigi, "Kakanda... tolong lepasin tangan Adinda ya..." "Nah gitu kan enak..." Aidan melepas pegangannya ditangan Carmila lalu berganti merangkul pundaknya. Entah mengapa Aidan senang sekali melihat ekspresi jengkel istrinya itu. "Kakanda... malu dilihatin banyak orang," bisik Carmila. Aidan mengacuhkan ucapan Carmila dan terus ngobrol dengan keempat sahabat yang juga mengekor di belakangnya. Eh salah ding, ketiga sahabatnya, karena Bian juga masih setia menemani Henara berkeliling toko buku. "Habis ini sekalian nonton yuk," ajak Tristan "Ide bagus..." timpal Azka. "Bro, ajakin bini lo sama temennya nonton." Damian menyenggol Aidan yang dibalas kedipan mata oleh Aidan. Aidan merangkul Carmila kemudian berbisik di telinganya, "Adinda... temen-temen gue ajakin kita nonton, sekalian sohib lo juga... gimana?" Carmila mengernyitkan dahi, "gak mau!" "Gak ada penolakan, habis ini kita nonton!" Aidan memutuskan sepihak, "kalian beli tiket dulu gih, ntar kita ketemu di cafe depan bioskop," perintah Aidan kepada ketiga sohibnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Kamu kenapa sih, aku kan bilang gak mau?" tanya Carmila jengkel. "Lo mau bikin gue malu di depan sohib gue? buruan, ajakin temen lo." *** Dengan wajah cemberut Carmila berjalan mengikuti Aidan sambil menghentakkan kaki. Mereka langsung menuju ke cafe di lantai lima. Di sana sudah menunggu Damian, Tristan dan Azka. Mereka duduk di sudut cafe tepat di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota. Masuk cafe, Aidan menyadari tatapan ketiga sahabatnya tak pernah lepas dari istrinya, membuat Aidan kesal hingga akhirnya menggebrak meja. "Apaan sih, Dan?" Azka sewot. "Ngagetin aja deh," Tristan merasa tak bersalah. "Sory bro, sumpah imut banget... gak tahan gue." Damian memandang Aidan sambil garuk kepala. "Makanya jaga tu mata!" Aidan menarik Carmila untuk duduk di sebelahnya. Mereka memanggil pelayan cafe dan meminta menu. Seorang pelayan laki-laki berseragam hitam putih dengan celemek melingkar di pinggang menghampiri mereka sambil membawa daftar menu dan buku catatan. Mereka semua memesan makanan yang berbeda-beda, sedang Carmila malah sedang asyik melihat pemandangan kota di bawah sana, sampai Aidan menyentuh bahunya. "Kamu pesen apa?" "Eh?" Carmila menoleh ke arah Aidan yang menyerahkan buku menu padanya. Carmila meneliti buku menu, tak ada makanan yang menggugah seleranya. "Ehm... aku pesen es krim aja," ucap Carmila kepada pelayan cafe itu sambil tersenyum, tapi pelayan cafe itu tidak menjawab ataupun mencatat pesanan Carmila. Mulut pelayan cafe itu menganga menatap Carmila. Aidan menyadari bahwa pelayan cafe itu tengah melihat istrinya, terpesona. Ia terus mengamati pelayan itu dengan geram. Fix, emosinya bangkit karena pelayan itu masih belum memalingkan wajah dari istrinya. Aidan mengambil segelas air putih yang ada di atas meja kemudian menyiram pelayan itu, membuat pelayan itu tergagap dan refleks melap wajahnya dengan punggung tangannya. "Lo, kalau masih mau kerja di sini, kerja yang bener... jaga itu mata, jangan main pelototin bini orang seenak jidat lo ya...panggil manager lo sekarang juga!!" bentak Aidan. "Maaf mas, maaf... " "Aidan.. apaan sih, dilihatin banyak orang tuh, malu-maluin aja!" Carmila menarik ujung kemeja Aidan agar duduk. "Cepet panggil manager lo sekarang juga!" "Aidan..." "Tolong mas jangan bawa masalah ini ke manager, saya butuh kerjaan," jawab pelayan itu. "Lo nantangin gue?" kemarahan Aidan sudah naik di ubun-ubun. Suasana menjadi tegang. Carmila jadi teringat kejadian di rumah pohon beberapa waktu lalu saat Aidan kalap. Dirinya ngeri membayangkan Aidan ngamuk di sini. Nekat, ia pun berdiri lalu menabrakan tubuhnya dan memeluk suami sintingnya itu dari samping. "Kakanda... sudah... cukup... maafkan saja." Carmila berkata lembut. Carmila mengembuskan napas lega karena jurus andaannya untuk menaklukkan Aidan manjur. Tubuh cowok itu yang semula kaku, mulai melemas dan napasnya yang memburu pun mulai teratur. Aidan membalas pelukan Carmila dan menyandarkan kepalanya di puncak kepala istrinya itu. Emosinya seketika musnah berganti senyum sinting karena bisa merasakan lagi pelukan hangat Carmila. "Kali ini lo gue maafin, pergi sekarang juga dari hadapan gua..." Setelah pelayan itu pergi, Carmila melepaskan diri dari pelukan Aidan kemudian menatap suaminya itu garang. "Kamu tu ya... kenapa sih temperamen banget? Masalah sepele jangan dibesar-besarin kenapa?" "Ohh jadi lo seneng diliatin dan dilirik cowok lain? Ngaku lo!" Aidan mulai cemburu. "Apaan sih, omongan kamu makin ngelantur gak jelas, bikin malu tau gak?!" Aidan tersenyum sinis "gue tadi udah peringatin, jangan pernah lagi bilang gue malu-maluin karena gue akan bikin lo makin malu beneran!" ujar Aidan seraya menundukkan wajahnya ke arah Carmila. "Kamu mau ngapain, jangan bikin ma..." Belum sempat Carmila menyelesaikan kata terakhirnya, Aidan sudah merangsek maju, sebelah tangannya memegang tengkungnya dan sebelah lagi merangkul pinggangnya. Aidan membungkam bibir Carmila dengan bibirnya, tanpa mepedulikan penolakan gadis itu atau siulan dari teman-tamannya. Sudah lama ia ingin melakukan hal ini, menunjukkan kepada siapa saja yang melihat bahwa Carmila adalah miliknya. Carmila pasrah, karena semakin dia melawan, Aidan akan bersikap semakin kasar dan agresif. Cowok b******k itu baru melepaskan ciumannya ketika dirinya mulai megap-megap kehabisan nafas. Ia pun langsung jatuh terduduk begitu Aidan melepas pelukan di pinggangnya. Menahan malu, ia membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang ia lipat di atas meja. Dasar cowok b******k! Sama sekali tka merasa terganggu dengan banyaknya pasang mata yang masih melihat dirinya, Aidan malah tertawa lebar seperti orang sinting. Ia menatap bergantian keempat sahabatnya yang masih melongo dengan ekspresi tak percaya melihat kelakuannya. Aidan yang mereka kenal garang, tiba-tiba berubah manis seperti kelinci. "Woi... lap dulu tuh iler sampe netes gitu," ujar Aidan menyadarkan lamunan keempat sahabatnya. "Wah, parah banget lo...sumpah bikin ngiler aja," ujar Bian sambil menoleh ke arah Henara "Bebeb, lo mau kagak jadi cewek abang?" "Najis banget!" jawab Henara, sontak menuai tawa dari semua kawannya. Pesanan mereka pun akhirnya datang juga, tapi bukan pelayan tadi yang menyajikan. Kali ini para pelayannya adalah para cewek seksi dengan baju super ketat dan rok super pendek dengan apron berenda yang menempel cantik di pinggang mereka. "Adinda... es krimnya dah datang nih, buruan dimakan nanti keburu meleleh." Aidan membungkuk ke arah Carmila yang masih menyembunyikan wajahnya di atas meja. "Udah gapapa, gak usah malu Mil, kalo ada yang berani ngetawain kamu, ntar aku tonjok deh," Henara menemangati. Carmila menggeleng. "Gue itung sampe tiga nih ya, lo bakal lebih malu dari ini," ancam Aidan " satu... dua... ti..." Mau tak mau akhirnya Carmila pun mengangkat wajahnya yang merah seperti tomat. "Makan tu es krimnya, apa mau disuapin?" tanya Aidan. "Aku bisa makan sendiri," jawab Carmila lirih sambil menunduk, tak berani menatap keempat kawan Aidan, malu. "Udah gak usah diambil hati, Aidan emang gitu kok Adinda..." ujar Damian penuh simpati. "Betul tuh Adinda... biasanya malah lebih parah klo malu-maluin," Azka menimpali. "Adinda jangan malu ma kita... kita mah maklum," tristan ikut menyemangati Carmila. Pletok! Pletok! Pletok! "Aduh... auw... ahhh..." Damian, Tristan dan Azka mengaduh kesakitan akibat dipukul sendok oleh Aidan. "Jangan panggil bini gue Adinda...!" Aidan tak terima. "Lo lupa sama janji persahabatn kita? Milik salah satu dari kita berarti milik kita semua." Damian menggoda Aidan sambil menahan tawa. "Siala lo ya, beneran minta dihajar ni anak..." Aidan berdiri hendak menjangkau Damian, tapi Carmila sudah lebih dulu mengambil alih dengan memegang lengan Aidan kuat dan menyandarkan kepalanya di sana. Kalau sudah begitu, Aidan langsung jinak. "Mil, es-nya leleh tuh," Henara menunjuk mangkuk es miik Carmila. "Wah... iya nih..." Carmila mulai menyendok es krimnya. Seperti bayi, ia makan es krim sampai belepotan dimana-mana hingga beberapa detik sekali Aidan harus melap pipi dan dagunya menggunakan tisu. "Ntar lagi film dah mau diputar nih, buruan yuk..." Bian menunjuk jam di dinding cafe. Mereka buru-buru menyelesaikan makan dan segera memasuki bioskop. Sebetulnya Carmila dan Henara juga tidak tahu menahu judul film apa yang akan mereka tonton ini. Begitu film diputar Carmila dan Henara sukses membelalakan mata. Alamaaakkk.... mereka diajak nonton film laga. Memang dasar cowok ya. "Kamu tuh gimana sih, niat ngajak nonton kok film beginian?" "Bagus kok Adinda... lihat dulu deh." Aidan cengengesan melihat amarah istrinya. "Gak, aku pulang aja sama Henara." "Yah, jangan dong... udah duduk sini aja dulu," Aidan menarik dan memegangi tangan Carmila agar tidak pergi. Sedang Henara terlihat mulai menikmati film begitu mulai tahu alur ceritanya. Carmila menghela napas, pasrah. Ngotot pulang pun percuma, sudah kalah suara juga. "Pinjam ponsel kamu aja," ujar Carmila pada Aidan. "Emang ponsel lo kenapa?" "Sejak kapan aku punya ponsel? Buruan sini." Aidan merogoh sakunya dan menyerahkan ponsel keluaran terbaru kesayangannya. Sesekali ia melirik istrinya itu, melihat apa yang sedang dia lakukan terhadap ponselnya. Ternyata hanya bermain game. "Lo beneran gak punya hp?" Aidan bertanya. "Hmm.." jawab Carmila singkat. "Yaudah ntar habis nonton, kita beli ponsel, biar gue mudah klo mo hubungin." Lama tak ada jawaban dari Carmila, Aidan menoleh dan mendapati istrinya itu sudah tertidur di bangkunya. Aidan terkekeh geli melihatnya. Ia meraih kepala istri cantiknya itu kemudian membaringkannya di lengannya. *** Sudah pukul tiga dini hari, tapi Aidan masih saja terjaga sementara sang istri sudah tertidur nyenyak di sampingnya. Ya, Carmila tertidur sejak di bioskop tadi. Sengaja Aidan tidak membangunkannya dan memilih menggendong istrinya itu pulang. Ia tahu Carmila pasti mengantuk dan kelelahan karena sehari sebelumnya mereka pulang larut dari rumah pohon dan pagi harinya istrinya itu tetap masuk sekolah. Sekali lagi, Aidan menelan ludah tatkala melihat rok istrinya itu tersingkap. Sungguh siksaan yang luar basa bagi laki-laki muda seperti Aidan. Sejujurnya saat sampai di rumah tadi, ia berniat menggantikan baju istrinya yang masih pulas itu dengan piyama tidur, tapi ia urungkan niatnya, khawatir terjadi hal-hal yang sangat ia inginkan. Sesekali Aidan melirik paha mulus Carmila yang nyata terpampang kala istrinya itu menjadikan dirinya sebagai guling. Aidan semakin gelisah tak bisa tidur membayagkan apa saja yang seharusnya bisa dirinya lakukan terhadap istrinya itu jika saja mereka sudah lulus sekolah. Beberapa kali juga Aidan berusaha memejamkan mata dan menghitung domba agar cepat terlelap, tapi saat matanya mulai terasa berat dan mengantuk, dirinya harus kembali menahan siksaan saat lutut Carmila yang tanpa merasa bersalah bertengger di sana, di atas miliknya yang sejak tadi berontak meminta perhatian "Arrghh... lo keterlaluan!" Aidan mengacak rambutnya frustasi seraya menggeser lutut Carmila menjauh dari sana. Baru saja Aidan bisa bernapas lega karena berhasil menggeser kaki Carmila, sekarang ia kembali harus menahan napas karena tangan lembut istrinya itu yang sekarang menggantikan lututnya bertengger di sana. Aidan merasa benar-benar frustasi dan tidak bisa menahan diri lagi. "Baiklah, kamu yang terus menggodaku... sudah sah juga, gak ada yang salah kan?" *** elihat senyum blrߡ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN