Chapter 43

1420 Kata

Senyum Aira mengembang sempurna saat hamparan biru safir terbentang luas tepat di hadapannya. Harmoni deburan ombak yang mencoba memecahkan karang memenuhi indera pendengarannya. Serta merta teriakan camar menuju sarang seolah melukis sang jingga yang tengah menyapa rembulan di balik awan yang beriringan. Belai lembut angin menerpa wajah Aira yang tengah berdiri di balkon sebuah villa berornamen kayu yang pernah ia singgahi. Seperti mimpi yang tak berujung. Itulah gaung hatinya selama seminggu berlalu. Bagai sebuah klise, moments saat pertama kali bertemu hingga ijab kabul dengan Deanova terputar perlahan. Semua berawal dari sebuah keisengan lalu diikuti kebetulan. Serba kebetulan yang membawa mereka ke dalam peristiwa mengerikan dan berakhir dengan sebuah kebahagiaan. Kedua netra Aira

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN