Permintaan Maaf Liam

1865 Kata
Malam promnight berakhir, tetapi bagi tim basket, perayaan masih berlanjut. Di sudut gelap, di luar pengawasan guru, mereka menyelundupkan alkohol. Gelas-gelas terangkat, gelak tawa membuncah, dan bunyi kaca beradu menggema. “Untuk kemenangan pertandingan akhir tim basket kita ....” Liam meneguk minumannya, sensasi panas mengaliri tenggorokannya. Ini pertama kalinya ia minum tanpa batasan dari ayahnya. Jumlah gelas yang ia habiskan? Ia tak tahu lagi. "s**t, Liam, kau minum berapa banyak?" tanya temannya, setengah terkejut. Liam terkekeh, pandangannya kabur. "Jangan dramatis." "Dengar, kita minum sampai tumbang!" sahut yang lain. Sebagian mulai goyah, beberapa masih bertahan. Liam termasuk yang cukup sadar untuk melihat dunia mulai berputar, lalu ia menangkap sosok bayangan tak jauh darinya. Liam menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangannya. "Orang?" gumamnya pelan, kepalanya sedikit miring saat ia melangkah mendekat. “Liam aku—” Suara itu semakin membuat Liam yakin bahwa yang berdiri di hadapannya saat ini adalah manusia. “Aku menyukaimu ....” Liam berusaha sadar, tapi bayangan itu tetap kabur. Ia merasakan sesuatu di tangannya, benda terbungkus rapi. Namun, dalam mabuknya, ia menafsirkannya aneh lalu terkekeh dan melemparkannya ke tanah. “Hadiahmu—” “Apa yang kau pikirkan tentangku, menyukaiku kau bilang?” Liam saat ini semakin mengeraskan suara tawanya saat samar-samar orang yang begitu besar menyatakan cinta padanya. Ia benar wanita? ucap batin Liam lagi ketika memastikan bahwa seseorang yang berdiri di hadapannya adalah seorang wanita. Liam mendekat, menatap dengan mata berkaca-kaca karena mabuk. “Kau pikir aku akan menyukai gadis berbadan besar dan jelek sepertimu?” jawab Liam asal dan tidak terkontrol karena posisinya saat ini benar-benar mabuk. Udara mendadak dingin. Gadis itu tetap diam, tak menangis atau berteriak, hanya berdiri di sana, seolah mencoba mencerna luka yang baru saja Liam tebarkan. Liam mendekat lalu menyentuh pakaian seseorang itu. Tidak seperti seorang wanita. Pikir Liam yang langsung menebak dari bahan kain tersebut. “Aku tidak menyukaimu, kalau kau menyukaiku kau harus sepertinya yang begitu lucu dan cantik.” Liam mendorong seseorang itu dan untuk perkataannya selanjutnya Liam benar-benar asal menjawab karena dalam pikirannya tiba-tiba muncul pendukung wanitanya yang lucu nan menggemaskan yang selalu memberikan hadiah padanya. Liam melangkah cepat, enggan berurusan dengan seseorang yang baru saja menghampirinya. Ia hanya ingin kembali ke teman-temannya dan menikmati malam kemenangan ini. Namun, langkahnya terhenti begitu saja. Bukan karena seseorang memanggilnya lagi, tetapi karena tubuhnya mendadak limbung. Dunia di sekelilingnya berputar, lalu semuanya gelap. Cahaya matahari yang menyilaukan matanya lah yang menusuk kesadarannya yang masih terombang-ambing dalam sisa mabuk semalam. Liam mengerang pelan, tangannya terangkat memijat pelipis yang berdenyut nyeri. Rasa pahit alkohol masih melekat di lidahnya, bercampur dengan kepingan-kepingan ingatan yang berusaha menyusup masuk. Matanya menyapu sekitar. Tempat ini berantakan, botol-botol minuman berserakan, sisa pesta semalam. Teman-temannya masih tergeletak di berbagai sudut, tertidur dengan posisi tak karuan. Liam menghela napas, mencoba menstabilkan dirinya saat dunia masih terasa sedikit kabur di matanya. Ia memejamkan mata, mengingat kembali apa yang terjadi sebelum kesadarannya menghilang. Kilatan ketika acara promnight, ia berkumpul bersama temannya untuk merayakan kemenangan dan juga seseorang yang menghampirinya, semua mulai Liam ingat walaupun masih samar-samar. Kemudian seseorang datang menghampirinya. Dan, suara itu. Kau pikir aku akan menyukai gadis berbadan besar dan jelek sepertimu? Aku menyukaimu.. Suara lembut itu menggema di dalam kepalanya, begitu nyata hingga membuatnya tersentak. Mata Liam terbuka lebar. Seolah tirai yang menutupi memorinya tersibak, ia mengingat semuanya dengan jelas. “Hadiahmu—” Liam membeku. “Apa yang kau pikirkan tentangku, menyukaiku kau bilang?” Sebuah suara lain terdengar. Suaranya sendiri. Nada yang dingin, penuh ejekan. “Kau pikir aku akan menyukai gadis berbadan besar dan jelek sepertimu?” “Aku tidak menyukaimu, kalau kau menyukaiku kau harus sepertinya yang begitu lucu dan cantik.” Dada Liam terasa sesak. Ia mengingat perkataannya sendiri yang sangat kasar, menusuk dan tanpa belas kasihan. Namun, yang lebih buruk dari itu semua, ia kini menyadari kepada siapa kata-kata itu ia lontarkan. Seseorang yang ia hina dengan kasar itu adalah wanita yang selalu ada di setiap pertandingannya. Wanita yang diam-diam mendukungnya dari jauh. Wanita yang kini tak tahu di mana keberadaannya. Suara alarm meraung nyaring, memaksa Liam untuk kembali ke dunia nyata. Ia mengerjapkan mata, membiarkan kesadarannya beradaptasi dengan cahaya pagi yang menerobos masuk melalui celah tirai. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun tak beraturan, bukan hanya karena alarm yang membangunkannya, tetapi karena mimpi itu.. Liam menutup wajahnya dengan tangan, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang masih tersisa. Seolah mimpi tadi baru saja menghempaskannya kembali ke sepuluh tahun yang lalu, ke masa di mana ia, dengan begitu mudahnya, menghancurkan hati seseorang yang tulus menyukainya. Kemarin, perjodohan itu membuatnya mengingat segalanya dengan lebih jelas. Wajah Mona yang dulu sering ia abaikan. Tatapan lembutnya yang penuh harapan. Suara gemetar gadis itu ketika akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dan kata-kata kejamnya sendiri yang membalasnya. Liam meremas rambutnya, perasaan bersalah yang telah lama ia kubur kini kembali mencakar-cakar hati dan pikirannya. Ia tidak pernah lupa kejadian itu, tidak pernah benar-benar bisa menghapus rasa sesak yang menyertainya. Ia menghabiskan malam dengan bertanya-tanya, apakah Mona masih mengingat kejadian itu? Apakah luka yang ia tinggalkan masih tertanam dalam hatinya? Dan jika iya… apa yang harus ia lakukan? Liam tahu jawabannya. Ia harus meminta maaf. Seharusnya ia sudah melakukan itu sejak dulu, sebelum Mona menghilang dari hidupnya tanpa jejak. Tapi sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu… Masihkah Mona ingin mendengar permintaan maafnya? *** Di ruang kerjanya, Liam menunggu dengan gelisah. Pandangannya tertuju ke kaca besar, menanti sosok yang sejak tadi ia pikirkan. Hari ini ia berniat meminta maaf. Tidak hanya itu, ia juga ingin meyakinkan Mona untuk menerima perjodohan ini. Dan akhirnya, Mona datang lalu berjalan melewati koridor dengan langkah cepat, ekspresinya dingin, nyaris tanpa emosi. Detik berikutnya, pintu ruangannya terbuka, dan wanita itu masuk tanpa basa-basi. Liam segera bangkit dari kursinya, bersiap untuk berbicara, tapi sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Mona lebih dulu menyodorkan sebuah amplop putih ke arahnya. Liam menatapnya, lalu beralih pada amplop itu. "Mona?" tanyanya, suaranya terdengar hati-hati. Tanpa menunggu Liam merespons, Mona menggenggam tangannya dan memaksanya untuk menerima amplop itu. “Untuk kejadian kemarin," ucap Mona singkat. Liam mengernyit, membuka amplop itu dengan sedikit ragu. Namun, ketika ia membaca isi surat di dalamnya, tubuhnya menegang. "Pengunduran diri?" suaranya bergetar tipis. Mona menganggukkan kepalanya, "Aku bekerja di sini untuk membantu kedua orang tuaku, tapi sekarang aku rasa itu tidak perlu lagi. Permisi." Ia berbalik, berniat keluar, tetapi sebelum ia sempat menyentuh gagang pintu, Liam bergerak lebih cepat. Dengan sigap, ia menutup pintu dan berdiri di hadapan Mona, menghalanginya untuk pergi. Mona mendongak, menatapnya tajam. “Mona, kau bisa kan mendengarkan penjelasanku dulu?” tanya Liam, mencoba tetap tenang. Mona tak menjawab, ia justru berusaha menyingkirkan tubuh Liam, tetapi sia-sia. Postur tubuh pria itu jauh lebih besar, membuatnya sulit untuk melewatinya. "Apa? Mendengarmu yang ikut merencanakan semua ini?" sindir Mona tajam. Liam menutup matanya sesaat sebelum menggeleng. "Tidak, aku pun tidak tahu mengenai rencana kedua orang tua kita." Mona mendecih. "Tentu saja kau akan bilang begitu." Liam menatapnya serius. “Sekarang tenanglah dulu. Duduk dan kita bicarakan ini.” “Aku tidak mau,” ucap mona menekankan setiap kata, jelas menunjukkan penolakannya. Liam mengembuskan napas, lalu perlahan menyentuh lengan Mona. “Lepaskan aku! Aku tidak mau!” "Kenapa tidak mau? Dulu kau selalu ingin berdekatan denganku," ucap Liam spontan, tanpa berpikir. Mona terdiam. Bibirnya mengatup rapat, dan sorot matanya berubah. Apa maksud Liam mengatakan itu? Apa mungkin, pria itu masih mengingatnya? Tanpa sadar, Mona membiarkan Liam menggenggam tangannya dan membawanya ke sofa. Ia duduk, masih dalam kebingungan, sementara Liam duduk di hadapannya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Perjodohan ini… aku sama sekali tidak mengetahuinya, Mona," ujar Liam lirih. "Ayahku baru memberitahuku kemarin, sebelum pertemuan itu terjadi.” Mona tidak langsung merespons. Ia hanya menunduk dan mengepalkan tangannya. Liam mengamati ekspresinya, lalu dengan suara lebih pelan, ia berkata, "Aku mengingatmu, Mona." Mona menahan napas. "Gadis yang selalu hadir di setiap pertandinganku," lanjut Liam. Tubuh Mona menegang. Dugaannya benar. Liam masih mengingatnya. Tapi, jika ia mengingatnya, kenapa kemarin saat pertama kali mereka bertemu lagi setelah sepuluh tahun, ekspresi pria itu begitu datar, seolah ia adalah orang asing? "Aku baru tahu kemarin bahwa gadis yang dijodohkan denganku adalah orang yang selalu hadir di setiap pertandinganku semasa sekolah dulu. Ibuku yang memperlihatkan potretmu saat sekolah." Mona mengangkat kepalanya, menatap Liam dengan penuh kemarahan. Jadi, pria itu sudah tahu sebelum pertemuan mereka, tapi tetap memilih bersikap seolah mereka tak pernah saling mengenal? "Lalu kau pikir karena dulu aku selalu hadir di acara-acaramu, itu artinya aku mau menerima perjodohan ini?!" suara Mona meninggi, penuh amarah. "Itu sepuluh tahun yang lalu, Liam! Jangan pernah mengungkitnya lagi!" Liam menelan salivanya. Ia bisa merasakan kemarahan dan kebencian Mona yang begitu nyata, begitu dalam. Apa mungkin sikapnya selama ini membuat wanita itu membencinya sampai ke titik ini? "Aku mengundurkan diri," ucap Mona lagi, berniat bangkit. Namun, Liam kembali menahannya. “Tunggu dulu, kau tidak bisa mengundurkan diri begitu saja,” ujarnya tegas. Mona menatapnya tajam. "Kenapa tidak bisa?" "Kau sudah menandatangani kontrak, Mona. Kau tidak bisa keluar begitu saja. Semua sudah sesuai dengan peraturan perusahaan," jelas Liam. Mona terdiam sejenak, mencoba mengingat perjanjian kerja yang dulu ia tanda tangani. “Batalkan saja! Apa sulitnya?!” sergahnya. "Intinya aku tidak ingin disangkutpautkan dengan perusahaan ini, apalagi dengan perjodohan ini!" Liam mengembuskan napas panjang. “Perjodohan itu juga tidak bisa kau batalkan.” "Kenapa tidak bisa?! Aku bebas memilih pilihanku sendiri!" Mona bangkit berdiri. "Aku ingin berhenti dari sini dan stop membahas perjodohan itu!" Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, Liam menyatakan sesuatu yang membuatnya membeku di tempat. "Kalau kau memang ingin berhenti dari sini, itu artinya kau harus siap membayar denda berkali-kali lipat," ancam Liam, suaranya dingin. "Apa?!" Mona membelalak. "Ya. Kau harus bekerja di sini selama satu tahun sesuai kontrak. Baru setelah itu kau bisa mengajukan pengunduran diri." Mona menatapnya penuh kebencian. "Aku tidak mengada-ada, Mona," lanjut Liam. "Maka dari itu, tetaplah di sini dan—" Liam terdiam sesaat sebelum melanjutkan, sebuah ide melintas di kepalanya. "Menerima perjodohan ini dan menikah denganku." Mona membeku. Liam menatapnya dengan ekspresi penuh tekad. "Aku mohon, terima perjodohan ini dan bantu aku, Mona." Mona menatapnya curiga. “Bantu? Maksudmu?” “Menikahlah denganku selama satu tahun, sesuai kontrak kerja. Perusahaan ini membutuhkan pewaris, dan aku satu-satunya putra Lee Ye Joon. Aku tidak bisa membiarkan perusahaan ini jatuh ke tangan yang salah,” ucap Liam penuh kesungguhan. Mona terdiam, terkejut saat melihat Liam kini menyatukan kedua tangannya, seperti memohon. “Jika kau membenciku karena perkataanku dulu, aku minta maaf,” suara Liam melembut. "Aku benar-benar tidak bermaksud mengatakan hal itu padamu." "Saat itu aku mabuk dan aku, aku tidak tahu bila itu kau saat itu," jelas Liam pada akhirnya ingin mengakhiri kesalahpahaman dulu agar Mona mau menerima perjodohan ini. Mona tersentak. Jadi... Liam juga mengingat kata-kata kejamnya sepuluh tahun lalu? Dan tunggu, mabuk katanya? Tapi sayangnya, Mona tidak mempercayai itu. Apa yang Liam katakan benar-benar membuat hatinya teras sakit. Jelas Mona tidak akan mau menerima perjodohan ini! "Aku mohon, Mona," lanjut Liam lagi dengan memohon. Tapi bagaimana dengan pembatalan kontrak kerja? Itu berkali-kali lipat dan Mona tidak sekaya ayahnya. "Terima perjodohan ini dan bantu aku. Hanya setahun. Setelah itu, kau bebas. Kau bisa pergi dari hidupku dan dari perusahaan ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN