Setelah lelah bermain perahu dan baju mereka telah basah semua karena tiba-tiba hujan turun dengan deras saat nereka masih berada di tengah danau, Mayang, Dio, Sarah dan Adelio kembali ke dermaga perahu.
“Wooi! Naik perahu lagi nggak ngajak-ngajak! Mentang-mentang couple!” teriak Indah dari kejauhan. Tampak Nurin, Dira, Sari dan Reindra berdiri di sekitarnya, berteduh di bawah pergola kayu yang berada di tepian deretan area kuliner. Mayang, Sarah, Dio dan Adelio segera berlari menuju ke arah mereka.
“Waaa! Deres banget hujannya tiba-tiba!” seru Mayang yang berlindung di balik jaket Dio. Sementara Dio sendiri yang tinggal mengenakan kaos berlengan pendek juga telah basah kuyup.
Sementara Adelio yang lebih ‘mengambil porsi’ perempuan, ternyata tak kalah gentle dengan Dio. Ia tampak memegangi sweater hoodie lebarnya di atas kepala Sarah, melindunginya dari curahan air hujan.
“Sukurin! Nggak ngajak-ngajak, sih!” omel Dira sambil terkekeh.
“Maaf, maaf, Dir, tadi kita udah nyariin kalian tapi nggak tau di mana,” ucap Mayang beralasan.
“Kan, ada teknologi yang namanya telepon selular, May. Lo lupa, ya?” Kali ini Reindra yang mengggerutu, kesal karena merasa ditingga;kan oleh teman-temannya.
Mayang dan Dio tertawa keras, merasa geli sendiri mendengar omelan Reindra yang memang benar itu.
“Sori, Rein, kirain tadi kalian lagi asyik di manaaa, gitu,” ucap Dio yang ditujukan pada Reindra yang tampak tak lepas dari cengkeraman Nurin sedari tadi.
“Orang kita dari tadi asyik makan rujak di sana, tuh!” ucap Reindra menunjuk counter penjaja makanan yang terletak paling ujung.
“Oo … ya maaf,” ucap Dio.
“Eh, ada rujak emangnya di sini?” tanya Adelio sambil menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Reindra.
“Wah, nanti kita beli yuk!” ucap Sarah yang tiba-tiba tergiur oleh kata ‘rujak’. “Enak nggak rujaknya?” tanya Sarah pada Nurin dan Reindra.
“Enak banget, Sar! Buahnya lengkap dan bagus-bagus. Sambelnya macam-macam dan bisa pilih level juga,” ucap Nurin seperti marketing yang sedang berpromosi.
“Eh tapi kan ini udah sore, kita bukannya mau ke Kafe Daun?” tanya Mayang.
“Dibungkus aja rujaknya, gimana?” tanya Dio. “Nanti bisa kita makan rame-rame di kafe gue. Kan Kafe Daun nggak ada menu rujak. Sekalian ngabisin koin yang tersisa, nih!” Dio tertawa kecil saat mengucapkannya.
“Naah, ide bagus! Ayo kita beli rujak sebelum pulang!” ajak Sarah bersemangat.
Dan akhirnya kesembilan orang itu menuju ke counter rujak untuk memesan rujak ala selera masing-masing. Bahkan Nurin dan Reindra yang sudah makan rujak sebelumnya, tetap memesan juga untuk mereka masing-masing. Dan akhirnya tidak hanya rujak, tetapi pisang goreng caramel dan cireng pun mereka bawa.
Mereka tiba di Kafe Daun pukul enam sore. Para karyawan Dio tampak menyambut kedatangan mereka.
“May, Sar, lo berdua pada bawa baju ganti, kan?” tanya Dio. “Ganti baju dulu deh, nanti masuk angin.”
“Iya, bawa nih,” ucap Mayang dan Sarah berbarengan.
“Gue juga bawa, meskipun nggak ditanya,” ucap Adelio. Dio tertawa mendengarnya.
“Ya udah, kalian pada ganti baju di kamar gue aja,” ucap Dio.
“Ada kamar lo juga di sini?” tanya Adelio.
“Ada, di belakang. Yuk, gue anterin,” ucap Dio. “Reindra sama yang yang lain kan nggak perlu ganti baju, langsung aja cari tempat duduk yang enak buat ngerujak. Di belakang juga boleh, outdoor yang ada atapnya. Soalnya masih sedikit gerimis. Nanti gue maintain piring-piring buat rujak, sama gue pesenin minuman hangat, ya.”
“Asyiikk! Oke, Dio,” ucap Reindra yang segera beranjak menuju area outdoor di belakang kafe bersama Dira, Nurin, Sari dan Indah.
Dio mengantarkan Mayang, Sarah dan Adelio ke kamarnya yang terletak di area belakang Kafe Daun. Namun saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar, Dio tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Kenapa, Dio?” tanya Adelio yang berdiri di belakangnya.
Dio menunjuk ke arah daun pintu yang terbuka. “Ada orang di dalam kamar gue,” ucapnya. Kemudian Dio melangkah maju sambil mendorong pintu kamarnya.
Adelio, Mayang dan Sarah yang mengikuti di belakang Dio, tampak tercengang saat melihat siapa yang ada di dalam kamar.
“Mbak Dea …?” Dio tampak sangat terkejut. “Kok, ada di sini?”
Dea menoleh, dan langsung tersenyum melihat wajah Dio. Namun senyumnya langsung memudar tatkala melihat sosok orang-orang yang ada di belakang Dio.
“Eh, Dio, udah dateng,” ucapnya santai sembari bangkit dari posisi berbaring santainya di atas tempat tidur Dio.
“Mbak Dea kok bisa masuk ke sini?” tanya Dio tanpa basa-basi. Ia sepertinya terdengar sangat tidak suka melihat Dea tiba-tiba ada di dalam kamarnya. Meskipun Dea adalah teman akrab Shita, kakaknya, tetapi bukan berarti dia bisa sembarangan masuk ke dalam kamar pribadinya.
“Aku yang nyuruh Dea masuk, Dio. Aku dapat kuncinya dari karyawan kamu.” Terdengar suara dari arah belakang mereka.
Semua menoleh serempak, dan melihat Shita, kakak Dio, berdiri dengan membawa sebuah gelas minuman dan seorang karyawan kafe di belakangnya membawa baki penuh berisi makanan di tangannya. Sang karyawan kafe yang hendak meletakkan baki berisi makanan itu di atas meja, menghentikan gerakannya ketika Dio sedikit mengangkat tangannya mencegahnya melakukan itu.
“Mbak Shita?” ucap Dio kaget. “Kok Mbak nggak bilang mau ke sini?” tanya Dio.
“Loh, emangnya aku harus bilang kalau mau datang ke kafe punya keluargaku sendiri?” tanya Shita dengan nada acuh, dan berlalu melewati Dio dan teman-temannya, memasuki kamar diikuti oleh karyawan yang membawa makanan.
“Maksudku bukan gitu, Mbak,” ucap Dio segera. “Tapi kenapa Mbak bawa tamu ke dalam kamar, Mbak? Ini kan, kamar pribadi aku sebagai pengurus di sini. Ada banyak barang-barang pribadi aku di sini.”
“Eh, ini kan Dea!” tukas Shita dengan nada tinggi sembari menunjuk Dea yang masih dengan santainya duduk di atas kasur Dio. “Dia temen aku, bukannya tamu. Kan, kamu udah kenal sama Dea!”
Dio menggeleng. “Bagi aku, dia tetep tamu. Mbak. Kalau Mbak Shita aja yang masuk ke dalam sini nggak apa-apa. Tapi jangan orang lain,” ucap Dio mulai kesal.
“Nah itu, kamu sendiri bawa tamu ke sini? Mau ngapain coba? Kok, boleh mask ke dalam sini?” tuding Shita pada Mayang, Adelio dan Sarah.
“Mereka temen aku, Mbak. Kalau Dea bukan,” jawab Dio tegas, membuat wajah Dea dan Shita sama-sama memerah.
“Ya temen aku anggap aja temen kamu juga, dong! Kamu kan adik aku!” bantah Shita kesal.
“Nggak bisa, Mbak,” Dio tak mau kalah. “Memangnya Mbak mau, kalau aku bawa Mayang, Sarah sama Adelio masuk ke kamar Mbak di rumah Mbak? Memang boleh begitu?” balas Dio telak.
Wajah Shita langsung memerah, kesal karena dibantah terus oleh adiknya. “Kamu sekarang jadi ngelunjak ya, Dio. Mentang-mentang kamu yang pegang semua bisnis keluarga, jadi berani ngatur-ngatur aku!”
“Loh, Mbak, yang nyuruh aku pegang semua bisnis keluarga kan Mbak dan Mas Aldo. Mbak kan nggak perlu capek mikir strategi dan ngurusin semuanya sehari-hari, tinggal nunggu hasilnya aja. Yang paling capek itu aku, jadi wajar dong kalau aku sekadar ngatur hal kecil kayak gini,” ucap Dio tenang namun tegas, membuat Shita semakin kesal.
“Halaah, mau numpang istirahat aja nggak boleh!” omel Sarah.
“Mbak kan bisa cek in hotel. Di Bandung banyak hotel murah yang jauh lebih bagus daripada kamatku ini kok, Mbak,” ucap Dio.
“Ngapain aku cek in di hotel murah? Kayak orang susah aja!” tukas Shita.
“Nha, makanya, kalau Mbak bukan orang susah, ngapain harus numpang istirahat di kamarku?” ujar Dio. “Meskipun kafe ini milik keluarga, tapi kamar ini tetap area pribadi aku, dan aku yang berhak nentuin siapa yang bisa masuk ke sini.”
“Jadi kamu ngusir aku dan Dea?” Shita setengah berteriak, membelalak pada Dio.
“Iya, Mbak. Sebaiknya sekarang Mbak makan di luar aja, ya. Banyak sofa yang nyaman dan empuk kok di area indoor. Nyaman juga buat berbaring santai kalau mau,” jelas Dio dengan tegas. “Jul, bawa lagi makanannya ke depan, ya. Cariin tempat yang paling nyaman buat kakak saya dan temannya.” Dio langsung memberi instruksi kepada karyawannya tanpa menunggu jawaban Shita lagi. Dan sang karyawan yang dipanggil Jul itu segera mengangguk, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan kamar.
“Huft! Dasar rese kamu!” maki Shita pada Dio. “Ayo, Dea! Kita ke luar. Kamar segini aja bangga!”
Dea yang sejak tadi hanya diam saja namun tak hentinya melemparkan senyum menggoda pada Dio tanpa peduli suasana tegang yang sedang terjadi, berdiri dari duduknya dan melangkah mengikuti Shita dengan tenang. Sampai di dekat Mayang yang kebetulan berdiri paling belakang, Dea menolah dan menatap Mayang dengan tajam. Senyum palsu yang sejak tadi terkembang di bibirnya mendadak hilang saat dia mengatakan dengan suara rendah di telinga Mayang. “Awas aja lo janda. Jangan berani godain Dio.”
Dan tanpa menunggu reaksi dari Mayang, Dea segera melenggang dengan langkah gemulai yang dibuat-buat, meninggalkan kamar.
“Huuuft!” Dio mengembuskan napas keras-keras. “Sori yah gaes, lo semua jadi harus nonton drama keluarga
Adelio menepuk bahu Dio. “Nggak apa-apa, Bro. Maaf ya, gara-gara kita mau numpang ganti baju, lo jadi ribut sama kakak lo.”
Dio menggeleng. “Nggak perlu ada kalian juga Mbak Shita dari dulu paling susah orangnya. Egois dan mau menang sendiri.”
Kemudian Dio menoleh ke belakang. “Yuk, siapa yang mau ke kamar mandi duluan, tuh,” ucapnya sembari menunjuk ke arah pintu kamar mandi.
“Gue dulu, boleh May?” tanya Sarah, menoleh pada Mayang. “Gue soalnya udah kebelet pipis juga.”
“Oke, duluan aja, Sar,” ucap Mayang sambil duduk pada sebuah kursi di sudut ruang kamar.
Setelah Sarah masuk ke dalam kamar mandi, Dio dan Adelio duduk di atas kasur yang tadi ditiduri oleh Dea. Dio tampak menatap tak suka pada seprainya yang sudah sedikit kusut itu.
“Si Dea itu naksir lo ya, Dio?” tanya Adelio polos.
Dio mengernyit. “Nggak tau deh, yang jelas gue nggak suka sama dia.” Dio mengucapkan kalimatnya dengan sangat tegas, seolah ingin Mayang juga mendengar penegasannya soal hal ini.
“Dan dia tau kalau kalian berdua saat ini lagi deket,” ucap Adelio. “Tadi dia ngancam apa, May?”
Mayang menoleh, tak menyangka Adelio mendengar Dea mengancamnya.
“Lo denger, Del?” tanya Mayang kaget.
“Denger samar-samar, sih. Nggak jelas ngomong apa, tapi gue yakin nadanya nada mengancam,” jawab Adelio.
Dio menatap Mayang lekat-lekat. “Beneran, May? Dea tadi ngancam lo? Dia ngomong apa?” tanya Dio.
“Dia ….” Wajah Mayang memerah sesaat, merasa malu untuk mengulangi kata-kata Dea tadi. Tapi sepersekian detik berikutnya dia menyadari bahwa mereka semua telah menjadi dekat sekarang, layaknya sahabat. Sehingga tak perlu lagi untuk merasa malu untuk hal apapun.
“Dia bilang gini: ‘Awas aja lo, janda. Jangan berani godain Dio’. Gitu,” ujar Mayang jujur.
“Kurang ajar!” geram Dio sembari menyatukan tinjunya. “Berani banget dia ngomong kayak gitu!”
“Emang lo kenal sama si Dea itu kapan, sih?” tanya Adelio. “Lebih dulu daripada kenal sama Mayang?”
Dio menggeleng. “Gue baru kenal Dea itu waktu Mayang, Sarah dan Reindra datang ke sini beberapa minggu lalu. Waktu peresmian Kafe Daun yang di Bandung. Waktu kita lagi mau berenang, tiba-tiba aja Mbak Shita muncul sama dia. Katanya mereka lagi iseng jalan-jalan ke Bandung sekalian mau datang ke acara peresmian.”
Adelio mengerutkan dahinya. “Terus kenapa dia bersikap seolah-olah dia yang lebih berhak deketin lo, Dio? Kan kenalnya juga dulua Mayang. Aneh tuh orang,” ucap Adelio.
“Apaan yang aneh?” tanya Sarah yang sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah terganti dengan yang masih kering.
“Eh, tuh, lo duluan aja Del,” ucap Mayang. “Gue masih mager, nih.”
“Oh, oke. Gue ganti baju dulu, ya,” ucap Adelio lebih kepada Sarah, kemudian bergantian masuk ke dalam kamar mandi membawa pakaian gantinya.
“Ada apaan, sih? Kok, kalian tegang gitu?” tanya Sarah yang heran melihat ekspresi Dio yang seperti orang mau mengamuk dan Mayang yang seperti orang shock.
“Itu loh, tadi itu ….” Dan Mayang menceritakan pada Sarah soal kalimat ancaman yang disampaikan oleh Dea padanya tadi.
“Apa? Kurang ajar! Berani banget dia ngomong kayak gitu di depan kita-kita? Sialan tuh cewek! Belum pernah ngerasain mukanya babak belur apa?” maki Sarah dengan penuh emosi. “Kok gue nggak denger sih pas dia ngomong gitu ke lo, May?”
“Kan lo tadi berdirinya di belakang Dio, Sar,” ucap Mayang.
“Malah Adelio yang denger,” ucap Dio.
“Adelio denger?” tanya Sarah.
Dio mengangguk. “Makanya Adelio heran, kalau gue lebih dulu kenal sama Mayang, kenapa juga si Dea itu merasa lebih berhak deketin gue? Padahal kan gue lebih dulu kenal sama Mayang,” ucap Dio.
“Hmph. Kalau soal itu sih, jawabannya udah jelas,” ucap Sarah yakin. “Dea merasa lebih berhak ngedeketin lo karena Mayang itu pembawa kutukan. Itu kan, senjata andalannya dia untuk nyerang Mayang?”
Dio kembali mendengus keras. “Halaah, kutukan kok dipercaya. Dasar cewek nggak jelas,: gerutunya.
Sementara Mayang hanya diam saja. Pembicaraan mengenai soal kutukan ini selalu membuatnya tidak nyaman meskipun ia sendiri tidak memercayainya.
“Kutukan apa?” tanya Adelio yang tiba-tiba sudah keluar dari kamar mandi. Laki-laki androginy itu tampak keren dengan penampilan santainya yang hanya mengenakan celana kargo selutut dan kaos lengan pendek putih polos. Rambutnya yang tampak masih basah menjuntai melewati bahunya. Sekilas Mayang melirik Sarah yang sedikit tersipu melihat penampilan Adelio yang tampak memukau itu.
“Ini, si Mayang bawa-bawa kutukan kemana-mana. Simpan dulu kenapa sih, May?” tukas Dio santai, membuat yang lain tertawa, termasuk Adelio yang padahal belum paham ceritanya.
“Udah tuh May, cepetan lo ganti baju. Nanti keburu masuk angina, loh!” ucap Sarah.
“Iya, oke!” sahut Mayang sembari bangun dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.