Satu minggu sudah Mona selalu bertemu dengan Liam dengan amat terpaksa di kantor, jujur sebenarnya Mona sangat malas untuk berhadapan dengan Liam namun ia tetap harus melakukan agar masa kerjanya di perusahaan Sykline Company bisa panjang.
Dan baru hari ini lah Mona bisa menenangkan pikiran untuk tidak bertemu dengan Liam namun ia tidak benar-benar bisa beristirahat karena daddy nya meminta dirinya untuk ikut bersamanya menemui seseorang yang sangat penting.
"Dad apa ini penting sekali?" Tanya Mona kepada daddy nya yang mengemudi menggunakan mobil pinjaman yang ayahnya katakan padanya.
"Ya sayang ini sangat penting sekali." Ucap Ruth Amberly sang ibu yang berada di sebelah Harold.
Mona saat ini mengenakan dress putih dengan sedikit motif di pakaiannya, rambutnya ia buat terurai dengan sedikit gelombang dan polesan makeup di wajahnya.
Dress yang ia kenakan saat ini adalah pilihan ibunya yang terlihat ingin sekali bila dirinya menggunakannya.
Dressnya terlihat bagus dan Mona merasa pakaian yang ia gunakan saat ini pasti memiliki harga yang mahal, ini sedikit mencurigakan kenapa bisa Ibunya mendapatkan pakaian ini, namun Mona tidak ingin berburuk sangka, tidak mungkin Ibunya mendapatkan pakaian ini untuk menutupi rasa gengsinya dengan meminjam uang kepada orang lain.
Sudah lama Mona tidak merasakan menaikki kendaraan bersama keluarganya dan Mona benar-benar merasa senang.
Mobil yang mereka naiki pun pada akhirnya berhenti di sebuah restaurant yang dulu biasanya mereka datangi.
"Dad restaurant inikan sangat mahal." Ucap Mona kepada ayahnya.
"Ya sayang, kita kemari hanya untuk menemui rekan Daddy." Ucap Harold menjelaskan kepada Mona.
Tak banyak bertanya lagi Mona pun segera turun dari mobil dan mengikuti langkah kedua kaki orangtuanya yang memasuki restaurant tersebut.
Sambutan pihak restaurant masih terlihat sangat baik kepada mereka walaupun mungkin berita kebangkrutan ayahnya sudah mulai meluas.
Mereka terus melangkah masuk ke dalam restaurant yang terlihat kosong tak ada yang mengunjungi hingga mereka memasuki sebuah tempat private room dan barulah di dalamnya terdapat orang di dalamnya.
Kedua orang tuanya terus melangkah namun tidak dengan Mona yang langsung menghentikan kedua kakinya ketika melihat pria paruh baya yang tengah duduk di sana tersenyum kepada kedua orangtuanya.
Tuan Lee? Batin Mona ketika melihat pemimpin perusahaan Skyline Company ada disini bersama dengan wanita paruh baya di sampingnya yang masih terlihat cantik dan juga pria yang mengenalan kemeja hitamnya, Liam.
"Mona sayang kemari.." Perintah Ibunya yang sudah bergabung bersama Tuan Lee.
Apa mungkin yang menawari tawaran kerja itu adalah Tuan Lee langsung kepada ayahnya? dan rekan ayahnya adalah Tuan Lee? memikirkan itu mendadak membuat kepalanya menjadi pening.
"Mona.." Panggil ayahnya agar Mona segera bergabung dengan mereka.
Dengan langkah yang terpaksa Mona pun mendekat dan menghampiri.
"Tuan Lee.." Ucap Mona dengan sopan.
Lee Ye Joon tertawa pelan mendengar Mona masih menyebutnya dengan sebutan Tuan. "Jangan memanggil saya Tuan.."
Jangan memanggilnya Tuan? ini benar-benar sangat tidak sopan.
Liam yang berada di kursinya hanya menatap Mona yang masih berdiri bingung dengan situasi yang saat ini sedang terjadi.
Ayahnya kembali memberikan isyarat kepada Mona untuk duduk, Mona pun pada akhirnya duduk di antara kedua orang tuanya, lebih tepatnya ia duduk tepat di hadapan Liam.
Kenapa ia juga datang kemari! Batin Mona merutuki keadaan yang benar-benar amat tidak ia sukai.
"Jadi pertemuan kita disini untuk membahas mengenai perjodohan kalian yang akan—"
"Tunggu sebentar, Maaf Tuan Lee saya memotong, Perjodohan?" Potong Mona ketika ayahnya Liam sedang berbicara.
Mona menatap kearah kedua orangtuanya yang kini juga menatap kearahnya.
"Daddy mengatakan hanya untuk bertemu rekan Daddy saja?" Mona menanyakan hal ini kepada Harold.
"Ya, bertemu rekan Daddy sekaligus untuk membicarakan perjodohan dan pernikahan kalian."
Mona masih bersikap tenang. "Mona masih belum paham. Daddy tidak melakukan ini karena perusahaan Daddy yang bangkrut ini kan?"
Lee Ye Joon dan Harold Dubert, kedua pria itu saling menatap ketika rencana mereka berdua untuk mempertemukan kedua anak mereka di perusahaan justru membuat Mona terkejut seperti ini.
"Maaf ini hanya sebuah strategi Daddy dan Paman agar pertemuan kalian tidak terkesan mendadak maka kami memiliki ide dengan membuat perusahaan seolah-olah bangkrut lalu Daddy merekomendasikan Skyline padamu.."
Jadi selama ini perusahaan ayahnya tidak bangkrut? dan semua ini hanyalah sebuah rencana dari mereka untuk mempertemukannya dengan Liam? Mona benar-benar Shock dengan apa yang baru saja ia alami.
"Mona sayang.." ibunya bisa mengetahui pasti putrinya sangat shock, ia juga memegang lengan Mona untuk menenangkannya.
"Daddy membohongi Mona?"
"Tidak ada cara lain, kalau Daddy mengatakan secara langsung padamu untuk menemui Liam pasti kau tidak akan mau.." Ucap daddy-nya menjelaskan.
Mona menghela nafasnya, ia benar-benar tidak menyangka niat baik untuk keluarganya justru malah mendapat balasan kebohongan saja?
Mona refleks bangun dari kursi ketika ia merasa sangat frustasi berada di tengah-tengah orang yang membohonginya.
"Mona tidak bisa."
Ekspresi kedua keluarga tersebut langsung gusar ketika Mona menolak perjodohan yang sudah sangat lama di nantikan ini.
"Mona sayang, Mona tidak bisa membatalkan perjodohan yang sudah berlangsung sejak kalian kecil ini."
Dari kecil? Sejak kecil ia sudah di jodohkan dengannya? Mona benar-benar Shock mendengar semuanya.
"Mona tidak bisa.. Permisi." Mona memilih untuk meninggalkan pertemuan yang baru saja di mulai itu bahkan pembahasan pun belum di mulai.
"Mona.." Panggil Harold dan hampir mengejar Mona bila istrinya itu tidak menahannya.
"Biar aku saja." Ucap Ruth kemudian ia lah yang mengejar putrinya.
"Maafkan Putriku.." Ucap Harold menahan malu dengan sikap Mona.
"Kami memahaminya, pasti Mona terkejut dengan semuanya.."
Harold menatap Liam yang sedari tadi hanya diam menyaksikan apa yang baru saja terjadi, ia bisa melihat penerus dari Skyline Company itu terlihat biasa saja.
Tentu saja Liam terlihat biasa saja karena dirinya sudah lebih dulu mengetahui mengenai perjodohan ini, perjodohan yang sejujurnya juga membuatnya kaget.
"Liam.."
Liam yang saat ini sedang duduk di atas sofa dengan korannya langsung meletakkannya ketika kedua orangtuanya tiba-tiba saja menghampirinya.
"Dad, Mom.. Ada apa?" Tanya Liam, tidak biasa sekali kedua orangtuanya ini bersikap seperti ini.
"Kami ingin membicarakan sesuatu padamu.."
"Tentu saja, katakan saja." Ucap Liam santai.
Ester Lansonia, ibu Liam ia pun memberikan sebuah mini album pada Liam.
Liam mengambil lalu mulai membuka album tersebut tanpa di minta oleh Ibunya.
Mona? Batin Liam ketika ia melihat ada potret sekretarisnya yang begitu cantik di dalam mini album tersebut.
"Kau mengenalnya kan?" Ucap ibunya lagi.
"Ya sekretaris Liam." Jawab Liam kemudian menaikkan pandangannya menatap ibunya.
Tak mendapat respon apapun dari mereka Liam pun kembali melihat isi mini album tersebut, membukanya lembaran demi lembaran hingga ada salah satu potret yang begitu Liam ingat dan sangat ia kenali ketika potret wajah seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah terdapat di dalam mini album tersebut.
Bukankah ia wanita yang dulu selalu menjadi pendukung setianya bermain basket dan memberikan hadiah padanya? Lalu kenapa potret tersebut bisa ada disini?
Liam mulai menyamakan wajah dari gadis pendukungnya dengan wajah Mona saat ini.
Mereka berdua benar-benar orang yang sama, Liam tidak menyangka perubahan Mona benar-benar drastis sekali, bahkan ia hampir tidak mengenalinya.
"Mona, ia adalah calon istrimu Liam." Ucap Lee Ye Joon to the point.
"Calon istri?" Ucap Liam terkejut bahkan ia langsung menutup mini album tersebut.
"Tidak Dad, ia sekretaris Liam." Lanjut Liam lagi mencoba menyangkal.
"Ya itu hanya sebuah rencana agar kalian bisa dekat satu sama lain."
"Daddy tidak bercandakan? ini menyangkut masalah masa depan Liam." Tegas Liam.
"Bercanda? apa wajah Daddy terlihat sedang bercanda?" Ucap Le Ye Joon dengan wajah seriusnya.
Liam bisa mengetahui itu dari ekspresi ayahnya. "Tapi perjodohan ini mustahil Dad, Liam tidak mau."
"Kau tidak bisa menolaknya Liam, perjodohan ini telah kami lakukan kepada kalian berdua sejak kalian kecil."
Sejak ia kecil? lalu kenapa ia baru mengetahuinya?
"Liam tidak mau Dad."
"Tidak bisa Liam, Mona juga bukan dari keluarga sembarangan, Ayahnya rekan bisnis Daddy sejak kami muda."
"Itu urusan Daddy dengannya, bukan kami yang tidak tahu apa-apa kemudian terjebak dengan perjodohan itu."
"Jadi tujuan Daddy memanggil Liam ke sini untuk membahas perjodohan ini? Kalau akan tahu seperti itu lebih baik Liam tidak kembali ke London." Liam meletakkan kasar mini album tersebut ke atas meja.
"Liam!"
"Daddy.." Ester menahan suaminya untuk mengontrol emosinya.
"Kalau begitu lebih baik Liam kembali ke Belanda." Liam sudah beranjak dari sofa
"Kembali ke Belanda itu artinya kau melepaskan Skyline Company dan namamu untuk meneruskan Skline akan Daddy cabut!"
Liam membalikkan tubuhnya kembali.
"Daddy!"
Hal yang sangat Liam tunggu untuk bisa menjadi pemimpin utama di perusahaan ayahnya tapi hanya perjodohan itu daddynya akan melepaskannya?
"Maka dari itu menikah dengan Mona makan penerus Skyline tetap padamu."
"Liam tidak mau! Liam belum ingin menikah!"
"Keputusan ada di tanganmu, menolak atau menerima."
Keputusan Liam pada akhirnya menerima perjodohan tersebut, bisa dilihat ia yang ada disini bersama kedua orang tuanya menemui kedua orang tua Mona dan juga menemui wanita itu setelah ia menyadari semua tenatang gadis masa sekolahnya, gadis yang selalu menjadi pendukungnya dan juga gadis yang menerima perkataan jahatnya yang membuat ia sampai detik ini masih mengingatnya dengan jelas di dalam otaknya.