Saat Mayang, Sarah dan Dio keluar dari kamar untuk bergabung dengan Reindra, Nurin, Dira dan Sari, sosok Shita dan Dea sudah tak tampak di mana-mana lagi. Hujan telah reda sepenuhnya dan menyisakan udara lembab namun menyegarkan, khas cuaca sehari-hari di kota Bandung dan sekitarnya.
“Lama amat sih, kalian? Tidur dulu apa?” tanya Dira heran.
“Apa pake mandi luluran dulu?” tanya Sari sambil terkekeh.
“Rujaknya udah mau habis, neeh,” ucap Indah yang terlihat sedang kepedasan.
“Maaf, ada insiden kecil tadi,” ucap Dio sembari menambahkan kursi pada meja besar yang sudah ditempati oleh teman-temannya agar cukup untuk mereka bersembilan duduk bersama.
“Insiden apaan, May?” tanya Dira penasaran melihat wajah Dira yang agak diam tidak seperti biasanya.
“Tadi pas kita masuk kamar ada putri duyung tiduran di kasurnya Dio,” jawab Adelio asal sembari terkekeh.
“Nenek lampir kale, putri duyung mah kecakepan,” tukas Sarah yang masih emosi.
“Iya, iya, nenek duyung,” sahut Adelio sembari menepuk-nepuk punggun Sarah untuk menenangkannya.
“Eh, ada apaan sih sebenarnya? Kalian tadi kenapa? Ceritain, dong!” tuntut Reindra yang merasa kesal karena ketinggala berita.
Kemudian Dio menceritakan semua yang terjadi di kamarnya tadi pada semua yang belum mendengar. Dan reaksi yang didapatkan semuanya tidak jau berbeda dengan reaksi Sarah. Emosi dan merasa muak sekali dengan sosok Dea.
“Waktu kita ketemu setelah beli teropong itu sebenernya dia udah ngasih liat kalau dia sengaja mau nantangin kita terutama Mayang. Ya, kan?” ucap Sarah.
“Iya, sikap Dea waktu itu nggak sopan banget,” ucap Dio. “Nggak menyapa Mayang, Sarah dan Reindra sama sekali. Terus setelah gue bilang acara hari ini adalah acara kantornya Mayang, dia makin kesal gitu. Terus langsung pergi.”
“Terus, ngapain dia pakai ngancam Mayang segala tadi?” omel Nurin. “Lagian emangnya siapa yang bilang sih kalau Mayang deketin Dio?”
“Iya. Padahal kan yang ngedeketin itu gue, bukan Mayang,” ucap Dio mengiyakan dengan tampang serius, membuat semua tertawa melihatnya termasuk Mayang sendiri.
“Tapi sebentar deh,” sela Reindra. “Dea tau dari mana yah, kalau Dio itu ngedeketin Mayang, bukannya Sarah? Kan, waktu pertama kita kenalan di villa Dio, ceweknya ada dua. Mayang dan Sarah. Adelio juga belum ikut waktu itu. Kenapa langsung mikirnya ke Mayang, yah?”
“Karena Dio kayaknya nggak mungkin naksir cewek urakan kayak gue,” celetuk Sarah langsung tanpa ragu. Adelio yang duduk di sampingnya malah tertawa mendengarnya.
“Karena Dea berprasangka buruk terus sama Mayang,” ucap Dio, “apalagi dia dendam soal kakaknya. Yah, pokoknya dia cari-cari kesalahan Mayang aja.”
Mayang terdiam mendengar kata-kata Dio. Ia kembali teringat pada Ridho, mendiang suami pertamanya. Ridho adalah laki-laki yang baik, dan seandainya Ridho bisa berkomunikasi dengannya saat ini, Mayang yakin Ridho akan membelanya karena percaya Mayang sama sekali tidak ada niat buruk saat menikah dengannya.
“Maaf ya, May,” ucap Dio sembari menoleh kepada Mayang.
Mayang tersentak dari lamunannya. “Eh … ehehehe … iya, nggak apa-apa kok, Dio. Kenapa jadi lo yang minta maaf?”
“Yah, Dea kan temennya Mbak Shita. Gue minta maaf sebagai adiknya Mbak Shita karena lo jadi nggak nyaman terus setiap kali datang ke sini. Adaaa aja yang dilakukan sama si Dea itu,” ucap Dio.
“Tapi tadi gue liat emang, Dea jalan keluar sama kakak lo, Dio,” ucap Dira. “Mereka keliatan kesel banget, loh. Kalau cuma soal kamar lo yang ditempati tanpa izi aja, kayaknya mereka nggak akan semarah itu, deh.”
Dio menggeleng perlahan. “Mbak Shita itu sebenernya baik, tapi dia gampang terpengaruh sama orang yang lagi dekat sama dia. Saat ini, dia pasti banyak dipengaruhi sama Dea. Apalagi sekarang dia lagi proses cerai dengan suaminya, pasti saat ini adalah masa-masa emosional buat dia. Makanya jadi banyak tingkah ngurusin urusan orang.”
Dio terdiam setelah mengatakan semua itu. Dalam pikirannya terbersit kesulitan yang akan ia hadapi jika ia nanti menikah dengan Mayang, seperti yang diharapkannya. Shita pasti akan menentang habis-habisan karena sudah dipengaruhi oleh Dea. Padahal masih banyak yang harus Dio lakukan untuk melewati semuanya, termasuk mendapatkan izin dari ibu Mayang. Kalau soal perasaan Mayang, sedikit banyak Dio sudah mengetahui dari sikap Mayang beberapa waktu belakangan.
“Ya udah, sekarang kita makan rujak dulu aja nih, biar adem pikiran,” ajak Sari sembari menyorongkan piring besar berisi rujak yang telah kosong sepertiganya.
“Oh iya, cireng bumbu juga masih ada, nih, belum dibuka,” ucap Indah, “yok, kita makan!”
“Nah, gue pesenin minuman yang segar yah buat kita semua,” ucap Dio. “Sebentar, gue ke belakang dulu.”
Setelah Dio pergi, semua segera menoleh ke arah Mayang dengan wajah penasaran. Menyadari tatapan aneh dari teman-temannya, Mayang mengangkat kedua alisnya dengan heran. “Apaan, gaes?” tanyanya tak mengerti.
“Dio udah nembak lo, May?” tanya Dira to the point.
Mayang menggeleng. “Belum. Emangnya dia bakal nembak gue, ya?” tanya Mayang sembari nyengir.
“Ya bakal, laaah! Gila aja lo, udah sedeket itu masa nggak nembak. Orang dia kayaknya serius banget sama lo gitu,” tukas Nurin.
“Gue kira Dio udah nembak tadi waktu di floating market, pas kalian lagi naik perahu,” ucap Reindra.
“Boro-boro urusan tembak-tembakan, orang kita sibuk main ciprat-cipratan air,” seloroh Sarah sambil terbahak diikuti oleh Adelio.
“Tau nih, baju gue basah semua gara-gara lo berdua,” ujar Mayang pura-pura kesal. “Bahkan hujan belum turun gue udah basah duluan.”
“Maaf May, dia nih yang ngajakin rusuh duluan,” ucap Adelio sembari menunjuk Sarah.
“Ya lo juga mau diajakin rusuh!” balas Sarah sambil menjulurkan lidahnya.
“Kalian berdua udah resmi jadian?” tembak Reindra langsung, membuat kedua pasangan yang tidak jelas statusnya itu terpaku sesaat.
“Belum,” ujar Adelio dengan senyum tenang. “Nanti gue kabarin ya Rein, kalau udah.”
“Apaan coba, pake kabar-kabaran segala? Kayak kondangan aja,” tukas Sarah kesal.
Mayang terkikik geli. “Kalian berdua absurd banget, ya. Bagus deh, cocok!” ucapnya.
“Setujuuu!” sahut yang lainnya.
Tak lama kemudian Dio datang kembali dengan diikuti oleh satu orang staff kafe yang membawakan minuman untuk teman-temannya. Setelah itu mereka asyik mengobrol membahas acara tamasya yang seru tadi, sekaligus berunding tentang konsep pemotretan nanti malam.
“Eh, kalian berempat nanti ikut jadi model juga ya, mau nggak?” tanya Sarah pada Dira, Sari, Nurin dan Indah.
“Whaaat? Gue jadi model?” seru Indah terkejut.
“Aduuhh, maluuu!” Nurin tampak menuutpi wajahnya dengan kedua tangan.
“Wah, gue ngga bisa bergaya ….” Dira mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari tangannya.
“Ah serius lo, Sar? Gue gendut begini?” tanya Sari tak percaya diri.
“Ya elah, lo Sar. Segitu mah bukan gendut, cuma ‘berisi’ aja,” ucap Sarah sembari melambaikan tangannya. “Lagian zaman sekarang persepsi cantik itu lebih bebas, loh. Nggak ada standar tertentu. Semua bisa kelihatan cantik asal ngerti gimana membawa dirinya.”
“Betul,” ucap Reindra. “Kan majalah Style juga mengampanyekan slogan ‘cintai diri sendiri’. Hargai diri sendiri, nggak usah nyontek orang lain.”
“Gitu, ya?” ujar Sari yang tampak mulai berminat.
“Dibayar nggak?” tanya Dira terus terang, membuat yang lain tertawa malu karena sebenarnya dalam hati juga ingin mengutarakan pertanyaan yang sama.
“Dibayar, tenang aja,” ucap Mayang. “Mungkin nggak besar, ya, karena tergantung artikelnya. Tapi kalian akan dibayar sesuai standar majala Style.
“Asyiiikk!” ucap Dira.
“Gue sih dibayar berapa aja mau, deh, asal masuk majalah. Wow!” ucap Sari berbinar-binar.
“Majalah Style gitu loh,” desah Indah. “Apa kata temen-temen kantor gue nanti, yah?”
“Tapi gue nggak bawa alat-alat make up gitu, Sar. Lo bawa?” tanya Nurin. “Gue cuma bawa skin care sama make up standar.”
Sarah menggeleng. “Nggak perlu. Dandan seadanya aja, yang penting nggak kelihatan flat di kameram. Soalnya kan konsepnya natural. Alam terbuka. Emang nggak perlu dandan kayak mau foto studio, kan?” jawabnya. “Outfitnya juga santai aja, anggap lagi piknik di puncak atau di gunung gitu.”
“Oke, siap kalau gitu!” ujar semuanya yang menjadi tambah bersemangat.
“Sip. Jadi nanti modelnya semua orang kecuali karyawan majalah Style, ya,” ucap Sarah memastikan.
“Eh, Sar,” sela Mayang. “Mang Ujang sama istrinya!”
“Hah? Kenapa?’ tanya Sarah bingung.
“Mereka berdua bisa difoto juga loh, mumpung di sini,” usul Mayang. “Terserah mau lo foto buat artikel yang sama atau buat stock dulu.”
“Wah, iya!” ucap Sarah sambil menoleh pada Dio. “Gimana, Dio? Boleh nggak Mang Ujang sama istrinya gue foto?”
“Boleh aja,” jawab Dio, “tapi mereka mungkin bakalan susah diarahkan ya, namanya juga orang desa, polos banget. Jangan-jangan malah nggak mau diajakin jadi model.”
“Tenang, nanti gue yang bujukin,” ucap Sarah percaya diri. “Soal pengarahan gaya, mungkin malah nggak perlu. Biarin aja mereka beraktifitas biasa.”
“Oke. Silakan aja kalau gitu,” ucap Dio.
“Eh, nanti kita jadi barbeque-an nggak?” tanya Reindra pada Dio.
Dio mengangguk. “Jadi, dong. Mang Ujang sama istrinya udah belanjain semuanya, gue udah pesen dari tadi pagi. Lengkap deh, pokoknya. Jadi kita makan malamnya barbeque aja, nggak perlu belanja lagi. Oke?”
“Okeee!” sahut semuanya serempak.
Pukul tujuh malam, setelah Dio selesai mengecek semua keperluan dapur kafe dan memeriksa pembukuan, mereka semua kembali pulang ke villa. Permasalahan dengan Dea dan Shita tadi sudah mereka lupakan, berganti dengan antusiasme semua orang tentang pemotretan yang akan dilaksanakan malam ini. Terutama bagi Dira, Nurin, Sari dan Indah yang sebelumnya sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan dunia permodelan atau entertainment sama sekali. Rasanya berdebar-debar, gugup sekaligus bersemangat. Sementara Adelio yang memang seorang model terlihat santai sekali.
Sesampainya di villa, mereka semua segera masuk ke dalam kamar untuk merundingkan pakaian yang akan mereka kenakan untuk pemotretan dibantu oleh Mayang. Sementara Sarah tampak langsung pergi ke area belakang villa, mencari Mang Ujang dan istrinya di dapur untuk menawarkan mereka untuk menjadi modelnya.
Dio mengambil teleskop barunya dan membawanya ke area kolam renang di samping belakang villa, sekalian untuk mengecek persiapan barbeque party mereka. Di ujung area kolam renang sudah tampak alat barbeque besar yang memang selama ini sudah ada tersimpan di lemari dapur villa. Alat panggang itu tampak sudah siap untuk digunakan. Sebuah meja panjang yang diatasnya terdapat tumpukan piring-piring makan dan piring besar kosong ditempatkan di belakang alat panggang itu. Berbagai properti untuk pemotretan dan untuk pesta barbequenya sendiri sudah disiapkan. Bangku-bangku kecil, tenda-tenda atap yang Reindra bawa dari Jakarta, dan bahkan tumpukan kayu untuk api unggun telah disiapkan oleh Mang Ujang. Semuanya tertata rapi dan terstruktur, sampai-sampai dalam hati Dio merasa curiga jangan-jangan Mang Ujang atau istrinya memiliki bakat terpendam sebagai desainer interior dan eksterior. Dio tersenyum puas dan kembali masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap-siap.
Pukul sembilan malam, semuanya telah siap di area kolam renang. Mayang dan tim model cewek memasuki area kolam renang diikuti oleh Adelio dan Dio yang juga telah siap dengan outfit masing.
“Wuidiiih model-model gue keren-keren banget!” komentar Sarah yang tampak sangat senang mendapatkan model-model untuk pemotretannya dengan mudah.
“Kita langsung barbeque-an atau gimana, Sar?” tanya Mayang.
“Iya, langsung aja. Sambil masak dan makan gue fotoin para modelnya,” ucap Sarah. “Mayang sama Reindra kalau bisa jaga jarak yah dari para model, soalnya susah kalau harus gue out of frame setiap motret.”
“Oke, kita minggir yuk, May, kita kan anak tiri,” ucap Reindra sembari mengajak Mayang menepi. Mayang tertawa geli mendengar ucapan Reindra.
“Eh, ada api unggun juga, ya?” tanya Sari yang baru menyadari ada property unik di sudut lain area itu. “Waah, lengkap dengan kayu panggangan dan alat masak!”
“Naah, yang itu mau gue bikin buat model gue yang lain,” ucap Sarah sembari nyengir.
“Model siapa?” tanya Nurin.
“Mang Ujang, Teh Ratih, udah siap?” seru Sarah memanggil. Dan semua menoleh ke arah yang ditoleh Sarah.
Tampak Mang Ujang dan istrinya, Teh Ratih berjalan memasuki area kolam renang dengan mengenakan pakaian khas orang desa di Jawa Barat. Mereka tampak melangkah ragu. Sepertinya merasa canggung sekali.
“Sini, Mang Ujang, Teh Ratih! Kita udah siap, nih!” panggil Dio dengan nada akrab agar keduanya tak merasa risih bergabung dengan mereka.
“Waaaw Teteh cantik banget!” puji Mayang tulus. Istri Mang Ujang yang memang tampaknya usianya jauh di bawah Mang Ujang itu tampak polos bak gadis desa di film-film layar lebar zaman dulu.
“Ah, Mbak Mayang, bisa aja,” ucap Teh Ratih dengan tersipu-sipu. “Saya bingung ini mau ngapain.”
“Tenang aja, Teh, yang bingung bukan Teteh aja kok, mereka juga tuh,” ucap Sarah sambil tertawa menunjuk ke arah para foto model dadakan yaitu Dira, Sari, Nurin dan Indah. Keempatnya tampak sibuk saling menilai tampilan masing-masing apakah sudah terlihat oke atau belum.
“Mang Ujang gagah juga ya, pakai baju begini,” komentar Reindra, “kayak yang di film-film laga klasik gitu nggak sih, gaes?”
“Wah, iya, iya. Kayak yang karakter orang sakti tapi lagi menyamar jadi penduduk desa biasa,” komentar Adelio teringat film-film lama yang masih sering ditayangkan di salah satu channel televisi.
“Ah, Mas Dio, bisa saja,” sahut Mang Ujang sambil terkekeh malu. “Waaah, Mas Adelio keren sekali ya?” Mang Ujang tampak tercengan melihat Adelio yang memang tampak paling menonjol di antara yang lainnya.
“Yah namanya juga model, Mang,” ucap Dio. “Jelas dia yang paling keren di sini.”
“Udah, cukup sekian saling memujinya,” potong Sarah. “Ayo mulai masak! Mang Ujang sama Teh Ratih mulai duduk di deket api unggun ya, bikin teh pakai alat masak yang di situ.” Sarah mulai memberi instruksi.
“Ini saya langsung aja, Mbak?” tanya Mang Ujang yang tampak grogi.
“Iya, Mang, langsung aja,” ucap Sarah. “Santai aja kayak lagi nyiapin minuman buat kita seperti biasanya. Sambil ngobrol dan bercanda juga boleh. Bebas aja, kok.”
Dan setelah itu semuanya langsung melaksanakan instruksi Sarah. Awalnya mereka memang sedikit kaku dan seperti membatasi gerakan karena masih berusaha mencari posisi kamera yang dipegang oleh Sarah. Tetapi lama kelamaan mereka akhirnya lupa dengan status mereka yang sedang menjadi model, karena asyik bercanda satu sama lain. Mang Ujang dan istrinya juga semakin lama semakin santai. Mereka beberapa kali menjerang minuman hangat dan mengantarkannya kepada orang-orang lain yang sedang memasak dan menikmati hasil panggangan barbequenya. Mereka menyebar di beberapa tenda atap dan sesekali saling bertukar tempat sambil mengambil makanan. Mang Ujang dan Teh Ratih juga ikut menikmati masakan barbeque yang sangat lengkap itu.
Sementara Mayang dan Reindra yang berusaha tidak terlalu dekat dengan yang lain, banyak menghabiskan waktu duduk berdua di sudut yang kemungkinan besar tidak akan tertangkap oleh kamera Sarah.
“Rein, lo suka sama Nurin?” tanya Mayang tiba-tiba saat mereka sedang menikmati tumpukan barbeque di atas piring mereka.
Reindra menggeleng. “Nggak. Kenapa emangnya?” Reindra bertanya balik.
“Soalnya kayaknya Nurin suka banget sama lo,” jawab Mayang sembari tertawa kecil. “Dari kemarin nempelin lo mulu soalnya.”
Reindra tertawa. “Nggak ah, gue nggak minat sama yang terlalu agresif gitu, May,” ucap Reindra sambil menggeleng santai.
“Hmm … gitu, ya?” Mayang mengerutkan dahi. “Kalau gitu, kayaknya lo mesti jaga jarak deh, dari Nurin. Takutnya Nurin mengharap lo membalas perasaan dia soalnya dari kemarin lo nggak nolak kalau dia ngajak lo jalan bareng ke sana ke sini.”
“Yah gue juga maunya gitu, May,” jawab Reindra. “Tapi gue khawatir kalau gue bersikap begitu, jadinya gue kayak orang yang nggak asyik, dan jadi merusak suasana. Kita kan lagi liburan bareng-bareng. Lagipula gue nggak mau berkesan kalau gue ke ge-er an, kan Nurin nggak pernah bilang suka sama gue. Cuma sikapnya aja yang menjurus ke arah itu.”
“Bener juga sih,” ucap Mayang. “Kalau lo tiba-tiba menghindar kesannya malah lo yang sombong atau sok keren gitu, ya?”
“Nah itu dia,” ucap Reindra. “Tapi saran lo gue pikirkan, deh. Mungkin gue harus membatasi dan nggak selalu mau kalau diajak jalan bareng atau duduk bareng terus.”
Mayang mengangguk. “Gitu juga boleh, daripada nanti salah satu dari kalian sakit hati terus kita jadi nggak bisa main bareng lagi,” ujar Mayang. “Gue kan pinginnya kita jadi circle yang solid.”
“Lo juga sih!” tukas Reindra tiba-tiba. “Lo berduaan mulu ama Dio. Si Sarah berduaan sama Adelio. Nah gue kan jadi terpaksa ambil sisanya.”
Mayang terbahak. “Kurang ajar lo, temen-temen kost gue dibilang sisa!” omelnya sembari menonjok lengan Reindra.
Reindra ikut terbahak. “Maksud gue bukan sisa yang gimana. Ya pokoknya kecuali kalian berempat, kan tinggal temen-temen kost lo itu,” jelas Reindra.
“Tapi Nurin sebenernya baik, loh,” ucap Mayang masih berusaha mempromosikan temannya.
“Iya, Nurin baik,” ucap Reindra setuju, “tapi gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Nggak naksir."
“Hmm. Iya, iya,” sahut Mayang.
“Eh gaes, gaes! Meteornya udah kelihatan loh!” Tiba-tiba Indah berteriak sambil menunjuk ke arah langit.
Semua langsung menengadah ke atas. Langit di atas mereka yang tampak gelap berbintang. Membuat meteor-meteor itu tampak sangat jelas melesat cepat melewati belahan cakrawala jauh di atas sana.
“Waaaw! Itu ada! Wah, itu ada lagi!” seru Dira dan Sari sembari bertepuk-tepuk tangan seperti anak kecil.
“Kereeen! Gue baru kali ini ngeliat meteor, loh! Wah, ada lagi!” komentar Nurin sembari menunjuk-nunjuk meteor-meteor yang melesat satu persatu itu.
“Padahal ini masih jam sebelas, yah, tapi udah mulai muncul,” ucap Adelio yang menengadah dengan terkagum-kagum.
“Nanti pas tengah malam pasti rame. Ayo kita liat pakai teleskop!” ajak Dio yang langsung beranjak mengambil teleskopnya untuk disiapkan di tempat yang strategis.
“Kalau dulu di kampung saya, orang-orang bilangnya itu bintang jatuh,” ucap Mang Ujang sambil menengadah.
“Sekarang juga masih ada yang nyebut bintang jatuh kok, Mang,” ucap Mayang, “apalagi kalau dalam literatur sastra atau puisi, soalnya sebutan ‘bintang jatuh’ kedengarannya lebih romantis.”
“Dulu kata nenek saya, kalau lagi ada bintang jatuh, kita boleh minta sesuatu, loh, Mbak,” ucap Teh Ratih.
“Eh, bener itu, Teh!” Kali ini Sari yang menyahut. “Sampai sekarang juga masih ada anggapan kayak begitu, kok. Dan itu nggak cuma di Indonesia aja, tapi juga di luar negeri.”
“Apa hubungannya yah, kok meteor lewat dikaitkan dengan permintaan?” Adelio bertanya-tanya penasaran.
“Kalau menurut saya, itu hubungannya dengan energi di alam, Mas,” sahut Mang Ujang. “Para leluhur kita dulu kan, punya waktu tertentu untuk melakukan tirakat, untuk berdoa atau untuk melaksanakan hajat apa saja. Bahkan sampai ada hitung-hitungannya juga. Itu semua berhubungan dengan posisi bumi, posisi bintang, bulan dan matahari. Jadi semua itu ada dasarnya, bukan hanya sekadar mitos atau asal-asalan saja. Leluhur kita itu sebenarnya jauh lebih cerdas daripada kita lho. Hanya saja terjadi perubahan cara hidup manusia, sehingga ilmu pengetahuan dari leluhur itu jarang sekali yang masih menjalankannya. Kebanyakan karena kurang mengerti dan keburu menganggap bahwa zaman dulu itu semuanya serba primitif dan nggak berdasarkan ilmu pengetahuan.”
“Hmm … gitu ya, Mang?” ujar Adelio, tampak tertarik dengan penjelasan Mang Ujang yang tampak mencerminkan pemikiran yang terbuka dan luas.
“Jadi … pada saat ada meteor atau bintang jatuh itu, sebenarnya sedang terjadi apa di alam? Kok kita bisa memohon permintaan?” tanya Mayang yang ikut penasaran.
“Kalau nenek saya dulu bilangnya, langitnya lagi terbuka,” ucap Teh Ratih.
“Hah? Langitnya terbuka?” Kali ini Sarah yang menyahut.
Mang Ujang terkekeh. “Itu hanya perumpamaan yang digunakan orang zaman dulu untuk mempermudah penjelasan terhadap anak cucunya. Tapi saya rasa yang dimaksud dengan ‘langit terbuka’ adalah energi di alam sekitar kita sedang dalam kondisi bagus sehingga hubungan manusia dengan semua unsur di alam sangat baik. Makanya, apa yang kita inginkan cenderung akan mudah didapatkan, karena kekuatan diri kita sendiri yang sedang meninggi pada saat itu. Semua unsur yang ada di alam ini sebetulnya saling berhubungan, termasuk unsur yang membentuk tubuh kita ini. Kasarnya, kita ini sebenarnya bisa ‘ngobrol’ dengan semua elemen yang ada di sekitar kita, untuk membantu mencapai tujuan kita.”
“Hmm … gitu ya, Mang,” ucap Mayang. “Menarik.”
“Gue juga ah, mau make a wish, mumpung energy di alam sedang bagus,” ucap Dio tiba-tiba.
Mayang menoleh. “Mau make a wish apa?” tanyanya.
“Rahasia, dong,” ucap Dio dengan wajah usil, membuat Mayang tertawa dan hanya tersenyum. Sepertinya Mayang tahu hal apa yang sedang diinginkan oleh Dio.