Mayang, Dio dan semua teman-teman mereka baru menyelesaikan acara barbeque sekitar pukul dua dini hari. Hujan meteor telah selesai dan hanya menyisakan beberapa meteor kecil saja yang terlihat melesat dalam interval jarak waktu yang cukup panjang.
“Wuaaahh … nggak sadar gue makan malam banyak banget hari ini,” komentar Dira sembari menggeliat kekenyangan.
“Iya nih, kita tadi baru mulai makan kan, menjelang tengah malam. Haduhh, gendut deh gue,” keluh Sarah.
“Nggak apa-apa kok, Sar, gendut juga tetep cantik,” ucap Adelio dengan tanpa ekspresi seperti biasanya, membuat wajah Sarah kembali memerah.
Mayang dan Reindra tertawa geli melihat wajah Sarah yang selalu kaku dan mendadak tegang setiap kali Adelio mengucapkan kata-kata manis berbentuk pujian padanya.
Sejak tadi Sarah sudah berusaha menghindari momen romantis dengan Adelio karena khawatir laki-laki itu akan mengambil momen bintang jatuh untuk menembaknya sekali lagi. Tapi Adelio tetap saja melancarkan kata-kata manis padanya setiap saat. Dan ia mengucapkannya dengan ekspresi sama sekali tidak merasa malu atau sungkan, dan menganggap apa yang ia katakan itu adalah hal yang wajar untuk diucapkan di berbagai kesempatan.
“Ya udah yuk sekarang kita tidur,” ajak Dio. “Besok mau jalan-jalan ke mana kita sebelum pulang?”
“Yang ada pemandian air panas di mana, ya?” tanya Sari bersemangat. “Kayaknya asyik, tuh!”
“Hutan pinus ajaaa, yang udaranya seger dan banyak pohon,” bantah Indah.
“Tapi kemarin kita udah ke hutan pinus waktu ke sini. Masa ke hutan pinus lagi, sih.” tolak Sarah. “Udah bener ke pemandian air panas aja!”
“Tapi kan kita nggak ikut waktu itu,” tukas Nurin.
“Udah, udah, jangan berantem,” lerai Dio sambil tertawa, “besok kita ke hutan pinus yang ada kolam pemandian air panasnya.”
“Eh, ada, ya?” tanya Sarah.
Dio mengangguk. “Nggak jauh dari lokasi hutan pinus yang kita datangi waktu itu,” jawabnya.
“Ya udah, oke kalau gitu, sih,” sahut Sarah.
Kemudian semua segera membereskan barang-barangnya masing-masing sekaligus membantu Mang Ujang dan Teh Ratih membereskan peralatan barbeque dan piring serta gelas mereka. Meskipun Mang Ujang dan istrinya sudah berusaha menolak tapi tetap saja Mayang dan lainnya memaksa untuk ikut beres-beres dan membersihka semuanya.
“Udah, nggak apa-apa, Teh, kita udah biasa bersih-bersih juga kok, di rumah. Iya kan, gaes?’ ucap Mayang pada teman-temannya.
“Iya, tenang aja. Teteh juga kan capek tadi seharian nyiapin peralatan ini sama bahan-bahan makanannya,” ucap Sarah sembari menumpuk piring-piring makan dan mengangkatnya sekaligus.
“Duh, tapi saya nggak enak nih, Mbak semuanya jadi ikut repot. Ini kan memang tugas saya, Mbak,” ucap Ratih dengan wajah sungkan.
“Nggak apa-apa Teh, santai aja,” ucap Dira sembari menepuk lengan Ratih. “Yuk, kita beresin yang ini.”
Dan akhirnya mereka semua selesai membereskan semuanya pukul setengah tiga dini hari. Setelah itu semuanya bergantian membersihkan badan di kamar mandi, dan berganti pakaian sebelum naik ke tempat tidur. Para cewek yang formasi tidurnya masih bersama-sama di kasur yang dijajarkan di atas lantai, berbaring bersebelahan dan langsung saja bergosip.
“Lo kenapa sih Sar, tadi? Ngehindarin Adelio terusterusan pas ada meteor?” tanya Dira. “Kasian tau, si Adelio nyariin lo ke sana ke sini.”
“Dia takut ditembak. Hahaha!” Indah tertawa keras-keras.
Sarah menonjok lengan Indah sampai gadis itu terhuyung. “Berisik lu!” desisnya. “Adelio di kamar sebelah tauuu, nanti dia denger!”
“Oh iya maaf, maaf,” ucap Indah yang langsung membekap mulutnya sendiri.
“Padahal Adelio mau ngambil momen bintang jatuh tuh, buat mengungkapkan perasaannya. Eeh, yang mau diungkapin malah kabur-kaburan” ucap Nurin sambil terkekeh-kekeh.
“Itu tuh gara-gara pembahasan soal teori bintang jatuh sama Mang Ujang dan Teh Ratih,” ucap Sarah setengah kesal. “Setelah denger penjelasan itu, entah kenapa si Adelio jadi agak gimanaa, gitu.”
“Gimana gitu gimana maksudnya?” tanya Indah bingung.
“Yaa … gimana yah ….” Sarah mengeritkan dahi berpikir sesaat. “Dia jadi kayak lebih lembut gitu sikapnya sama gue, terus cara ngomongnya juga jadi agak beda. Kayak … apa yah … kayak mau memulai sesuatu yang romantis dan sedang menunggu momen yang pas. Ya jelas aja gue jadi pingin kabur. Gue tuh agak geli sama hal-hal yang terlalu manis dan romantis gitu. Gue nggak nyaman.”
"Oh ... gue ngerti," ucap Mayang. "Adelio mau ngambil momen 'langit sedang terbuka' itu untuk nembak lo Sar, berharap langit akan mendukung dia dan mendorong lo untuk menjawab 'iya'. Hihihi!"
"Nah, kayaknya gituuu!" ucap Sarah setuju. "Dan gue nggak mau kayak gitu."
“Jadi lo maunya kalau orang nembak lo, dengan cara biasa aja tanpa harus pada saat momen tertentu, ya?” tanya Dira. “Misalnya pas lagi berpapasan di jalan terus langsung bilang: ‘Eh, Sar, mau ke mana lo? Oh iya, by the way, lo mau nggak jadi cewek gue?’. Gitu?”
Semua tertawa terbahak-bahak mendengar ucapa Dira yang sangat lucu itu termasuk Sarah sendiri yang sedang menjadi topik pembicaraan.
“Ya nggak gitu juga kaleeeee!” bantah Sarah kesal sekaligus geli.
“Tapi kan lo bilang waktu itu lo udah pernah nolak dia kan, Sar?” tanya Dira.
Sarah mengangguk. “Iya, udah pernah. Gue bilang gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia,” jawab Sarah yang kembali mengingat momen saat Adelio menembaknya di kafe saat makan malam bersama.
“Berarti Adelio gigih juga ya, mau berusaha deketin lo terus,” komentar Indah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Masalahnya,” sela Mayang ditujukan pada Sarah, “lo memang udah pernah nolak dia. Tapi, besok-besoknya kalau dia telepon lo, chat lo, atau bahkan ngajak ketemuan, lo selalu mau kan, Sar? Ya jelas aja Adelio jadi merasa bahwa masih ada harapan bagi dia untuk mengejar cinta lo.”
"Yaa ... iya, sih," ucap Sarah mengakui. "Masa gue harus ngereject semua telepon dia dan ngeblokir namanya di w******p, sih?"
“Nah, kan, berarti lo sebenernya suka juga ya sama Adelio?” tuduh Sari. "Kalau lo emang bener-bener nggak suka kan bisa aja lo blokir dia biar nggak bisa hubungin lo lagi sama sekali. Iya, kan?"
Sarah langsung membeku dengan wajah merah padam. Dan semuanya tertawa melihat ekspresi Sarah yang sangat jelas mengungkapkan isi hatinya itu.
“Gue tuh saat ini masih ngerasa nyaman temenan aja sama dia,” jawab Sarah akhirnya dengan jujur. “Bagi gue pacaran itu harus go with the flow. Jangan buru-buru gitu.”
“Tapi sebentar, Sar,” sela Mayang, “kalau soal go with the flow itu, kan relatif. Mungkin menurut Adelio dia udah mengikuti arus, dan nggak terburu-buru, karena dia merasa udah kenal lo cukup lama di bidang pekerjaan. Tapi menurut lo sendiri, waktu perkenalan kalian baru sebentar. Itu kan sebuah hal yang standarnya beda pada masing-masing orang.”
“Nah, bener tuh,” sahut yang lainnya setuju.
"Jadi, Adelio ngerasa ini udah waktunya, sementara Sarah ngerasa ini belum waktunya," ucap Indah.
“Iya juga, sih ….” ucap Sarah sambil berpikir. “Yah … tapi gue maunya dia yang ngikutin standar gue. Kalau menurut gue masih terlalu cepat ya berarti masih terlalu cepat. Gitu aja.”
“Dasar cewek yah, maunya dimengerti,” ucap Sari sok bijaksana.
“Lo kan juga cewek!” Kali ini Sari yang langsung terhuyung karena didorong oleh Sarah.
“Eh, ngomong-ngomong, kenapa cuma gue doang yang kalian tanyain?” tanya Sarah. “Nih, tadi ada yang mojok berduaan di tenda paling ujung. Nggak diwawancara juga?” Sarah menunjuk tepat ke wajah Mayang yang berbaring di sebelahnya.
“Oh iyaaaa!” seru yang lainnya seolah baru teringat bahwa tadi Mayang dan Dio sempat menghilang sesaat ke balik tenda saat semuanya sibuk menonton hujan meteor.
Mayang langsung nyengir. “Kirain kalian nggak pada merhatiin kalau gue ngilang sebentar tadi,” ucapnya.
“Merhatiin, laah! Cuma kita sepakat untuk pura-pura nggak tau aja,” ucap Indah sembari nyengir.
“Jadi gimana, May?” tanya Sarah penasaran. “Ada episode lanjutannya lagi nggak, setelah yang kata lo Dio mengungkapkan perasaan sama lo di kosan waktu itu?”
“Nah iya itu, gimana kelanjutannya?” tanya Nurin. Yang lainnya yang pada saat itu juga ikut mendengarkan ucapan Dio dari balik jendela kamar Dira ikut beringsut mendekat pada Mayang ingin mendengar kelanjutan ceritanya.
Akhirnya Mayang menceritakan semuanya pada teman-temannya. Semua yang dikatakan oleh Dio, tanpa dikurangi sedikitpun.
“Wow … Dio gentle banget gilaaa! Keren!” puji Indah yang memang dalam hati menyukai sosok Dio.
“Hmm … dia bener-bener serius sama lo, May,” gumam Sarah.
“Kata-katanya itu loh, OMG. Bikin gue baper dengernya ….” ucap Nurin dengan mata berbinar-binar, mungkin sedang membayangkan sosok Reindra sedang mengatakan hal seperti itu padanya.
“Dio itu nggak bertele-tele orangnya, ya,” ucap Dira. Ia teringat saat mereka semua menguping pembicaraan Dio dan Mayang dari balik jendela kamarnya. “Dia tipe langsung to the point dan cenderung bisa ngebaca apa yang ada di dalam pikiran lo, May.”
“Bener tuh,” ucap Sari setuju. “Dio bener-bener mau meyakinkan Mayang bahwa dia tau semua keresahan Mayang dan berjanji akan berusaha membantu dan melindungi setiap saat. Bahkan dia bilang dia akan mengutamakan Mayang dibandingkan kakak kandugnya sendiri. Itu keren banget, loh. Haduuh … kayak film drama romance aja hidup lo, May!”
Mayang tersenyum sedikit malu mendengar pujian dari teman-temannya. Dalam hati ia menyetujui semua pendapat teman-temannya yang menurutnya memang benar. Semakin lama ia semakin tahu seperti apa diri Dio seutuhnya. Mayang tahu bahwa dia harus bisa mengambil keputusan sesegera mungkin. Bukan karena ia sudah tidak sabar ingin punya suami lagi, tetapi untuk menghargai tekad dan niat baik Dio padanya. Ia harus segera menemui ibunya untuk membicarakan masalah ini.
Tebersit rasa khawatir dan takut Mayang jika ibunya nanti akan langsung menolak lamaran Dio. Tetapi ucapan Dio yang mengatakan bahwa ia nanti akan bisa punya cara untuk meyakinkan ibu Mayang, membuat Mayang tak patah semangat dan tetap memertahankan tekadnya.
“Jadi gimana, May? Lo mau terima lamaran Dio?” tanya Dira.
“Gue … mau ngomong dulu sama nyokap gue,” ucap Mayang. “Minggu depan deh pas weekend gue balik ke Bekasi. Mudah-mudahan nyokap gue bisa nerima.”
“Mau gue temenin, May?” Sarah menawarka diri.
Mayang tersenyum. “Nggak usah, Sar. Gue sendiri aja,” ucapnya.
“Oke,” ucap Sarah. “Mudah-mudahan deh, nyokap lo bisa berpikiran terbuka untuk menerima hal ini dan nggak mikirin soal kutukan itu lagi.”
“Pasti nggak bisa semudah itu, Sar,” ucap Mayang. “Hanya sedikit orang-orang yang bisa berikap terbuka dan berpikir logis kayak Mang Ujang dan Teh Ratih gitu. Kalian denger sendiri kan tadi, mereka yang tinggal di desa aja bisa berpikiran terbuka untuk menghadapi hal-hal yang berbau mitos seperti itu.”
“Iya sih,” ucap Sarah sambil mengangguk. “Kalau dipikir-pikir, Mang Ujang dan istrinya itu cerdas loh orangnya. Kayak bukan orang yang lahir dan tinggal lama di desa. Pemikirannya lebih global dan logis.”
Mayang mengangguk. “Mereka tipe orang yang cenderung mencari penjelasan dari setiap hal yang bagi orang lain tak terjelaskan dari sisi sains, cuma mereka menyampaikannya dalam bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh orang lain.
“Iya bener, gue salut liat mereka berdua,” kata Nurin, “kayaknya Mang Ujang juga tipe yang sering berdiskusi sama istrinya tentang berbagai hal ya, terbukti pemikiran mereka sama.”
“Padahal kalau orang desa kan kayak orang zaman dulu ya, biasanya yang laki-laki merasa lebih berkuasa sekaligus lebih pintar dari istrinya. Kalau mereka kayak setara gitu, ya,” ucap Indah.
“Bikin ngiri nggak sih ngeliat interaksi Mang Ujang dan istrinya?” Sari tampak menatap menerawang ke depan. “Mereka tetap mesra meskipun hidupnya sederhana banget, terus mereka juga nggak punya anak tapi nggak merasa minder atau malu dengan orang lain. Nggak peduliin omongan orang lain dan tetap melangsungkan pernikahan mereka padahal pas dihitung secara adat jawa, hasilnya ‘pati’ loh. Hebat yaa, mereka! Gue juga mau tuh punya suami kayak gitu.”
“Lo pingin suami yang mirip Mang Ujang?” tanya Sarah memperjelas.
Sari mendelik pada Sarah. “Bukan gituuuu! Maksud gue, kehidupan pernikahan dan konsep meeka dalam menjalani hidup itu loh yang bikin gue ngiri,” bantahnya.
Sarah terkekeh. “Oooh … gue kira lo naksir Mang Ujang. Gue bilangin Teh Ratih, loh!” ucapnya usil.
“Sialan lo!” tukas Sari sembari mendorong Sarah hingga wajahnya terjerembab masuk ke dalam bantal.
“Eh, ngomong-ngomong,” ucap Dira sambil menoleh ke arah Nurin. “Lo gimana sama Reindra, Nur? Ada hasil?”
Nurin tertawa kecil. Wajahnya terlihat malu sekaligus sedih. “Ada,” ucapnya. “Hasilnya jelek.”
“Whatt?” seru semuanya serempak.
“Jelek gimana, Nur?” Cerita dong!” pinta Sari memaksa. Yang lain juga ikut mencondongkan tubuh ke arah Nurin karena penasaran.
“Gue ditolak sebelum nembak,” ucap Nurin sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Hah? Gimana sih, maksud lo?” tanya Indah bingung.
“Yaa … gue tadi basa basi aja nanya ke Reindra, dia udah punya cewek atau belum. Kan, waktu itu kata Mayang dan Sarah, Reindra saat ini lagi single,” ucap Nurin.
“Terus, terus?” tanya Indah tak sabaran.
“Ya … terus Reindra jawab,” lanjut Nurin. “Katanya, dia udah punya cewek yang dia suka.”
Sesaat semua hening, menatap Nurin yang tampak sedikit sedih.
“Yaah … gagal. Kasian lo Nur, sabar yah,” ucap Dira sembari mengusap-usap lengan Nurin dengan prihatin.
“Makanya lo jangan terlalu agresif,” seloroh Indah, “yang smooth dong caranya kayak Dio dan Adelio gitu. Hehehe ….”
“Eh ngomong-ngomong siapa sih, cewek yang disukai Reindra?” tanya Sari penasaran. “Kalian berdua nggak tau?” Sari menoleh pada Mayang dan Sarah.
Mayang dan Sarah kompak menggelengkan kepala. “Kita sih sebenernya memang nggak pernah tanya Reindra lagi punya pacar atau ada cewek yang dia sukai atau nggak,” ucap Mayang. “Ya kita ngeliat aja dari aktifitasnya sehari-hari yang sering jalan bareng dan nongkrong bareng sama kita. Karena kalau dia punya cewek, pasti dia nggak akan sesering itu punya waktu luang untuk kita. Ya kan, Sar?” tanya Mayang pada Sarah.
Sarah mengangguk. “Sejak putus sama gue dulu itu, emang kayaknya dia belum pernah punya cewek lagi, sih. Kan gue sering liputan bareng sama dia juga pas weekend. Kalau dia punya cewek kan pasti pernah keliatan chattingan sambil senyum-senyum atau teleponan sama seseorang gitu. Ini sama sekali nggal. Kalem aja dia,” jelas Sarah.
“Tapi kayaknya Reindra kalau pacaran emang nggak suka gembar gembor atau pamer, sih,” ucap Mayang. “Dulu aja pas dia jadian sama Sarah, orang kantor nggak ada yang tau.”
Sarah terkekeh. “Iya ya, bener juga. Apa karena dia malu yah, kalau ketauan pacaran sama cewek belangsak kayak gue?” Sarah mengetuk-ngetuk dagunya sambil pura-pura berpikir.
Yang lain tertawa geli melihat gaya Sarah yang seperti itu. Tetapi Nurin malah ternganga, seperti baru menyadari sesuatu.
“Heh, kenapa lo, Nur? Kesambet?” tanya Dira sembari mengguncang-guncang bahu Nurin. Sadar, woi!”
Nurin menoleh dengan galak pada Dira. “Apaan sih, lo? Gue tuh baru terpikir sesuatu,” ucapnya.
“Apaan?” tanya Dira.
“Jangan-jangan … Reindra bilang kayak gitu tadi sama gue, hanya supaya gue nggak deketin dia lagi! OMG! Jangan-jangan dia lagi berusaha mau menghindari gue!” ucap Nurin dengan ekspresi cemas yang dilebih-lebihkan.
“Nah, tadi sebenernya gue udah mau bilang gitu, tapi takut lo tersinggung. Hahahaha!” Sari tertawa keras, disusul oleh tawa yang lain.
“Tapi … masa sih Reindra kayak gitu?” Mayang bertanya-tanya. “Setau gue dia orangnya terbuka dan selalu to the point deh. Nggak pakai drama-dramaan.”
“Tergantung situasi kali, May,” seloroh Dira. “Karena Nurin terlalu agresif dan nempelin dia mulu, mungkin Reindra terpaksa mengambil cara yang dramatis supaya Nurin cepet sadar dan nggak ngejar-ngejar dia terus.”
“Rese looo!” seru Nurin kesal pada Dira.
“Ya udah, mau si Reindra jujur atau cuma drama dengan mengatakan kalau dia udah punya cewek yang dia sukai, intinya sama aja. Itu berarti dia nggak ada minat pacaran sama lo. Jadi, ini udah waktunya bagi lo untuk mundur teratur, Nur. Oke?” ucap Sari sembari menepuk-nepuk punggung Nurin.
“Hhh … iya, dehh ….” ucap Nurin pasrah sembari merebahkan kepalanya di atas bantal. "Ya udah gue nunggui Adelio aja."
"Woi!" Sarah melempar bantalnya dengan keras sampai menimpa wajah Nurin yang langsung terbatuk-batuk dan tertawa.
Mayang tertawa geli. "Kok, marah Sar. Kan Adelio belum jadian sama lo. Berarti boleh laah, kalau Nurin sekadar berharap."
"Ciee cieee ... ditembak nggak mau tapi diambil orang juga nggak boleh," ledek Indah. "Posesif sebelum jadian."
"Ah rese kalian!" maki Sarah sembari menutupi wajahnya dengan bantal, sepertinya ia merasa malu sekali saat semua menyadari bahwa ia sebenarnya juga menyukai Adelio.
"Makanya, buruan dijadiin aja. Adelio baik kok, Sar. kayaknya dia serius sama lo," ucap Mayang. "Nggak usah pikirin soal tampilan dia yang androginy itu. Toh, aslinya dia laki-laki tulen, kan."
"Iya, Sar," timpa Dira. "Sekarang udah nggak zamannya lagi orang mengukur segala sesuatu dengan fisik. Cowok yang badannya berotot dan sixpack juga banyak yang ternyata isinya nggak cowok. Ya kan?"
"Betuuuul!" sahut yang lain kompak.
"Iya deh iyaaa ... akan gue pertimbangkan," ucap Sarah dengan suara teredam dari balik bantal yang menuutpi wajahnya.
“Ya udah, tidur yuk. Udah mau pagi loh, ini. Nanti kan kita masih mau jalan-jalan ke pemandian air panas,” ajak Dira.
Dan semuanya menuruti ajakan Dira, dengan langsung membaringkan kepala mereka di atas bantal masing-masing lalu langsung tertidur pulas. Kecuali Mayang.
Pikiran Mayang masih menari-nari. Di dalam pandangannya masih terbayang wajah Dio yang serius dan terlihat sangat gentle saat mengatakan semua itu pada Mayang. Di telinga Mayang juga masih terngiang pembicaraannya yang mengharukan dengan Dio tadi. Bukan bermaksud untuk membandingkan satu sama lain, tetapi Mayang belum pernah merasakan perasaan haru yang seperti ini saat menerima lamaran. Ridho dan Bayu sangat berbeda dengan Dio. Mereka semua memang berbeda dalamm porsinya masing-masing. Namun karena saat ini Dio lah yang sedang menunggu jawaban lamarannya, maka Mayang harus mengambil keputusan berdasarkan sikap Dio yang ia lihat tadi. Laki-laki yang berusia lebih muda darinya namun berpikiran dewasa dengan tekad yang kuat. Mayang tersenyum dalam tidurnya, menyadari bahwa sebenarnya ia juga telah jatuh cinta pada Dio.