bc

Destiny of Queen Isabelle

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
love-triangle
time-travel
fated
second chance
kickass heroine
drama
mythology
magical world
superpower
rebirth/reborn
dystopian
like
intro-logo
Uraian

Ratu Issabelle dihukum mati karena fitnah yang tidak pernah ia lakukan.

Pada detik terakhir hidupnya, ia bersumpah akan kembali—bukan untuk mencintai Raja Alistair, tetapi untuk membongkar kebenaran yang memutarbalikkan takdir mereka.

Ketika ia membuka mata, Issabelle kembali ke masa dimana semuanya belum hancur.

Masa ketika raja masih bisa diselamatkan… atau dibiarkan hancur oleh pilihannya sendiri.

Namun semakin ia menjauh dari Alistair, semakin kuat tarikan takdir yang menghubungkan mereka—seakan hati raja mengenali sesuatu yang pikirannya telah melupakan.

Kali ini, Issabelle tidak datang sebagai ratu yang patuh.

Ia datang sebagai perempuan yang ingin mengubah hidupnya.

Mengungkap pengkhianatan tersembunyi.

Dan menantang takdir yang pernah membunuhnya.

Cinta hanya bisa bertahan bila kebenaran terungkap.

Dan kebenaran… adalah racun paling mematikan di istana.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Langit kelabu tidak sekadar menggantung di atas istana. Ia menekan, turun rendah seolah ingin menyaksikan sendiri akhir seorang ratu. Awan-awan pekat berputar pelan seperti pusaran luka yang ditoreh di d**a langit, dan angin membawa aroma besi, tanah lembap… serta ketakutan yang berbisik dari bibir ke bibir. Halaman eksekusi dipenuhi rakyat yang dipaksa hadir, pasukan yang wajahnya dipaksa tanpa ekspresi, dan bangsawan yang pura-pura buta pada apa pun selain kewajiban berpihak. Mereka semua tahu: Hari ini bukan hari seorang ratu dihukum. Hari ini adalah hari seorang ratu dikorbankan. Issabelle berlutut di tanah basah. Lumpur mencemari ujung gaunnya, tapi ia tak peduli. Mata hazelnya—biasanya lembut—kini redup, nyaris hampa, namun dalam kehampaannya ada kilauan dingin yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Seperti bilah yang tidak berisik, tapi siap menggores dalam. Ia tidak menangis. Tidak memohon. Bahkan tidak marah. Yang tertinggal hanyalah ketenangan yang terlalu sunyi… terlalu berbahaya. Algojo melangkah maju. Suara pedangnya saat ditarik dari sarung mengiris udara, membuat banyak orang menahan napas. Bahkan burung-burung di atap istana mendadak terbang pergi. Issabelle tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun—lebih mirip retakan pada patung yang hampir tumbang. “Begitu mudahnya aku dilenyapkan,” katanya, pelan namun setiap kata terdengar jelas di antara tiupan angin. “Padahal aku mengabdikan hidupku untuk kerajaan ini. Ironis.” Ia mengangkat wajahnya, dan tatapannya bertemu dengan Raja Eclestia. Tatapan itu bukan tatapan seorang istri kepada suami… melainkan tatapan seseorang yang tersadar bahwa orang yang ia percayai adalah tangan pertama yang mendorongnya menuju jurang. Raja Alistair berdiri dengan jubah hitam, wajah kaku seperti batu. Namun di mata itu—sekilas, sangat sekilas—terlihat sesuatu bergerak. Bukan penyesalan. Bukan keberanian. Tapi ketakutan yang dipaksa tersembunyi di balik kewibawaan. “Kau telah memilih ini Yang Mulia,” ujarnya, suaranya menembus lapisan-lapisan diam di sekeliling mereka. “Semoga kau tidak menyesalinya… ketika kebenaran merobekmu seperti pedang algojo merobek leherku hari ini.” Beberapa bangsawan menelan ludah. Pasukan tampak goyah. Karena meski diucapkan dengan sisa sisa tenaga yang dimilikinya, tidak menggema namun, mereka merasa seperti mendengar bisikan kutukan. Algojo mengangkat pedang lebih tinggi. Angin berhenti. Issabelle menunduk sedikit, lalu berbisik—bukan pada algojo, bukan pada rakyat namun, kepada raja sosok yang dulu dicintainya. Nada suaranya begitu tenang, tapi menyimpan kedalaman kegelapan yang membuat waktu seolah melambat. “Jika takdir memanggilku kembal aku tidak akan menjadi Isabelle yang kau kenal.” Ia mengangkat kepalanya sedikit, mata hazelnya menyalip dingin. “Aku membencimu Alistair.” Raja Alistair menegang. Sesuatu di dadanya merosot—sebuah rasa yang tidak ia mengerti… atau pura-pura tidak mengerti. Rasa itu menggerogoti ketegasan yang selama ini dibangun oleh ambisi dan ketakutan. Pedang algojo turun. Suara logam menghantam daging dan tulang—sekejap, final, brutal. Rakyat menutup mata serempak. Pasukan mengalihkan pandangan. Istana seolah menahan napas. Dan saat tubuh Issabelle jatuh, setitik darahnya menyentuh tanah Eclestia. Pada detik itu, angin tiba-tiba bergerak mundur. Burung-burung kembali ke udara dengan jeritan kacau. Awan gelap berputar, seolah ada sesuatu yang terbuka dari bawah tanah. Tidak ada yang berani berbicara. Raja Alistair merasakan dingin menjalar naik melalui sepatu botnya—dingin yang tidak berasal dari tanah, tapi dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa samar… namun hidup. Ia menggenggam pinggiran singgasananya sampai buku jarinya memutih. Sumpah terakhir Issabelle bergema di kepalanya, lebih keras daripada suara eksekusi barusan: “Aku Membencimu Alistair.” Gelap menutup. Sunyi menggema. Lalu… Kesadaran kembali—di tempat lain. Di waktu lain. Dengan nafas yang terputus-putus seperti baru selamat dari tenggelam. Issabelle terbangun di masa lalu. Tapi hatinya? Telah berubah menjadi medan perang. Dan kali ini… Ia bukan korban. Ia adalah badai.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook