Carmila membelai layar ponsel di tangannya yang menampilkan gambar Aidan. Air matanya kembali menetes. Rindu. Ia mengalami kerinduan yang betul-betul tak bisa dibendung hingga terasa sesak dan menyiksa. Belum lagi kehamilan yang semakin memperburuk suasana hatinya. Carmila membelai lembut perutnya yang mulai terlihat menonjol. Akan kah ia bisa menjalani kehidupan berdua saja dengan buah hatinya? Sampai kapan dirinya bisa bertahan? Baru beberapa hari berpisah saja, rasanya seperti lebih baik mengakhiri hidupnya. Tapi tidak, ia harus tetap bertahan demi buah hatinya dan Aidan. Semoga, bayi yang dikandungnya ini laki-laki. Ia berharap sang bayi terlahir mirip seperti ayahnya dan bisa menjadi pelipur laranya. Carmila mengusap air matanya. Ia berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya. Su

