bc

NEUROTRADE: The Monkey’s Cage

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
adventure
dark
reincarnation/transmigration
family
time-travel
system
age gap
fated
opposites attract
friends to lovers
badboy
kickass heroine
sporty
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
loser
campus
city
superpower
rebirth/reborn
poor to rich
love at the first sight
addiction
like
intro-logo
Uraian

Selamat datang di era di mana realita hanyalah kotak beton yang terlalu dingin.Bagi empat gadis ini, realita itu hampir runtuh. Di mansion mewah, seorang ahli waris yang dianggap sampah oleh ayahnya sedang menunggu hari untuk dibuang. Di gerbang sekolah kusam, seorang Lolita modis sedang dihitung harganya sebagai aset kotor oleh penagih hutang. Di kantin, seorang jenius sedang di-bully sebagai robot tak berperasaan. Dan di gang pasar, seorang petarung sedang berdarah, dikalahkan oleh kekuasaan licik sementara adiknya di rumah menahan lapar.Mereka cantik, berbahaya, dan sedang putus asa. Di saat batas akhir kesabaran mereka meledak karena dunia yang sama-sama busuk, sebuah ikon muncul di layar ponsel mereka. Seekor monyet kecil yang tersenyum lebar. [ZEN].Itu bukan sekadar aplikasi. Itu adalah jalan pintas. Sebuah undangan dari dewa-dewa dunia bawah yang licik untuk meninggalkan realita yang mereka benci dan masuk ke tempat di mana ego mereka akan menjadi senjata paling mematikan: NEUROTRADE.Misi pertama mereka hanya soal balas dendam personal. Sangat mudah. Tapi di saat mereka klik [JOIN], mereka tidak sadar kalau uang yang masuk ke rekening mereka adalah DP untuk jiwa mereka.Satu sentuhan. Satu transaksi. Dan pintu gerbang menuju "Kandang Monyet" terbuka lebar, mengurung mereka dalam permainan perdagangan kesadaran, di mana kawan bisa jadi komoditas dan taruhannya adalah eksistensi mereka sendiri.Mereka mengira mereka bisa menguasai sistem ini. Mereka salah.NEUROTRADE: The Monkey’s Cage. Permainan dimulai. Jangan lupa untuk Logout, kalau bisa.

chap-preview
Pratinjau gratis
🎬 PROLOG — “YANG PERTAMA DIINCAR”
Kamar itu adalah kotak beton yang terlalu dingin. AC diatur pada suhu 16°C, namun Aeryn masih merasa dunia di sekitarnya pengap. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang kosong—semacam cerminan dari isi kepalanya. Di bawah bantal, ujung logam pisau lipat kesayangannya terasa dingin menyentuh ujung jari. Itu adalah satu-satunya benda yang membuatnya merasa aman. Bukan tiket pesawat ke London yang tergeletak di meja rias, bukan juga limit kartu kredit tanpa batas yang diberikan ayahnya sebagai pengganti kata "maaf" yang tidak pernah diucapkan. Bagi Tuan Besar, Aeryn hanyalah sebuah investasi yang gagal. Dan di London nanti, ia hanya akan menjadi sampah mahal yang dibuang agar tidak mempermalukan nama keluarga. Drttt. Ponsel di atas nakas bergetar. Cahayanya yang putih bersih membelah kegelapan kamar. Aeryn melirik malas. Satu notifikasi muncul dengan ikon yang asing. Seekor monyet kecil yang menutupi matanya. [ZEN] 🐒: “Kamu terlihat bosan.” Aeryn mendengus. Jempolnya bergerak lambat, menyapu layar untuk menghapus gangguan itu. “Emang,” gumamnya pendek. Dua detik kemudian, ponsel itu bergetar lagi. Kali ini lebih panjang. [ZEN] 🐒: “Kamu cocok.” Aeryn mengernyit. Ia meraih ponsel itu, menatap layar dengan mata menyipit. “Sok tahu,” bisiknya sinis. Ia melakukan swipe dengan kasar, bermaksud mematikan layar dan kembali ke dunianya yang hampa. Namun, saat itulah terjadi. Layar ponselnya tidak menghitam. Sepersekian detik, perangkat mahal itu mengalami glitch hebat. Pikselnya pecah, warna putih minimalisnya berubah menjadi deretan angka koordinat yang berlari cepat—angka-angka yang tidak menunjukkan lokasi mana pun di peta bumi. Di sela-sela angka itu, muncul simbol-simbol aneh yang tampak seperti perpaduan antara rumus kimia dan huruf kuno yang belum pernah terlihat. Aeryn terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap datar. “Bug sampah,” gerutunya setelah layar kembali normal. Ia melempar ponsel itu ke ujung kasur seolah benda itu baru saja menyetrumnya. Ia tidak tahu bahwa koordinat itu bukan sekadar kerusakan sistem. Itu adalah sebuah alamat. Sebuah undangan untuk meninggalkan dunia yang ia benci, menuju tempat di mana egonya akan menjadi senjata paling mematikan. Di layar yang sudah gelap, pantulan wajah Aeryn tampak pucat. Dan tanpa ia sadari, di sudut layar yang paling bawah, ikon monyet itu muncul lagi sekejap—kali ini tidak lagi menutupi mata, melainkan tersenyum lebar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
688.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
928.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
331.3K
bc

Not just, the Beta

read
332.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook