Bab 1
Malam itu, aroma oud dan whiskey mahal berpadu, memenuhi udara remang-remang di lantai VIP klub eksklusif, The Oracle.
Elara Alistair, 27 tahun, dengan kekayaan yang bisa membeli satu distrik kota, duduk di sofa beludru merah marun.
Matanya yang tajam menatap kosong ke gelas Champagne di tangannya.
Ia adalah perwujudan keindahan dingin, dengan rambut hitam pekat yang tergerai dan gaun sutra hitam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan.
Hidupnya sempurna di mata dunia, tapi terasa hampa dan membosankan baginya. Ia mendambakan tantangan, sesuatu yang bisa memicu adrenalinnya.
Malam ini, Elara mencari kesenangan yang tak biasa. Ia telah memesan 'layanan' dari tempat ini: seseorang yang bersedia menuruti perintahnya, melepaskan dirinya dari belenggu etika yang selama ini memenjarakannya.
Srek!
Pintu geser kayu mahoni terbuka. Seorang pria muda masuk, dipandu oleh manajer klub yang berbisik pamit.
Elara mengangkat pandangannya.
Di hadapannya berdiri sosok yang, secara visual, sangat memuaskan. Aidan. Itu nama yang tersemat di lencana kecil di kerah kemejanya.
Ia memang tampan, dengan garis wajah yang masih menyimpan keluguan remaja, membuatnya terkesan imut sekaligus memikat. Matanya lebar, berwarna cokelat gelap, memancarkan campuran ketakutan dan tekad yang keras.
Yang paling menarik perhatian Elara adalah proporsi tubuhnya yang tersembunyi. Kemeja putih tipis, yang sengaja dibuat oversize dan sedikit nerawang oleh pihak klub, jatuh longgar di bahunya.
Namun, kemeja itu gagal sepenuhnya menyembunyikan kontur otot yang kokoh—hasil latihan keras, bukan sekadar anugerah alam. Di bawah kemeja itu, ia hanya mengenakan celana panjang ketat berwarna gelap yang hampir tak terlihat.
Aidan berdiri kaku, sementara Elara melirik pergelangan kakinya yang tampak gemetar.
"A-anda Nona Elara?" suara Aidan terdengar serak, hampir seperti bisikan.
Elara hanya mengangguk kecil, menunjuk sofa di sebelahnya. "Duduk."
Aidan beringsut, duduk di tepi sofa, menyisakan jarak yang terasa luas di antara mereka.
Keintiman yang seharusnya terasa di ruangan itu kini tertahan oleh kecanggungan yang tebal.
Ini adalah hari pertama Aidan bekerja di sini. Ia baru 17 tahun, menyembunyikan usianya dengan kedok telah berusia 20 tahun demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan.
Ia merasa ngeri sekaligus malu. Jantungnya berdebar liar.
Dan bagi Elara, ini juga adalah pertama kalinya ia 'membeli' pengalaman seperti ini. Ia merasa tegang, tetapi di balik ketegangan itu, ada percikan keingintahuan yang membakar.
Hening mencengkeram.
Hanya alunan musik lounge jazz yang merdu dari speaker tersembunyi yang mengisi ruangan, menciptakan ironi kontras antara irama yang menenangkan dan kegelisahan yang menguasai dua jiwa di dalamnya.
Elara perlahan memutar tubuhnya di sofa, menghadapkan dirinya sepenuhnya pada Aidan. Ia menopang dagunya dengan tangan, memperlihatkan mata smokey yang menatap intens ke wajah Aidan. Tatapan itu terasa seperti sentuhan fisik yang panas.
Aidan merasakan pipinya memanas. Ia menelan ludah dengan susah payah—sebuah gerakan kecil yang tak luput dari perhatian Elara. Ia berusaha keras menghindari tatapan nona itu, matanya terpaku pada pola karpet mahal di bawah kakinya.
"lo tegang," ujar Elara, suaranya rendah dan serak, seolah ia hanya berbisik untuk dirinya sendiri.
Aidan meremas kedua tangannya di atas lutut, kemeja tipis itu terasa lengket di kulitnya. "M-maaf Nona," jawabnya, suaranya hampir tak terdengar.
Elara menyeringai tipis, senyum yang dingin namun mempesona. Ia melihat betapa pemuda ini berusaha keras mengendalikan dirinya, dan itu adalah tontonan yang seru baginya. Ia suka melihat ketakutan dan gairah saling beradu di mata lawan gendernya.
Perlahan, Elara mulai bergerak. Ia menggeser tubuhnya menyamping, merangkak sedikit di sofa hingga jarak di antara mereka menyusut drastis, tinggal beberapa inci saja.
Aroma parfumnya yang memabukkan—campuran vanila dan rempah—langsung menyergap indra Aidan.
Elara mengangkat tangannya, seolah berniat menyentuh rambut Aidan.
Sret!
Aidan yang terkejut setengah mati oleh kedekatan tiba-tiba itu, reflek menarik diri dengan keras dari sofa. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan bunyi keras ke lantai kayu, kemeja putihnya sedikit tersingkap.
Elara terdiam sesaat, lalu tawa yang merdu, lepas, dan sedikit gila, meledak dari bibirnya. Ia memegang perutnya, tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol pemuda itu.
"Ya Ampun!" katanya, mencoba mengatur napas. "Lucu banget, gue suka."
Ia mengulurkan tangan, telapak tangannya menghadap ke atas, sebuah tawaran bantuan yang mendominasi.
Aidan ragu sejenak sebelum menyambut uluran tangan itu. Jari-jari Elara terasa dingin namun kuat, memegang pergelangan tangan Aidan saat ia menariknya berdiri.
Aidan kini berdiri di hadapan Elara, wajahnya merah padam karena malu. Ia berusaha menenangkan napasnya yang memburu.
Elara mendongak, matanya yang tajam menatap lurus ke wajah Aidan, mengunci pandangan mereka.
Kemudian, tatapan itu turun perlahan, menyusuri leher jenjang Aidan, turun ke d**a, dan berhenti tepat di perutnya—area yang hanya tertutup oleh kain tipis kemeja yang longgar.
Elara tersenyum penuh kemenangan. Tanpa peringatan, tangan kirinya bergerak cepat. Jari-jarinya yang panjang dan berkuku rapi menyelusup masuk ke dalam kemeja oversize itu, menyentuh lembut kulit hangat di sisi perut Aidan.
Aidan tersentak. Seluruh tubuhnya menegang seperti kawat. Ia bisa merasakan tekanan halus dari ujung jari Elara, menyentuh lekukan otot perut yang baru mulai terbentuk.
Sentuhan itu tidak kasar, justru sangat intim dan memabukkan, seolah Elara sedang memetakan setiap inci tubuhnya.
Gemetar hebat melanda Aidan, jauh lebih parah daripada saat ia pertama kali melangkah masuk.
Elara menarik tangannya, tawa kecil kembali pecah di tenggorokannya. "Lo lucu banget ya, kenapa kaya takut gitu sih?"
Aidan menunduk, tak berani menatap mata Elara lagi. "I-iya Nona," katanya, suaranya sedikit tercekat. "Kebetulan ini hari pertama saya. Maafkan saya kalau tidak sesuai ekspektasi, Nona."
"Ohh, hari pertama, ya..." Elara mengulanginya perlahan, suaranya bernada menggoda. Ia bersandar ke belakang, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Berarti masih perjaka dong?"
Pertanyaan itu tepat mengenai sasarannya. Aidan terperanjat. Ia merasakan panas menjalar hingga ke telinganya, tapi ia tak bisa berbohong. Ia mengangguk, menahan rasa malu yang meluap-luap.
"Oke, Nona," ujar Aidan, menarik napas panjang. Ia harus fokus pada tujuan utamanya. Uang. "Apa yang harus saya lakukan untuk menyenangkan Anda?"
Elara memiringkan kepalanya, matanya berkilauan dalam remang-remang. "Hmm," ia bergumam, kemudian seringainya melebar, menyiratkan bahaya yang menyenangkan. "Gue minta buka celana lo!."
Jantung Aidan seketika mencelos, merosot hingga ke lututnya. Rasanya seperti baru saja jatuh dari tebing. Ia harus melakukan itu? Sekarang? Di hari pertamanya? Sebagai seorang... remaja yang menyembunyikan usianya?
Ia mengulurkan tangan yang gemetar ke pinggang, meraih gesper celana panjangnya. Jari-jarinya terasa beku saat ia mulai menarik gesper itu.
Namun, sebelum ia berhasil menyentuh tombolnya, tangan Elara bergerak cepat. Jari-jari itu melingkari pergelangan tangan Aidan, menghentikannya.
"Oke, cukup."
Aidan membeku, menatap Elara dengan mata penuh pertanyaan.
Wajah Elara berubah, senyumnya menghilang. Kini ia menatap dingin, sorot mata yang penuh aura kedewasaan dan otoritas.
"Lo menarik, gue suka. Sini, rekening lo."
Aidan terdiam, mencoba memproses perubahan suasana yang drastis ini. Dengan tangan masih sedikit gemetar, ia mengeluarkan ponsel butut dari saku celana panjangnya.
Elara mengambil ponsel itu tanpa meminta izin, lalu mengetik cepat pada layar sentuh. Ia mengembalikan ponsel itu, lalu meraih tas tangan mewahnya, mengeluarkan dompet kulit yang tebal, dan kartu platinum.
Sebuah suara notifikasi dari ponsel Aidan memecah keheningan yang tegang itu. Tring!
Aidan segera melihat layar ponselnya. Matanya membulat sempurna. Ia menggosok matanya cepat-cepat, lalu menatap angka itu lagi.
Rp 10.000.000,00 (Sepuluh Juta Rupiah).
"Kenapa? Kurang?!" tanya Elara, suaranya dingin, seolah tak peduli.
"T-tidak Nona!" Aidan langsung menggeleng, kelabakan. Ia tak percaya. Sepuluh juta dalam semalam, hanya dengan duduk dan jatuh dari sofa? Ini gila.
Ia panik, lalu mengangkat tangannya dan mengeplak pipinya sendiri dengan cukup keras. Plak! Ia meringis kesakitan.
Fix. Ini nyata. Bukan mimpi.
Elara hanya memperhatikan adegan itu dengan senyum tipis yang hanya ia sendiri yang menyadarinya. Senyum seorang pemburu yang puas dengan tangkapannya.
Ia kemudian bangkit berdiri, tubuhnya yang ramping diselimuti keindahan. Ia meraih jas oversize mahalnya yang tersampir di sandaran sofa.
Aidan masih berdiri mematung, menatap ponselnya.
Elara melangkah menuju ambang pintu, berbalik sejenak. Matanya bertemu dengan mata Aidan yang masih linglung. Ia tidak lagi menggoda atau tertawa. Wajahnya kini menampilkan ketegasan.
"Lo, jadi milik gue," perintahnya tanpa sedikitpun keraguan. "Jangan layanin siapapun."
Elara tak menunggu jawaban. Ia memutar tumitnya dan melenggang menjauh, menghilang di balik pintu geser yang tertutup pelan, meninggalkan Aidan seorang diri di ruangan itu.
Aidan masih berdiri mematung, otaknya berusaha keras mencerna setiap detail gila yang terjadi di ruangan itu, di hari pertamanya.
Ia menyentuh pipinya yang masih perih karena tamparannya sendiri, lalu tersenyum kecil.
.
.
Elara Alistair melangkah keluar dari ruangan VIP, meninggalkan Aidan yang masih linglung dengan ponsel di tangan.
Di lorong koridor yang sepi, lantai marmer hitam memantulkan bayangan kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi Louboutin. Setiap langkahnya terasa berirama, dingin, dan penuh perhitungan.
Aroma oud dan whiskey yang pekat dari ruangan tadi perlahan berganti dengan bau parfum netral dan kelembapan AC koridor.
Elara menarik napas, perasaannya campur aduk. Ada rasa puas yang aneh—bukan karena ia telah mencapai sesuatu, melainkan karena ia telah mengganggu sesuatu.
Kebosanan yang membelenggunya selama ini sejenak terangkat, digantikan oleh rasa geli melihat kepanikan murni seorang pemuda.
Di ujung koridor, di dekat service entrance yang tersembunyi, ia melihat sosok Pak Manajer yang berusia empat puluhan, bernama Victor, sedang mengobrol santai dengan seorang bartender berambut perak.
Victor mengenakan jas yang rapi, meski ada sedikit kerutan lelah di sudut matanya—seorang pria yang telah melihat terlalu banyak hal di tempat seperti The Oracle.
Elara menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke arah Victor. Tatapannya begitu intens dan berkuasa, membuat Victor segera merasakan kehadirannya.
Victor segera meminta maaf kepada bartender itu dan berjalan cepat menghampiri Elara, menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan ramah.
"Nona Elara, senang sekali Anda berkenan mampir. Apakah pelayanannya sesuai, Nona?" Victor bertanya, suaranya dipoles agar terdengar sopan dan profesional.
Elara tidak membuang waktu dengan basa-basi. Ia berdiri tegak, membiarkan aura kekayaan dan kekuasaan memancar keluar.
"Aku mau dia," ujar Elara, nadanya datar dan tegas, menunjuk kembali ke arah pintu ruangan VIP yang baru ia tinggalkan.
Victor mengerutkan alisnya sedikit, tetapi segera menyembunyikannya. "Maksud Anda, Aidan, Nona? Tentu, Anda bisa meminta dia kembali kapan saja Anda mau. Apakah ada permintaan spesifik?"
"Aku tidak mau dia melayani siapapun selain aku," potong Elara cepat. Matanya yang tajam menatap lurus ke mata Victor, memastikan pesannya tersampaikan dengan jelas. "Mulai malam ini, dia eksklusif untukku. Jangan ada yang memesannya, jangan ada yang menyentuhnya."
Victor tertegun sejenak. Permintaan seperti ini tidak jarang, tetapi jarang yang datang dari klien sekelas Elara Alistair dengan cara yang begitu terbuka dan mendominasi.
"Maaf, Nona. Tentu saja kami akan memprioritaskan Anda. Tapi untuk menjadikannya eksklusif, akan ada biaya retainer bulanan yang cukup besar, dan itu..." Victor mencoba menjelaskan proses bisnis yang biasa.
Elara mengeluarkan selembar kartu platinum dari dompetnya dan meletakkannya di telapak tangan Victor, seolah kartu itu hanya kertas sampah.
"Aku akan berinvestasi di bar ini. Anggap saja ini sebagai biaya retainer untuk Aidan, dan juga untuk perbaikan sistem keamananmu," kata Elara, suaranya tetap dingin. "Aku ingin laporan keuangan bar ini dikirimkan ke kantorku besok pagi."
Victor benar-benar terdiam. Nilai investasi dari seorang Alistair jauh melampaui seluruh pendapatan tahunan klub.
"Paham?" tanya Elara, matanya yang dingin menuntut jawaban.
"Sangat paham, Nona Elara. Aidan tidak akan melayani siapapun lagi. Saya jamin itu," jawab Victor, menggenggam kartu itu erat-erat dengan rasa hormat yang mendalam.
Elara tidak menanggapi. Ia hanya memutar tumitnya dan melenggang menjauh. Victor memperhatikan punggungnya yang anggun hingga Elara menghilang di balik pintu ganda klub, menuju mobil mewah yang telah menunggunya.
Di dalam mobil Maybach hitam yang senyap, Elara menyandarkan kepalanya ke kursi beludru. Sopirnya, Pak Rudi, memacu mobil, meninggalkan area klub eksklusif itu.
Brum!
Sementara itu, di lantai bawah klub, di ruangan loker karyawan yang remang-remang dan berbau keringat, Aidan sedang mengganti pakaiannya. Ia menarik kemeja putihnya dan menggantinya dengan kaus tipis yang sudah agak pudar.
Tangannya masih gemetaran. Tidak hanya dari sentuhan Elara, tetapi juga dari angka sepuluh juta yang tertera di layar ponsel bututnya. Ia melipat kemeja klub itu dengan hati-hati.
"Gila! Gila! Gila!" bisiknya pelan, berulang kali, kepada dirinya sendiri di depan loker. Wajahnya yang memerah karena malu kini digantikan oleh ekspresi kebahagiaan yang luar biasa.
Ia menyentuh pipinya yang masih perih akibat tamparan refleksnya sendiri. "Cuma duduk, jatuh, dan mau buka celana? Kalau gini caranya, gue bisa lunasin semua dalam sebulan. Tapi... dia juga bilang, klo gue ini punya dia?."
Rasa takut bercampur kebahagiaan menjadi satu. Perintah Elara yang tiba-tiba itu membuatnya sedikit merinding, seolah ia baru saja menjual kebebasannya, tetapi imbalan yang didapatkan sangatlah sepadan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu loker diketuk dengan keras. "Aidan! Kamu dipanggil Pak Victor, sekarang juga!" Itu suara Herman, petugas keamanan yang bertugas di lantai bawah.
Jantung Aidan mencelos lagi.
Ini dia. Pikirannya langsung melayang ke skenario terburuk. Apa gue bakal dipecat?. Apa pak victor tau kalo gue masih di bawah umur?. Atau jangan-jangan nona Elara bilang soal gue yang tegang banget?.
Tap Tap
Dengan langkah berat, Aidan berjalan menuju ruangan Pak Victor. Ruangan itu besar, namun hanya diisi meja kayu dan tumpukan berkas. Victor duduk di kursi kulit miliknya, senyumnya kali ini terasa berbeda—lebih misterius, hampir seperti senyum seorang makelar.
"Duduk, Dan," kata Victor, menunjuk kursi di hadapannya.
Aidan duduk kaku di tepi kursi, siap menerima omelan atau surat pemecatan.
"Begini, Nak," Victor memulai, nadanya mengejutkan. Ia tidak terdengar marah sama sekali, justru terdengar menghormati. "Tadi Nona Elara Alistair, klienmu, datang menemuiku."
Aidan menelan ludah. "I-iya, Pak?"
Victor bersandar, matanya memicing. "Dia membayar retainer bulanan untukmu. Nominalnya... sangat besar, Dan. Dia tidak ingin kamu melayani siapapun lagi di klub ini."
Aidan membeku. "M-maksudnya, saya dipecat, Pak?."
Victor tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti kepingan uang logam beradu. "Dipecat? Tidak, Nak. Kamu baru saja dipromosikan, meski dengan cara yang tidak biasa. Kamu tidak perlu lagi bekerja di sini. Tugasmu sekarang hanya menunggu panggilan dari Nona Elara. Dan selama kamu menunggu, gajimu akan tetap dibayar penuh oleh Elara sendiri, ditransfer melalui pihak klub, ditambah dengan bonus yang sudah dia berikan padamu tadi malam."
Aidan hanya bisa menatap Victor dengan mata lebar. Ia baru saja mendapatkan gaji tanpa perlu bekerja, dan hanya perlu siaga untuk satu orang.
"Kamu anak beruntung, Dan. Jangan sia-siakan ini. Jaga dirimu baik-baik, jangan pernah berhubungan dengan klien lain, dan pastikan ponselmu selalu aktif. Paham?" Victor mengakhiri.
"P-paham, Pak. Terima kasih banyak," jawab Aidan, suaranya tercekat. Ia bangkit, membungkuk hormat, lalu keluar dari ruangan itu dengan kepala yang penuh kabut.
Sruk!
Di loker, ia mengambil tas ranselnya yang lusuh, berisi buku sekolah dan sebotol air. Langkahnya saat melenggang keluar dari The Oracle terasa ringan, meskipun ia masih tak bisa mencerna semua detail kegilaan ini.
Tap tap.
Aidan berjalan kaki. Malam telah larut, jalanan di pinggir kota masih ramai oleh kendaraan dan pedagang kaki lima.
"Gue kira bakal dipecat, tapi gila! 10 juta buat hal kayak gitu doang? Gue kira harus n*****t dulu," bisiknya lagi pada diri sendiri, sambil menendang kerikil di trotoar.
Meskipun rasa takut akan masa depan dan ketidakpastian hubungannya dengan Nona Elara masih ada, kini ia bisa bernapas lega. Uang kontrakan, spp adik, hutang ibu, dan biaya obat. Semua masalah mendesak itu kini menemukan jalan keluarnya.
Jarak bar sampai ke kontrakan sangat jauh, memakan waktu lebih dari satu jam berjalan kaki. Perutnya yang keroncongan memaksanya untuk berhenti di warung tenda kecil. Ia membeli sebungkus nasi dan lauk untuk dirinya sendiri, dan satu lagi untuk ibunya.
Setibanya di rumah kontrakan yang sederhana, sebuah bangunan tua dengan cat mengelupas, ia membuka pintu kayu yang berderit.
Ceklek!
"Mama, Aidan pulaang," ucapnya lembut, berusaha menghilangkan nada ketegangan yang ia rasakan sepanjang malam.
Mama Wulan, wanita paruh baya itu, langsung muncul dari balik tirai kamar. Wajahnya tampak pucat dan ada lingkaran gelap di bawah matanya, tetapi senyumnya selalu memancarkan kehangatan seorang ibu.
"Aduuhh, anak mama sudah pulang," sambutnya sambil beringsut mendekat. Ia meraih tangan Aidan. "Kenapa larut sekali, Nak? Mama khawatir."
"Maaf, Ma. Tadi toko lagi ramai," Aidan berbohong, memeluk Mamanya erat-erat. Aroma bedak bayi dan minyak kayu putih—aroma khas yang ia rindukan—menguar dari tubuh Mamanya. "Iya Ma, Aidan sekarang kerja part time di toko, kok. Aman."
Mama Wulan membelai rambut anaknya dengan lembut. "Syukurlah, Nak. Mama senang kamu mau bantu keluarga."
Aidan menggandeng Mamanya ke meja kecil di ruang tengah. "Mama, Aidan bawa makanan. Ayo kita makan bareng."
Mereka pun makan dalam keheningan yang penuh kehangatan dan kesederhanaan. Aidan memperhatikan Mamanya makan. Nafsu makan Mamanya memang tidak sebesar dulu, tetapi setiap suap yang dimakan Mamanya adalah kemenangan kecil baginya.
Setelah selesai makan, Aidan mengeluarkan uang tunai yang ia ambil dari ATM klub sebelum pulang. Uang itu ia masukkan ke dalam amplop yang sudah ia siapkan.
"Mama," Aidan memulai, wajahnya berseri-seri. "Besok, Aidan belikan Mama obat ya."
Mama Wulan menatapnya dengan lembut. Matanya yang sayu dipenuhi rasa syukur. "Memangnya kamu punya uang, Nak?"
Aidan mengangguk semangat. Ia memilih berbohong lagi. "Iya, Aidan pakai tabungan dari celengan Aidan. Udah lama banget tabungannya, Ma."
Kedua bola mata Mama Wulan memerah. Ia meraih tangan Aidan dan menggenggamnya kuat-kuat. "Terima kasih, Nak. Kamu sudah menjadi anak yang baik. Kamu pahlawan Mama."
Air mata Wulan menetes. Aidan segera menghapusnya dengan ibu jarinya. "Sama-sama, Ma. Mama jangan nangis, nanti sakitnya tambah parah. Sekarang Mama tidur ya? Besok Aidan belikan obat."
Aidan menemani Mamanya kembali ke kamar. Ia menyelimuti Wulan, memastikan Mamanya nyaman. Setelah Mamanya terlelap, Aidan kembali ke ruang tengah.
Ia menatap ponsel bututnya. Di sana, angka sepuluh juta itu seolah bersinar di kegelapan malam.
Aidan menggenggam ponselnya erat-erat, wajahnya yang muda kini terlihat dewasa dalam tekad.
.
.
Limusin hitam yang senyap meluncur perlahan menuju gerbang tinggi kediaman Alistair. Begitu pintu gerbang besi tempa terbuka otomatis, terlihatlah Dimension—istana modern minimalis Elara yang berdiri megah di tengah taman luas.
Ceklek!
Sopir segera membukakan pintu mobil untuk Elara. Ia melangkah keluar dengan anggun, membiarkan angin malam menerpa rambut hitam panjangnya.
Di balik fasad kemewahan ini, tersembunyi sebuah keluarga yang kompleks.
Saat ia memasuki ruang utama yang luas, lantai marmernya yang mengkilap memantulkan sosoknya.
Beberapa pelayan yang berjaga langsung membungkuk hormat, menyambutnya dengan senyap dan sopan.
Di tengah ruang tamu, di meja kaca besar, kedua orang tuanya sedang duduk. Ayahnya, Tuan Richard Alistair, seorang konglomerat dengan wajah dingin dan mata tajam yang selalu menilai.
Sementara di sebelahnya, duduklah Nyonya Amelia Alistair, sosok yang hangat dan ceria.
Tuan Richard mengangkat pandangan, menatap tajam ke arah putrinya.
Namun, Elara mengabaikannya sejenak. Ia melihat Ibunya, dan topeng dingin itu langsung luruh.
"Ibu, aku pulaaaang!" serunya, suaranya naik satu oktaf, berubah menjadi riang seperti gadis kecil. Ia berlari kecil menghampiri ibunya.
Nyonya Amelia tersenyum lebar, wajahnya langsung berseri-seri. "Aduh, Elaraku sayang, sini peluk Ibu, Nak!" Ia mendekap putrinya erat-erat, mengabaikan ketegangan yang selalu diciptakan suaminya.
Tuan Richard yang merasa diasingkan oleh adegan penuh kasih sayang di depan matanya segera berdehem keras, mencoba menarik perhatian.
"Ekhem!"
Elara melepaskan pelukan Ibunya, wajahnya segera berubah menjadi datar dan penuh wibawa, seolah baru saja mengenakan topeng baja. Ia menoleh ke Ayahnya.
"Ayah, Elara pulang!" nadanya berbeda, formal dan sedikit dingin.
Nyonya Amelia memegangi pelipisnya, ekspresi lelah. Ia tahu drama ini akan terjadi setiap malam. "Aduh, Ayah, Ibu tidak mau melihat kalian ribut. Elara, cepat masuk kamarmu, Nak."
Elara mengangguk, memberinya senyum hangat—senyum yang tulus, dan hanya dipersembahkan untuk Ibunya. Ia berbalik, berjalan pelan menuju tangga spiral menuju kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya di sana.
Di lantai atas, Elara mencapai pintu kamarnya.
Ceklek!
Begitu pintu itu tertutup, ia melepaskan jas oversize yang tadi ia kenakan dan membiarkannya jatuh ke lantai.
Sendal hak tinggi dari desainer ternama juga ia lepas begitu saja. Ia menghela napas berat, seolah baru saja melepaskan beban yang sangat besar.
Ruangan mewah itu adalah satu-satunya tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri—atau setidaknya, menjadi seseorang yang tidak perlu berakting.
Ia berjalan ke kasurnya, merebahkan diri di atas seprai sutra yang sangat empuk. Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, berwarna gelap.
"Menantang..." bisiknya pelan.
Sejenak, ia menutup matanya, dan adegan di The Oracle kembali terputar. Ia membayangkan setiap detail ekspresi lucu dari wajah Aidan: mata yang membulat saat ia mendekat, tubuh yang gemetar, dan adegan konyol saat Aidan tersentak kaget hingga terjatuh ke lantai.
Ia mengingat wajah yang merah padam saat Aidan mengakui bahwa itu adalah hari pertamanya.
Elara terkekeh pelan. Tawa geli seorang gadis yang baru saja menemukan mainan baru.
Dia polos. Itu yang membuatnya menarik, pikirnya. Sangat mudah diprediksi, dan itu menyenangkan.
Tanpa sadar, dengan gambaran wajah canggung Aidan yang polos itu masih melekat di benaknya, Elara pun tertidur lelap.
Sementara Elara tertidur nyenyak di singgasananya, debat orang tuanya di bawah baru saja memanas.
"Ibu ini," Tuan Richard memulai dengan nada frustrasi, "Ayah sudah bilang, jangan terlalu manjain Elara begitu. Liat kan tadi, dia pulang jam segini dan Ayah mencium bau alkohol samar dari bajunya!"
Nyonya Amelia Alistair mendesah. "Aduh, Ayah, namanya juga anak muda. Biarkan dia menikmati hidup. Kasihan dia pasti capek mengurus perusahaanmu sepanjang hari."
"Anak muda?" Tuan Richard hampir berteriak. "Bu, dia sudah jadi anak tua, tahu! Usianya 27 tahun, seharusnya sudah menikah dan memberi kita cucu, bukannya malah berkeliaran di klub malam!"
Nyonya Amelia memegang tangan suaminya, tatapannya tegas. "Ehh, Ayah ini, sudah Ibu bilang. Jangan ikut campur urusan asmara Elara. Biar dia urus sendiri. Dia anak yang cerdas dan berhati-hati. Kalau dia mau menikah, dia akan menikah."
Tuan Richard tahu betul bahwa istrinya adalah satu-satunya orang di dunia yang tidak boleh ia bantah saat sedang serius.
Ia hanya bisa mendengus frustrasi, memejamkan mata, membiarkan istrinya memenangkan perdebatan yang sama yang terjadi hampir setiap malam.
.
.
Keesokan paginya, matahari pagi menyelinap melalui celah jendela kontrakan sederhana Aidan. Pukul 05.00 pagi, alarm ponsel butut milik Aidan berteriak kencang, memecah keheningan. Bunyi yang terlalu keras itu sukses mengejutkan Aidan dari tidurnya yang pulas di atas ranjang sempit.
Bruk!
Karena terkejut, Aidan langsung menyentakkan tubuhnya. Namun, ia lupa bahwa ranjangnya sangat kecil.
Ia kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai kayu dengan bunyi yang keras.
Ia mengerang kesakitan, memegangi dahinya. "Aduh! Sialan, alarm!"
Tok tok!
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar. Itu adalah Mama Wulan. "Aidan, kamu kenapa, Nak? Tadi Mama dengar suara jatuh."
Aidan bergegas bangkit, menyeka rasa sakitnya. Ia tidak ingin Mamanya khawatir. "Nggak papa, Ma! Ini, eee... Aidan cuma jatoh aja dari ranjang!" ia berusaha membuat suaranya terdengar ceria dan normal.
Setelah Mamanya menjauh, Aidan berjalan terhuyung-huyung ke depan cermin lusuh yang tergantung di dinding. Ia mendapati dahinya berdarah sedikit akibat benturan.
Tanpa membuang waktu, ia mengambil kotak P3K kecil dan membersihkan luka itu, lalu menempelkan plester kecil.
Setelah selesai berpakaian seragam sekolahnya dengan rapi—kemeja putih yang disetrika licin dan celana abu-abu yang sedikit kependekan—ia berjalan menuju meja makan.
Mama Wulan sudah duduk di sana, menyajikan sepiring nasi goreng yang mengepul. Begitu melihat Aidan, matanya langsung tertuju pada plester di dahi anaknya.
"Ya ampun, Nak, kenapa dahimu itu?" tanya Wulan khawatir, hendak bangkit.
Aidan segera tersenyum lebar dan menarik kursi, menghalangi Mamanya berdiri. "Ngga papa, Ma, cuma luka kecil kokk! Kan Aidan sudah bilang, cuma jatuh dari ranjang. Mama lupa minum obat ya?"
Wulan menggeleng, tetapi ia tetap menghela napas. Ia hanya bisa pasrah melihat tingkah ceroboh anak sulungnya.
Aidan menyantap sarapan buatan Mamanya dengan lahap. Rasa nasi goreng sederhana itu adalah comfort food terbaik di dunia. "Enak banget, Ma! Nanti siang Aidan bawain Mamah obat yang baru ya. Yang paling mahal, yang paling manjur!" janjinya semangat.
Setelah selesai sarapan, ia mencium tangan Mamanya dan bergegas berjalan kaki menuju sekolahnya, menenteng tas ransel lusuh di punggungnya.
Jarak sekolah Aidan tidak terlalu jauh, hanya perlu melewati beberapa gang dan satu jalan raya yang ramai. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan Rian, teman sebangku dan karibnya yang berkarakter penuh tawa dan tingkah jahil.
"Woii, kenapa lo?" seru Rian, menepuk bahu Aidan dengan keras, matanya tak lepas dari plester kecil di dahi Aidan.
Aidan meringis. "Gue ngga papa kokk, tadi cuma jatoh aja. Lo sih, bangunin gue subuh-subuh!"
"Enak aja! Gue nggak pernah bangunin lo, kebiasaan nyalahin orang," balas Rian sambil tertawa, lalu merangkul bahu Aidan.
Sesampainya di gerbang sekolah, berdiri sesosok gadis cantik yang menatap intens ke arah mereka. Itu adalah Lia, teman sekelas yang pindah tiga bulan lalu, yang kini menjadi pacar Rian.
Rian tersenyum sumringah. Tangannya segera melepas rangkulan di bahu Aidan, beralih menggenggam tangan Lia. "Sayang, sudah lama nunggu?"
"Nggak kok," jawab Lia, suaranya lembut, tetapi mata cokelatnya sekilas menatap tajam ke arah Aidan sebelum kembali fokus pada Rian.
Aidan ditinggalkan di belakang, berjalan sendirian. Ia tidak masalah. Semenjak Rian punya pacar, mereka memang jadi jarang main dan jarang bersama.
Tapi bagi Aidan, yang penting ia bisa fokus belajar dan mendapatkan nilai bagus.
Di dalam kelas, Aidan menjatuhkan dirinya di atas bangku. Ia mengeluarkan komik action favoritnya yang ia tinggalkan di laci.
Srak!
Matanya fokus pada gambar demi gambar pahlawan super yang membuat matanya membulat penuh antusiasme.
Di sampingnya, Rian tampak sibuk mengobrol dan tertawa dengan Lia yang duduk di meja seberang. Mereka menggosip tentang hal-hal yang tidak penting.
Tanpa semua orang sadari, Lia sesekali menatap tajam ke arah Aidan. Ada kecemburuan dan sedikit rasa tidak suka yang tersembunyi di matanya—rasa tidak suka yang tidak pernah Aidan sadari.
Tak lama, guru pun datang. Semua siswa bergegas duduk dengan rapi di tempatnya masing-masing.
Beberapa jam pelajaran berlalu. Pukul 10.00, bel istirahat pun berdenting.
Ting tong!
Semua siswa-siswi berhamburan keluar. Rian yang sudah berdiri di ambang pintu bersama Lia menoleh ke belakang.
"Woii, ikut kita nggak?" tanyanya.
Aidan menoleh, menggeleng. "Nggak, Rian. Gue mau ngerjain tugas fisika gue. Besok harus dikumpulin."
Rian mengangguk. "Oke, have fun sama rumus-rumus lo! Gue cabut ya." Mereka berdua pergi, meninggalkan Aidan sendirian di dalam ruangan yang kini senyap.
Aidan kembali fokus pada buku fisikanya yang penuh rumus.
Tring!
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal. Matanya membelalak penuh harap, namun segera cemberut.
Itu hanya pesan dari operator yang menawarkan pinjaman online.
Ia melanjutkan perjuangannya dengan rumus-rumus. Lima belas menit berlalu.
Tring!
Kali ini ponselnya kembali bergetar, sebuah notifikasi dari nomor baru lagi. Ia buru-buru membuka pesan itu. Matanya membelalak, kali ini dari Elara.
Elara: Malam ini, jam 9. Tempat yang sama. Jangan telat. Gue tunggu di ruangan VIP.
Aidan langsung merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia akan bertemu lagi dengannya. Rasa takut, malu, dan sedikit kegembiraan yang ia sendiri tak mengerti, bergejolak. Ia membalas dengan sopan dan formal.
Aidan: Baik, Nona. Saya akan datang tepat waktu.
Kejadian sebelum istirahat.
Aidan menangkap sekilas, sorot mata Lia sesekali melirik tajam ke arahnya, sebuah tatapan yang terasa aneh dan tersembunyi.
Saat sesi olahraga, takdir yang terasa aneh mempertemukan Aidan dan Lia dalam satu pasangan.
"Bro, jagain pacar gue dong. Jangan sampai kena lemparan bola! Awas kalo sampe kena lemparan, gue kick lo dari sirkel pertemanan gue. Haha," kata Rian penuh semangat, tertawa sambil melempar bola ke udara.
Aidan mengangguk santai, berusaha menanggapi dengan ringan. "Santai, Rian! Lo yang gue lempar ni bola!"
Lia segera bersembunyi di balik tubuh kekar Aidan, namun Aidan mulai merasa tidak nyaman. Gadis itu seolah sengaja menempel ke tubuhnya.
Kemudian, tangan Lia sesekali menyentuh area pinggul dan p****t Aidan.
Entah itu sengaja atau tidak, sentuhan itu terasa terlalu dekat.
"Lia, jauhan dikit ya," kata Aidan, menoleh ke belakang, menampilkan senyum manis yang selalu ia gunakan untuk menutupi rasa canggung. "Gue susah geraknya nih."
Meskipun batin Aidan berteriak keras, merasa geli dan curiga, yang ia ucapkan tetap kata-kata halus dan tidak menyakiti.
Tak lama, Buakh!
Lemparan bola keras meluncur ke arah mereka. Aidan berusaha menangkap bola itu, namun tangan Lia malah dengan sengaja menarik kaos olahraga Aidan dengan keras.
Brukk!
Mereka ambruk bersama di lantai lapangan. Dalam sepersekian detik itu, Aidan merasa sesuatu bergerak cepat menyentuh area sensitifnya, sentuhan yang jelas bukan kecelakaan. Ia terperanjat dan langsung berdiri tegak, napasnya tercekat.
Ia segera mengulurkan tangan, membantu Lia untuk bangkit. Untuk pertama kali, ia menangkap sorot tajam Lia yang tampak aneh dan penuh makna—sebuah tatapan yang terasa seperti peringatan, bukan tatapan seorang pacar karibnya.
Aidan merinding, namun ia harus tetap menahan diri. Ia tidak boleh berspekulasi buruk tentang pacar temannya.
Pelajaran olahraga pun berakhir.
Lia sudah menempel kembali dengan Rian, lagi-lagi meninggalkan Aidan berjalan sendirian. Ia berusaha bersikap "bodo amat," itu bukan urusannya.
Namun tingkah Lia tadi benar-benar sus dan membuatnya merinding.
Aidan mencoba mengalihkan kejadian itu, tangannya terus bergerak cepat menyelesaikan soal demi soal fisika yang sulit, namun tetap saja.
Kejadian tadi seolah memberinya peringatan.
.
.
Di kantornya yang mewah, di puncak gedung pencakar langit Jakarta, Elara tersenyum tipis setelah mengirim pesan itu. Ia puas. Remaja itu langsung merespons dengan patuh.
Namun, senyum itu segera menghilang. Ia mengeluh melihat tumpukan tugas di meja kerjanya yang sangat menumpuk. Dasar Ayah, semua selalu dilimpahin ke gue.
.
.
Sementara itu, sepulang sekolah, Aidan bergegas mengganti pakaiannya. Ia duduk di atas meja makan yang sekaligus menjadi meja belajarnya.
Tangannya bergerak cepat menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Meskipun miskin, ia termasuk dalam jajaran siswa berprestasi di sekolahnya—sebuah kebanggaan kecil yang harus ia pertahankan.
"Ini apa ya, susah banget," sesekali ia terlihat frustrasi dengan soal-soal sulit, menggaruk plester di dahinya. Namun, ia menyelesaikannya dengan cepat.
Setelah selesai, ia bersiap untuk berangkat menemui Elara. Kali ini, ia memilih naik bus untuk mempercepat waktunya, menghemat energi untuk pertarungan batin yang akan ia hadapi malam ini.
Sesampainya di The Oracle, jantungnya terus berdebar-debar. Ia segera masuk ke ruang ganti, berganti pakaian kemeja putih longgar dan celana pendek gelap yang disediakan klub.
Ia melangkah ke ruangan VIP.
Ceklek!
Suara derit pintu menggema. Aidan masuk tanpa menutup pintu, matanya celingukan mencari Elara.
"Nona, Nona Elara anda dimana?" serunya pelan.
Tingkahnya benar-benar polos. Ia mencari-cari di setiap sudut ruangan, di balik tirai, dan bahkan membungkuk untuk melihat di bawah kolong meja, berharap menjumpai Elara yang bersembunyi.
Drap drap... Brak!
Suara pintu yang ditutup dengan keras membuat Aidan melompat kaget. Ia berbalik dan mendapati Elara sudah berdiri di ambang pintu, tertawa kecil melihat tingkah konyolnya.
"Lo, lagi ngapain coba? Kayak anak kecil," sindir Elara, menyandarkan tubuhnya di pintu.
Aidan tersenyum malu. "Ehh, saya kira Anda sedang sembunyi, Nona. M-maafkan saya."
Tingkahnya yang polos dan salah tingkah itu membuat Elara tertawa geli.
Malam ini, Elara tampak lebih santai. Ia mengenakan rok mini ketat berwarna merah anggur dan kemeja putih crop top yang memperlihatkan sedikit perutnya yang rata. Di tangannya, tersampir jas oversize kesayangannya.
"Plester, kenapa lo?." tanya Elara, suaranya tenang, namun matanya tetap memancarkan d******i yang kuat.
Aidan berdiri kaku. Elara berjalan mendekat. Ia mendesak tubuh Aidan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding marmer yang dingin.
"Berantem ya? kayak bocah aja pake berantem-berantem segala."
Aidan menggeleng. "I-ini cuma luka kecil aja kokk."