"Kamu boleh membawa putri saya pergi setelah kamu mengucapkan ijab qabul di hadapan saya," sambung Hendra seraya mengulas senyuman tipis, suasana yang awalnya menegangkan kini justru disambut riuh tepuk tangan semua orang. Kedua netra Aira berkaca-kaca menatap sang papa sedangkan Deanova masih membeku di tempatnya dengan masih memunggungi semua orang. Hendra menganggukkan kepala memberi isyarat pada Aira untuk segera menyusul langkah Deanova. "Dev," desis Aira tepat di belakang punggung Deanova dengan tangan kanan terangkat hendak menyentuh tubuh Deanova. Namun, ia segera mengurungkan niatnya. Dengan jantung berpacu kencang perlahan Deanova berbalik badan, ia pandangi wajah cantik Aira yang tampak layu, menatap ke dalam bola mata Aira yang basah oleh air mata. Menyelami rasa terdalam

