Semua asyik mengamati langit, menikmati meteor yang mulai banyak terlihat. Wujud mereka yang bagaikan percikan kembang api melontar kuat dari sumber ledakannya, melesat cepat saling susul menyusul dan kejar mengejar satu sama lain. Sesekali tampak salah satu atau salah dua yang jauh lebih besar dari yang lain, mendominasi di antara percikan kecil di sekitarnya, bagaikan pempimpin kelompok yang sedang menyemangati pasukannya untuk berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi.
Semua tampak fokus menikmati pemandangan menakjubkan di atas sana sampai tak sadar kalau selama mereka terpesona melihat meteor, Sarah sudah mendokumentasikan banyak sekali foto candid mereka dari berbagai sudut. Posisi mereka yang menyebar antara api unggun, barbeque stall dan tenda-tenda atap, membuat Sarah merasa senang karena bisa mengabadikan satu momen dalam berbagai latar belakang.
“Rein, lo maju sana, berdiri sebelah Adelio,” bisik Sarah tiba-tiba pada Reindra.
“Lah, katanya karyawan Style nggak boleh ikutan,” protes Reindra heran.
“Kalau dari belakang mah nggak apa-apa, paling bentuknya siluet doang,” ucap Sarah. “Buruan.”
Reindra mengerutkan dahi melihat nada mencurigakan dalam suara Sarah. Kemudian dengan cepat tanggap Reindra melirik ke arah samping belakangnya dan melihat Dio yang sudah berdiri di samping Mayang dengan wajah seperti gugup.
“Oh. I see. Oke,” ucap Reindra yang langsung mengerti dan mengikuti instruksi dari Sarah.
“May, duduk sini, yuk,” ajak Dio pelan pada Mayang, mengajaknya duduk di bawah salah satu atap tenda yang terletak paling ujung, sedikit lebih jauh dari yang lainnya berada. “Teleskopnya udah gue pindahin ke sini. Enakan dari sini loh, nontonnya.”
“Oh, oke,” sahut Mayang dan mengikuti Dio untuk duduk bersamanya. Di bawah atap tenda itu sudah disediakan alas matras dan beberapa bantal duduk untuk mereka.
“Nih, posisinya enak buat ngeliat ke atas sana tanpa halangan,” ucap Dio sembari menggeserkan lubang intip teleskop ke arah Mayang. “Ini udah gue set di mode record, yah. Dia akan ngerekam terus selama satu jam.”
“Oke,” sahut Mayang sambil menempatkan sebelah matanya pada lubang teleskop dan mulai mengamati.
“Waaaw, keren banget Dio!” seru Mayang senang. “Ini teleskopnya benar-benar bagus! Hampir mirip sama yang di Planetarium, loh!”
“Gitu, ya?” tanya Dio. “Syukurlah kalau lo suka. Soalnya gue sendiri belum pernah cobain teleskop di planetarium.”
“Nih, ayo, lo liat juga!” ucap Mayang sembari menggerakkan pangkal teleskop ke arah Dio.
Dio pun menurut dan mulai mengamati melalui teleskop. “Waah, iya. Keren banget ya kalau lihat pakai ini. Meskipun bentuk meteornya juga tetep nggak bisa kelihatan jelas karena pergerakannya cepet banget, tapi ngeliat langit dalam jarak lebih dekat itu ternyata mengesankan sekali, ya?” komentar Dio yang benar-benar terkagum-kagum.
“Iya, keren kan?” sahut Mayang bersemangat. Senang karena Dio juga menyukai apa yang disukainya.
Dio diam saja. Ia tetap fokus memerhatikan langit melalui teleskop.
Mayang merasa heran karena Dio tidak menjawabnya. “Dio?” panggil Mayang.
Beberapa detik kemudian baru Dio mengangkat kepalanya, dan langsun menoleh pada Mayang. “Udah,” ucapnya sembari tersenyum.
“Ha? Udah apa?” tanya Mayang tak mengerti.
“Udah make a wish,” jawab Dio jujur.
Mayang tertawa kecil. “Lagi make a wish rupanya? Pantesan diem aja,” ucapnya.
“Lo nggak tanya, gue make a wish apa barusan?” tanya Dio.
Mayang menggeleng. “Kan, tadi gue udah nanya, tapi lo nggak mau ngasih tau. Masa sekarang gue tanya lagi?” ucap Mayang.
Dio tersenyum. “Itu kan, tadi. Kalau sekarang, gue mau kok kasih tau lo,” jawab Dio.
Mayang mengangkat kedua alisnya heran. “Gitu, ya? Ya udah kalau gitu, kasih tau dong, lo make a wish apa barusan?”
Dio menatap Mayang sejenak, lalu menjawab, “Gue berharap, lo akan bilang ‘iya’.”
“Hm? Iya apa?” tanya Mayang masih bingung.
Dio menggeser tubuhnya hingga menghadap ke arah Mayang, dan menatapnya dengan tatapan serius. Sementara Mayang yang sepertinya mulai mengerti apa yang akan dilakukan Dio, mendadak merasa tubuhnya panas dingin karena jantungnya berdebar-debar.
“May, gue … mau ngelamar lo jadi istri gue. Lo mau?” ucap Dio.
Sontak wajah Mayang langsung merah padam. Ia menatap Dio tanpa bisa berkata apa-apa. Kalimat Dio yang straight to the point dan diucapkan dengan nada tegas membuat Mayang lemas seketika. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia dilamar oleh laki-laki, dan ia sedikit banyak juga tahu kalau Dio berencana untuk menyatakan perasaannya sekali lagi, tapi cara Dio yang menyatakan lamaran dalam satu kalimat simpel justru membuat Mayang seperti mati kutu.
“Eh … ng ….” Mayang merasa benar-benar shock sampai tak bisa mengucapkan kalimat apapun.
“Eh, maaf, lo kaget, ya?” ucap Dio, kemudian menggeser tubuhnya sedikit menjauh dan menatap ke luar langit, memberi waktu untuk Mayang agar pulih dulu dari keterkejutannya.
“Iya, kaget … hehehe ….” sahut Mayang sambil tertawa gugup.
“Karena gue udah pernah menyatakan perasaan gue, jadi gue pikir saat ini tinggal menegaskan aja bahwa gue serius sama lo tentang perasaan gue, dan bukan cuma mau main-main aja,” ucap Dio. “Dan gue rasa untuk orang seumuran kita, nggak perlu lah ya, pacaran lama-lama. Karena saat menyatakan cinta itu, kita pasti udah yakin banget dengan perasaan kita. Dan gue yakin banget kalau gue cinta sama lo, May. Gue yakin kita bakalan cocok satu sama lain.”
Mayang terdiam mendengar kata-kata Dio yang diucapkan dengan sangat yakin itu. Ia percaya Dio tidak bohong, tapi saat ini, apalagi setelah kejadian siang tadi, pikiran Mayang menjadi kalut untuk menjawabnya.
“Gue tau, lo saat ini merasa bingung dengan kondisi lo, juga dengan pemikiran orang tua lo dan beberapa orang lainnya tentang lo. Apalagi tadi siang ada kejadian nggak mengenakkan yang membuat perasaan lo jadi semakin nggak nyaman, kan?” ucap Dio seperti membaca pikiran Mayang. “Tapi May, justru karena hal-hal itulah, gue jadi semakin memantapkan diri untuk ngelamar dan menikahi lo. Supaya gue bisa melindungi lo dari orang-orang yang ingin mengganggu dan menjelek-jelekkan lo. Gue pingin melepaskan lo dari fitnah yang ditimpakan atas diri lo secara sembarangan hanya gara-gara cerita mitos tak berdasar itu. Gue pingin bisa berada di samping lo saat lo sedang merasa sedih menerima itu semua, May.”
Mayang mengangkat kepalanya, dan menatap Dio dari samping. Raut wajah yang tampak polos dan cenderung berkesan remaja, namun sikapnya sangat dewasa. Mayang merasa terharu dengan niat baik yang disampaikan Dio padanya, dan rasanya sangat tidak menghargai sekali kalau Mayang tidak menganggapnya sebagai suatu perngorbanan yang patut diperhitungkan.
“May, please,” lanjut Dio, “hilangkan semua ketakutan lo kalau gue akan mati juga seperti suami-suami lo sebelumnya. Gue sehat, nggak punya penyakit jantung, dan nggak ada penyakit lainnya. Gue udah cek laboratorium lengkap dan cek ke semua dokter spesialis. Gue sehat, May. Gue nggak akan mati dan nggak akan membuat lo terkena fitnah kutukan itu lagi.”
Mata Mayang sontak berkaca-kaca mendengar ucapan Dio yang terasa sangat dalam itu. Dio benar-benar memikirkan semuanya dan sangat mengerti apa sebenarnya yang menjadi kekhawatiran Mayang.
“Dan soal kakak-kakak gue, terutama Mbak Shita, lo nggak usah pikirkan, May,” ucap Dio, lagi-lagi tepat sasaran. “Gue laki-laki dewasa yang bisa menentukan dengan siapa gue mau menikah, dan gue nggak butuh perwalian dari siapapun untuk melamar lo. Gue bisa melakukannya sendiri. Dan setelah menikah, lo nggak perlu berinteraksi dengan Mbak Shita kalau memang itu membuat lo nggak nyaman. Biarpun dia kakak kandung gue, tapi lo adalah istri gue. Gue akan lebih mementingkan kenyamanan lo dibandingkan kakak gue. Pegang janji gue ini, May.”
“Dio ….” Mayang tak tahan lagi. Air matanya akhirnya menetes setelah mendengar semua kalimat-kalimat tegas penuh perasaan yang diucapkan Dio sedari tadi. Kedua tangannya yang gemetar menutupi wajahnya.
“May,” panggil Dio dengan lembut. Ia meraih kedua tangan Mayang dan menariknya ke dalam genggamannya. “Niat gue ke lo bener-bener tulus. Gue cinta sama lo. Dan gue pingin membuat lo bahagia. Tolong lo percaya itu.”
Perlahan Mayang mengangguk. “Iya, Dio. Gue percaya,” jawab Mayang lirih.
“Jadi …?” Dio bertanya dengan kalimat menggantung.
“Jadi apa?” Mayang balik bertanya.
Dio tersenyum dan mengusap bulir air mata yang jatuh di pipi Mayang. “Jadi, jawaban atas lamaran gue tadi apa?” tanyanya mengingatkan Mayang pada pertanyaan awalnya tadi.
Mayang menatap kedua bola mata Dio yang menatapnya dengan penuh kelembutan itu. Kemudian perlahan ia mengangguk. “Iya, gue mau,” jawab Mayang dengan pipi bersemu merah.
“Yess!” seru Dio tertahan. “Makasih yah, May!”
Mayang jadi ingin tertawa melihat sikap serius Dio sebelumnya mendadak berubah menjadi ceria. Wajahnya terlihat sangat ceria sekali.
“Eh, kita jangan bilang siapa-siapa dulu, ya,” ucap Dio, “biar nanti jadi kejutan aja setelah aku resmi ngelamar kamu ke rumah.”
“Oke,” ucap Mayang sembari mengangguk. Dan wajahnya kembali terlihat murung.
Dio mengamati wajah Mayang dan mengerti apa yang sedang ia pikirkan. Dio mengusap kepala Mayang dengan penuh perasaan dan berkata, “gue yakin gue bisa meyakinkan orang tua lo, May. Gue akan berusaha keras supaya ibu lo, juga pakde dan bude lo, mau menerima lamaran gue. Tenang aja, ya.”
Mayang menatap Dio sesaat, kemudian mengangguk dan tersenyum.
“Ya udah, yuk, kita liat meteornya lagi!” ajak Dio. “Oh ya, lo belum make a wish lo, May. Ayo, make a wish juga, mumpung meteornya masih ada tuh!”
Mayang tersenyum. Meskipun ia tidak sepenuhnya percaya pada ucapan Mang Ujang tentang teori bintang jatuh tadi, tetap saja hal ini terasa sangat manis dilakukan. Apalagi bersama dengan orang yang ia cintai. Kemudian Mayang kembali melihat melalui lubang teleskop, mengamati meteor-meteor yang saling berlomba melesat di angkasa itu sembari mengucapkan harapannya dalam hati.
“Woi! Udah belum mojoknya?” tanya Sarah yang tiba-tiba berseru mengagetkan dari balik tenda atap.
“Woi, apaan sih?” tukas Mayang pura-pura kesal. “Siapa yang mojok? Orang lagi liat meteor.”
“Ya itu maksudnya! Gue juga mau lihat doong!” ucap Sarah sambil langsung ikut duduk berdesakan di bawah atap tenda.
“Ah lo Sar, ganggu aja,” celetuk Dio juga pura-pura terganggu, “lo nanti aja liat rekamannya. Sana sana!”
“Nggak mau, gue mau di sini,” ucap Sarah dengan ekspresi yang sedikit aneh.
Mayang menoleh menatap Sarah. “Sar? Lo kenapa? Kayaknya ada yang aneh …?”
Dio menjulurkan kepalanya melewati Mayang untuk ikut menatap Sarah. “Iya, lo kenapa, Sar?” tanyanya.
“Sssttt … diem, jangan berisik,” desis Sarah tiba-tiba.
“Hah … ada apaan, siiihh?” Mayang ikut berbisik penasaran.
“Gue lagi sembunyi dari Adelio,” ucap Sarah dengan suara rendah.
“Lah? Kenapa lo? Lagi berantem?” tanya Dio.
Sarah menggeleng. “Kayaknya dia mau nembak gue lagi. Makanya lo pada dieemm!” desis Sarah keras.
Dan bukannya diam, Mayang dan Dio malah sontak tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua tertawa sangat keras, bahkan Dio sampai terguling keluar dari tenda.
“Dih, apaan sih kalian! Malah berisik! Dasar penjahat!” maki Sarah kesal.
Dan tiba-tiba terdengar suara Adelio. “Sar? Lo di sini rupanya?” Adelio menjulurkan kepala ke dalam tenda, dan tersenyum melihat Sarah.
“Ehehee … iya nih, lagi gangguin Mayang sama Dio,” kilah Sarah dengan wajah berkerut antara senyum dan kesal.
“Ngapain gangguin mereka, mendingan kita makan, yuk. Lo dari tadi kan sibuk motret, belum makan. Nanti masuk angin, loh,” ajak Adelio sambil mengulurkan tangan. Wajahnya yang polos menatap Sarah menunggunya menyambut uluran tangannya.
“Sana, Sar, makan!” ucap Mayang sembari menyikut rusuk Sarah dengan cukup keras sampai Sarah mengaduh kesakitan.
“Aduuh, sial lo May!” gerutunya. “Iya, iyaaa!”
Dan akhirnya Sarah dengan pasrah menerima dirinya ditarik oleh Adelio menuju ke meja barbeque untuk menikmati makan malam mereka yang terhenti sesaat karena hujan meteor tadi.
“Kita juga makan, yuk,” ajak Dio. “Sekalian minum yang hangat-hangat.”
“Oke,” sahut Mayang sembari mengangguk.
“Perlu gandengan tangan kayak Sarah sama Adelio, nggak?” tanya Dio usil.
“Katanya mau diem-diem dulu, gimana sih?” tukas Mayang sambil mendelik protes.
Dio tertawa geli. “Iya juga yah. Ya udah yuk.”
Dan kemudian semua kembali melanjutkan makan malam mereka dengan ditemani hujan meteor yang masih berlangsung di atas kepala mereka. Sarah yang telah merasa cukup mengambil foto untuk keperluan majala Style kini mengambil foto bebas mereka semua tanpa konsep apapun. Mang Ujang dan Teh Ratih sibuk membuatkan minuman hangat untuk mereka semua dan dengan malu-malu menerima uluran piring berisi barbeque dari tangan Dio. Mereka berdua merasa sungkan makan bersama dengan tuan rumah mereka sendiri.
“Sini Teh, duduk sini,” panggil Indah pada Teh Ratih. Mereka semua sudah mengambil tempat di atas rumput untuk kembali menikmati makanan dan minuman mereka.
“Ih, gue suka banget deh sama kebayanya Teteh. Ini kebaya sunda, kan?” ucap Sarah sambil memegang pakaian yang dipakai oleh istri Mang Ujang itu.
“Iya, Mbak. Tapi ini mah yang biasa, banyak dipakai sama orang di kampung. Bukan yang kayak zaman sekarang itu loh, kan bagus-bagus yah modelnya. Saya lihat di TV,” jawab Ratih malu-malu.
“Iya, sekarang emang banyak model kebaya modern yang bagus-bagus, tapi aku justru tertarik sama kebaya Teteh yang modelnya masih original gini,” ucap Sarah. “Bagus buat dibikin foto yang berlatar klasik. Pas sama baju yang dipakai sama Mang Ujang itu.”
“Gitu ya, Mbak? Padahal ini bajunya udah jelek loh, Mbak. Udah usang gitu, hehehe ….” ucap Ratih sambil tersenyum malu.
“Kalau di kamera nggak bakal keliatan usang kok, Teh,” ucap Adelio, “apalagi fotografernya handal kayak dia.” Adelio menoleh ke arah Sarah dengan wajah polos penuh cinta, membuat Sarah grogi mendadak.
“Eng … nanti kalau udah fotonya udah jadi, aku kirim buat Teteh sama Mang Ujang, ya,” ucap Sarah menutupi kegugupannya.
“Waah, makasih yah, Mbak Sarah,” ucap Ratih yang tampak senang sekali. “Anu … fotonya nanti … apa bisa dicetak yang ukuran besar, Mbak? Saya pingin pasang di rumah.”
“Oo tenang, bisa banget. Mau sebesar apa, Teh? Hasil foto-foto yang tadi itu, bisa dicetak sampai selebar dinding rumah kalau mau,” ucap Sarah.
“Waah, masa sih, Mbak?” tanya Ratih terpana. “Tapi … dinding rumah saya sih nggak besar, Mbak. Jangan disamain sama dinding villanya Mas Dio ini loh yah, nanti kalau kebesaran malah nempelinnya sampai ke dinding luar rumah nggak habis-habis?”
Dan semua tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istri Mang Ujang yang sungguh lucu itu. Sementara Ratih tampak malu sekali ditertawakan oleh semua teman-teman majikannya. Namun dalam hati ia merasa senang karena teman-teman Dio sama sekali tidak merendahkan atau meremehkan dia yang hanya sebagai istri dari pengurus villa. Ia malah merasa dirangkul oleh semua teman-teman Dio.
“Teteh asli sunda, ya?” tanya Mayang.
“Nggak, Mbak Mayang. Saya ini keturunan jawa. Yang asli sunda kan Mang Ujang,” ucap Ratih.
“Oh, gitu,” ucap Mayang sambil mengangguk. “Pantas namanya kayak orang jawa, Teh.”
“Iya. Saya dulu sebenarnya nggak disetujui menikah sama Mang Ujang,” jawab Ratih yang mendadak curhat.
“Loh, kenapa, Teh?” tanya Indah.
“Biasa, Mbak, kalau orang-orang zaman dulu kan kalau mau menikah harus dihitung-hitung dulu. Semacam untuk melihat jodoh atua nggaknya. Nama, tanggal lahir, terus disesuaikan sama tanggal nikahnya. Kalau jatuhnya nggak bagus, biasanya jadi masalah karena keluarga nggak mau kehidupan pernikahan anaknya nanti nggak bagus,” jawab Ratih.
“Memangnya hitung-hitungan Teteh sama Mang Ujang waktu itu apa hasilnya?” tanya Mayang yang memang pernah mendengar adanya tradisi menghitung menggunakan nama dan tanggal lahir bagi pasangan yang hendak menikah.
“Hitungannya waktu itu ‘Pati’ Mbak,” jawab Ratih.
“Pati itu apa?” tanya Nurin tak mengerti.
“Pati itu artinya mati,” jawab Ratih lagi dengan tenang.
“Haaa? Ma … mati ….?” ucap Sari dengan ngeri.
Ratih tersenyum. “Pati di sini, bukan berarti mati meninggal, Mbak. Tapi mati rezekinya, atau mati kebahagiaanya karena berbagai alasan, misalnya nggak punya anak,” jelas Ratih.
“Oh, gitu ….” ucap Sari sembari mengangguk-angguk.
“Terus, setelah tau hasilnya ‘pati’, keluarga Teteh tetap ngizinin Teteh nikah sama Mang Ujang?” tanya Dira.
“Tadinya melarang, Mbak. Tapi karena melihat saya dan Mang Ujang sudah benar-benar serius, akhirnya diambil saja jalan lain untuk mengurangi atau … apa itu namanya ….” Ratih berpikir sesaat. “Meminimalisir gitu lho, Mbak. Meminimalisir hasil hitungan ‘pati’ tadi. Kan, kalau hitungan dari tanggal lahirnya mah sudah pasti, nggak bisa diubah lagi,” ucap Ratih.
“Jadi, apa yang dilakukan untuk meminimalisir hasil hitungan yang nggak bagus itu?” tanya Mayang penasaran.
“Diatur tanggal pernikahannya, Mbak. Ada hitungannya lagi, tapi saya kurang ngerti caranya. Yah, pokoknya sama keluarga besar saya dicarikan tanggal yang paling aman untuk melangsungkan pernikahan. Meskipun katanya tetap nggak bisa mengubah jalan hidup yang akan kami lalui. Ya buktinya ini, kami kan cuma hidup sederhana aja, nggak jadi orang kaya. Dan kami juga nggak punya anak,” ucap Ratih sambil tertawa ringan.
“Tapi … Teteh tetap ngerasa bahagia kan?” tanya Mayang.
Ratih mengangguk. “Ya tetap bahagia, Mbak. Mang Ujang juga bilang begitu. Hitung-hitungan yang dilakukan oleh orang tua kita itu mungkin memang benar, semacam prediksi berdasarkan kondisi alam semesta saat hari kelahiran kita, dan berdasarkan energi yang dihasilkan oleh nama yang kita bawa sejak lahir. Tapi pada pelaksanaannya, bahagia atau tidaknya itu kan kita sendiri yang bisa menentukan. Mungkin ada yang hasil hitungannya bagus dan hidup makmur banyak harta, tapi tetap nggak bahagia. Tergantung konsep hidupnya masing-masing aja, Mbak.”
Serempak semuanya menatap tanpa kata ke arah Ratih. Ratih balas menatap semua satu persatu dengan bingung.
“Anu … maaf, apa … saya ada salah ngomong, Mbak?” tanyanya heran.
Mayang tertawa kecil dan menjawab. “Teteh nggak salah ngomong. Mereka aja nih yang kaget karena Teteh ternyata pemikirannya sangat terbuka. Cerdas bahasanya, kayak anak kuliahan.”
Semua tertawa pertanda mengiyakan ucapan Mayang.
“Kalau gitu, Teteh sama Mang Ujang emang cocok ya, klop banget. Pemikirannya juga selaras,” ucap Mayang lagi. “Mungkin itu yang membuat hitungan jodoh itu nggak terlalu berarti lagi buat Teteh dan Mang Ujang.”
Dalam hati, Mayang memikirkan hal yang sama tentang dirinya. Semua hal misterius tentang adat dan tradisi leluhur yang belum bisa dijelaskan dengan menggunakan ilmu pasti di zaman ini, mungkin memang benar. Tapi kelanjutannya tergantung bagaimana cara kerja pikiran kita sendiri.