Baby

2550 Kata
"Ahh... ahh..." Suara menjijikan itu sukses menganggu tidur Carmila. Darimana sih asalnya? Carmila mengomel dalam hati antara sadar dan tidak, karena matanya masih betah untuk terpejam. "Ehmm....ahh..." Dasar sinting! Makin keras saja! Carmila membuka mata, terganggu oleh suara tak senonoh yang terus manganggu indra pendengarannya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan menajamkan telinga, suara itu berhenti. Jangan-jangan hanya mimpi? Bisa jadi. Ia kembali memejamkan mata. Baru sedetik, suara yang membuat seluruh tubuhnya merinding kembali terdengar. Sepertinya di sekitar sini, batin Carmila. "Ehhmm... ya... ahh..." Carmila duduk di tempat tidurnya. Ia baru menyadari, Aidan tidak ada di sebelahnya. Kemana dia? Haish biar saja, mau keluyuran malam kek, mau ngapain juga terserah dia. Carmila turun dari ranjang dan melangkah ke dapur untuk mengambil minum. Melewati kamar mandi, pintunya terbuka. Namun pemandangan yang ada di dalam sana membuatnya shock. "Aaaaaaaaaaa.......!!!" Carmila menjerit. Ingin berlari pergi tapi kakinya tiba-tiba saja menjadi kaku, mau merem tapi matanya makin membelalak. "Busyet deh, kira-kira dong klo teriak, ntar tetangga pada datang gimana?" Ternyata Aidan. Ngapain dia? "I-itu... ka-kamu nga-ngapain?" Carmila gagap. Tangannya menunjuk pada Aidan. "Ngapain sih lo bangun?" Aidan tersadar kalo tangannya masih memegang juniornya, celananya melorot sampai lutut. Ya...ya... Aidan sedang *n*n*. "I-itu...?" Carmila menatap ngeri milik Aidan yang sedang tegangan tinggi. "Lo minggir deh, gue selesaiin bentar,tanggung banget ni," ujar Aidan tanpa sedikit pun merasa canggung atau malu berdiri setengah bugil di hadapan Carmila. Shock, tubuh Carmila kaku tak bisa bergerak, kakinya menjadi lemas seperti jelly, Carmila melorot, duduk di lantai menghadap Aidan. "Lo mau liat? Yakin gak mau pergi?" Aidan bertanya sambil mengurut pelan miliknya yang sudah sangat keras. "A a a...." Carmila kesulitan mengeluarkan suaranya. "Ahh.. ehm..." Aidan memijat miliknya maju mundur. Matanya mendelik melihat dua kancing baju teratas Carmila terbuka, menampilkan belahan dadanya. Ia mempercepat gerakannya, sampai kemudian sesuatu menyembur dari sana. Huh! Aidan bernafas lega setelah memuaskan dirinya sendiri. Carmila? Melihat adegan live di depannya dengan pandangan horor. Itu kan barang yang sudah merenggut keperawanannya? Kenapa seperti itu bentuknya? Besar sekali? Carmila merasa pusing dan ngilu, pantas saja dia sampai masuk rumah sakit waktu itu. Aidan melihat wajah Carmila tegang dan menjadi pucat. "Lo kenapa? Gue sudah selesai, nih bawain bentar." Aidan melempar celana dan boxernya ke arah pangkuan Carmila. Ia membasuh dan membersihkan miliknya dengan sabun. Carmila menatap horor celana dan boxer Aidan di pangkuannya. Hiii...! "Siniin boxer gue!" Aidan menahan tawa melihat ekspresi shock Carmila. Carmila meringis ngeri, apa katanya?boxer? Kelamaan menunggu Carmila menyerahkan boxernya, Aidan mendekati istrinya itu. Juniornya belum sepenuhnya tertidur sehingga Carmila masih bisa melihat dengan jelas milik Aidan yang ukurannya lumayan. Aidan membungkuk, menatap wajah pucat Carmila. Ia terkekeh jahil. "Kamu mau kita melakukannya lagi saat sadar? Ini masih kuat berdiri kok," goda Aidan. What? Carmila menahan nafas mendengar bisikan Aidan. Pikirannya kembali memutar kejadian setelah pesta itu, dimana dirinya harus pulang sambil berjalan tertatih dan menahan sakit, belum lagi saat mengalami pendarahan dan berakhir di rumah sakit. Seketika kepalanya menjadi pusing dan bayangan Aidan di depannya mulai terlihat kabur dan menjadi gelap sepenuhnya. "Yaelah... dinda...adinda... kenapa ketiduran di sini?" Aidan menepuk-nepuk pipi Carmila. Haish, jadi repot kan? Aidan mengangkat Carmila dan merebahkannya di kasur. Ia melirik jam di dinding, pukul 5 pagi. Mau tidur lagi, nanggung. Ting Tong Aidan terlonjak mendengar suara bel di pintu. Buru-buru ia memakai boxer dan celananya. "Siapa sih subuh-subuh gini sudah bertamu?" omel Aidan. "Pagi sayaaaang.... " Suara cempreng menyambut Aidan begitu pintu dibuka. "Mama?! ngapain sih pagi-pagi sudah boyongan kemari?" Marina mengacuhkan Aidan dan masuk sambil membawa beberapa kantong kresek di tangannya dan meletakannya di dapur. "Mantu Mama masih tidur?" Marina melongok ke arah ranjang dan mengernyitkah dahi melihat Carmila tidur masih memakai seragam sekolah. "Hmm... kemarin Aidan ajakin nonton, dianya ketiduran di bioskop... ya udah, masak mau Aidan gantiin bajunya? Mana tahan Aidan, Ma..." Pletok! Jidat Aidan mendapat pukulan dari mamanya "awas aja kamu klo berani macem-macem sama mantu Mama...!" mata Marina melotot ke arah Aidan. "Apaan sih, Ma, percuma juga Aidan dikawinin klo ujungnya juga gak boleh kawin!" gerutu Aidan "Jangan macem-macem deh, kamu itu masih anak sekolah, celana masih abu-abu jadi gak usah mikirin kawin," Marina terus ngoceh sambil berkutat dengan barang bawaannya di dapur. Marina membawa beberapa masakan dari rumahnya dan menatanya di piring. "Sebulan lagi Aidan udah ujian kelulusan Mama!" "Masih sebulan lagi!" Jawab Marina jengkel. "Aidan, taruh ini di meja sana," perintah Marina. "Ish... lagian ngapain sih Mama pagi-pagi buta udah nongol di rumah Aidan?" Meski sewot, tak urung dikerjakan juga perintah sang Mama. Aidan menata beberapa makanan di meja makan yang tak terlalu besar itu. "Ini tadi Mama dari bandara, antar Papa, jadi sekalian aja mampir sini biar bisa sarapan bareng Mil." "Biasanya juga dia masak kok." "Ya, kan gak ada salahnya kali ini Mama yang bawa makanannya, kenapa sih kamu sewot banget liat Mama di sini?" "Tau deh!" Aidan merebahkan dirinya di sebelah Carmila, betah banget sih tidurnya? Batin Aidan. Biasanya juga subuh dah bangun dia, apa kecapekan ya? "Aidan... mau molor lagi kamu? Liat nih, sudah hampir jam 6, kok Mil belum bangun juga ya? Emang biasanya kalian bangun jam berapa sih?" "Hmm.. tau nih, biasanya jam segini dia dah siap berangkat sekolah ma.." Aidan menggoyang badan Carmila "Adinda... bangun, dah hampir jam 6 nih..." Tak ada respon dari Carmila. "Dinda... bangun dong... ntar kita telat loh..." ditepuk-tepuknya pipi Carmila. Masih tak ada reaksi. "Udah kamu mandi aja, biar mama yang bangunin..." Marina menarik Aidan agar bangkit dari kasur lalu duduk ditepi ranjang. "Sayang... bangun yuk, mama sudah siapin sarapan... kita sarapan bareng-bareng" Carmila masih diam tak bergerak, Marina mulai sedikit curiga nih. "Mila sayang... mila dengar mama?" Marina mulai panik karena tak ada reaksi apapun dari Carmila. "Aidaaaan.... Mila kenapa ini?" Teriak Marina. "Apaan sih ma?" Aidan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk dipinggangnya. "Carmila kenapa? Kalau tidur masak susah amat dibangunin?" "Maksud Mama?" "Kamu cepet ganti baju, kita bawa kerumah sakit sekarang.... Mama gak mau mantu Mama sampai kenapa-kenapa!" Aidan bergegas memakai baju sekenanya lalu membopong Carmila. Marina mengunci pintu apartement dan mengikuti dibelakang Aidan. "Pak Jaka sudah Mama telepon untuk menunggu di depan loby," ujar Marina yang dengan kesulitan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Aidan. Marina memang bertubuh mungil sama seperti Carmila, berbeda dengan Aidan yang menurun gen dari papanya yang bule dengan badan tinggi besar. *Pak Jaka = Supir keluarga Blackstone *** "Gimana Marisa kondisi mantu mbak?" Tanya Marina kepada sang adiknya yang memang berprofesi sebagai dokter. "Gapapa mbak, ga usah kuatir... sementara cuma tekanan darahnya rendah, dan kelelahan saja, hasil tes darah juga belum keluar, nanti Marisa kabari." "Ohh... oke, kecapekan ya?" Marina berkata ling-lung. "Tante, istri Aidan kapan sadarnya? Kok bisa pingsan sih?" Marina dan Marisa melotot menatap Aidan. "Kamu bermain kasar lagi?" Marisa bertanya to the point. "Yaelah, kasar apaan sih... dianya tuh yang selalu kasar sama Aidan." "Tante gak akan percaya." "Suer Tan," Aidan mencibir, "yang ada tiap hari dia mukulin Aidan...apalagi klo disekolah, Aidan samperin ke kelasnya aja bisa ngamuk-ngamuk dia." Marina dan Marisa menahan tawa geli, ahhh ternyata Aidan , masih polos juga. Dasar darah muda. "Kalian boleh masuk jenguk Carmila, tapi jangan berisik." Marina dan Aidan memasuki ruang observasi disamping UGD, disana nampak Carmila yang masih memejamkan mata. Wajahnya sudah tidak terlalu pucat karena tubuhnya sudah dipasang infus. "Sayang... jangan bikin Mama khawatir lagi..." Marina terisak sambil memegang tangan Carmila. "Mama apaan sih? Lebay banget deh," bisik Aidan. "Stt.. diam kamu, dasar suami gak pengertian, bisa-bisanya istri pingsan malah gak tau?" Aidan cuma merenges sambil garuk-garuk kepala. Perasaan tadi juga dia gapapa, batin Aidan. Trus sejak kapan pingsan? "Astaga...!" Aidan menepuk jidatnya dengan keras karena mengingat sesuatu. Jangan-jangan dia pingsan gara-gara liat aksi live -nya tadi? Waduh kalau ketahuan Mamanya bisa bahaya ini. "Eh, Mama pulang aja deh! biar Aidan yang jagain di sini." "Gak! Mama aja yang nungguin disini dan kamu yang pulang," balas Marina. "Mama nanti kecapekan loh, kan tadi abis antar Papa ke bandara, trus nyiapin sarapan untuk Aidan juga." Marina menatap curiga pada anak semata wayangnya itu, "tumben kamu perhatian sama Mama?" "Aidan kan sayang Mama... ya...ya.. Mama pulang aja sekarang, kasian tuh Pak Jaka nungguin di parkiran." "No! Mama semakin curiga, pasti ada yang kamu sembunyiin dari Mama kan? Ngaku, kamu apain istri kamu?!" "Ohhh.. ehh... enggak... Mama main nuduh aja," Aidan gelagapan, gawat Mamanya gak mau disuruh balik, gimana nih? Kalau sampai Carmila sadar trus cerita kejadian tadi?? Alamaaaakk mau ditaruh dimana ini muka? Oceh Aidan dalam hati. Seorang perawat masuk ke dalam ruang observasi dan menyampaikan jika Aidan dan Marina diminta untuk ke ruangan dokter Marisa secepatnya. *** "Hasil tes darah Carmila sudah keluar, tidak ada penyakit berat yang perlu dikhawatirkan, hanya saja..." Marisa menghentikan ucapannya dan memandang pada ponakannya. Siapkah Aidan menerima kabar ini? "Apa Marisa? Cepat katakan, jangan bikin mbak mati penasaran dong!" "Ehh... saran Marisa, sebaiknya Carmila dikonsultasikan ke dokter spesialis obgyn." "Apakah ada kemungkinan dia...?" Marina membelalak sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. "Apaan sih, Tan?" Aidan tidak mengerti bahasa yang digunakan tantenya itu. "Gapapa, nanti biar dokter bagian obgyn saja yang menjelaskan, Tante sudah meminta teman Tante, yang juga spesialis obgyn untuk memeriksa Carmila." Tok! Tok! Tok! Tak berapa lama terdengar suara ketukan dipintu ruangan dokter Marisa. "Masuk!" Seorang dokter laki-laki yang terlihat masih muda memasuki ruangan. "Ahh dokter Keenan, perkenalkan ini Marina kakak saya, dan ini Aidan ponakan juga suami dari pasien bernama Carmila" "Eh? Suami?" Dokter Keenan bertanya kaget, mungkin karena dilihatnya Aidan masih sangat muda. "Betul, saya Aidan... suami Carmila." Aidan mengulurkan tangan dengan sopan. "Biasa saja, gak usah formal heheh," ucap dokter marisa "Ok, langsung saja ya, sebnetar lagi saya ada jadwal," Dokter Keenan menyerahkan sebuah amplop kepada Aidan. Aidan membuka amplop itu dengan dahi berkerut, apa ini? Sebuah gambar hitam putih dan kertas yang dilipat 3. Aidan membuka kertas yang dilipat terlebih dahulu, disitu tertulis keterangan (+), apa maksudnya ini? Aidan mengamati gambar itu, tetap tidak faham. Dokter Keenan tersenyum maklum kemudian berkata "Selamat untuk Tuan Aidan, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah" "A apa?!" "Ya, istri anda saat ini sedang mengandung, usia janin masih sekitar 3 mingguan." "Ya Tuhan... ya Tuhan..Marisa... aku akan punya cucu?" Marina memandang Marisa takjub. "Iya mbak, selamat ya..." jawab Marisa. "Ehem, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan di sini..." dokter Keenan melanjutkan. "Kondisi ibu dan janin saat ini sangat lemah dan membutuhkan banyak istirahat, saran saya, sementara ini nyonya Aidan lebih baik bedrest terlebih dahulu, sampai kondisi janin benar-benar kuat." "Baik dokter, saya akan menjaga mantu dan calon cucu saya dengan baik." jawab Marina berbinar. "Baik, kalau begitu saya permisi dulu... didalam amplop sudah ada jadwal untuk kontrol selanjutnya dan resep obat serta vitamin untuk nyonya Aidan, sekali lagi selamat." Sepeninggal dokter Keenan, Marina berdiri lalu menarik tangan Marisa dan melonjak-lonjak seperti anak kecil. "Kamu dengarkan Marisa, aku mau punya cucu... ye... ye... bayi, akhirnya ada bayi lagi di rumah." Marina terlihat sangat sumringah sekali, berkebalikan dengan Aidan yang saat ini masih sangat shock. Marisa menyenggol lengan Marina kemudian melirik Aidan. Marina melirik Aidan cuek saja. "Hmm... Marisa, aku mau nengok mantuku dulu ya... dia biarkan saja di sini," ucap Marina sambil keluar dari ruangan Marisa. Marisa kembali duduk di kursinya. Ia menyentuh tangan Aidan yang sejak tadi terkepal di atas meja, tangan itu terasa dingin dan berkeringat. "Aidan..." panggil Marisa. Aidan tak menjawab, pikirannya melayang entah kemana, tatapannya kosong. What? Carmila hamil? Bayi? Aku akan jadi bapak? Batin Aidan terus bergejolak. "Aidan..!" Panggil Marisa lebih keras. "Ehh... iya... bayi... iya apa?" Aidan gelagapan. "Tante tau kamu belum siap, terlihat jelas dari reaksi kamu." "Ya," jawab Aidan lirih. "Tapi kamu juga musti ingat, Carmila akan lebih tidak siap lagi mendengar berita ini." Aidan terkesiap mendengar perkataan tantenya "Tante benar, aku gak bisa bayangin reaksinya nanti," jawab Aidan lesu. "Kalau kamu sudah tau bahwa berita ini akan membuat Carmila kaget, stres bahkan mungkin tertekan... kamu harus siap menjadi suami siaga, kamu harus sebisa mungkin mensupport dia, bukankah semua ini terjadi juga karena perbuatan kamu sendiri? Jadi kamu harus bertanggung jawab penuh, ingat, bayi yang ada di dalam rahim Carmila itu anak kamu!" "Aidan ngerti Tante...Aidan tengok Carmila dulu, makasih Tan." "Hmm... sama-sama, oya, jadi laki-laki harus kuat, jangan cengeng." *** Dengan gugup Aidan membuka pintu dan melihat Carmila sudah sadar. Dia tengah bersenda gurau dengan Mamanya. "Ehh... Aidan, gimana resepnya Carmila sudah diambil?" "Sudah, bentar lagi diantar sama suster." Carmila memandang Aidan dengan muka memerah, dirinya masih ingat kejadian dikamar mandi tadi. Aidan sendiri juga menjadi salah tingkah di hadapan Carmila, apa Carmila sudah menceritakan kejadian tadi pada Mamanya? Marina menyadari ada yang aneh pada kedua suami istri remaja itu, apa mereka ada masalah? Sepertinya begitu, baiklah Marina akan memberi waktu kepada mereka berdua untuk berbincang. Mengenai kehamilan Carmila, Marina juga tak mau menyampaikan biar saja Aidan nanti yang berbicara pada istrinya sendiri. "Ehem... kepala Mama sedikit pusing, sepertinya Mama perlu ke kantin, beli kopi." Marina beranjak dari duduknya. "Mama... jangan tinggalin Carmila." "Biar Aidan belikan." Mereka berdua bicara dengan cepat dan berbarengan membuat Marina semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi antara mereka. "Tidak usah, Mama beli sendiri saja, sekalian mau telefon Papa." Marina keluar dari ruangan dan menutup pintu, tapi tidak menuju ke kantin, Marina malah menguping di balik pintu. "Ehh... gimana kondisi kamu sudah enakan?" Aidan memulai pembicaraan, canggung. "Mm..sudah." Carmila menjawab pelan. "Ehh.. mm.. aku minta maaf soal tadi, di kamar mandi." Carmila mendongak menatap Aidan, menahan napas. Ia tak mengira Aidan akan mengungkit masalah itu. Bayangan Aidan tadi pagi masih terus menghantui pikiran Carmila. "Mmm..." "Apa kamu tadi pingsan gara-gara itu?" "Mmm..." "Kenapa?" "Eh?" "Iya, kenapa kamu harus pingsan? Kamu tau kenapa aku ngelakuin hal kayak tadi?" Carmila menggeleng. "Itu karena kamu." "A-aku?" "Kamu semalam ketiduran di bioskop, aku gendong sampai rumah, tapi pas mau gantiin baju kamu, aku takut gak kuat liat kamu telanjang, ehmm...akhirnya semalaman aku gak bisa tidur gara-gara liat rok kamu nyingkap terus, kamu juga pegang-pegang ini." Aidan menunjuk juniornya. "Ti-tidak..." Carmila terkesiap, masak iya sih dia pegang-pegang barangnya Aidan. "Iya! Awalnya aku mau perkosa kamu, tapi takut kamu marah jadinya terpaksa deh seperti yang kamu liat tadi," Aidan mencibir, " mungkin bagimu aku ini cowok b******k, tapi tolong deh liat dari sisi aku, gimanapun aku cowok normal... aku juga punya kebutuhan, apalagi aku sudah pernah ngerasain itu." Aidan menjelaskan sambil mengacak rambutnya frustasi karena kembali teringat paha mulus Carmila. "Maaf..." ucap Carmila lirih. "Gak perlu minta maaf, aku tau kamu belum siap... tapi sampai kapan? Kita ini suami istri loh, masak sekali aja gak pernah dapat jatah?" Carmila menatap Aidan dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis. Carmila tau kewajiban seorang istri itu melayani suami dengan baik, bahkan jika menolak, dia akan berdosa. Tapi Carmila cuma mau minta pengertian Aidan aja kok, masak gak bisa sih? "Maaf... a-aku takut," jawab Carmila lirih. "Apa yang kamu takutkan? Pasangan suami istri di seluruh dunia melakukan hal itu, normal, wajar..." "I-itu... i-itu..." Carmila kesulitan meneruskan ucapannya. "Apa?" "Ehh... i-itu ka-kamu..." Carmila menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan kemudian menggeleng keras-keras karena bayangan milik Aidan yang menegang tadi, kembali muncul di pikirannya. Aidan  duduk disisi ranjang, tepat berhadapan dengan Carmila. Ia menarik kedua tangan Carmila. "Aku gak suka ada yang menutup wajah saat berbicara denganku." Carmila menunduk malu, wajahnya sudah semerah tomat. Haduh kenapa sih Aidan harus bahas soal ini sekarang? "I-iya, maaf." "Jadi?" Tanya Aidan. "Jadi apa?" Carmila tak mengerti arah pembicaraan Aidan. "Kapan mau kasih jatah suami?" "Hah?! Aidaann..aku..." Cup Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Carmila. "Kan aku sudah bilang, kalau manggil apa?" "Ehh.. Kanda.." "Pinter... kalau lupa harus dihukum biar inget terus," ucap Aidan. Ia menepuk puncak kepala Carmila. "Hmm... ntar lagi dah boleh pulang, kita coba ya? Mumpung lagi bolos sekolah?" Aidan menatap tajam Carmila tapi dengan tetap tersenyum. "Aida eh Kakanda... aku masih ta-takut." rengek Carmila. "Please... sekali aja ya, aku beneran gak kuat tiap liat kamu, memangnya kamu mau suami kamu berzina di luar sana?" Carmila menggeleng. "Trus, kalau di rumah gak dapat servis yang memuaskan gimana dong?" "Kanda.." "Ya adinda... mau ya, Kakanda janji akan pelan-pelan, percaya deh," Aidan menatap Carmila, meyakinkan gadis itu. Akhirnya Carmila mengangguk setuju. "Yes...! "Batin Aidan bersorak gembira, begitu pula sang junior. Aidan mendekat dan akhirnya memeluk Carmila. "Ada satu hal lagi yang mau aku sampein ke kamu," bisik Aidan."Tolong jangan marah, jangan sedih dan jangan histeris ataupun pingsan, ada aku... di sini ada aku, kita akan melewatinya bersama, kamu cuma perlu percaya sama aku, oke?" Carmila mengangguk mengerti. Aidan mengeratkan pelukannya sebelum menyampaikan berita penting itu. Ia ingin Carmila bisa percaya padanya. Ia menarik nafas. "Kita akan segera mempunyai bayi." Carmila diam, tak mengerti maksud perkataan Aidan. "Maksudnya?" "Kamu hamil." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN