Carmila terbangun tidurnya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Malam ini pun ia kembali bermimpi tentang Aidan. Memori kenangannya bersama Aidan selama ini seolah diputar kembali dalam mimpinya, membuat rasa rindunya semakin tak terendung. Ternyata semua tidak semudah yang ia sangka pada awalnya. Jauh dari Aidan, membuat hari-harinya terasa berat untuk dilalui dan semangat hidupnya pun hilang. Carmila melirik jam di meja samping tempat tidurnya, masih pukul tiga pagi. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela kemudian membuka jendelanya lebar-lebar. Mataya terpejam merasakan segarnya angin malam yang menerobos masuk melalui jendela. Jika angin adalah dirimu, akan selalu kubuka jendela kamarku, agar kau bisa leluasa masuk dan mengobati kerinduanku. Kanda i m

