Marina menatap Aidan sendu. Beberapa kali ia mengigau memanggil dindanya, dan terkadang ia pun berteriak ketakutan memanggil 'Ale'. Marina mengusap kepala putranya penuh kasih. Ia adalah satu-satunya harta berharganya saat ini. Sungguh, dengan nyawa pun Marina akan mempertaruhkan demi kebahagiaan Aidan. Siapapun yang berusaha mencelakai Aidan atau menyakitinya, Marina bersumpah akan membuat perhitungan dengannya. "Dinda... dinda...." Aidan terus meracau dalam ketidak sadarannya. Ceklek! Pintu kamar Aidan terbuka. Tanpa menoleh, Marina tau bahwa Julian yang datang. "Sayang, istirahatlah... aku akan menggantikanmu menjaga Aidan." Julian memegang pundak istri tercinta. "Tidak sebelum kamu menemukan jawaban, siapa yang membuat putraku sampai seperti ini!" Jawab Marina tegas. "Anak buahku

