Suara riuh penonton yang meneriakkan nama masing-masing pemain pun mereka lakukan untuk memberikan semangat kepada mereka yang sedang bermain basket, hal itu juga dilakukan Mona untuk memberikan semangat kepada salah satu pemain yang cukup populer di sekolahannya.
"Semangat Liam!" seru Mona memberikan semangat padanya.
Ya pria itu bernama Liam, sang pria berbakat baik itu di bidang non akademik dan akademik semua ia kuasai, ia benar-benar populer dan Mona sangat menyukai pria itu.
Setiap pertandingan yang diikuti Liam selalu menjadi agenda wajib bagi Mona. Melihatnya bermain sudah cukup untuk membuat harinya berwarna.
Namun terkadang ada pula yang tidak menyukai kehadirannya karena mereka semua menganggap tubuhnya yang begitu besar terlalu memakan tempat untuk pengunjung lain dan wajahnya yang mereka anggap tidak cantik ini membuat mereka meremehkan Mona.
Sekali lagi Mona memilih untuk tidak memperdulikan perkataan mereka semua yang ingin ia lakukan adalah menemui Liam dan memberikan hadiah-hadiah yang sudah ia persiapkan untuk diberikan kepadanya.
Mona senang memberi Liam hadiah karena respon pria itu begitu baik ia selalu menerima pemberian hadiahnya dan di balas dengan senyuman yang sangat ingin Mona lihat.
"Untukmu," ucap Mona ketika pertandingan berakhir dan langsung menghampiri Liam.
"Untukku?" tanya Liam sembari mengambil hadiah pemberian dari Mona.
Mona menganggukan kepalanya. "Ya untukmu ...."
Untuk kesekian kalinya Mona mendapatkan senyuman dari Liam.
"Terimakasih, kau selalu memberiku hadiah."
Mona sedikit terkejut ketika Liam mengatakan itu padanya, itu artinya Liam mengingatnya? Mona sangat senang sekali, untuk menanyakan hal tersebut pada Liam pun Mona tidak sempat pria itu sudah lebih dulu berlalu ketika pendukung lainnya mendekati Liam.
"Liam benar-benar melihatku?" gumam Mona pelan dengan girang, itu artinya Liam tahu bahwa ia hidup di dunia ini?
Kebahagiaannya ketika Liam tahu dirinya benar-benar ada di dunia ini semakin membuat Mona jatuh cinta pada Liam dan berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada pria itu di acara promnight.
Ia juga bahkan sudah mempersiapkan hadiah perpisahan terakhir di masa sekolah untuk Liam, Mona benar-benar semangat membawa hadia tersebut.
"Cupu, kau membawa apa?"
Mona menoleh. Sekelompok gadis yang kerap mengolok-oloknya berdiri di sana, tawa mereka terdengar tajam
"Hadiah? Untuk siapa? Liam?"
Setelah menyebutkan nama Liam pun ia langsung tertawa hingga membuat para teman-temannya yang lain ikut menertawakannya.
"Lihat dirimu dulu sebelum ingin menemui Liam."
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Mona pelan padanya, ia merasa pakaiannya bagus dan sangat tertutup untuk acara promnight seperti ini.
Tawa pun langsung Mona dengar kembali, bahkan yang menertawakannya jumlahnya lebih banyak di banding dengan suara tawa orang-orang sebelumnya.
"Ini acar promnight bukan acara rumahan dan kau hanya memakai kaos dan celana seperti ini saja?"
"Kenapa memangnya, tapi ini sesuai dengan warna dress code yang telah ditentukan."
"Ups aku lupa, pasti tidak ada dress yang muat di tubuhmu ya?"
Seketika, kepercayaan diri Mona runtuh. Hatinya perih mendengar kata-kata itu.
Mengapa mereka tidak bisa membiarkannya menikmati malam ini tanpa penghinaan? Apa salahnya memiliki tubuh besar? Mengapa hanya gadis bertubuh ramping saja yang dipuja?
Sebelum air matanya jatuh, suara lain memotong ejekan mereka.
"Mona.." Mona menoleh ketika sahabatnya yang selalu menjadi garda terdepannya datang menghampirinya.
"Sang pahlawan datang.."
"Zea.." lirih Mona lalu bersembunyi dibalik tubuh Zea yang jauh lebih kecil darinya.
"Apa tidak cukup selama tiga tahun kalian selalu memperlakukan Mona tidak baik?! dan sekarang di hari terakhir pertemuan di sekolah kalian masih memperlakukan Mona seperti ini?!" marah Zea. Ia yang bukan Mona saja merasakan sakit hati dengan perkataan buruk mereka semua.
"Kalian pikir kecantikan dan tubuh ideal akan bertahan selamanya? Siapa bilang Mona tidak bisa mendapatkannya?" ucap Zea benar-benar sudah sangat marah kepada mereka semua yang membully Mona.
Kata-kata Zea benar-benar membungkam mereka semua.
"Zea ayo.."
"Diam dulu Mona, aku ingin melihat sampai sejauh mana mereka ingin menghinamu lagi."
Mereka yang membully Mona memilih untuk pergi bila sudah beradu mulut dengan Zea.
"Aku baik-baik saja Zea ...."
Itu hanya perkataan saja tapi ketika Zea melihat manik mata Mona ia tahu bahwa sebenarnya ia sangat sedih.
Hanya tatapan mereka yang saling bertatapan Mona langsung memeluk tubuh Zea.
"Kenapa mereka begitu jahat, Zea?"
"Memangnya apa yang salah dengan tubuhku?"
"Tidak ada yang salah Mona, mereka hanya iri denganmu karena tidak makan dengan baik!"
"Mereka iri karena tidak bisa merasakan makanan yang enak dan bergizi."
Mona melepaskan pelukannya, Zea pasti selalu menjadi penenangnya, ia sangat menyayangi sahabatnya itu.
"Sekarang senyum, lihat bukankah kau ingin memberikan hadiah itu dan menyatakan perasaanmu pada Liam?"
Mona mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kala begitu cari Liam dan nyatakan perasaanmu Mona."
Mona menganggukkan kepalanya kembali dan mulai mencari keberadaan Liam.
Setelah sepuluh menit mencari keberadaan Liam akhirnya Mona menemukan pria itu yang tengah bersama rekan-rekan sesama pemain basketnya.
Jantung Mona benar-benar berdegup dengan cepat, ini sangat berbeda ketika bertemu dengan Liam saat melihatnya bertanding, ia benar-benar sangat gugup ketika mengingat dirinya akan menyatakan perasaan cintanya pada Liam.
Jantung Mona semakin bertambah berdegup ketika Liam melihat kearah dirinya yang tengah mematung menatap kearah Liam.
"Apa yang harus aku lakukan." Gumam Mona ketika dirinya mendadak tidak bisa bergerak.
Mona mencoba menetralkan dirinya sebelum menghampiri Liam.
Ketika sudah berada di hadapan Liam Mona menarik sudut bibirnya hingga memperlihatkan lengkungan senyumannya.
Liam menatap Mona dari ujung kepala hingga ujung kaki, ekspresinya sulit diartikan.
"Liam aku--"
Mona semakin gugup ketika Liam menatap dirinya dengan tatapan sayunya.
"Aku menyukaimu ...," ucap Mona dengan memejamkan matanya dengan tangan yang terulur memberikan hadiah untuk Liam.
Sekitar tiga puluh detik Mona menyatakan cintanya pada Liam, Mona membuka matanya kemudian menyaksikan hal yang cukup membuatnya sedikit bingung.
Liam menertawakannya bahkan menjatuhkan hadiah pemberiannya.
"Hadiahmu--"
"Apa yang kau pikirkan tentangku, menyukaiku kau bilang?" ucap Liam masih tertawa sekeras mungkin, mungkin suaranya itu terdengar hingga teman-teman basketnya yang kini menatap kearah dirinya bersama Liam.
"Kau pikir aku akan menyukai gadis berbadan besar dan jelek sepertimu?"
Senyum di bibir Mona perlahan memudar, ketika kata-kata menyakitkan yang selalu ia dapatkan dari teman-teman satu sekolahnya kini ia dapatkan oleh Liam, pria yang selalu menjadi penyemangatnya dan pria yang ia cintai ini.
Liam menyentuh pakaian Mona seolah jijik. "Aku tidak menyukaimu, kalau kau menyukaiku kau harus sepertinya yang begitu lucu dan cantik."
Setelah mengatakan kata-kata yang begitu jahat itu Liam mendorong Mona pelan dengan jemarinya hingga membuat gadis itu memundurkan beberapa langkah kakinya.
Setelah menghina begitu kejam, Liam bergegas kembali lagi ke teman-temannya yang menunggu dirinya, sedangkan Mona ia memundurkan langkahnya pelan kemudian segera pergi dengan air mata yang perlahan menetes membasahi pipinya.
Hatinya begitu sakit, ketika apa yang ia anggap baik tentang Liam ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Ia menganggap apa yang pria itu lakukan padanya hanyalah sebuah topeng untuk menutupi reputasinya yang baik di sekolah.
Nyatanya pria itu sama dengan yang lain yang hanya menganggapnya sebagai gadis buruk di mata mereka.
Mona tersadar dari lamunan panjang yang membuat hatinya kembali terasa sakit, bahkan untuk menghirup udara pun saat ini terasa sesak untuknya.
"Mona, kau kenapa?" tanya Boy rekan kerjanya disini.
"A-aku baik-baik saja."
Mona baru menyadari rupanya didepan perusahaan sudah tidak ada siapapun kecuali dirinya dan rekannya yang sengaja menghampiri Mona ketika melihatnya sudah terdiam cukup lama di depan perusahaan.
"Sudah sekitar lima menit yang lalu Tuan Lee dan putranya masuk kedalam yang lain pun ikut masuk ke dalam."
"Kau memikirkan apa Mona?"
Mona menggaruk tengkuknya sendiri kemudian menggeleng.
"Aku diminta Tuan Lee untuk memanggilmu." ucap Boy kembali.
"Aku?" Mona menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, Kau kan sekretarisnya pasti ia membutuhkanmu."
Mona menganggukkan kepalanya, "Terimakasih Boy."
Mona segera menuju ruangan Tuan Lee, jangan sampai performa kerjanya menurun karena kelambatannya ini.
Mona sejenak mengatur napasnya ketika ia sudah berada di depan ruangan Tuan Lee, setelah napasnya telah teratur dengan baik Mona pun lamgsun mengetuk pintu ruangan atasannya itu.
"Permisi Tuan Lee," ucap Mona setelah dirinya membuka pintu ruangan milik Lee Ye Joon.
"Ya masuk Mona."
Setelah mendapat perintah untuk masuk Mona pun segera masuk ke dalam ruangannya.
Mona sedikit terkejut ketika melihat di dalam ruangan atasannya itu ternyata ia tidak sendiri, rupanya Liam pria yang menolak cintanya dengan kejam itu ternyata ada disini.
Mona sama sekali tidak ingin melihat Liam dan memilih untuk fokus kepada Tuan Lee.
"Ada apa Tuan Lee memanggil saya?"
Tuan Lee memberikan senyumannya kepada Mona. "Kehadiran putra saya kemari itu menandakan bahwa tugas-tugas saya di perusahaan tidak lagi begitu produktif."
"Jadi saya ingin kau membantu Liam.."
"Saya, membantu putra anda?" ucap Mona dengan nada terkejutnya.
Sedangkan Liam yang sedari tadi duduk di sofa segera bangkit dan menghampiri.
"Saya Liam.." ucap Liam lalu mengulurkan tangannya kepada Mona yang enggan untuk melihat pria itu
Namun Mona harus terpaksa membalas jabat tangan pria itu dengan cepat. "Mona."
"Semua tugas saya akan di alihkan kepada Liam dan kau hanya perlu membantunya."
"Saya sekretaris Tuan Lee.."
"Benar, tapi saya mau kau menjadi sekretaris Liam."
Mona terdiam, jujur kalau ia bisa menolak mungkin ia akan menolak, tapi bagaimana dengan kedua orangtuanya bila ia menolak maka ia harus kehilangan pekerjaan ini.
"Hari ini kau bisa membicarakan tentang perusahaan kepada Liam dan juga rapat kepadanya," putus Lee Ye Joon ketika diamnya Mona adalah sebuah jawab iya untuknya.
"Liam berbicara dengan baik kepada Mona."
"Maksud Daddy agar Mona bisa merasa nyaman padamu."
Liam hanya mengangguk saja.
Kini di ruangan hanya tersisa Mona dan juga Liam setelah Tuan Lee keluar dari ruangan.
Suasana begitu canggung untuk Mona bahkan ia sama sekali tidak melihat ke arah Liam.
"Duduk denganku di sana." ajak Liam, Mona pun hanya mengikuti saja perintah Liam.
"Jadi untuk besok apa ada jadwal rapat yang harus ku hadiri?" tanya Liam.
Tangan Mona di bawah sana mengepal, suaranya masih sama lembutnya ketika ia memberikan hadiah kepada Liam dan diterima baik olehnya.
Bersikap biasa saja Mona, pria itu bahkan sudah melupakan segalanya! Batin Mona berteriak.
Ada rasa kesal Mona ketika melihat ekspresi bahkan raut pria itu terlihat biasa saja dan melupakan kesalahannya.
Bukankah seharusnya ia mengucapkan kata maaf padanya.
Liam benar-benar telah menganggap semuanya tidak ada, Mona benar-benar membenci pria itu.
"Saya belum memeriksanya," jawab Mona singkat tanpa melihat Liam.
"Lalu pembahasan terakhir apa yang di bahas melalui rapat?"
"Pembangunan proyek di San Fransisco," jawab Mona lagi dengan cepat ia ingin sekali segera keluar dari sini.
"Kalau begitu aku minta hasil rapat terakhir dan schedule," pinta Liam.
"Baik, kalau begitu saya permisi." ucap Mona sebelum ia benar-benar memilih untuk pergi dari ruangan.
Setelah ia berada di luar ruangan Mona menghela nafasnya panjang tapi tak lama ia juga mengepalkan tangannya.
Ia menganggap ini adalah hari tersialnya karena harus bertemu lagi dengan Liam, tidak hanya sekali bahkan mungkin ia akan bertemu dengan pria yang telah menolak cintanya dengan kejam setiap hari.