Kabut Yang Aneh

1565 Kata
Siang harinya, semua baru terbangun pukul sepuluh. Dengan mata masih mengantuk, mereka bergantian mandi dan berganti pakaian, serta membereskan barang-barang dan pakaian mereka masing-masing untuk persiapan pulang setelah jalan-jalan nanti.   Pukul sebelas siang mereka semua sudah turun ke bawah dan langsung menuju ke dapur untuk menikmati sarapan sekaligus makan siang. Tampak Mang Ujang menyiapkan piring-piring makan untuk mereka semua. Sementara di atas meja sudah terhidang menu khas ala sunda. Mulai dari ikan dan ayam goreng, tempe dan tahu, sayur asem, lalapan lengkap dan tak lupa satu cobek besar sambal.   “Waaww … sayur asemnya wangi bangeeet!” komentar Sari sembari menghirup uap sayur tersebut dalam-dalam.   “Yang masak Teh Ratih ya, Mang?” tanya Mayang.   “Iya, Mbak Mayang. Ini semua istri saya yang masak,” jawab Mang Ujang sembari tersenyum. “Semoga cocok sama seleranya, ya.”   “Pasti cocok laah, Mang,” sambar Sarah. “Makanan sunda kayak begini sih semua orang pasti suka. Eh, si Tetehnya ke mana?”   “Di rumah, Mbak,” jawab Mang Ujang, “anu, itu lagi masak pesanan tetangga juga.”   “Wah, Teh Ratih rajin, ya,” komentar Dira. “Masakannya juga memang enak-enak, sih. Jadi banyak orang yang pesen, ya.”   “Iya, Mbak,” sahut Mang Ujang. “Ayo silakan, Mbak, Mas. Saya mau ke belakang dulu.”   “Terima kasih banyak ya, Mang Ujang,” ucap Dio sembari menepuk lengan penjaga villanya itu dengan penuh rasa terima kasih.   “Sama-sama, Mas Dio,” ucap Mang Ujang kemudian berlalu pergi.   Setelah itu Mayang, Dio dan semuanya segera duduk mengitari meja dan mulai menikmati makanan mereka.   “Seger banget ya, rasanya,” ucap Reindra yang asik menikmati kuah sayur asem di mangkuknya. “Setelah semalam makan banyak daging merah dan saus-sausan, makan yang kayak gini rasanya jadi nikmat banget.”   “Iya, semalam badan gue rasanya berat banget, nah sekarang kembali seperti semula,” ucap Nurin.   “Setelah makan kita langsung jalan aja, ya,” ucap Dio. “Jadi kan, mau ke hutan pinus yang ada kolam pemandian air panasnya?”   “Jadi dooong!” sahut semuanya serempak.   “Barang-barang udah dibawa turun semua, kan?” tanya Dio lagi. “Biar kita langsung pulang ke Jakarta nanti.” “Udah, kok. Semua siap,” ucap Mayang mewakili semuanya.   Selesai makan, mereka bersama-sama memasukkan semua tas dan baragn-barang lainnya ke dalam mobil. Setelah itu mereka berpamitan pada Mang Ujang dan istrinya, kemudian langsung masuk ke mobil dan berangkat menuju ke hutan pinus.   Siang itu mereka semua menghabiskan waktu dengan berfoto-foto di area hutan pinus yang cantik dan berendam air panas. Cuaca di daerah Lembang yang selalu sejuk cenderung dingin itu membuat mereka betah berlama-lama berendam.   “Woi, udah yuk, jangan kelamaan berendamnya,” tegur Adelio pada Dio dan Reindra. “Air belerang kalau kelamaan kena kulit bisa bikin kering. Uapnya juga kurang bagus kalau kelamaan dihirup.”   “Ah lo Del, lagi asyik, nih!” tukas Reindra yang masih terlihat bersandar santai pada salah satu dinding batu di kolam yang luas itu.   “Eh, bener sih kata Adelio, ayo Rein, kita naik,” ajak Dio. “Tuh, cewek-cewek lagi pada duduk-duduk di sana.”   Akhirnya ketiga laki-laki itu keluar dari kolam pemandian dan menutupi tubuh masing-masing dengan handuk lebar. Udara dingin yang langsung menerpa sesaat setelah mereka keluar dari rendaman air hangat membuat ketiganya sedikit menggigil.   “Haaai, kalian mau s**u jahe? Atau bandrek?” tanya Dira sambil melambai pada ketiga cowok yang datang mendekat. “Mumpung kita lagi pesen, nih.” “Ada sekoteng, nggak?” tanya Adelio.   “Nggak ada,” jawab Dira sambil menggeleng. “Adanya s**u jahe, bandrek, kopi hitam kopi s**u, teh manis, gimana?”   “Ya udah gue s**u jahe,” jawab Adelio.   “Idem,” jawab Dio dan Reindra kompak.   Kesembilan orang itu duduk di atas bang-bangku plastik kecil yang tersebar di sekeliling kios penjual minuman sembari menyeruput s**u jahe dan minuman panas lainnya masing-masing.   “Nyaman banget ya rasanya, berendam air belereng asli, setelah itu minum s**u jahe,” komentar Mayang sembari melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Menikmati keindahan pohon-pohon pinus tertutup kabut tipis yang mengelilingi area wisata di sekitar mereka.   “Iya, di sini enak, nggak terlalu ramai,” ucap Dira. “Padahal ini kan weekend, ya?”   “Mungkin ramainya kemarin, hari Sabtu,” ucap Dio. “Hari ini biasanya orang udah pada persiapan pulang.”   “Bener juga ya,” ucap Adelio. “Untung kita ke sininya nggak kemarin.”   “Eh nanti sebelum pulang kita foto-foto yuk,” ajak Sarah, “foto bebas aja buat kenang-kenangan. Mumpung ada kabut, nih.”   “Bukannya kalau ada kabut hasil fotonya jadi buram?” tanya Sari tak mengerti.   “Iya, gue emang sengaja mau ambil efek kabutnya, biar tambah dramatis,” ucap Sarah.   “Kalau punya naluri fotografer yang bagus emang gitu, lihat apa aja bisa dimanfaatin jadi efek foto yang bagus,” ucap Mayang yang bangga pada keahlian temannya itu.   “Iya, hasil foto-fotonya Sarah bagus, gue udah liat kemarin di i********: lo, Sar,” komentar Dira.   “Gue juga,” ucap Nurin, “hasil fotonya bukan cuma sekadar mengandalkan kamera mahal doang. Tapi sudut pengambilannya unik-unik, ya.”   “Eh, iya, gue belum sempet cek i********: gue. Dari kemarin ngurusin foto terus. Lo udah pada follow? Ntar gue follow balik, yah,” ucap Sarah yang senang karena bertambah teman.   Sarah memang tak punya banyak teman, karena dia bukan tipe orang yang harus memiliki circle tetap untuk kegiatan rutin nongkrong dan sebagainya sepertinya pergaulan zaman sekarang. Ia termasuk pemilih, dan hanya mau dekat dengan orang-orang yang benar-benar cocok saja dengannya.   Setelah menghabiskan minuman hangat masing-masing, mereka berganti pakaian di ruang-ruang ganti yang tersedia. Kemudian setelah selesai, mereka beranjak keluar dari area pemandian dan menuju lokasi hutan pinus yang membentang luas.   “Luas banget ya hutan pinus ini,” komentar Adelio, “dan di sepanjang lereng bukit ini banyak yang buka tempat wisata kayak gini.”   Dio mengangguk. “Seluruh badan bukit ini memang hutan pinus semua, makanya dijadikan lahan seperti ini,” ucap Dio.   “Enak banget ya, yang tinggal di deket daerah sini. Mau wisata tinggal naik motor,” ucap Reindra. “Tadi di sepanjang jalan gue ngeliat banyak pengunjung yang naik motor juga, loh.”   “Jangankan yang deket, yang dari Jakarta naik motor sampai ke sini juga ada loh, Rein,” ucap Dio. “Banyak motor plat B tadi di parkiran motor.”   “Eh, iya ya?” tanya Reindra. “Apa nggak pegel ya, naik motor dari Jakarta ke Bandung?”   “Ya pasti pegel, laah. Tapi kalau perginya sama pasangan kan jadinya asyik-asyik aja,” komentar Dira dari belakang Reindra.   “Eh kita foto di situ, yuk!” ajak Sarah sambil menunjuk ke atas, ke area hutan yang lebih tinggi. “Di sana nggak terlalu banyak pengunjung, jadi kita bebas setting tempat dan gayanya.”   “Ayo!” sahut yang lain sambil mengikuti langkah Sarah.   Setelah menapaki bagian hutan yang agak menanjak, kesembilan orang itu tiba di area yang lebih rapat pepohonannya dengan kabut yang lebih tebal.   “Wooww ….” desah Indah terkagum-kagum. “Rasanya kayak lagi di dunia lain nggak, sih …?”   “Iya, bener,” ucap Mayang menyetujui. “Hutannya kayak yang di settingan film-film fantasi gitu, ya? Keren ….”   “Nah, ini maksud gue,” ucap Sarah yang terdengar puas. “Keren banget kan, kabutnya? Ayo, kita langsung ambil foto. Gue mau bikin settingan landscape, nih. Kalian nyebar ya, berdiri di samping pohon-pohon yang berjauhan.”   Kemudian Sarah mengatur posisi ke delapan temannya. Ia menempatkan mereka semua dalam jarak sekitar enam atau tujuh pohon, menyebar di area tersebut.   “Kalian gayanya natural aja, ya,” ucap Sarah memberi instruksi dari kejauhan. “Jangan ada yang lihat ke kamera. Bebas aja, terserah mau bersandar di pohon, atau duduk di bawah pohon, atau jongkok, ngapain aja boleh. Pokoknya kalian harus berinteraksi dengan pohon masing-masing, dan jangan lihat ke arah kamera. Terus, kalau gue bilang ‘next’ kalian ganti gaya ya? Gue mau ambil beberapa kali. Oke?”   “Okeee!” sahut semuanya yang sudah siap di posisinya masing-masing.   Semua tampak senang dan sudah bisa membayangkan seperti apa kerennya hasil foto mereka nanti di tangan Sarah. Semua bergaya bak model professional dengan serius. Setiap kali Sarah berteriak ‘next’ semuanya serempak mengganti gaya mereka.   Mayang yang berdiri di pohon paling ujung dan paling tinggi dibandingkan teman-temannya yang lain, sedang mengambil pose bersandar ke samping pada pohon pinus di sisinya ketika ia mulai mendengar suara desau aneh itu dari arah belakangnya. Awalnya ia tidak memedulikannya karena sedang menahan pose dan berpikir bahwa itu hanyalah suara angin biasa. Tetapi suara desauan itu lama kelamaan menjadi terdengar seperti suara bisikan. Dan ketika suara bisikan itu terdengar semakin jelas di belakangnya, Mayang reflek membalikkan badannya.   Kabut tebal di hadapannya tersingkap perlahan seperti tertiup angin, dan memerlihatkan dua sosok di baliknya. Mereka berdiri berdampingan di balik bayang-bayang deretan pohon pinus yang berada tak jauh di hadapan Mayang. Keduanya tampak berdiri dengan gestur kaku, menatap ke arah Mayang. Belum sempat Mayang membuka mulut untuk memanggil teman-temannya, kedua sosok itu mulai bergerak mendekati Mayang. Dan Mayang sangat mengenali sosok-sosok itu.   Mereka adalah … Ridho dan Bayu.   Mayang terkejut dan melompat mundur ketakutan. Namun karena kontur tanah bukit yang menurun, gerakan mundur Mayang membuatnya terhuyung dan langsung jatuh terguling ke bawah. Mayang menjerit keras.   “Mayang!” Terdengar teriakan Dio dari bawah.   Dan Mayang tak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN