bc

Suamiku Adik Iparku

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
arranged marriage
playboy
heir/heiress
drama
bxg
bold
city
office/work place
affair
addiction
like
intro-logo
Uraian

Di hari pernikahannya sendiri, Kinanti tidak pernah tahu bahwa pria yang mengucap ijab kabul bukanlah calon suaminya.

Zayn—pria yang dijodohkan untuknya—menghilang tanpa jejak tepat di hari sakral itu. Demi menjaga nama baik keluarga, Zayden, adik kembar Zayn sekaligus sahabat Kinanti di kampus, dipaksa menggantikan posisi sang kakak.

Tanpa penolakan. Tanpa pilihan. Pernikahan tetap berlangsung megah. Senyum tetap terpasang. Semua terlihat sempurna.

Kecuali satu hal. Kinanti tidak menyadari bahwa suaminya telah berganti.

Dan yang lebih berbahaya— ia justru diam-diam menyimpan perasaan pada Zayden sejak lama.

Malam pertama menjadi awal dari kejanggalan. 

Akankah Kinanti menerima takdir yang telah berubah? Atau justru membenci pria yang kini menjadi suaminya?

Dan ketika Zayn kembali. Siapa yang akan ia pilih? 

Satu rahasia. Dua saudara kembar. Dan satu pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kekacauan di Hari Pernikahan
“Dia belum ditemukan?” suara Davin bergetar, untuk pertama kalinya terlihat rapuh. Hari itu seharusnya berjalan sempurna. Rumah mewah milik keluarga Davin dipenuhi cahaya, bunga-bunga segar, dan tamu undangan dari berbagai kalangan. Musik mengalun lembut, pelayan hilir mudik, dan semua orang menanti satu hal: akad pernikahan Kinanti dan Zayn. Namun dibalik kemewahan itu, sebuah kekacauan terjadi. Seorang pria yang biasanya tegas itu kini berdiri di ruang kerja, nafasnya berat. Di depannya, Zayden berdiri kaku, masih mengenakan kemeja putih, wajahnya tegang. “Tidak, Yah. Ponselnya mati. Orang-orang kita sudah cari ke semua tempat,” jawab Zayden pelan. Hening. Seakan udara ikut berhenti. “Ini tidak mungkin terjadi hari ini…” gumam Davin, menekan pelipisnya. “Hari ini pernikahannya.” Zayden mengepalkan tangan. “Aku juga tidak mengerti kenapa Kak Zayn—” “Cukup!” potong Davin tiba-tiba. Ia menatap putra keduanya itu tajam. “Kita tidak punya waktu.” Zayden mengerutkan kening. “Maksud Ayah?” Davin mendekat, suaranya menurun, tapi jauh lebih berat. “Kamu yang akan menggantikan Zayn.” Dunia seakan runtuh dalam satu kalimat. “Ayah bercanda?” Zayden tertawa hambar, tapi matanya jelas panik. “Ini bukan hal yang bisa diganti begitu saja. Ini pernikahan.” “Dan kita tidak bisa mempermalukan keluarga Kinanti!” tegas Davin. “Ratusan tamu sudah datang. Semua orang tahu hari ini pernikahan mereka.” “Tapi aku, aku sahabat Kinanti, Yah…” suara Zayden melemah. “Aku bukan Zayn.” Davin menatapnya dalam. “Justru itu. Kamu orang yang paling kami percaya.” Zayden terdiam. Hatinya berantakan. Gadis yang hari ini seharusnya menjadi milik kakaknya. “Ayah tidak ingin melukai hati Kinanti,” lanjut Davin lebih lirih. “Dan ini satu-satunya cara.” Di sisi lain rumah, suasana tak kalah panas. Mardana berdiri dengan wajah merah padam. “Ini tidak masuk akal!” bentaknya. “Bagaimana bisa pengantin pria tiba-tiba diganti? Kami datang untuk menikahkan anak kami dengan Zayn, bukan dengan adiknya!” Soraya memegang lengan suaminya, mencoba menenangkan. “Mas, tolong… tamu sudah banyak. Kita tidak bisa membuat keributan sekarang.” “Aku tidak peduli!” Mardana menggeleng keras. “Zayn itu yang aku pilih. Dia cerdas, punya prinsip. Dia menantu idamanku!” Davin berdiri di hadapannya, menahan segala rasa bersalah. “Saya mengerti, Pak Mardana. Tapi kondisi ini di luar kendali kami. Kami tidak tahu ke mana Zayn pergi.” “Lalu kenapa harus Zayden?” desak Mardana. “Karena hanya dia yang bisa kami percaya untuk menjaga Kinanti,” jawab Davin tegas. Soraya menarik napas panjang, lalu menatap suaminya. “Mas… kalau pernikahan ini batal… kita yang akan menanggung malu. Bukan hanya kita, tapi juga Kinanti.” Mardana terdiam. Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kemarahannya sendiri. Ia menoleh, menatap pintu kamar tempat putrinya bersiap. Bayangan Kinanti kecil melintas di benaknya… lalu bayangan Kinanti hari ini, dalam gaun pengantin. Perlahan, bahunya turun. “Tapi dengarkan saya,” ucapnya akhirnya, suara berat dan dingin. “Jika suatu hari Zayn kembali… dia tetap menantu saya.” Davin mengangguk tanpa ragu. “Saya mengerti.” --- Beberapa saat kemudian, Zayden berdiri di tempat yang bukan miliknya. Jas pengantin itu terasa berat. Sangat berat. Ia melangkah menuju ruang akad, jantungnya berdetak keras. Dan di sana… Kinanti duduk anggun, wajahnya tertutup veil tipis. Cantik. Tenang. Tidak tahu apa pun. Zayden menelan ludah. Akad berlangsung khidmat. Satu tarikan nafas. Satu kalimat. Satu takdir yang berubah arah. “Sah.” Suara itu menggema. Dan sejak detik itu, Kinanti resmi menjadi istrinya. Hari berlalu dengan sempurna—di mata semua orang. Resepsi meriah, tawa, ucapan selamat, kilatan kamera. Tak satupun menyadari kebenaran yang tersembunyi. Termasuk Kinanti. Namun semua berubah saat malam tiba. Di kamar pengantin yang sunyi, Kinanti duduk di tepi ranjang. Tangannya saling menggenggam, menunggu. Menunggu suaminya. Waktu berjalan. Menit terasa panjang. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Lampu-lampu di halaman mulai redup satu per satu. Suara musik telah berhenti. Tamu undangan perlahan meninggalkan kediaman mewah keluarga Davin dan Nana, menyisakan sisa-sisa pesta yang masih terasa hangat di udara. Kinanti berdiri canggung di sudut ruangan, masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat. Senyumnya sudah lama hilang, digantikan kelelahan yang menumpuk sejak pagi. “Silahkan, Nyonya… saya antar ke kamar Tuan Zayn.” Seorang pelayan wanita mendekat dengan sopan. Kinanti mengangguk pelan. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Ia mengikuti langkah pelayan itu menaiki tangga besar menuju lantai dua. Setiap anak tangga terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk melangkah lebih jauh. Koridor lantai atas begitu tenang. Berbeda sekali dengan hiruk pikuk di bawah tadi. Pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gelap. “Ini kamar Tuan Zayn, Nyonya.” Kinanti menelan ludah. “Terima kasih…” suaranya hampir tak terdengar. Pelayan itu pergi, meninggalkan Kinanti sendirian di depan pintu. Sunyi. Tangannya terangkat perlahan, ragu. Entah kenapa, ada perasaan takut yang aneh menyusup ke dalam dadanya. Bagaimana kalau Zayn sudah di dalam? Bagaimana kalau dia menunggu? Bagaimana kalau… semuanya tiba-tiba terasa terlalu nyata? Kinanti menarik napas panjang. Lalu, dengan pelan… ia membuka pintu. Ceklek. Pintu terbuka. Dan… Kosong. Tidak ada siapa pun. Kinanti terdiam beberapa detik, lalu tanpa sadar menghembuskan napas lega. “Tidak ada,” gumamnya pelan. Perasaan tegang yang tadi membelit dadanya perlahan mengendur. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Kamar itu luas, rapi, dan terasa dingin. Terlalu rapi, bahkan. Seperti jarang benar-benar dihuni. Tanpa banyak berpikir, Kinanti segera bergerak cepat. Ia membuka resleting gaunnya dengan tangan sedikit gemetar, lalu melepaskan gaun pengantin itu seolah ingin segera keluar dari segala beban hari ini. Gaun itu jatuh perlahan ke lantai. Ia berjalan ke kamar mandi, menyalakan air, dan membiarkan tubuhnya diselimuti hangatnya air. Untuk beberapa saat, ia hanya diam… mencoba menenangkan pikirannya yang masih terasa penuh. Setelah selesai, ia berganti pakaian yang lebih sederhana—piyama lembut yang sudah disiapkan. Kinanti keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah. Ia melirik ke arah pintu. Masih tertutup. Ia duduk di tepi ranjang. Menunggu. Menit berlalu. Sunyi semakin terasa. Jam dinding berdetak pelan. Namun pintu itu tetap tak bergerak. Kening Kinanti berkerut. Aneh… Bukankah ini malam pertama mereka? Seharusnya Zayn sudah ada di sini… atau setidaknya datang. Ia melirik ponsel di meja, lalu kembali menatap pintu. Hening. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Hanya dirinya dan kamar yang terasa terlalu asing. “Zayn kemana?” bisiknya pelan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
701.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
941.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
337.4K
bc

Not just, the Beta

read
336.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook